I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Menepis Ego



"Permisi..." Dokter Alexa memaksakan langkahnya, ia tidak lagi peduli dengan Reno yang masih memancing rasa penasaran dalam hatinya. Teriakan yang seolah-olah melarangnya untuk secepat angin berlalu, panggilan lembut yang meminta ia tinggal lebih lama di hadapannya. Ah, tidak. Semua hanya bahasa kalbu dan cerita samar yang di karang oleh hati yang terlalu tinggi berharap, pekik Dokter Alexa dalam hati.


"Dia siapa kak ?" Audrey beranjak, ia memulai interogasi tentang perempuan cantik yang membuat Reno bertingkah lembut bahkan salah tingkah ketika memanggil namanya.


"Dokter Alexa...." Reno tidak mengalihkan pandangannya. Ia masih fokus dengan punggung perempuan yang bisa membuatnya tersenyum secara tiba-tiba.


"Jadi dia yang kak Keysha bicarakan waktu itu ? cantik." Puji Audrey pelan.


Reno masih tersenyum dalam diamnya, matanya jeli menatap perempuan yang hampir tertelan oleh jarak. Raganya tidak lagi jelas bisa di tangkap oleh mata, remang-remang semakin menghilang di dalam ruang yang menghalangi.


"Dor !" Audrey memukul lengan Reno sedikit keras.


"Astaga ! Audrey !"


Gadis itu terkekeh kecil, ada wajah lucu dengan ekspresi terkejut yang sangat menggelikan. "Kak Reno suka ya sama dia ?" Audrey menunjuk tepat pada wajah Reno dengan senyuman menggoda.


"Dasar anak kecil, mau tau saja urusan orang dewasa. " Reno mengayun langkah, ia kembali duduk dan bersandar pada bangku taman. Mengulang kembali detik yang menunjukkan sebuah senyuman yang menawan. Menarik moment yang cukup indah untuk kembali di agungkan. Wajah ayu dengan kaca mata yang menempel cukup menambah aura ayu dalam dirinya, rambut panjang tergerai indah tanpa penghalang. Ah, sungguh tidak ada yang membosankan bergulir dengan angan yang terus menampakkan bayang-bayang tentangnya.


---------


Di dalam ruang yang cukup besar mereka bertiga bercengkrama. Bercanda dan bernostalgia dengan masa sulit yang mempertemukan. Menarik memang, baru kali itu Dokter Alexa merasa terjebak bahkan menikmati membaur dengan kehidupan pasiennya hingga dalam urusan sehari-hari.


"Sudah sejak kapan Rania kerja di sini ? Kemarin, aku belum lihat ada kamu." Celetuk Dokter Alexa ketika mereka terdiam dari tawa yang mewarnai.


"Hari pertama dok, dan langsung ketemu Dokter Alexa." Jawabnya antusias.


"Oh.." Dokter Alexa membulatkan bibirnya seraya mengangguk mengerti.


"Oh iya, kaki kamu sudah sembuh ya ?" Ada yang menarik perhatian Dokter Alexa, yaitu kaki Rania yang sudah mampu berdiri sendiri tanpa tongkat penyangga. Kakinya sudah kembali kuat tanpa penopang yang mengurangi beban pada kaki.


"Berkat Dokter Alexa..." Rania tersenyum tulus.


"Aku hanya perantara, itu karena semangatmu yang tinggi dan wujud kasih Allah padamu." Dokter Alexa membelai lembut lengan Rania.


"Gimana kalau kita makan bersama untuk merayakan kesembuhan Rania ?" Seru Keysha penuh semangat. Ia sangat antusias dengan kesembuhan sahabatnya.


"Boleh...boleh ...mau kapan ?" Dokter Alexa turut berbahagia. Ia menyahut usulan Keysha tanpa berpikir panjang. Tidak peduli dengan jadwal padat yang menanti.


"Sekarang, gimana.?" Seru Keysha kembali. Ia mengangkat jari telunjuknya spontan.


"Aduh Key...bukankah kita harus menyelesaikan pesanan yang besok di ambil customer ya ? " Ucap Rania dengan nada sedih. Ia mengingatkan kewajiban yang harus segera terpenuhi. Sebuah waktu yang sudah di isi dengan barisan janji. Hari-hari padat yang mulai menghampiri, menampilkan ragam aksi dengan desain-desain yang mulai di kenal oleh orang-orang baru.


"Sudah, sudah. Lain kali saja. Jangan sedih." Dokter Alexa menepis detik yang menghadirkan kecewa pada diri masing-masing. "Oh ya gimana gaun yang ku inginkan ? Bisa kan dengan waktu yang ku minta ?"


"Insya Allah, aku akan usaha semaksimal mungkin. " Keysha merunduk, memberi hormat kepada Dokter Alexa.


"Apa sih Key, jagoan juga kamu." Rania menyenggol lengan Keysha pelan.


"Yang jago cuma ayam." Sahut Dokter Alexa membuat ketiga perempuan itu terkekeh geli.


--------


"Cil, mau kemana ?" Reno menahan langkah Audrey yang mendadak. Gadis itu terhenti, lalu kembali balik badan dan menatap Reno penuh dengan tanda tanya.


"Apa itu Cil ? Namaku Audrey tuan Reno !" Audrey menekan setiap kata yang ia lontarkan. Matanya tajam, mengintai dan menolak panggilan Reno yang tidak pernah ia dengar sebelumnya.


"Kamu kan Bocil, bocah kecil ." Seru Reno, ia terkekeh setelah melesatkan kalimat yang memancing tawanya sendiri.


"Enak saja ! Aku sudah besar kak Reno. Dua puluh tiga tahun, paham ?" Sungut Audrey, gadis itu sudah berkacak pinggang seakan telah siap menantang. Bersiap dengan wajah antagonis yang sangat tidak ia kuasai sebelumnya.


"Sudahlah. Coba kamu lihat tingkah mu, benar-benar tidak bisa membenarkan usia yang kamu katakan."


Audrey memang tidak terlihat dewasa seperti usia yang tertera. Kehidupan mandiri yang ia alami beberapa tahun ke belakang, tidak sedikitpun merubah pola pikir dan tingkah lakunya. hanya saja, ia tidak terlalu bergantung kepada orang lain seperti saat belum hidup sendiri, tapi tidak mencoret kata manja dari kamus besar miliknya.


"Terserah apa kata kak Reno ! Awas saja masih panggil aku seperti itu, kita puasa bicara. " Audrey berbisik dengan kalimat ancamannya. Tidak menakutkan, justru menarik untuk di tertawakan oleh Reno. Ia tidak lagi peduli dengan suara tawa Reno yang masih nyaring di kedua telinganya. Berlomba-lomba seolah-olah hendak mengalahkan niat Audrey untuk segera beranjak.


"Hei, kamu mau kemana ? Kamu belum jawab pertanyaan ku !" Teriak Reno setelah ia bisa menenangkan diri, berdiam dari suara tawa yang memenuhi mulutnya. Menggema, membuat orang-orang yang melintas tertarik untuk menatapnya.


"Aku mau ketemu kak Keysha....." Sahut Audrey tanpa menghentikan langkah. Tidak ingin kembali terganggu dengan lantunan canda Reno yang hanya mengulur waktu. Audrey sama sekali tidak menoleh dan acuh terhadap suara-suara Reno yang sayup-sayup masih menjalar telinganya. Entah, syair apa yang ia lantunkan, hanya teriak-teriak tidak bisa lagi tertangkap indera pendengarannya dengan jelas.


Audrey sudah melangkah masuk ke dalam butik. Dengan ramah, ia turut membungkuk membalas setiap teguran sapa yang di lantunkan untuknya. Gadis itu menelusuri anak tangga dengan riang, setiap jejak langkah ia gunakan untuk berpikir kata yang sopan berucap maaf. Ia ingin menggeser ego yang bertahta di hatinya. Benar memang apa yang Reno katakan, ia kurang dewasa dalam urusan hati. Ia enggan menatap dan berkaca pada kesalahan diri. Ya, sudah waktunya Audrey menata untuk menjadi pribadi yang lebih berguna, lebih utama lagi, tidak melukai dengan prasangka yang menyudutkan. Apalagi, perihal masalah yang tidak ia pelajari dengan jeli.


Audrey sudah berada di lantai atas, remang-remang sudah terdengar di telinga suara canda dan tawa ringan yang bersahutan hangat. Audrey tersenyum mendengarnya, ia terus melangkah lalu mengetuk pintu ruangan Keysha dengan sopan meskipun pintu tidak tertutup dengan rapat.


"Audrey ?" Keysha tercengang, merasa heran dengan adik iparnya yang kembali dengan senyuman lebar di bibir. Tidak biasa gadis itu berlapang hati menerima kesalahan diri. Menyadari jika apa yang ia lakukan merupakan tindakan yang tidak terpuji.


"Kak..." Audrey menyeret kakinya pelan, ia melintas masuk menghadap tepat di depan Keysha berdiri. Rania dan Dokter Alexa tertegun memperhatikan.


"Audrey ? Apa apa ? Kamu masih marah ya sama kakak ?" Keysha berdiri dari duduknya, ia menyentuh lengan Audrey yang tampak gemetaran.


"Tidak kak, justru Audrey yang salah sama kakak." Audrey melambai cepat, ia menepis dugaan Keysha yang tetap merendah dengan hatinya.


"Kak Rania, maafkan Audrey." Audrey mengulur jemarinya, ia menatap Rania dengan tatapan sedih. Berharap wanita itu segera menggapai tangannya dan dengan rela memberikan maaf tanpa memaksa.


"Maafin aku juga ya Drey, mungkin kakak pernah salah sama kamu dan juga Keysha." Rania tersenyum, ia meraih jemari yang sudah menunggu tanpa ragu. Di rangkulnya tubuh gadis yang tidak terlalu berbeda usia dengannya itu. Di sambutnya dengan dekapan hangat yang sangat bermakna. Keysha tersenyum, bahkan ada kristal-kristal bening di pelupuk mata. Sebuah drama yang membuatnya terharu dan bersyukur. Sebuah perubahan yang mendasar dan sangat berkesan dalam sejarah hidupnya.


"Nanti, akan kakak ceritakan semua kepada mu apa yang pernah terjadi sebelum kamu pulang." Keysha menjatuhkan tubuhnya di dalam pelukan Rania dan Audrey.