
"Sekarang sudah clear kan ? Tidak ada lagi yang salah paham, jadi mau di lanjut kapan acaranya ?" Tanya Keysha dengan nada menggoda.
"Secepatnya lebih baik, " Sahut Reno yakin. Ia tetap menyantap makanan di atas piringnya dengan lahap. Tidak ada lagi acara melamun di atas piring seperti hari-hari sebelumnya. Aura nya sudah kembali terpancar. Bahkan porsi makannya seolah-olah seperti sedang balas dendam karena hampir dua minggu ia tidak enak makan.
"Pelan-pelan Om Reno. Masih banyak kok lauknya, " celetuk Allena polos ketika melihat Reno yang kesusahan mengoyak daging. Laki-laki itu mengangkatnya dengan tangan, dan menggigitnya dengan geram.
Sontak, cuitan Allena mengundang tawa penghuni meja makan. Tak terkecuali dokter Alexa, ia turut menertawakan tingkah konyol lelakinya.
"Lex, kerja masih dua hari lagi kan ?" Tanya Sandy kembali serius. Ia menarik nafasnya pelan, guna menahan diri agar tak lebih lama lagi tertawa.
"Dua hari, itupun dapat shift malam. " Sahut dokter Alexa santai.
"Nginep di sini saja, kamu bisa pakai baju Keysha untuk dua hari ke depan. " Pinta Sandy lagi. Ia bergantian menatap Dokter Alexa dan Keysha.
"Aku bawa baju ganti kok, " sahut Alexa lirih.
"Kamu juga berencana berlibur ?" Sambung Reno mulai penasaran. Setelah meneguk habis air putih di depannya, Reno melipat tangan dan masuk dalam obrolan yang tak ia pahami awalnya.
Gerakan tangan dokter Alexa mulai melambat. Kata yang salah ia ucapkan, membuat ia kembali teringat dengan permasalahannya dengan sang mama. Otak dan logikanya beramai-ramai menghadirkan kisah sedih yang tak ingin lagi ia bayangkan. Angan wajah garang ya menatapnya dengan dalam, jari-jemari lentik yang menunjuk wajahnya penuh dengan emosi.
"Lex, kamu kenapa ?" tanya Keysha dengan pelan. Ia menangkap kesedihan yang mendalam pada diri sahabatnya. Tekanan batin yang bersembunyi di balik bayangannya. Raut wajahnya sungguh berbeda, jauh dari sebelum ia menjawab tentang pakaian yang ia bawa.
"Aku...aku..." Tangisnya pecah. Dokter Alexa berlari meninggalkan meja makan tanpa permisi. Perempuan itu keluar dari dalam Villa, masih menyeret langkah mencari ketenangan diri.
Ia duduk bersandar di bangku taman di bawah pohon rindang di halaman Villa. Menangis sejadi-jadinya mengingat sikap Febi terhadapnya.
Sandy menahan Keysha agar tak mengikuti dokter Alexa. Perempuan itu butuh ketenangan, dan dari orang-orang tersayang yang akan mampu menyamankan jiwanya. Reno sudah berlari lebih dulu, ia berteriak memanggil-manggil nama dokter Alexa ketika sampai di halaman Villa. Tiada suara yang membalas teriakan darinya, tiada kata yang mengiyakan dan menunjukkan keberadaannya.
Reno terus berjalan di sekitar taman, ia melihat wanitanya sudah duduk membelakangi di sudut taman. Di lihatnya, perempuan itu tengah menangis. Ia berulang kali mengusap air mata yang tak bisa di bendung lagi. Bahkan, ia berkali-kali menarik nafas berat, karena rasa yang menghujam dada begitu dalam. Desakan kuat mendorong keras jantungnya, membuat dadanya tersentak ikut merasakan sakit yang tak terhingga.
"Kamu ada masalah ? " Reno berdiri membelakangi dokter Alexa. Tubuhnya bersandar pada sandaran kursi dari belakang. Di biarkan nya dokter Alexa menyelesaikan tangis sesuka hatinya. Ia tak meminta perempuan itu segera diam, dan mengakhiri kesedihan yang ia ekspresikan.
"Menangis lah, jika itu membuat hatimu tenang. " Sambungnya, setelah beberapa saat ia memperhatikan dokter Alexa yang berusaha mengusap air matanya.
Suara kicauan burung bersahut-sahutan di atas pohon. Hembusan angin mesra, mengusap tengkuk kedua sejoli itu. Mereka saling diam, tanpa mengisi waktu dengan ragam obrolan. Dokter Alexa masih saja terisak dalam tangisan, dan Reno masih setia menemani. Ya, meskipun kejenuhan melanda hatinya, tapi ia senang bisa ada ketika perempuan yang ia cintai sedang merana dalam duka.
"Ren," Dokter Alexa menarik nafasnya pelan. Ia berusaha mengatur nafas agar tangisnya bisa berhenti.
"Kau sudah siap untuk bercerita ?" tanya Reno. Ia berputar, lalu mendudukkan tubuh di samping tubuh dokter Alexa.
"Boleh aku tanya ?" Dokter Alexa memandangi wajah Reno dari samping.
"Tentu." Jawab Reno, seraya membalas tatapan mata itu.
"Kau... sudah lama kehilangan orang tuamu ? Maksud ku, apa kau tidak mengingat wajahnya ?" Tanya dokter Alexa ragu-ragu. Ia takut jika pertanyaan nya membuat Reno bersedih karena harus kembali mengulang kisah yang tak seharusnya di ceritakan.
Reno tersenyum sinis, ia merunduk pilu. Entah, apa yang tengah di rasakan oleh hatinya.
"Ah lupakan ! Maaf, aku terlalu bodoh bertanya hal seperti ini kepadamu. " Melihat perubahan pada ekspresi Reno, dokter Alexa menepis kalimatnya sendiri. Ada rasa salah yang mengganjal, bahkan penyesalan atas ucapan yang bisa di katakan lancang.
"Aku sejak kecil tidak pernah bertemu dengan mereka. Aku tidak ingat wajahnya, aku juga tidak menyimpan foto-foto nya." ungkap Reno santai.
"Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang mereka ?" tanya Reno.
"Oh, tidak. Aku hanya malu saja dengan orang-orang sepertimu. Kalian adalah orang-orang hebat yang sebenarnya. Tanpa orang tua, bahkan bisa di katakan hidup sebatang kara, tapi bisa tumbuh besar dengan sukses. Aku salut..." senyuman manis merekah di balik bibirnya. Binar matanya menyuarakan rasa kagum dan pujian yang tulus seperti apa yang lisannya sanjung kan.
"Bukankah lebih beruntung orang-orang yang masih di anugrahi orang tua ? Meskipun hanya salah satu, tapi setidaknya masih bisa merasakan bagaimana hangatnya di peluk sama mama kandung." Hal itu tidak pernah terpikirkan oleh dokter Alexa. Ia tak menyangka, jika orang hebat seperti Reno masih memiliki titik lemah dalam hidupnya. Ia mendambakan satu kasih yang tak akan pernah ia gapai. Ia rindu dengan dekapan hangat yang tak bisa di beri oleh orang lain. Ia menginginkan itu, ingin bertemu meskipun hanya satu kali kedipan mata.
Di dasar hati, Reno selalu bertanya. Perempuan mana yang tengah melahirkan nya ke dunia ini. Perempuan hebat mana, yang membuatnya melihat alam semesta dengan bebas. Sayangnya, itu hanyalah sebuah kata dalam harapan. Sebuah pinta dalam asa. Ia tak pernah merasakan itu, selain kasih yang Meera dan Yeni berikan. Mereka berdua yang selalu berbangga menyebut Reno adalah putra nya. Namun, tak semudah itu . Reno bukan lagi laki-laki kecil yang meminta es krim bisa di bohongi dengan di kasih permen. Tidak ! Ia tidak se lugu itu.
"Kalau orang-orang sepertiku, orang yang tak pandai bersyukur, pasti tidak semua mengatakan jika terlahir memiliki orang tua itu beruntung. " Dokter Alexa merunduk. Senyuman miris tampak mengembang di sudut bibirnya.
"Maksudmu ?" tanya Reno tak mengerti.
Dokter Alexa menghela nafas pelan, " mama ku jauh berbeda Ren. Dia benar-benar berubah sejak kita gagal menikah. Tidak pernah lagi bicara lembut padaku, apalagi semenjak ia tahu kalau aku sempat berhenti menjadi dokter." sahut dokter Alexa. Ia lebih kuat sekarang. Tak ada air mata penyesalan yang mengalir di pipinya. Tiada tangis yang hadir di sela drama yang ia cerita kan.
"Mungkin karena dia sedih, sama seperti kita. " Reno menyentuh bahu dokter Alexa. Mengusapnya guna membuat perempuan itu lebih tenang dan tak berpikir buruk tentang Febi. Terlambat. Reno terlambat melakukan itu. Dokter Alexa telah berpikir negatif tentang sikap yang tak bisa ia terima dengan kepala dingin. Gundah di hatinya, telah bercampur dengan kesal. Tidak akan ada yang bisa meluluhkan, selain hati dokter Alexa sendiri. Ia hanya perlu menghilangkan kebencian, lalu mengukir sebuah kisah indah tentang nya dan Febi.
"Aku juga sedih, bahkan lebih buruk darinya. " Keluh dokter Alexa semakin mendalam. Seperti mendengar telinga yang bisa meredakan kecamuk dalam dirinya. Ia terus berbicara sesuai apa yang ia rasakan. Tanpa ada sedikitpun perasaan yang ia simpan seorang diri. Reno, sangat hebat menyikapi. Ia diam, ketika sang wanitanya terus merajuk dalam dongengnya. Ia bungkam, ketika dokter Alexa belum menerima sebuah kalimat nasihat yang baik untuk di sikapi.
"Nanti, aku akan meminta restu kepada mamamu lagi setelah kita pulang dari sini. Aku yakin, mamamu akan kembali seperti semula. Dia akan sayang, dan bicara lembut lagi kepadamu. Jangan sedih ! Aku selalu ada untuk kamu. " Bukan Reno jika tidak bisa meredakan kemarahan wanitanya. Seperti terhipnotis, dokter Alexa mengangguk cepat dan langsung mengiyakan apa yang Reno ucapkan.
Dokter Alexa merebahkan tubuhnya di bahu Reno. Sengaja, ia memang sedang ingin bermanja kepada laki-laki yang seharusnya sudah sah menjadi suaminya itu. Jika tidak ada iblis yang menggoda nya, lalu merusak semua dengan tiba-tiba.
Mimpi-mimpi indah kembali terangkai bebas di angan keduanya. Pembicaraan mereka lanjut pada arah yang pernah terjeda. Tidak ada lagi keraguan, atau rasa canggung seperti awal jumpa. Mereka lebih romantis dan mesra dalam memadu kasih. Cintanya tidak hilang, meski raga pernah menjauh. Justru, rindu yang bersarang mengajari banyak arti dari kehilangan. Mereka tengah berjanji akan segera mengikat janji suci lagi. Tidak peduli dengan arang yang melintang, karena janji mereka adalah acuh terhadap semua godaan yang tak menginginkan mereka bersatu.
"Om Reno, ayo berenang..."
Allena berlarian dari dalam Villa. Ia hanya mengenakan pakaian renang yang cukup seksi, dan kacamata yang sudah melekat pas di matanya. Pelampung bebek itu juga sudah melingkar di pinggang mungilnya. Allena ingat, jika Reno telah berjanji akan mengajari gadis kecil itu berenang sampai bisa.
"Allena bisa berenang ?" dokter Alexa bangkit dari sandarannya. Ia mencondongkan tubuh kepada Allena yang sudah berdiri di depannya dengan nafas ngos-ngosan.
"Om Reno sudah berjanji mau ngajari Lena tan, " sahut Allena dengan raut polosnya. "Ayo Om !" Allena menarik lengan Reno. Memaksanya agar segera berganti pakaian dan menepati apa yang telah ia janjikan.
"Tante boleh ikut ?" tanya dokter Alexa menawarkan diri. Senyuman menawan merekah indah ketika ia melihat ekspresi wajah Reno yang geram.
Ah, baru juga sebentar sayang-sayangan sudah di ganggu saja. begitulah kiranya gumam Reno dalam hati.
"Boleh, ayo tante ! " Sahut Allena antusias.
Dokter Alexa dan Allena bergandengan kembali masuk ke dalam Villa. Mereka berjalan cepat, meninggalkan Reno yang bermalas-malasan di belakang.
Dokter Alexa segera mengganti pakaiannya dengan baju renang yang Keysha berikan. Ia juga mengenakan kaca mata, yang berwarna senada dengan milik Allena.
"Ayo tante..."
Allena sudah tidak sabar. Ia terus-menerus menarik lengan dokter Alexa, dan membawanya ke taman belakang. Taman yang Reno gunakan untuk memberikan kejutan untuknya. Di sana, tempat yang menjadi saksi dari bercampur nya rasa di dalam dada.
Byurrrr
Airnya berhamburan keluar ketika dokter Alexa meloncat masuk ke dalam kolam. Allena bersorak riang karena wajahnya kecipratan air. Allandra tidak ingin ketinggalan. Ia berlari dan langsung meloncat dengan gaya bebas mengikuti jejak dokter Alexa. Laki-laki kecil itu sudah lihai bergerak di dalam air. Jadi, tidak perlu di khawatirkan meskipun ia tidak memakai pelampung seperti Allena.
"Om Reno ayo ,ih " gerutu Allena begitu melihat Reno datang tanpa mengganti pakaiannya.
"Sama tante Alexa saja ya..." bujuk Reno.
"Kan om Reno sudah janji. Kok bohong sih ? Kata mama dosa Om kalau bohong..." sahut Allena dengan tingkah polosnya.
Sandy yang duduk di teras belakang bersama Keysha, ia diam-diam berjalan menghampiri Reno. Langkahnya tidak menimbulkan suara, membuat Reno tidak menyadari kehadiran sahabatnya itu.Dan....
Byurrrrr......
Reno di dorong oleh Sandy hingga masuk ke dalam kolam renang.
"Sandyy....." teriak Reno kesal. Ia seketika berdiri tegak dan mengangkat tangannya di pinggang.
"Kau sudah bersemangat ?" tanya Sandy.
"Kau benar-benar keterlaluan !" seru Reno semakin geram.
"Keterlaluan bagaimana ?" tanya Sandy lagi.
"Kenapa kau mendorongku ? " tanya Reno.
"Bukanlah kau ke sini untuk berenang. Kenapa kau marah padaku ? Memang seharusnya kau masuk kolam kan ?" Sandy membalikkan tubuh. Ia kembali berjalan ke arah Keysha tanpa beban. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ia sama sekali tidak merasa bersalah.
Allan, Lena , dan doktor Alexa tertawa terbahak-bahak. Mereka menertawakan raut Reno ketika terkejut karena dorongan keras Sandy. Tubuhnya terjun tepat di antara mereka, membuat air mencuat mengenai mereka.
"Sudah terlanjur basah, ayo berenang !" ajak dokter Alexa. Ia segera mengambil posisi lalu masuk ke dalam air. Gerakannya cepat, hanya hitungan detik ia sudah berada di ujung kolam renang. Allan dan Lena bertepuk tangan menyambut keberhasilan dokter Alexa.
"Ayo Om kejar, " seru Allan.
"Masak om Reno kalah sih, " Imbuh Lena. Mereka menepi, dan duduk di tangga kolam renang. Allena memang belum berani sampai ke tengah kolam. Meskipun memakai pelampung, ia sering terjebur ke dalam karena sulit menjaga keseimbangan tubuhnya.
"Kalian ngeledek om ya ?" sahut Reno. "Lihat ni, Om pasti lebih cepat dari tante Alexa." Reno langsung mengambil posisi. Ia menarik nafas dalam-dalam, dan segera bergerak di dalam air.
Sudah beberapa detik Reno tidak muncul, bahkan hampir hitungan menit . Allan dan Lena saling melempar pandangan, mereka takut jika Reno hilang di dalam air.
Baaaaa......
"Ahhhhh....." teriak Allan dan Lena.
Mereka berdua terkejut karena tidak menyangka jika Reno muncul di depan mereka. Karena mata mereka fokus ke area dekat dokter Alexa. Mereka berpikir jika Reno akan muncul di sana. Rupanya, dengan kepiawaian nya dalam berenang, Reno berenang di kedalaman yang paling dalam, lalu sengaja keluar untuk mengagetkan Allandra dan Allena.
"Ih om Reno, " Lena mengerucutkan bibirnya.
"Jadi belajar berenang gak ?" tanya Reno.
"Jadi ...jadi Om..." jawab Allena antusias.
"Ayo masuk ! " Reno memegang lengan Lena agar ia mudah untuk loncat ke dalam kolam.
Dengan sangat telaten Reno mengajari Allena. Memberikan teknik-teknik dasar dengan bahasa ringan agar Lena mudah mengerti.
Gadis itu sebenarnya sudah bisa, tetapi ia kesulitan melawan ketakutan diri. Banyak pikiran liar yang menembus ke dalam otaknya ketika ia berada di dalam air. Membuat ia semakin sulit menyatu dan mendalami ilmu yang sudah lama ia dapatkan.
*******
Shinta mondar-mandir di depan televisi. Wajahnya panik, ia hanya menggigit-gigit ujung bibirnya. Sejak membaca pesan yang berisi ancaman, lengkap dengan bukti rekaman dan foto-foto dirinya bersama Vino itu membuat hidupnya tidak tenang.
Padahal pesan itu bukan dari Reno sendiri, tetapi sudah memberi kesan gelisah yang mendalam.
"Kakimu apa tidak bisa diam ? Mengganggu orang nonton saja !" keluh Vino. Ia tak tahu dengan apa yang membuat Shinta gelisah seperti itu.
Shinta tidak menggubrisnya. Ia tidak peduli dengan protes yang Vino layangkan kepadanya. Shinta tetap berjalan mondar-mandir di depan sofa yang Vino duduki. Memikirkan semua cara yang akan menjadi jalan keluar untuknya.
"Shinta, apa kau tidak dengar ? Berhentilah berjalan-jalan di sana ! Menyebalkan sekali" Vino melemparkan bantal sofa yang berada di pangkuannya sejak tadi.
"Vinoooo...." teriak Shinta. Seketika nada bicaranya meninggi. Ia melempar pandangan kesal kepada Vino.
"Apa ? Kau terus saja mondar-mandir menganggu ku , apa salahnya jika aku tidak suka. " gerutu Vino semakin kesal.
"Kau ini pura-pura tidak tahu, apa memang tidak tahu sih ? tanya Shinta. Ia membanting tubuhnya di samping tubuh Vino. Bibirnya mengerucut, terjebak sendiri dengan sandiwara yang tak ia pikirkan akibatnya.
"Memangnya ada apa ?" tanya Vino santai.
"Lihatlah ini ..." Shinta menyodorkan ponselnya. Membiarkan Vino membaca dan mendengar bukti rekaman yang di kirimkan kepadanya.
"Gila !" seru Vino. Ia tak habis pikir jika Reno adalah orang yang lebih menyeramkan dari apa yang ia bayangkan. Pria itu benar-benar memiliki seribu satu mata untuk melawan musuh-musuhnya. Orangnya tersebar di seluruh sudut kota, hanya untuk menjaga nama baiknya agar tetap tercium wangi meskipun ada ribuan ombak masalah yang menerjang. Begitulah yang Vino ketahui, padahal di balik keberhasilan Reno menguak masalah itu ada Sandy yang menjadi pintu terbongkarnya semua siasat busuk tersebut.
"Aku harus bagaimana Vin ?" tanya Shinta. Ia menangis karena takut dengan ancaman di pesan itu.
"Datang saja ke rumahnya. Kamu harus minta maaf padanya. " sahut Vino.
"Tidak semudah itu. Bagaimana kalau Reno tidak memaafkan ku ?" tanya Shinta.
"Bukankah kau pernah mengatakan jika sahabat Reno adalah kakakmu ? Manfaat kan saja dia...." seru Reno dengan serius.
"Ah, kau hanya mau aku mati secara perlahan. Kak Keysha sudah menikah, dan suaminya lebih menakutkan lagi di banding Reno, " kata Shinta menjelaskan.
"Ya sudah, nikmati saja senjata mu sendiri...."