
Keysha terdiam, kepalanya ia geleng dengan ringan. Sandy memang tidak berbohong sedikitpun. Ia hanya belum menemukan waktu yang tepat untuk membicarakan semua kepada istrinya. Memilih bungkam, hingga semua sampai di telinga Keysha karena ulah Cherry.
"Sayang . Dengarkan! kita memang bekerja sama. Dan itu semua karena tidak sengaja, aku tak sadar menanda tangani kontrak itu. aku lupa mengatakan pada assisten ku untuk menolak semua tentang Cherry. Itu memang salahku. "
"*Aku tidak bermaksud seperti itu San . "
"Sudahlah. Tapi, dari mana kamu tahu itu semua* ?"
Sandy menatap Keysha dalam.
"Cherry. ." Singkatnya. Ia tahu apa Yang akan Sandy katakan.
"Kamu masih mempercayainya ?" Bisik Sandy dengan mendekatkan wajah tepat di wajah Key.
Key kembali menggeleng pelan. Menutup rasa malu atas cemburu yang tak berdasar. Ia malu, dengan rasa yang tak tertahan di balik dadanya. Membungkam mulut untuk tetap berdiam agar tak makin salah tingkah.
"o-oh , atau jangan-jangan kamu cemburu?" Sandy semakin mendekatkan wajahnya, hingga nafas mereka saling bertaut mesra. Mata yang sangat dekat namun menolak menatap.
"Ah, eng-engga' . Bukan seperti itu. "
Key gelagapan, Ia makin bingung dengan kata yang hendak terucap.
"Cemburu ya ?"
"Dan ketika aku melihat mu, kau tidak sedikit pun berinisiatif menghampiri itu karena kau cemburu ?"
Sialan sih memang, Sandy cerdas sekali menggoda. Keysha makin gelagapan menahan malu, pipinya kini kian memerah.
Sandy kembali menggelitiki Keysha dengan leluasa ..'Tidak akan ada lagi ya memergoki' batinnya dalam hati.
"O-Ya San," Key tersentak. Ia teringat akan ucapan Sandy sebelum Allan dan Lena menghampiri mereka. "Bukankah kau tadi mau membicarakan sesuatu ?"
"Yang ingin ku bicara kan sudah terjawab dengan pertanyaan mu tadi Key.." Jawab Sandy mengangkat tubuhnya. Pinggangnya mulai terasa tak nyaman, dan kaku dengan posisi seperti itu. Ia kini merebahkan tubuh di atas kasur . Menarik selimut dan menutup sebagian tubuhnya. Keysha masih tampak malu-malu menggerakkan tubuhnya, ia mengikuti suaminya dan membaringkan tubuh . Memejamkan mata dalam dekapan Sandy yang semakin erat.
****
Siul burung kembali nyaring menyambut pagi. Lantunan merdu terik yang semakin memanjat ke atas langit cerah. Yeni ikut senang menyaksikan senyum yang kembali terukir indah di garis wajah putri dan cucu-cucunya. Cahaya yang sempat meredup akibat kesalah pahaman yang merajalela kini bergairah menampakkan kapasitasnya.
Tuhan memang tidak pernah salah dalam menentukan bahagia yang memang tertulis untuk mereka.
Hari Minggu, hari keluarga. Waktu yang senantiasa di tunggu setiap raga. Mereka berencana piknik ke danau terdekat. Berbekal secukupnya, dan memberikan jatah libur pula untuk kedua pengasuh.
Usulan Sandy di sambut dengan gembira oleh Allan dan Lena. Mereka memang selalu kagum dengan alam bebas . Bermain-main balon dan menari bersama badut adalah kesenangan tersendiri untuk keduanya.
Lagu-lagu ceria mereka senandung kan sepanjang jalan. Melambai kagum pada setiap pepohonan yang berlarian tertiup angin. Riang dengan dunianya, bergembira dengan caranya . Seperti halnya Keysha dan Sandy .
Allan dan Lena berlarian setelah pintu mobil terbuka dengan sempurna. Tawa riang dan candaan khas keduanya bersaut merdu ikut di manjakan alam..
"Hati-hati Allan, Lena . . " Teriak Key senang. Ia menggelar karpet dan menyiapkan semuanya. Mengeluarkan bekal yang sengaja mereka bawa .
"Ma , ayok main ." Lena merengek , ia menarik lengan Keysha dan memaksanya untuk bermain bersama.
"Iya Lena . Pelan-pelan" Ucap Key mengikuti arah tangan nya yang di tarik Lena .
"Kita main bola aja ya ." Allan melempar bola kepada Sandy tanpa aba-aba terlebih dahulu . Hingga bola meleset jauh dari nya.
Lena tertawa ngakak melihat itu. Begitu pula Allan yang memang sengaja jail kepada Sandy.
"Allan, papa belum siap." Tegur Sandy terperanjat kaget. Ia mengusap dada bidangnya, karena jantungnya turut berdebar karena ulah Allan.
"Biar Aku aja San yang ambil." Ucap Key sedikit berlari. Ia mengejar arah bola berputar. Menoleh sekeliling, karena ia tidak melihat dengan pasti kemana perginya bola tersebut.
Dia semakin jauh melangkah, berputar di balik semak-semak dan tak lagi terlihat oleh Sandy dan si kembar. Ia mengelilingi sekitar rumput liar yang tumbuh dengan bebas. 'Tidak ada disini ' pekiknya dalam hati . Key kembali membalik badan, dan berniat menyudahi untuk tidak lagi mencarinya. Ah, sudahlah ! toh masih banyak mainan lain yang bisa ia mainkan bersama. Langkah Key mendadak terhenti. Ia memandang lekat pada sosok wanita dan seorang gadis kecil yang memegangi bola yang Key cari. Tak tergambar lagi seberapa dalam Key menatap wanita itu.
"Lo nyari ini ?" Ucapnya mengacung pada bola di tangan gadis kecil yang tangannya ia gandeng.
"I-iya .. . Rania? itu putrimu ?" Sahut Key terbata. Lidahnya terasa kaku, bahkan kata-kata yang hendak keluar tertahan di lehernya.
Langkah kaki yang sangat lambat mulai mengayun lembut , mendekat ke mereka berdua.
Rania tersenyum tulus, suguhan indah yang bertahun-tahun tak dia dapati lagi. Semenjak saat itu ! iya , benar ! Semua berawal dari sebuah rasa yang salah. Rasa Ibnu yang bahkan tak terungkap, adalah rasa yang salah dan melukai wanita di depannya ini.
"hmb ! Kenalin, Ini Angeline putri ku dan Ibnu" Jawabnya juga sangat sopan. Ia membawa nama suaminya, namun tak bernada sinis seperti biasanya. Tuturnya lembut, kembali pada diri Rania yang dulu.
"Hallo , kamu cantik sekali. Kenalin, aku Keysha " Key beralih memandang Angeline. Ia tersenyum ramah seraya duduk berjongkok untuk mengimbangi tinggi badan Angeline. Mengusap lembut rambutnya dan menyibaknya di balik telinga.
"Hai tante cantik, bola ini boleh untuk ku ?" Pinta gadis kecil itu malu-malu. Suaranya yang kecil sangat cocok dengan wajah imutnya.
"Eh, jangan ya sayang. Nanti kita beli, itu kan punya tante Keysha. kembalikan yaa " Ucap Rania yang kemudian ikut berjongkok. Ia membelai lembut kepala Angeline seiring kata yang keluar dari mulutnya.
"Ngga mau. Angel mau bola ini mi " Duh, rengekannya aja membuat orang yang mendengar gemas dengannya. Sepertinya Rania sangat memanjakan Angel, hingga ia tidak bisa lagi membantah kemauan putrinya.
"Gak apa-apa Ran. Biarin aja, anak-anak ku bawa banyak mainan tadi. Mereka biar main yang lain" Key menyentuh lengan Rania. Ingin sekali rasanya memeluk walau hanya sedetik. Tetapi tangan itu segera di alihkan oleh Rania. Bahkan ia tersenyum sinis, kode tak menyukai hal demikian.
Rania..Ku kira, lo emang udah sebaik lembutnya bicara lo tadi. huh, rupanya hanya sandiwara lo di depan Bidadari kecil lo. Makin hari lo makin pintar berakting Ran, sungguh ! gue sangat terkesan dengan dua topeng yang lo punya. Boleh kali di bagi satu sama mereka yang suka nyari muka. huhuu
Sandy dan si kembar yang telah lelah menunggu, ikut menyusul Keysha. Mereka mulai cemas karena Key yang terlalu lama padahal hanya mengambil bola .
"Key ? " Panggil Sandy lepas. Key berbalik, menoleh pada sumber suara yang menyebut namanya. Sandy menggendong tubuh mungil Lena yang protes karena lelah. Sedangkan Allan berjalan dengan di bergandeng tangan dengan Sandy.
"Hei anak-anak sini. Lihat mama punya temen baru lo " Ucap Key girang. Tangannya melambai memanggil kedua anaknya, begitu pun Sandy. Yang sudah merubah mode wajahnya, Cerianya lenyap dengan wajah masam .
"*Dia siapa ma ?"
"Allan, Lena kenalin ini namanya Angeline , Angel ini anak tante namanya Allandra dan Alena* " Ucap Key memperkenalkan. Mengajari anak-anak nya berjabat tangan dan mengenal satu sama lain. Angeline tampak tersenyum, menyembunyikan rasa malunya. Kulit putih itu tampak memerah padam.