I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Karena Rindu



Semua orang fokus pada sosok laki-laki yang baru saja turun dari mobil berwarna putih bersih di halaman butik. Wajahnya dingin, melirik masuk ke dalam gedung. Menyibak, satu demi satu manusia yang berada di sana, berputar mencari-cari keberadaan seseorang.


"Bu, seperti nya di depan ada Pak Sandy " Ucap Nur memberitahu Keysha yang masih sibuk di ruang kerjanya.


"Oh, iya mbak,.terima kasih ya " Jawabnya singkat. Ia mengukir senyum, lalu menutup buku laporan yang belum usai ia baca.


Kakinya segera beranjak, meninggalkan ruang. Menelusuri anak tangga dengan penuh tanda tanya, "Tumben, Sandy di sini" batinnya heran.


Langkah demi langkah, semakin mendekat pada posisi masing-masing . Key menoleh ke kiri dan kanan, ikut memastikan titik perhentian Sandy.


"Sayang " Key membalik pandangan, mengejar arah mencari sumber suara. Nada yang setiap hari ia dengar, sangat lekat dan begitu menyatu dengan pendengaran.


"Sandy ? ada apa ? Tumben kamu ke sini ?" Setelah ia mencium punggung tangan Sandy, ia mulai menghujami suami nya dengan ragam tanda tanya. Menekan detail setiap kata yang beraturan.


"Oh, jadi seperti itu ibu Keysha ? Saya tidak di izinkan datang ke sini ? " Sandy menggoda, ia menyulut senyum dan menarik dagu istrinya .Mendekati wajah dengan menyisakan beberapa cm, memberi celah untuk bernafas.


"Ih Sandy ! Malu lah, di lihatin orang itu lo " Key menepis halus tangan itu, menurunkan dan memegangi agar tak kembali lagi berlaku jail.


"Kenapa memangnya ? Setidaknya memberi mereka rasa iri sedikit agar semakin bersemangat melepas menjomblo an mereka" Tidak berhenti disitu, Sandy menggelitik pelan pinggang ramping Keysha, membuat wanita nya menahan tawa tak tahan geli.


"Sandy hentikan ...geli .." Pertahanan nya kini mulai kendor, Key semakin tak tahan dengan aksi tangan suami nya . Ia sedikit melepas tawa . Membuat orang-orang di sekitar ikut senyum-senyum, bingung membuang pandangan. Mereka di buat malu seketika, menyaksikan secara live adegan yang sering mereka temui di drama korea .


"Hei kalian ? Kenapa pada senyum-senyum? " Bukan merasa risih, Sandy justru sengaja menampar pegawai dengan pertanyaan konyol. Ia tak menyadari perbuatannya, seolah menjadi hal biasa, yang tak perlu di tatap aneh.


"Sandy ?" Kali ini Key mencubit lengan lelakinya, memutar nya gemas membuat Sandy menggelinjang merasa sakit. Wajahnya nyengir menahan suara. Ah, udah ! teriak aja sih, kagak usah malu kelihatan aslinya napa !


Keysha menggeleng ringan, memutar langkah meninggalkan senyuman. Ia kembali menelusuri anak tangga, satu demi satu hingga kembali ke ruang minimalis yang khusus ia rapikan sendiri setiap hari nya. Ruang di lantai atas, bersekat tembok yang tak terlihat dari luar, namun di bagian pinggir ia memilih memasang pembatas dengan kaca.


Hasrat yang sangat mencintai alam, ia ingin seperti burung liar yang bebas beterbangan, jauh mengepakkan sayap namun tak lupa arah jalan pulang.


"Kamu tidak lagi lembur San ?" Key memilih berdiri di sudut ruang. Meneguk air putih yang selalu ia sediakan di mana pun keberadaan nya.


"Banyak kerjaan tapi aku tidak tahan dengan rindu ku " Ia berjalan pelan, mengayun kakinya ringan hingga , menyuguhkan senyum usil yang selalu membuat Key merasa kewalahan.


"Sandy kamu tidak sedang salah minum kan ?" Key memegangi dahi Sandy , merasa heran dan bingung dengan tingkah Sandy.


"Mmm ...tidak, sudah ku bilang, aku rindu sayang. Apa ada yang salah ?" Sandy semakin mendekat, mendorong pelan tubuh mungil Key ke tembok di belakangnya. Ia menutup kepala Key dengan kedua lengan kekarnya. Memuaskan mata yang saling bertatap mesra, menyelaraskan hembusan nafas yang terdengar beriringan.


"Semenjak kapan kamu se bucin ini San ?" Key tersenyum, ia mencubit pinggang Sandy sedikit keras.


"aduh , sakit sayang. " Ucap Sandy sembari meraih jemari istrinya. Menahan agar tak lagi melanjutkan cubitan itu. "Semenjak, rindu ku tak bisa di tahan " Alis nya terangkat sebelah.


"Eh San, kamu tahu aku bertemu dengan siapa hari ini ?" Terngiang jelas wajah-wajah pucat yang tergambar dari raut Lita dan Shinta. Ia mendorong tubuh Sandy, beralih duduk ke sofa berwarna pink yang terletak di hadapan kaca.


"Mmm ....kalo itu tentu. Tapi ada yang lebih menarik dari itu " Lanjutnya masih menyimpan cerita.


"Siapa ?"


"Mama Lita dan tentu juga Shinta !" Key berkata penuh antusias, ia sedikit bergeser duduk dan menghadap ke Sandy.


"dimana sayang ? kok bisa ?" Sandy pun ikut antusias, ia bersiap membuka telinga. Mendengar alunan kisah yang yang sangat menarik dalam sejarah hidup nya.


"Aku ngga tahu pasti, mungkin Allah yang sudah bawa mereka ke hadapan ku. Entah sadar atau tidak, mama datang ke sini." Key mulai merangkai kata, memutar waktu membuka cerita.


"Ke sini ? ke butik maksud kamu ? Kamu yakin sayang ?" Ucap Sandy heran, ia kurang percaya jika orang tersebut benar-benar Lita dan Shinta.


"Iya lah san, kamu pikir aku udah ngga bisa lihat orang secara jelas ?"


"Ya bukan gitu Sayang, aneh ngga sih, seorang Lita dan Shinta datang ke butik muslim seperti ini " Sandy memberi penjelasan. Ia tahu, jika istri nya begitu sensitif di tanggal-tanggal tua karena yaaa wanita pasti memahami nya.


"Kalau Allah sudah berkehendak, apa sih yang engga San. Buktinya aku yang kesel nya setengah mati sama kamu bisa tu cinta setengah hidup " Keysha nyengir, ia menertawakan kalimat panjang nya sendiri. Merasa geli seolah merayu.


"Eh cie yang cinta " Sandy mencubit hidup istrinya. "mmm terus ? dia masih sama seperti dulu?"


"justru itu yang mau aku ceritain, kamu tahu mereka benar-benar beda 180 derajat. Mata gaya bahkan mau bicara aja sulit San, Mungkin karena takut salah kata dan memancing masalah untuk mereka " Jelas Key antusias.


"Bagus dong. Tapi mereka ngga pura-pura kan ?"


"Kalau itu sih, aku ngga bisa memastikan. Tapi, kamu tahu ? mereka benar-benar pucet beberapa jam bareng aku, makan bareng, bahkan aku minta mereka ganti dengan pakaian muslimah " Keysha tertawa. mengingat kejadian yang belum lama berlalu, pertemuan singkat yang membuat hidup Lita dan Shinta seolah terhenti, membeku di satu titik yang enggan lagi beranjak.


"kamu tahu tempat tinggal mereka?" Sandy menyelidiki. Sebelum ini ia sama sekali tidak tahu menahu tentang Lita dan putrinya. Ia menutup semua kisah lama, yang bagi nya memang sudah tidak lagi berguna.


Keysha membisu, terbungkam dengan tanda tanya yang menyulitkan ia menjawab. Ia tahu tentang itu, diam-diam menyelinap di kehidupan Lita, mencari titik terang persembunyian mereka. Key sempat kaget saat mengetahui siapa yang menghidupi dua wanita licik itu, seseorang yang juga sempat menarik nya dari lubang penderitaan.


"Tempat tinggal siapa San ?" Chandra memecah hening nya ruang setelah kalimat tanya itu lolos dari lidah Sandy. Ia menyelinap masuk tanpa permisi, mendorong pelan pintu yang tak sepenuhnya tertutup.Entah, semenjak kapan laki-laki yang mulai memutih rambut nya itu berdiri di sana. Mendengar tawa dan riang nya Key bercerita.


"Papa ? Kok ngga telfon Key dulu kalau sudah sampai" Key menyambut papa mertua nya, menunduk mencium punggung tangan orang yang telah lama tak ia temui .


"Maaf nak, papa cuma mau ngasih kejutan aja buat menantu kesayangan papa" Goda Chandra, ia melirik Sandy yang sudah memasang wajah kesal merasa tak di anggap sebagai anak kandung sendiri.


"Ok jadi Sandy ngga guna ni ?" Ia mulai terbuai dengan suasana. Merajuk bak anak gadis yang hendak di paksa menikah.


Wajah kesal Sandy menarik Key dan Chandra tertawa. meluapkan kegembiraan yang tak terkira harganya, menyuarakan puas dengan nada-nada ledekan nya.