
Sudah hampir satu bulan Keysha menyibukkan diri untuk fokus mengurus suami dan anak-anaknya. Ia harus mondar-mandir antara rumah dan rumah sakit, karena memang kedua tanggung jawab terbesar dalam hidupnya tidak bisa ia tinggalkan begitu saja. Ia pun harus merelakan untuk mengundur bahkan membatalkan semua pesanan yang telah ia terima jauh-jauh hari di butik. Ya, semuanya terbengkalai, dan menumpuk semakin tinggi. Keysha belum bisa menyempatkan diri untuk membaca semua laporan yang di antar ke rumah oleh karyawan kepercayaan nya.
"Bagaimana Dok ? Apa kak Sandy bisa segera pulang ? Dia sudah jenuh dengan rutinitas di rumah sakit yang hanya itu-itu saja." Ucap Keysha kepada Dokter Alexa. Ini mungkin sudah kali ke sepuluh dalam satu bulan ia menghadap pada Dokter yang sudah lama menjadi andalan keluarganya, bahkan lebih dari itu. Keysha telah menganggap dia seperti seorang sahabat dekat. Usia mereka tidak jauh berbeda, hanya selisih dua tahun lebih tua Dokter Alexa, jadi obrolan atau candaan di antara mereka masih terjalin dengan hangat dan saling menyambung satu sama lain.
"Keysha, apa suamimu lagi memaksamu untuk merengek seperti bocah seperti ini ? Jujur saja aku sangat bosan mendengarnya." Sahut Dokter Alexa. Ia sekarang bisa berbicara dengan santai di depan Keysha. Bahkan, membuang panggilan Nyonya yang selalu dia sertakan ketika menyebut nama pasien, atau yang masih bersangkutan dengan pasiennya. "Itu sangatlah tua dan aku tidak menyukai itu." Keysha selalu protes setiap kali Dokter Alexa mengimbuhkan namanya dengan sebutan hormat yang menua kan. Jadi, ya dia mulai membiasakan diri hanya memanggil namanya ketika mereka sedang bercengkrama.
"Aku pun sangat bosan bertanya seperti ini kepadamu." Keysha berkata dengan lirih.
Mereka berdua saling bertatapan, lalu sama-sama terkekeh geli dengan tingkah masing-masing.
"Baiklah, aku akan izinkan suamimu pulang hari ini. Aku sudah jengah mendengar Omelan nya setiap hari. " Jawab Dokter Alexa. Ia memutar matanya, merasa tidak senang ketika membicarakan sikap Sandy yang mulai kembali ke jati dirinya. Pria itu sangat angkuh dan ketus, Dokter Alexa merasa heran kenapa Keysha bisa sangat tahan hidup bertahun-tahun bersamanya.
"Jangan hanya karena bosan. Harusnya, kau izinkan dia karena kondisi nya sudah cukup baik kan ?" Tutur Keysha sinis. Ia menatap Dokter Alexa dengan tajam, seakan mengingatkan jika dia tidak setuju dengan kalimat yang dengan santai di ucapkan Dokter Alexa.
"Tentu karena itu Keysha. Aku hanya bercanda tadi, kenapa kamu begitu tegang ." Dokter Alexa mencubit pipi Keysha gemas. Membuat perempuan itu menggeliat, lalu spontan mengusapnya karena merasakan sakit.
Cekrek (Suara pintu terbuka)
Dokter Alexa dan Keysha menoleh ke arah pintu kompak, mereka menganga menanti seseorang yang telah berhasil mengheningkan canda di antara keduanya. Mata kedua perempuan itu masih fokus pada tujuan sama, karena orang di depan pintu itu masih senang bergurau dengan hanya menampakkan lengannya saja hampir dalam satu menit.
"Lama sekali ? Apa aku menyuruhmu untuk bergurau di sini ?" Sandy berdiri di ambang pintu dengan rasa kesal. Ia mengangkat tangannya dan berkacak pinggang dengan menantang. Keysha dan Dokter Alexa hanya terkekeh geli menyaksikan pria itu, mereka menyadari tingkah kejenuhan yang menyapa Sandy sudah mencapai puncaknya. Dia, sudah sangat bingung dan tidak bisa memikirkan lagi cara untuk menghibur diri.
"Segeralah pulang....Kau bisa gila jika aku tahan sehari lagi. Dan aku bukan dokter spesialis jiwa, jadi aku tidak ingin mengambil resiko." Ucap Dokter Alexa. Ia menyelipkan tawa kecil di dalam kata-kata yang dengan sengaja ia lontarkan untuk meledek Sandy. Melihat pria itu semakin kesal dan tidak bisa menyalurkan dengan amarah adalah sebuah hiburan untuknya. Bagaimana bisa marah, Keysha sudah menyiapkan matanya dengan tajam ketika dia mulai menyadari jika Sandy telah mengambil nafas panjang dan bersiap melontarkan kata-kata yang mewakilkan perasaanya saat itu.
"Kurasa kamu yang tidak waras. Kau sengaja mengurungku di sini kan ? Bilang saja jika aku sangat tampan, hingga membuatmu ingin berlama-lama menatapku. Tapi sayang, kamu tidak ada bandingnya dengan Keysha. Dia sudah mengunci rapat hatiku." Ucap Sandy santai. Ia tidak peduli dengan sepasang mata yang menatapnya dengan arogan. Membenci balasan ejekan yang lebih menyebalkan dari apa yang ia lakukan.
"Cih, apa yang setiap hari kau makan, ha ? Kau terlalu sombong untuk menggambarkan diri." Jawab Dokter Alexa. Ia segera mengalihkan fokus dengan melanjutkan pekerjaannya dengan setumpuk map yang memenuhi meja kerjanya. Entahlah, siapa yang paham dengan bahasa-bahasa seperti itu jika bukan dia.
"Ya sudah, kalau begitu lanjutkan pekerjaan mu Dokter Alexa. Aku akan mengurus semua dan segera membawanya pulang agar dia bisa lebih tenang." Keysha mengangkat tubuhnya. Ia mengulurkan tangan untuk berpamitan.
"Haha...Aku akan sangat merindukanmu Keysha." Dokter Alexa meraih jemari Keysha. Ia segera membalas nya dengan cengkraman yang hangat.
"Tentu. Aku akan mampir suatu hari." Ujar Dokter Alexa yakin.
Keysha menyunggingkan sebuah senyuman dan di balas dengan mesra oleh Dokter Alexa. Perempuan itu sudah melangkah, dan menarik lengan suaminya. Dokter Alexa masih berdiri di balik mejanya, memperhatikan punggung Keysha hingga perempuan itu menghilang di balik pintu.
"Semua akan kembali normal. Sedih sekali rasanya akan berpisah dengan Keysha." Gumam Dokter Alexa. Ia kembali duduk dan meraih bolpoin yang sempat ia lepaskan sebelumnya. Kembali menyibukkan diri dengan berkas-berkas yang ada. Ia sedang menghibur diri, agar tidak semakin larut dengan rasa kehilangan atas waktu yang akan datang. Tentu saja dengan tidak adanya Keysha dalam hari-harinya akan membuatnya cepat merasa jenuh selama berada di lingkup pekerjaan.
--------
Keysha merogoh ponselnya yang bergetar. Ia mengangkatnya dan memberi instruksi kepada sopir taksi online yang baru saja di pesan olehnya.
Kepulangan yang mendadak tidak membuat Sandy bersabar jika harus di jemput oleh Reno ataupun sopir pribadi nya. Ia menyetujui ketika Keysha bercanda untuk mengajaknya memesan taksi online untuk mengantar mereka hingga sampai di rumah.
Padahal aku hanya bercanda. Dan benar-benar tidak percaya jika kak Sandy mengiyakan ucapan ku....
"Alamatnya sesuai aplikasi ya kak ?" Ucap driver taksi itu ramah. Ia menoleh ke belakang untuk menghormati penumpangnya yang baru saja naik.
"Iya pak." Tutur Keysha lembut. Ia tersenyum, membuat Sandy meliriknya tidak senang. Pria itu sangat pencemburu berat, ia sangat membenci jika Keysha tersenyum manis kepada pria lain. "Itu akan membuat nya terpukau denganmu." Begitulah yang selalu Sandy ucapkan untuk menguatkan statement nya.
Tiga puluh menit berlalu, mereka telah tiba di rumah. Jalanan sepi membuat mobil melesat dengan cepat walau driver itu mengendarainya dengan kecepatan sedang. Ketika Sandy jenuh dan protes, dengan sopan ia akan mengatakan jika itu sudah menjadi protokol yang wajib di patuhi dari perusahaan. Dia tidak berani melanggarnya, karena perusahaan pasti akan dengan mudah mengetahui dengan GPS yang terpasang di ponselnya. Tentu saja perusahaan akan memiliki ribuan cara untuk memberinya sanksi yang memberatkan untuk perorangan dan sangat menguntungkan bagi perusahaan. Itulah sebabnya driver itu sanggup bersabar menanggapi protes dari Sandy maupun pengguna jasanya yang lain.
Mereka segera turun dari mobil, Keysha mengeluarkan uang ratusan beberapa lembar lalu menyerahkan kepada driver.
"Maaf kak, ini kebanyakan." Ucapnya memberi tahu. Ia mengembalikan dua lembar kepada Keysha.
"Itu untuk bapak. Terima kasih ya pak sudah di antar. Maaf , tapi kata-kata suami saya jangan di ambil hati ya " Keysha terkekeh kecil.
"Wah ini serius kak ? Ya Allah, terima kasih semoga rejeki kakak semakin lancar." Ucap driver dengan senang.
Keysha mengangguk pelan, lalu ia segera bergegas mengejar suaminya yang sudah sampai di teras rumah terlebih dahulu. Sandy sudah menekan tombol bel dan sedang menunggu Yeni atau asisten rumah tangganya membuka pintu.