I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Pertemuan singkat



Brugghhh


"e-eh maaf maaf aku tidak sengaja"


Sandy tertegun mendengar suara seseorang yang menabrak tubuhnya itu. Wanita yang kini menunduk memunguti lembaran kertas yang berserakan di bawahnya. Sandy masih terpaku, memperhatikan wajahnya yang bersembunyi di balik jilbab.


"Keysha ?" kata pertama yang keluar dari bibir tipisnya. Matanya mulai berbinar, entah merasa senang atau sedih. Setelah setahun terakhir dia mencari wanita itu, akhirnya Tuhan mempertemukan.


"Kau?" kecantikannya semakin bersinar. Key, mendongak menatap lelaki yang menyebut namanya. Namun, segera kembali fokus dengan kertas yang masih banyak yang belum ke ambil. Ia sempat gelagapan dan gugup, respon nya juga panik ketika Sandy menyerahkan kertas yang telah dia ambil.


"Terima kasih San. Sorry, aku harus buru-buru" Key membuang wajah. Ia masih tak sanggup menatap lelaki yang hingga detik itu, masih bertahta di hati nya. Namanya masih tertata rapi di dalam sana, bahkan penjagaan atas cinta kepadanya sangat sulit untuk Key lepaskan.


"Sampai kapan kau akan pergi dan menghindar dari ku?" Langkahnya kembali terhenti ketika Sandy mempertanyakan hal itu. Air mata yang sedari tadi dia tahan kini telah bebas melesatkan diri di kedua pipi itu. Keysha masih membisu, ia tak mengeluarkan sepatah kata pun hingga Sandy meraih tubuhnya dan erat merangkulnya dari belakang.


"Ku mohon, dengarkan hatimu! Aku tahu, kau masih mencintaiku seperti aku mencintaimu. Keysha kau salah paham dengan apa yang terjadi waktu itu" Sandy semakin erat mendekap Keysha. Rindu yang membawa keysha tak sanggup menolak sentuhan Sandy.


"Sandy, ku mohon lepaskan aku !" Pinta Keysha lemah. Walau sebenarnya dia tak meronta ataupun menepis tangan Sandy tapi laki-laki itu mencoba mendengar permintaan Keysha.


Keysha, akhirnya aku bisa melihatmu kembali. Setidaknya, aku percaya jika Tuhan masih memberiku kesempatan untuk memperbaiki kisah kita.


--


"Key, kamu kenapa nak?" Yeni panik melihat Keysha yang pulang dengan isak tangis. Anak gadisnya itu meraih tubuh Yeni kemudian mendekapnya dengan erat. Ia masih saja membisu dan enggan bercerita. Baginya dekapan Yeni menjadi satu-satunya harapan terbesar dalam hidup nya saat ini.


Singkat cerita, setahun kebelakangan setelah kepergian Danu. Key mulai berfikir untuk mencari cara agar tak lagi bertemu dengan Sandy. Dirasa usahanya selalu sia-sia jika dia tetap memutuskan diri tinggal di kisaran kota itu. Akhirnya dia memberanikan diri, keluar kota dan mencari pekerjaan dengan ijazah SMA yang dia miliki. Ya, itu karena Keysha belum menyelesaikan kuliahnya. Dengan bekal tekat dan keberanian yang dia punya, dia bisa memiliki tempat tinggal dan pekerjaan tetap di Bandung. Walaupun penghasilannya hanya cukup untuk dia makan. Dan beberapa bulan terakhir, dia juga menjemput Yeni dan memboyongnya ke Bandung.


"Bunda, dia ada di sini" Setelah dirasa tenang, Keysha akhirnya buka suara. Dia bercerita pada Yeni tentang pertemuan singkatnya dengan Sandy.


"Sayang, kamu coba jujur dengan hati kamu sendiri, jangan menyiksa batinmu karena itu akan menyakiti dirimu sendiri nak!" Nasihat Yeni yang tak lagi disahut oleh Key.


Dia memang sedang berbohong sekarang, ia tak jujur dengan hatinya yang selalu menyapa masa lalunya. Jika mau menuruti, batinnya meminta nya kembali dan mencari kebenaran dari hal sepele yang membuat nya tertekan seperti ini. Kasih yang tak berubah, cinta yang tak berkurang, selalu menariknya ke dalam dunia kebimbangan.


Bersambung...........