
Reno dan Keysha telah tiba di rumah sakit, mereka segera menemui Dokter Alexa di ruangannya, untuk memastikan kebenaran dengan kabar yang mereka dengar dari sambungungan telepon sebelumnya.
"Dokter bagaimana keadaan suami saya ? Apa dia benar-benar tidak sadarkan diri ? Atau hanya transfusi hati itu yang akan menyelamatkan nyawanya ?"
Dokter Alexa sempat tertegun ketika mendapatkan pertanyaan beruntun dari Keysha. Sungguh, ia masih belum mengerti, pemahaman apa yang Keysha pahami. Ah, bukankah perempuan ini sebelumnya tidak di izinkan mengetahui semua ? Maksudnya, semua menata rapi dan menutup rapat setiap celah rahasia karena tidak ingin membuatnya bersedih ?
"Dokter Alexa, kenapa kamu diam saja ?" Keysha mendesaknya, ia membaca nama yang terpajang pada papan kecil di atas meja.
"Tenang lah sedikit Key ! Kamu tidak memberinya waktu untuk bicara, bagaimana bisa dia menjawab pertanyaan mu yang begitu banyak." Reno melontarkan kalimatnya. Seakan menjadi malaikat penyelamat dan menghindarkan Dokter Alexa dari kata yang salah.
"Dok, apa yang kamu katakan tentang pendonor itu benar ?" Reno mengalihkan perhatiannya, merubah topik dari sebuah tragedi yang sudah melekat dan sangat dia ketahui, menjadi sebuah harapan pada kalimat terakhir yang dokter Alexa katakan di sambungungan telepon sebelum mereka tiba di sana.
"Itu..." Dokter Alexa menghela nafas pendek, lalu memperhatikan raut wajah Reno dalam-dalam. "Pendonor itu mengalami kecelakaan parah, dan saya belum menerima konfirmasi dari suaminya."
"Astaga...." Reno menghela nafas frustasi.
"Jadi, operasi itu tidak akan di lakukan dok ?" Air mata Keysha mulai berbinar, jiwanya yang hancur semakin terpukul dengan kabar yang hanya sebatas kabar, tidak ada kepastian yang jelas, tidak ada keyakinan yang memberatkan . Perempuan itu semakin dalam tertunduk dan larut dalam rasa yang mengintai hatinya. Kesedihan yang kian menjadi, tersirat jelas dalam derai air mata yang mewakili.
Dokter Alexa bungkam, ia sama sekali tidak mengatakan apapun perihal itu. Ya, dia sendiri pun merasakan kebimbangan. Dua pilihan yang sangat berat akan ia lalui, pun jika suami pendonor itu mengizinkan, apa ia akan dengan tega menyayat daging-daging segar yang tidak ada luka sebelumnya, pada perempuan yang tengah berjuang mempertahankan nyawanya. Ah, entahlah ! Ini mimpi buruk sepanjang karirnya . Dokter Alexa hanya bisa menghela nafas berat, menggantung pertanyaan tanpa sepatah jawaban.
Keysha dan Reno berjalan ke luar ruangan, menelusuri lorong panjang dengan pandangan kosong. Langkahnya gontai, seakan tubuh dan nyawa tidak menyatu, jiwanya melayang, bepergian lupa dengan raganya.
Ibnu yang juga berada di sana, hanya menatapnya dari kejauhan. Tak sengaja, ia memperhatikan raut wajah yang hilang arah, ia tertegun, bahkan sangat merasa kasihan. Perempuan baik yang tidak pernah membalas kejahatan yang di temui, ia tidak juga menanggapi setiap fitnah yang dengan sengaja Rania layangkan untuknya. Haruskah ? Haruskah ia semakin larut dalam duka yang menyayat dalam hatinya, menusuk, bahkan mencabik-cabik hingga tak tersisa. Keysha ? Keysha ? Perempuan itu harus berulang kali jatuh dan tidak sadarkan diri. Ia tidak bisa merasakan jiwanya kembali hadir sekedar untuk sedikit menarik nafas, mengisi energi dan kembali berlalu untuk melukis cerita baru.
"Sialan, " Ibnu mengumpat seorang diri. Ada rasa yang berbenturan keras dan berkecamuk dalam dirinya. Ah, sebuah keputusan besar yang tidak bisa ia putuskan hanya dengan satu pola pemikiran.
"Keysha...." Reno memanggil-manggil nama Keysha, ketika perempuan itu mulai mengerjap. Tampaknya, ia mulai sadar dari tidur yang tidak ia harapkan, rasa lelah bahkan timpukan masalah yang tidak ada bosannya menghujam hidupnya.
Ia kembali tersedu, menahan sakit pada dada karena dorongan keras sebuah rasa yang tidak bisa terungkap begitu saja.
"Tenanglah Key, kamu tidak akan membuat semua menjadi lebih baik dengan terus menyiksa dirimu sendiri seperti ini. " Tidak ada yang di sengajakan, Reno terpaksa harus menenangkan Keysha dengan sedikit menyentuhnya. Ia menangkap tubuh yang sedang tidak bertumpu dan selalu hilang kendali di hadapannya itu, ia merangkul bahu Keysha yang masih tertunduk lesu di atas kasur rumah sakit yang menopang tubuhnya.
"Reno ? Apa kau yakin Sandy akan baik-baik saja ? Apa kau yakin, Tuhan masih akan memberinya waktu untukku dan Anak-anaknya ?" Keysha semakin liar dengan pikirannya. Bayangan buruk turut membumbui hingga membuatnya meracau tak karuan.
"Jika tidak melalui cara itu, aku yakin Tuhan memiliki cara sendiri untuk membuat Sandy melewati semua." Pungkas Reno seraya mengusap bahu Keysha guna membuatnya kuat, menegarkan hatinya, dan kembali membangkitkan semangat yang mulai pudar cahayanya.
"Ketika dia sehat, dia tidak ingin melihatmu menangis walau hanya sebutir air mata yang keluar, ku pikir ketika dia sakit dan tidak sadarkan diri seperti ini, dia juga tidak senang melihatmu bersedih terus-menerus." Reno melepaskan tangannya, ia berpegangan pada tepi ranjang untuk menopang tubuhnya. Sedikit condong ke depan, dan berbicara dengan gaya santainya.
"Yang bisa kita lakukan hanya berdoa dan terus berdoa, Keysha ...Cuma kamu harapan Sandy satu-satunya. Jangan bersedih, Sandy pasti bisa merasakan semua yang kamu pikirkan." Tutur Reno lembut.
-----------
"Dokter Liem...." Suara yang memanggil namanya, membuat Dokter Liem menoleh, menemui seseorang yang sedang berlarian menghampirinya.
"Tuan Ibnu ? Ada yang bisa saya bantu ?" Tanyanya dengan ramah. Kakinya tak lagi melangkah, ia menanti Ibnu yang sudah kian dekat langkahnya.
"Ada yang ingin saya bicarakan dengan Dokter." Ucap Ibnu ragu.
"Bicarakan ?" Dokter Liem mengulang kata-kata Ibnu untuk meyakinkan.
Pria itu mengangguk cepat, lalu beriringan mengikuti Dokter Liem yang berjalan menuju ruangan pribadinya.
"Jadi, masalah apa yang membuat tuan Ibnu tampak bingung seperti ini ?" Dokter Liem meletakkan buku hasil pemeriksaan di atas meja. Ia merebahkan tubuh, di atas kursinya, lalu mempersilakan Ibnu untuk turut duduk di hadapannya.
"Dokter, tolong jawablah dengan jujur, apa Rania akan baik-baik saja jika saya mengizinkan proses cangkok hati yang dia pintakan ?" Ibnu menatap Dokter Liem dengan tajam. Ia memulai pembicaraan dengan sangat serius dan tanpa basa-basi.
"Tuan Ibnu, saya tidak bisa menjamin nyawa seseorang untuk tetap hidup, yang bisa saya lakukan hanya menolong dan melakukan tindakan. Namun, dari ribuan pasien yang saya tangani, tidak sedikit dari mereka yang sembuh karena dorongan kuat pada perasaan senang yang di lakukan oleh orang-orang terdekatnya. " Dokter Liem menarik nafas pelan, ia memperhatikan raut wajah Ibnu, lalu kembali melanjutkan kalimatnya, "Mungkin itu memang nyeleneh buat sebagian orang, apalagi permintaan Nyonya Rania yang di luar nalar, tapi tidak ada salahnya kita mencoba. Dengan demikian, semua akan membuat hatinya senang, dan jiwanya akan mulai tenang."
Ibnu tertunduk, ia terlihat sedang mendaki sebuah keyakinan dalam dirinya. Mempertimbangkan semua secara matang-matang, mengurutkan setiap kejadian yang berlalu secara berkesinambungan.
Mungkin, itu adalah cara Rania membuktikan bahwa dia memang benar-benar berubah.
"Baiklah Dokter Liem, saya akan menandatangani surat pernyataan itu." Ucap Ibnu yakin. Ia menatap Dokter Liem dengan bersungguh-sungguh, menandakan jika apa yang telah terucap bukanlah guyonan yang menyenangkan.
"Apa tuan Ibnu yakin ?" Tanya Dokter Liem meyakinkan.
Ibnu mengangguk cepat, ia tidak lagi memberi celah untuk keraguan kembali menyapa.
"Baiklah. Akan ku sampaikan berita ini pada Dokter Alexa agar dia segera melakukan tindakan. Semoga setelah ini, semuanya berjalan dengan lancar." Ucap Dokter Liem seraya menyibak beberapa lembar berkas, ia mencari surat pernyataan yang tengah lama di siapkan pihak rumah sakit, dari sebelum kejadian buruk menimpa Rania. Seperti yang sudah kita ketahui, Rania memang pernah secara diam-diam datang ke rumah sakit dan menyerahkan diri untuk di lakukan pemeriksaan. Dan tepat ketika hasil nya keluar, Rania mengalami kecelakaan parah yang hampir saja merenggut nyawanya.
Ibnu telah meninggalkan secoret tanda tangan di sana. Menyetujui segala konsekuensi yang bisa saja terjadi, termasuk kejadian buruk yang tidak bisa di acuhkan.
"Saya dan dokter Alexa akan berusaha semaksimal mungkin tuan, semoga semua berjalan sesuai keinginan kita." Dokter Liem menjabat tangan Ibnu sebagai wujud kepedulian nya terhadap keluarga pasien.