I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Wajah teduh Keysha



Sirna,


Tiada lagi asa yang nyata


Sepercik cahaya yang tampak terang sinarnya


seakan harus musnah seketika


hilang,


semua terbuai bersama lirih hembusan angin


Secuil cinta dengan lukisan senyum


yang menjanjikan


Rupanya,


Hanya sebuah taktik semata untuk menjatuhkan


Hancur...


Kau rangkaikan indah pelangi


kau pula yang siramkan kabut tebal setelahnya...


Apa yang bisa ku tegaskan ?


pada diri ? pada hati ?


Bahkan,pada alam yang sedang menertawaiku...


Kenapa ?


Kenapa kau begitu lihai membuatku terpesona ?


Seakan nafasku tak lagi berhembus kala tangan tak bergandengan denganmu ?


Mengapa ?


Mengapa kau sangat menarik ?


Mudah sekali membuatku terlena,


terbuai dalam sanjungan kata yang rupanya hanya sebatas rayuan semata...


#Author @Titin_tiand


*******


Mungkin, setelah ini akan ada cerita yang lebih rumit antara dokter Alexa dan Reno. Tidak akan terlihat lagi kemesraan yang terjalin di antaranya. Seperti ombak, datang menggebu, pergi dengan menggusur sedikit demi sedikit jiwa yang di tinggalkan.


Keysha sudah tak banyak berharap dari hubungan mereka berdua. Ia tengah di sibukkan menjadi sosok penghibur bagi dokter Alexa. Hatinya, tak sejalan dengan Sandy yang tiba-tiba membenci, tapi tetap saja ada titik kekecewaan yang tertulis kepada Reno. Laki-laki yang telah menemukan adiknya, tapi dengan mudah menjadikannya wanita pemuas satu malamnya.


Mungkin memang benar, kesalahan tidak seluruhnya terletak pada Reno. Namun, tetap saja. Dari puluhan orang yang dekat dengan Reno, hanya Keysha yang terlihat tidak banyak bicara dan menyudutkan Reno.


Sudah satu minggu berjalan, sudah tujuh hari kali dua puluh empat jam mimpi buruk itu terlewat. Rupanya, ribuan kali putaran jam pun belum juga merubah kesakitan yang mendera hati dokter Alexa, begitu pula dengan Reno.


Mereka sama-sama mengurung diri. Berdiam terus di dalam kamar dan hanya sesekali tampak di antara kerumunan orang.


Reno tergeletak begitu saja di atas sofa. Membiarkan kamar acak-acakan dengan benda yang berserakan di atas lantai. Semua ulahnya, ia memang melempar semua benda itu semau hatinya tepat di malam itu, malam kegagalan dalam pernikahan yang telah lama ia rencanakan.


Ia hanya diam di tempat, tidak lagi menghabiskan puluhan kaleng minuman keras. Tidak lagi berkeliaran dan mencari mangsa di club malam seperti sebelum-sebelumnya. Tamparan kuat yang Febi berikan, cukup menjadi tembok yang membatasinya dengan dunia malam yang sangat menyesatkan masa depannya.


Terkoyak dengan kehilangan yang mendalam, sudah cukup menjadikan pelajaran yang berharga baginya. Di permalukan tepat di hari pernikahan bukanlah petaka besar yang akan membuat hidupnya hancur, akan tetapi merelakan dokter Alexa pergi begitu saja, dan meninggalkan pesan untuk tak lagi saling mengenal sudah cukup menjadi tombak pembunuh untuknya. Bagaimana ada harapan jika seonggok berlian yang selalu menggebu semangatnya harus terkikis tak lagi kasat mata.


Tok...tok...tok...


Keysha dan Sandy telah berdiri di depan apartemen mewah Reno. Keysha sibuk mengetuk pintu, sementara Sandy sudah merasa malas dan berusaha kabur. Ia sedang tak ingin berjumpa dengan sahabat nya. Harga dirinya turut tercoreng dalam satu malam yang menghancurkan segalanya.


"Ren...." panggil Keysha dengan lembut. Ia masih berusaha menanti sampai Reno benar-benar menerima kedatangannya. Ia tahu betul laki-laki itu tentu sedang meradang, menangisi penyesalan yang telah terjadi.


"Sudahlah sayang, Reno sedang tidak ingin di ganggu. Kita pulang saja ya..." sahut Sandy.


"Kak Sandy, kakak ini sahabat macam apa ? Dari mana kakak menilai semua peristiwa ini ? Ayolah kak, buka mata hati kakak ! Reno itu sangat berharga untuk kakak, banyak hal yang telah ia relakan demi kakak. Sekarang, giliran Reno yang butuh kita, apa yang bisa kakak lakukan ? kakak tega melihatnya meringkuk dengan kesedihan seperti ini ?" Berbicara dengan bahasa ringan, sangat susah di mengerti oleh Sandy. Sesekali, ia harus di bukakan dan langsung di tunjukkan bagaimana langkah yang tepat, yang seharusnya ia ambil.


Sandy tertegun, ia tak habis pikir jika Keysha yang usianya jauh di bawahnya selalu bisa berpikir lebih matang darinya. Perilakunya, tingkah nya, sikapnya, semua seperti menjadi panutan yang tepat untuknya.


"Kakak masih akan menjauhi Reno ? Membencinya, dan berpikir semua kesalahan ada padanya ?" tanya Keysha. Sorot matanya yang teduh begitu dalam memandangi sang suami. Sebuah jembatan harapan selalu terukir di lekuk matanya.


Sandy menghela nafas pelan, lalu meraih jemari Keysha. Ia juga menarik gagang pintu apartemen Reno karena sangat hafal dengan tingkah teman kecilnya itu. Ia tidak akan pernah mengunci pintu, kecuali sedang membawa perempuan bermalam di kamarnya.


Reno belum juga beranjak. Ia masih duduk dengan kedua tangan yang bertumpu pada lutut. Memandang keluar jendela dengan tatapan kosong. Benda-benda berserakan bebas. Bantal dan selimut sudah melayang tak lagi berada di atas ranjang.


"Astaghfirullah, " Keysha menutup mulutnya. Tak tahu lagi harus bagaimana nanti membangkitkan gairah sahabat suaminya ini. Terlihat dengan jelas, ia tak lagi memiliki semangat hidup. Otak dan logikanya sudah enggan memikirkan ragam cara untuk menariknya keluar dari lubang kesengsaraan.


"Kalian untuk apa ke sini ? Bukankah kalian juga membenciku ?" tanya Reno dengan sinis. Ia sama sekali tidak melirik ke arah Sandy dan Keysha. Masih terpaku dengan pandangan kosong yang beberapa hari terakhir ini menjadi rutinitas keseharian untuknya.


"Reno, kamu sudah makan ? Aku bawakan sop buntut kesukaanmu ?" tanya Keysha.


"Aku tidak butuh. Lebih baik kalian pulang saja, dan bawa makanan itu !" sahut Reno sinis.


"Mau mu apa sih Ren ? Jangan jadi p e n g e c u t seperti ini kamu bisa kan ? " Sentak Sandy.


"Aku tidak peduli, " jawab Reno dingin.


"Ok, baiklah. Aku akan membantumu membujuk Alexa, tapi aku mohon kamu jangan lemah seperti ini. " seru Sandy.


"Aku tidak butuh siapapun." jawab Reno ketus.


Keysha sudah menduga, lelaki ini memiliki trauma yang mendalam tentang hati. Sebuah petaka yang menjadi sumbu yang membakar seluruh asa, berawal dari sebuah trauma di masa lalunya. Sejak kecil, ia hidup sebatang kara, ketika kesuksesan dengan mudah ia gapai, banyak sekali sepasang perempuan dan laki-laki yang mendatanginya, lalu mengakui bahwa ia adalah anak kandungnya. Tentang cinta, ia pernah jatuh pada pelukan seorang wanita, tapi dengan mudah kandas setelah perempuan itu mendapatkan apa yang ia inginkan. Itulah alasan kuat yang menjerumuskan Reno ke dunia kelam. Sebuah penanaman pola pikir yang salah, tanpa dukungan orang-orang yang mengasihi membuatnya jatuh pada lubang salah. Keysha sudah mendengar cerita itu dari Meera, dan ia berharap agar Reno tak mengulang kisah yang sama.


"Ren, sudah satu minggu Bunda di rumah nangis terus. Ia selalu bilang, kalau ia sangat merindukan mu, " Suasana semakin mencengkram. Aura negatif dua laki-laki itu sepertinya sedang bertempur. Menambah pengapnya ruang karena Reno sama sekali tidak menyalakan AC. Ia juga menutup setiap ventilasi udara rapat-rapat. Sandy menjatuhkan tubuh di atas sofa, tempat Reno bersandar.


"Katakan padanya, aku baik-baik saja. Aku akan datang jika urusan ku sudah selesai. " Reno menoleh sekejap, sebelum akhirnya kembali membenamkan tatapan pada teriknya sinar mentari yang menerobos masuk ke dalam ruang.


"Urusan ? Hanya duduk melamun, tanpa pergerakan dan hanya terus menangis seperti anak perempuan ini kau bilang urusan ?" sentak Sandy. Ia mulai tak sabar meladeni sikap dingin Reno. Mudah sekali ia terpancing emosi, lalu naik pitam dan menyemburkan kata-kata kasar yang seharusnya memang tidak perlu ia luapkan saat itu juga.


"Kau tampak hitam. Sudah berapa lama kau berjemur ? Apa kau sedang merencanakan kulit yang eksotis ?" tanya Keysha dengan nada mengejek.


"Ckk" Sandy berdecak kesal. Ia mulai tak sabar melihat perlakuan sang istri yang masih berusaha lembut meskipun di sambut kasar oleh Reno. "Lama-lama aku bawakan j a l a n g ke kamarmu. Payah ! gitu saja lemah !" gertak Sandy geram. Ia beranjak, lalu menjatuhkan tubuh di atas ranjang Reno.


"Jangan dengarkan kak Sandy ya Ren. Dia lupa pas aku tinggal di bandung seperti apa buruknya dia dulu, " seru Keysha.


"Makan Ren. " Keysha duduk bersimpuh di hadapan Reno. Menyodorkan sebuah menu yang sudah lengkap ia isi dengan nasi dan berbagai lauk yang ia bawa.


"Jangan berpikir aku sedang mengasihani mu, aku tahu kamu sangat benci di kasihani. Aku hanya ingin bunda kembali seperti biasanya Ren, Bunda ngerasa kalau kamu sedang tidak baik-baik saja. Please, makan ya, demi bunda, " bujuk Keysha sangat halus.


"Ya, aku tahu, bunda bukan lah ibu yang melahirkan mu, tapi kamu tahukan se-sayang apa bunda terhadapmu ?"


Reno meraih piring itu, melahapnya sesendok demi sesendok dengan cepat. Meskipun pandangan matanya masih terlihat kosong, tapi setidaknya ia sudah mudah menerima nasihat orang sekitar.


Meluluhkan hati Reno, bukanlah suatu perkara yang mudah. Jika hanya bermodal gertakan dan cara kasar, sudahlah lebih baik tidak perlu lagi datang. Reno memang pria arogan, tetapi hatinya sangat sensitif. Sikapnya terkadang sangat dingin, tetapi kepekaan rasanya tidak bisa lagi di ragukan.


"Key ?" panggil Reno lirih.


"Ya ?" sahut Keysha segera mungkin.


"Kamu pernah kehilangan kan ? Justru lebih buruk dari yang menimpaku bukan ? Sebenarnya hanya karena kesalahpahaman, tapi tetap saja itu sangat terkesan menyakitkan bagimu. Apa Alexa merasakan hal yang sama denganmu sekarang ? " Tanya Reno dengan lirih.


"Percayalah Ren, semua itu atas campur tangan Allah. Jika dia memang jodohmu, suatu saat pasti Allah akan pertemukan kalian kembali. Mau sejauh apapun jarak yang memisahkan, mau seperti apapun benci yang menghalangi. Pasrahkan semua sama Allah, " jawab Keysha. Kini, wajahnya mulai menggambarkan senyuman lembut begitu sorot mata Reno mulai tertarik meliriknya. Sejak awal perbincangan, laki-laki sama sekali tak ingin beradu pandang dengan siapapun. Ia lebih damai dengan hangatnya terik yang masih terang menyinari bumi. Sinar yang cukup menyengat, terlihat jelas dari dalam apartemen Reno.


"Ren, kamu gak mampu bayar listrik apa ? Lihatlah kamarmu ini sangat panas ! Kau sama sekali tidak menyalakan AC, gila. Kau begitu ingin mengering di sini ?" Keluh Sandy.


Sandy mulai menarik kaos lengan panjang yang ia kenakan. Melepasnya dan melempar begitu saja ke sembarang tempat. Reno menepuk tangan dua kali, lalu mengucap kode untuk menyalakan AC.


"Kau tidak lupa kan seperti apa dulu perjuangan mu membantu kak Sandy untuk mencari ku ? " Tanya Keysha.


Reno mengernyit heran, keduanya mulai lagi terlibat pembicaraan serius. Hanya berbisik ringan, yang tak sampai ke telinga Sandy yang lebih tertarik untuk tidur.


"Apa aku harus melakukan hal yang sama seperti yang Sandy lakukan dulu ?" tanya Reno penuh selidik.


"Ha ha ha " Keysha justru terkekeh geli mendengar pertanyaan Reno. " Aku sama sekali tidak tahu perjuangan kak Sandy. Justru, aku tahunya kamu yang bersikeras memintaku untuk mendengar penjelasan mu."


Reno tersenyum simpul, " Dia juga hampir gila karena mu dulu..."


"Apa kau juga ingin gila seperti nya ? Lihatlah, setelah gila dia se-menyebalkan itu. Sama sekali gak ingin pusing dengan setiap masalah yang jelas juga sedang melibatkan namanya. " Ejek Keysha. Ia hanya berani berbisik-bisik di balik telinga Reno agar tak terdengar langsung oleh Sandy.


"Itu penyakit lamanya, " timpal Reno.


Lagi, lagi Keysha terkekeh kecil.


"Sudahlah ! Kamu jangan cengeng seperti ini. Aku tahu, ini pasti sangat menyakitkan bagimu, tapi sampai kapan kamu terus berdiam diri dan menyiksa dirimu sendiri seperti ini ? " Keysha menautkan kedua alisnya. Ia memandangi Reno, masih berusaha membujuk Reno untuk kembali bangkit. Menata kehidupan yang lebih berharga setelahnya. Menyelesaikan masalah yang sedang menghukum nama baiknya.


"Ren, kita sama-sama cari tahu tentang Shinta. Kau tahu tempat kerjanya bukan ? Jadi, sangat mudah untuk menyelidiki semua." usul Keysha.


"Ku pikir, dia tidak selalu di Club Malam itu. Adikmu sangat binal, dia juga lebih gila dari Cherry. Apapun pasti akan dia lakukan untuk menutup diri . " Sahut Reno.


"Bukankah kekuasaan mu di kota ini lebih gila ? Kau boleh juga menggunakan cara gila untuk mengancamnya, begitu pula dengan semua orang yang terlibat dalam siasat gilanya ini. Aku rasa, Cherry juga bebas karenanya. " Keysha mendengus kesal. Tidak pernah berpikir sejauh itu, apalagi dengan adiknya yang bisa berbuat seburuk itu.


"Baiklah ! Akan ku buktikan jika anak itu bukanlah darah daging ku." Reno tersenyum sinis. Ia mulai beranjak, dan segera menuju kamar mandi. Aroma tubuhnya sudah membuat Keysha pusing. Aroma minyak wangi yang bercampur keringat sungguh memaksa indera penciuman Keysha untuk bertahan baik-baik saja.


"Alhamdulillah.." lagi lagi, Keysha berhasil membujuk Reno. Meskipun hubungannya dengan dokter Alexa belum terjamin akan berlanjut, tapi setidaknya melihat salah satu sahabatnya mulai bangkit dan menepis ketakutan yang menggelayuti diri sudah cukup membuatnya bernafas lega.


Keysha membereskan barang-barang Reno. Merapikan meskipun tidak kembali ke tempatnya semula. Keysha jarang berkunjung ke apartemen Reno, jadi wajar saja jika ia tidak terlalu ingat tata letak ruang Sandy.


"Sayang, jangan terlalu capek ! Kasihan dedek bayi, " Sandy mulai mengerjap. Begitu tersadar, ia sudah tidak melihat Reno di depan sofa. Tidak lagi melihat barang berserakan dengan liar. Tidak lagi kepanasan. Yang sekarang jelas di pandangan matanya, hanya Keysha yang sedang membersihkan lantai.


"Tujuan kakak ke sini untuk apa sih ? " tegur Keysha.


"Aku tidak punya tujuan, kau yang memaksa ku tadi." Seru Sandy.


"Kakak ini, lama-lama menyebalkan sekali. " Keysha berdecak kesal. Kemudian, ia kembali menjalankan mesin vakum untuk membersihkan debu-debu di lantai.


"Ha ha ha , " Sandy terkekeh geli. "Bercanda sayang, aku sangat ngantuk karena beberapa malam lembur, "


Sandy beranjak dari atas ranjang. Ia membantu melipat selimut dan merapikan sprei. Lalu, ia berjalan menuju lemari pakaian Reno. Memilah-milah pakaian yang cocok untuk ia kenakan di sana.


"Lembur ?" gumam Keysha dalam hati setelah beberapa menit meresapi kalimat Sandy.


"Bukankah kakak baru semalam lembur ? Kenapa di lebih-lebih kan ?" decak Keysha kesal. "Tidak baik jika anak-anak mendengar nya. Itu akan menjadi contoh yang di tiru mereka. Allan sangat cerdas kak, kau harus sadar itu. "


"Kata siapa aku lembur baru semalam ? Dua malam ini aku memang lembur. " elak Sandy.


"Bohong banget. " Keysha mengerucutkan bibirnya.


"Kan lembur sama kamu sayang, masak lupa ? Mau di ulang ya nanti malam ? " ucap Sandy dengan nada bercanda.


Keysha yang serius menanggapi itu, melempar bantal ke arah Sandy karena menyadari jika sejak awal suaminya hanya ingin meledeknya. Mirisnya, Sandy menyadari itu dan dengan cepat ia bergerak menghindari. Naasnya lagi, bantal sampai di depan kamar mandi, tepat di saat Reno membuka pintu dan melangkah keluar.


"Apa-apaan ini ?" gertak Reno.


"Keysha tuh Ren, dia ketularan kamu tuh. Senang sekali lempar-lempar barang kalau kesel. " Seru Sandy. Ia telah selesai merapikan diri. Telah menemukan juga kaos yang menurutnya sangat cocok dengan tubuhnya. Sandy telah berdiri menghadap kaca, menyisir rambut dan menyemprotkan parfum segar yang biasa Reno gunakan setiap saat.


"Sorry Ren, cuma bantal doang. " Keysha menatap wajah Reno dengan sorot melas. Membuat pria itu tak lagi berkutik, dan kalah sebelum perdebatan di mulai.


*******


"Lex, kamu jadi kerja di rumah sakit lagi ?" Tanya Rania di sela-sela kerja mereka. Dokter Alexa yang mendengarnya, menghentikan gerak tangannya sesaat. Bagaimana tidak ? Reno yang berjanji akan membuatnya bekerja lagi di rumah sakit utama tempatnya bekerja sebelum ia di pecat kemarin. Nyatanya, perpisahan paksa yang terjadi antara Reno dan dokter Alexa sudah cukup memberikan jawaban.


"Kalau masih rejeki Ran, doakan saja ya. " jawab dokter Alexa. Ia kembali menyelesaikan sketsa pertamanya. Akhir-akhir ini, Keysha mengajaknya belajar membuat desain. Setidaknya, memberikan sedikit kesibukan akan membuatnya lupa tentang malam itu. Hal pahit yang mengutuk habis sisa umurnya.


"Pastilah Lex, kamu sangat cerdas. Kepala dokter itu saja yang bodoh. Manusia mana ada sih yang seratus persen selalu benar, sesekali melakukan kesalahan bukankah itu manusiawi ?" sahut Rania.


"Sudahlah, jangan bicara seperti itu." ungkap Dokter Alexa. "Oh ya Ran, Keysha kok tumben belum datang sudah siang begini ?" dokter Alexa melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Dia...dia ada urusan katanya Lex. " jawab Rania gelagapan.


"Oh" dokter Alexa membulatkan bibirnya seraya mengangguk-angguk mengerti.


"Lexa, Itu kok lengannya panjang sebelah ? Kau tidak mengukurnya baik-baik ya ?" Tanya Rania. Jarinya menunjuk pada kertas di hadapan dokter Alexa. Berusaha mencari celah untuk merubah alur pembicaraan yang membuatnya kesulitan merangkai sebuah jawaban.


"Ah tidak Rania. Ini aku ukur sesuai yang Keysha contohkan, " dokter Alexa mengamati sketsa gaun itu dengan cermat.


"Oh, maaf maaf ...Mungkin aku salah lihat. " sahut Rania.


"Gimana sih ?"


"Dari sini kesannya seperti panjang sebelah Lex, jadi ku pikir kau tidak mengukurnya tadi." jawab Rania dengan kata-kata pembelaan.


"Sudahlah, kamu fokus saja sama jahitan mu itu. Nanti kalau ada yang tidak mengerti akan ku tanyakan padamu. " Dokter Alexa memasang headset di kedua telinganya. Ia memutar musik dengan alunan lagu yang ia idolakan. Jemarinya mulai lihai melukis sketsa gaun. Menyalurkan isi hati dengan ragam desain yang bisa menjadikan pelarian.


Coretan ringan dari jari-jari tangan yang ia tinggalkan di atas kertas. Cukup mendalam, menjadi media pendengar yang baik untuknya berkeluh kesah.