
Mobil Sandy melaju dengan kecepatan sedang menuju butik terkenal milik istrinya. Sebuah butik yang memiliki nama bukan karena branded atau banyaknya orang kaya yang meminang pakaian di sana, melainkan cara Keysha memasarkan produknya. Ia tidak mengeruk keuntungan yang besar, tidak pula menjual dengan harga yang menyekek tenggorokan. Bukan barang murahan namun sangat membantu perekonomian keluarga kecil. Ya, itu adalah salah satu cara dia untuk menolong orang lain tanpa di anggap meremehkan. Banyak karyawan yang di pekerjakan di sana. Banyak pula yang secara cuma-cuma tanpa memiliki kelebihan dalam memasarkan produk. Semua kembali pada tujuan awal, dia ingin berbagi dan mengurangi jumlah pengangguran yang membeludak.
Setelah mobilnya terparkir di halaman butik, Sandy segera turun. Ia melangkah dengan tegak, menarik bagian depan jas untuk mematangkan langkah.
Tidak banyak membuang waktu, ia segera masuk ke dalam butik. Mengangguk lirik ketika berpapasan dengan karyawan yang menyapanya dengan ramah. Sandy menelusuri anak tangga, satu demi satu di daki tanpa gontai. Langkahnya tegas, tidak peduli dengan mata gadis-gadis pelanggan Keysha yang meliriknya dengan genit.
"Sayang...." Sandy membuka pintu ruang kerja Keysha tanpa mengetuk nya terlebih dahulu. Ia sempat tercengang, tidak ada wanitanya di sana. Hening, ruang itu mencengkram tanpa aktivitas manusia. Sandy memperhatikan sekeliling ruangan. Semua biasa, masih tertata rapi hingga tidak memberikan rasa curiga pada batin Sandy.
"Sayang ...apa kau dj dalam sana ?" Sandy mengetuk lirih pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Tidak ada jawaban yang menyahuti, hanya suara sunyi yang menyakitkan pendengaran yang memaksa.
Sandy tampaknya mulai tidak sabar, ia merogoh ponsel lalu memanggil kontak dengan ID 'Wife' di sana. Meraihnya dengan penuh harapan saat ponsel itu berada di telinga.
🎶 Cintaku senyaman mentari pagi seperti pelangi....
Ponsel Keysha berdering tidak jauh dari posisi Sandy berdiri. Mengalunkan musik lembut dengan lirik favorit Keysha. Sandy mengkerutkan dahi, merasa heran dengan istrinya yang meninggalkan ponsel begitu saja.
Aneh, memang. Keysha tidak seperti biasanya hari ini. Banyak hal penting yang terlupa dan hilang dari ingatannya. Ia melewatkan beberapa hal yang akan menjadi petunjuk ketika ia sulit di temui seperti saat ini.
Sandy mengkerutkan dahi merasa heran, ia mulai tidak tenang dengan rasa cemas yang tiba-tiba mengusik hatinya. Tubuhnya melemas, seakan memang sedang terjadi hal buruk kepada wanitanya.
Laki-laki itu bergegas keluar ruangan. Setengah berlari menelusuri anak tangga. Tatapannya tajam memperhatikan sekeliling sudut ruang. Menatap sejauh mata masih bisa menangkap pandangan. Tidak ada celah yang tertinggal walau hanya sejengkal tangan.
"Selamat Sore tuan Sandy...." Seorang pelayan menyapanya dengan ramah. Ia menunduk ketika jarak yang memisahkan tidak terlalu jauh di antara mereka.
"Dimana Keysha ?" Sandy bertanya dengan nada khawatir namun terkesan sinis ketika sampai di telinga karyawan istrinya. Laki-laki itu melangkahkan kaki di anak tangga terakhir, berdiri tegak mendesak wanita di depannya agar segera menjawab.
"Bu Keysha sudah keluar butik dari tadi tuan...." Jawabnya parau. Ada nada yang patah karena rasa takut yang menjalar hebat. Ia terus menunduk, tidak berani menatap sorot mata yang membuatnya bergidik ngeri.
"Keluar ?" Kata Sandy meyakinkan.
"Benar tuan ..Bersama seorang perempuan cantik." Jawab wanita itu dengan hati-hati.
"Perempuan ? Dia Rania ? Wanita yang pernah datang ke sini dan menangis ?" Sandy semakin gencar menyelidiki.
"Bu-bukan tuan ....perempuan itu pernah ke sini bersama seorang perempuan yang lebih tua darinya. Waktu itu dia datang dengan pakaian seksi lalu di minta ganti oleh bu Keysha ... Kelihatannya mereka sangat terburu-buru tuan , hingga bu Keysha lupa tidak mengatakan apapun kepada kami. " Wanita itu berbicara dengan sangat halus. Kata demi kata ia rangkai sedemikian rupa sehingga lebih mudah untuk di pahami.
Sandy membelalak tidak percaya. Otak dan logikanya mulai menerka jika yang di bicarakan oleh karyawan itu adalah Shinta, adik Keysha. Jika benar, tentu wanita itu memiliki rencana buruk di balik alasannya hadir di sana. Entah dengan cara apa dia merayu dan membujuk. Yang jelas, wanita itu merupakan salah satu ancaman besar bagi keselamatan Keysha. Apalagi jika yang Rania katakan jika Cherry menemui Lita dan Shinta bukanlah sebuah cerita palsu.
Laki-laki itu segera berlalu meninggalkan butik. Ia mengayun langkah dengan sigap. Tidak peduli dengan sapa ramah yang terdengar bergantian di telinganya. Nama Keysha dan rasa cemas yang sedang menyibukkan pikirannya.
"Sial ! Rencana apa lagi yang sedang mereka rancang . Sayang, kenapa kamu mudah sekali di bohongi ..." Sandy semakin tidak tenang. Ia melajukan mobil dengan sangat tergesa-gesa.
"Reno ?" Sandy merogoh ponsel, memasang headset setelah berhasil menyambungkan telepon kepada Reno.
"Hmm...kenapa San ? kamu sudah rindu terhadapku ?" Jawab Reno sangat datar dari sebrang telepon. Kalimatnya bernada angkuh seolah Sandy memang manusia yang tidak bisa terlepas darinya.
"Turunlah Reno ...mimpimu terlalu tinggi ! Ada hal yang lebih penting dari halusinasi mu itu ." Jawab Sandy geram.
"Ya ya ya ...terserah kamu mau sesombong apa untuk sekarang. Tetapi perlu kamu tahu, Keysha di bawa pergi oleh Shinta saat ini. " Sandy menjelaskan. Tangannya masih fokus dengan kemudi, memilih jalanan untuk melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
"Sandy...Kenapa kau biarkan itu terjadi ? Ku pikir, Keysha sedang tidak baik-baik saja untuk saat ini." Reno memelankan bicaranya. Begitu pula dengan suara musik yang sedari tadi menekan indera pendengarannya. Bibirnya terasa kaku dan berat untuk berkata. Bahkan hatinya tidak kuasa menahan gundah yang membuatnya turut tidak tenang ketika mendengar nama Keysha.
Sandy menutup telepon secara sepihak. Tidak perlu banyak basa-basi hanya untuk menyudahi berita. Ia paham, Reno sangat cerdas, tanpa di katakan pun sudah pasti dia mengerti hal apa yang harus di lakukan olehnya.
------------
"Allan kenapa kamu tampak murung sayang ?" Yeni menyentuh bahu Allan yang melamun di teras rumah. Pria kecil itu sudah lama hanya berdiam diri di sana melihat saudara kembarnya yang sedang berlari-lari di halaman bersama pengasuhnya.
"Tidak oma....dada Allan rasanya tidak enak. " Jawab Allan polos. Ia menatap Yeni dengan wajah lugu.
"Allan sakit ?" Yeni merasa khawatir. Ia memegang dahi Allan untuk mengecek suhu badan pria kecil itu.
"tidak oma....Allan sehat. " Allan dengan segera menepis pertanyaan Yeni. Menolak dengan berdiri dan memperlihatkan jika dia sedang baik-baik saja. Sontak tingkahnya mengundang tawa kecil di bibir Yeni. Perempuan paruh baya itu terkekeh geli melihat Allan yang sangat tidak ingin di kasihani.
"Oma...apa mama hari ini lembur lagi ? Sekarang bukankah sudah sore ? harusnya mama sudah sampai di rumah saat ini. " Lena yang tiba-tiba datang langsung memberondong Lita dengan ragam pertanyaan. Ia menoleh ke arah gerbang yang tidak menunjukkan adanya pergerakan. Sepi, tidak ada tanda-tanda ada mobil yang menanti di bukakan pintu.
"Lena...mama banyak pekerjaan sayang. Sudah berhari-hari mama tidak bekerja, tentu sudah banyak pekerjaan yang tertunda dan harus di selesaikan cepat oleh mama. " Yeni membelai rambut Lena. Ia menjelaskan dengan sangat pelan. Mencoba memberi pengertian kepada cucu perempuannya.
Allan hanya terdiam mendengar ocehan Lena. Membuang pandangan dan terus memperhatikan pintu gerbang. Matanya bersinar dengan harapan tinggi. Menanti sesuatu yang sebenarnya juga sedang menyesakkan dadanya. Namun, dia tidak bisa menjelaskan dengan apa yang di rasa. Belum cukup pandai merangkai banyak kosa kata untuk menggambarkan keadaan yang menimpa jiwanya.
"Kita masuk sayang...." Suara lembut Yeni membuyarkan lamunan Allan. Pria itu tidak menyadari jika semua sudah tidak ada di tempat. Keadaan telah sepi dan hanya menyisakan dia dan Yeni yang masih setia menemani rasa cemasnya.
-----------
"Aku menunggu mu di jalan xxx. "
Reno segera memancal pedal setelah membaca pesan singkat yang di kirimkan oleh Sandy. Kebetulan jarak yang di tandai tidaklah jauh dari posisinya saat itu. Hanya dengan hitungan menit, ia sudah sampai dan dengan cepat menemukan mobil milik sahabatnya itu.
Reno bergegas turun setelah memberi instruksi kepada seseorang yang sengaja dia ajak untuk membawa mobilnya. Ia berlari meninggalkan kemudi dan menuju ke arah Sandy menunggu.
"Jadi, kemana kita sekarang ?" Reno menatap Sandy dengan pandangan iba. Tidak tahu langkah yang harus di ambil untuk memudahkan ia menemukan titik lokasi keberadaan Keysha.
"Entahlah, Keysha tidak membawa ponselnya. Jadi sangat sulit untuk kita melacak keberadaan nya sekarang." Jawab Sandy pasrah. Ia hanya terus mengatur laju mobil tanpa arah tujuan yang jelas. Membiarkan roda melesat begitu saja di atas aspal hitam yang sangat sepi. Tidak banyak lalu lalang kendaraan yang melintas di sekitarnya.
"Apa kau tahu tempat tinggal dua wanita itu ?" Reno memainkan jemari di area wajah. Berpikir dengan keras untuk menemukan titik terang.
Sandy menggeleng pelan. "Tidak... Aku telah lama tidak berurusan dengan mereka."
"Bodoh ! Mereka orang-orang berbahaya. Kenapa kamu membiarkan mereka bebas bergerak tanpa pengintaian ?" Gertak Reno kesal.
"Aku belum sempat berpikir sejauh itu Ren. Siapa sangka semua bisa terjadi secepat ini." Jawab Sandy membela diri. Ia masih memfokuskan mata pada jalanan. Tidak memperdulikan mata Reno yang manatap nya tajam tanpa rasa kasihan.
"Kita ke rumah Rania. Aku rasa diapun terlibat dalam kasus ini. " Ucap Reno memberi instruksi.