I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Menggoda



"Dokter Alexa ? Bagaimana bisa Sandy mengingatku, tapi sama sekali dia tidak bisa mengenal istrinya ?" Reno menoleh, ia perhatikan Dokter Alexa dengan tatapan arogan. Seakan sedang mengintimidasi dengan tatapan mata. 'Semua kesalahan pasti karena mu ! ' seperti itulah sekiranya yang terucap dari mata tajamnya.


"Mohon bersabar tuan Reno. Saya akan memeriksa nya kembali. " Dokter Alexa tampak panik. Ia tidak pernah melakukan tindakan operasi hingga membuat seorang pasien menderita amnesia seperti itu. Dengan cekatan, ia hendak kembali melakukan pemeriksaan tetapi segera di tepis oleh Sandy.


"Saya sudah tidak apa-apa Dokter. Untuk apa kamu terus-menerus memeriksaku ?"


"Maaf tuan Sandy, saya hanya ingin mengecek kesehatan anda apakah semua sudah stabil ?" Dokter Alexa menimpali dengan senyuman simpul.


"Sudah ku katakan, aku baik-baik saja. Kau tidak perlu memeriksaku lagi." bentak Sandy dengan nada tinggi. Tampaknya, laki-laki itu mulai kesal. Ia merasa tidak nyaman dengan sikap orang-orang yang menyangka dirinya menderita lupa ingatan.


"Baiklah tuan Sandy. Apa anda ingat siapa orang tua anda ?" Dokter Alexa bertanya dengan lembut. Ia tetap bersabar walau mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari seseorang yang baru saja ia selamatkan nyawanya.


"Tentu saja."


"Siapa nama mereka ?"


"Kalian ada apa sih ? Jelas saja aku mengenal orang tua ku sendiri. Aku pun punya adik yang sangat menyebalkan. Apa lagi yang perlu kalian tanyakan ? Aneh sekali. " Sandy mendengus kesal. Dia terus saja melontarkan kalimat ngomel semenjak semua orang menanyakan hal yang tidak perlu di tanyakan.


'Apa mereka pikir aku ini bocah yang baru belajar mengingat.' Begitu lah sekiranya yang terucap dari sorot matanya.


"Kak Sandy, apa kau juga tidak mengenal Allan dan Lena ?" Keysha menghela nafas panjang sebelum akhirnya melontarkan kalimat yang sudah berjubel di dalam benaknya. Mendorong rasa penasaran dan semakin kencang mendesak dalam dadanya. Semua menekan, seolah ingin terus mengukir luka. Menancapkan duri-duri tajam yang berjajar tak beraturan hingga penuh di dalam hati kecilnya. Ah, semua sungguh menyakitkan. Ingin sekali rasanya berlari dan terus berlari, menjauh dari luka diri yang sedang bernafsu tinggi untuk menghakimi.


"Allan ? Lena ?" Sandy bungkam. Ada gelagat aneh yang tiba-tiba hadir di raut wajahnya. "Nama mereka unik sekali. Siapa mereka ?" Lagi dan lagi kalimat yang Sandy ucapkan hanya melukai hati. Semakin memberi rasa sakit yang sudah tidak sanggup lagi untuk di tahan seorang diri.


"kak Sandy, kau benar-benar sudah tidak mengingat kami ?" Air mata Keysha kembali mengalir. Membuat mata indah itu tampak sembab karena terus saja menangis.


"San, kamu tidak bercanda kan ? Mereka anak-anak kamu. Dan Keysha ini istrimu !" Reno turut geram. Ia meninggikan suaranya, menggertak Sandy memaksanya untuk mengingat semua dengan segera.


Sandy hanya semakin riang dengan gelak tawanya. Ia menggeleng-gelengkan kepala, merasa semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan mereka.


"Tuan Reno, bersabarlah. Mungkin ini pengaruh pasca operasi. Ini tidak akan bertahan lama tuan, pelan-pelan tuan Sandy akan segera mengingat semuanya. Ingatannya akan kembali dengan baik." Ucap Dokter Alexa memberi penjelasan.


Sandy tak kunjung menyudahi tawanya, tapi ia tidak juga mengeluarkan suara dengan leluasa. Mengingat luka sayatan pada perutnya baru saja selesai di jahit, tekanan kencang pada perut akan memperlambat proses penyembuhan, dan Sandy sangat mengerti tentang itu. Jadi, walau sedang tertawa, ia masih bisa mengendalikan diri.


"Aku sungguh tidak tahan melihat ekspresi wajahmu seperti ini." Sandy menarik jemari Keysha yang masih tersedu dengan cepat. Ia mendekapnya, seraya memejamkan mata. Tawanya berangsur mulai hilang, dan Sandy sedang larut dalam kehangatan yang menyapa tubuhnya.


Reno menghela nafasnya kasar, begitu pula Dokter Alexa. Mereka merasa kesal karena menyadari jika Sandy hanya main-main dengan semua. Pria itu berpura-pura lupa ingatan untuk menggoda istrinya.


Baru saja menyatukan jiwa dan raga yang terpisah, sudah sempat-sempatnya memikirkan cara untuk menggoda. Apa ketika di alam sana ia sudah merencanakan semua ?


Keysha masih tidak mengerti. Ia menurut dengan perlakuan suaminya, tapi tidak juga membalas seperti apa yang seharusnya ia lakukan.


"Belum...." Jawab Sandy santai, tapi tidak bisa di pungkiri jika senyuman yang tersirat menunjukkan jika dirinya tengah berbohong.


"Ah....kak Sandy ! Apa kau sedang membohongiku." Keysha bermanja. Ia memukul ringan dada bidang suaminya yang masih terbaring di atas kasur. Sandy hanya tertawa ringan menanggapi itu, dengan lembut ia meraih tubuh Keysha lalu menuntunnya untuk kembali pada pelukannya.


"Sepertinya, lebih baik kita keluar dulu." Reno berbicara lirih, ia menoleh pada Dokter Alexa yang juga tampak tersenyum-senyum melihat tingkah dua anak manusia itu.


"Mungkin memang benar." Lirihnya. Ia membalas tatapan Reno.


"Nanti biar perawat yang memindahkan kedua pasien ini ke ruangan masing-masing. Pendonor juga memerlukan istirahat yang lebih setelah melakukan proses operasi. " Jelas Dokter Alexa seraya melangkah keluar.


Mereka meninggalkan Keysha dan Sandy berdua. Ah tidak...tidak ! Mereka tidak berdua, ada Rania di balik kelambu, tapi mereka berdua tidak menyadari itu. Mereka terlalu larut dalam bahagia, melepas rindu yang memuncak di hati.


Sandy merenggangkan tubuhnya, ia tetap merangkul namun tetap bisa memandangi wajah Keysha yang masih sembab.


"Apa kau benar-benar takut jika aku tidak mengingat mu ?" Sandy tersenyum girang.


"Bagaimana tidak. Aku sangat takut kehilanganmu, tiba-tiba kau tidak mengingat ku sama sekali. Apa kau tidak memikirkan jika saja aku memiliki sakit jantung, hah ?" Keysha menjawab dengan nada ketus. Ia menyampaikan rasa kesal dan tidak senangnya ketika Sandy menggodanya dengan cara nyeleneh seperti itu.


Itu sungguh jauh di luar nalar !


"Hahaha.....Apa aku berhasil membuat mu kesal ?" Pungkas Sandy membanggakan diri. Ia memuji dirinya dengan kalimat angkuh, menganggap bahwa sangat pandai bersandiwara. Patut di acungi jempol, bahkan di tawari bermain dengan sebuah peran yang bertolak belakang dengan karakter pribadinya.


Keysha kembali membenamkan wajahnya di dalam dada Sandy. tangannya merangkul seakan sedang memeluknya dengan erat. Ia sangat berat hati untuk lama-lama berpisah. Bahkan sempat mengajukan waktu ketika ada beberapa perawat yang datang dan menyatakan hendak memindahkan Sandy ke ruang perawatan.


"Nyonya, nanti anda bisa melanjutkan di ruang perawatan. Itu akan lebih nyaman untuk anda berlama-lama seperti ini." Tutur seorang perawat dengan lantang. Ia secara terang-terangan meledek Keysha yang tidak menyadari jika ia telah di saksikan banyak pasang mata di belakangnya. Ia tidak sadar, jika semua orang sedang tersenyum-senyum melihat tingkahnya yang sangat kekanak-kanakan.


Keysha menoleh, lalu dengan cepat ia melangkah mundur. Melepas diri dari kurungan tangan Sandy yang sedari tadi ia nikmati.


"Baiklah...." Ucap Keysha seraya menunduk. Ia sangat malu dengan para perawat itu. Mereka tampak menggelengkan kepala, lalu bergegas memindahkan Sandy dari ruang operasi ke ruang perawatan.


"Sus, yang mendonorkan hati untuk suami saya, dimana dia ?" Tanya Keysha menghentikan langkah seorang perawat yang hanya membawa sebuah buku hasil pemeriksaan. Dia berjalan lebih lambat di banding rekannya yang lain. Mereka semua telah berlalu sambil mendorong kasur yang di tempati Sandy.


"Apa Nyonya Keysha tidak menyadari ketika para perawat memindahkannya ?"


Keysha menggeleng pelan.


Perawat itu tertawa kecil, " Nanti, akan saya tunjukkan ruangannya pada anda." Lalu dia berpamitan dan berjalan lebih cepat di banding Keysha.