I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Merasa Heran



"Reno, cepatlah sedikit. Kau ini lelet sekali, aku sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan istriku. Apa kau sengaja memperlambat nya ? " Sandy terus saja memberondong Reno dengan ocehan-ocehan yang menjadi ciri khasnya. Ia sudah bersiap dan duduk di kursi roda, menanti Reno yang masih sibuk dengan ponselnya. Ya, Reno belum mengatakan kepada anak buahnya agar menyudahi pencarian karena Keysha sudah kembali dan dia sedang melakukan itu . Jika tidak segera di beritahu, tentu mereka akan terus dan terus mencari tanpa ada arah yang menjadi petunjuk.


"Iya...Iya..." Reno hanya menghela nafasnya ringan lalu segera memasukkan ponsel ke dalam saku celananya. Ia sudah bersiap mendorong kursi roda yang di gunakan Sandy dan perlahan membawanya keluar ruangan.


Dengan langkah santai, ia menyibak satu persatu ruangan. Mencari nomor kamar susuai yang sudah di katakan oleh seorang perawat sebelumnya .


"Kamu sudah siap ?" Reno menghentikan langkahnya sejenak saat berada di sebuah ruang dengan berkode nomor sembilan C.


"Tentu....Cepatlah Reno, atau aku akan berlari karena tidak sabar dengan sikapmu yang sengaja mengulur-ulur waktu." Sandy berdengus kesal. Ia merasa Reno sengaja membuang waktunya. Ah, lebih tepatnya lagi pria itu sedang menggoda Sandy agar semakin kesal karena rindunya terhadap Keysha.


Reno tertawa ringan menanggapi celetukan Sandy yang bernada kesal. Ia sama sekali tidak terpancing untuk turut menanggapi dengan rasa yang samA . Justru, ia menertawakan karena ekspresi wajah yang di tunjukkan Sandy begitu menggoda. Benar-benar hal yang jarang di perlihatkan oleh pria tampan seperti Sandy.


"Wajahmu menjijikkan. Jangan pasang ekspresi seperti itu !" Sandy menautkan kedua alisnya.


Ia kembali mendorong kursi roda, dan membuka pintu dengan sangat pelan agar tidak menggangu Keysha di dalam sana.


Perempuan itu tampak menoleh ke arah pintu, seolah-olah memang sudah mengetahui dan ia mencoba menyambut. Senyuman tulus terukir lebar di bibir tipisnya. Matanya, menatap Sandy penuh kasih, menepis rindu yang tersampaikan.


"Sayang...." Sandy memutar rodanya seorang diri. Ia menghampiri Keysha dengan tenaganya yang masih lemah.


"Apa yang terjadi kepada mu ? Kenapa tanganmu ini ?" Sandy mendekap tubuh Keysha dari samping, memberondong perempuan itu dengan beberapa pertanyaan.


"Tidak apa-apa kak, tanganku harus terkena pecahan kaca saat aku mencoba kabur dari Cherry dan juga.....mama Lita dan Shinta." Keysha menutup senyumnya, ada rasa trauma yang tersirat dalam raut wajah yang bersedih.


Tidak ada jawaban lagi dari Sandy, ia memilih diam dan memikirkan dalam hati. Tubuhnya masih erat memeluk Keysha, memberi rasa hangat yang mengalirkan ketenangan dalam hati Keysha. Perempuan itu terlihat sangat menikmati, ia memejamkan mata, membalas dekapan suaminya.


"Hemm...." Reno berdehem. Membuat sepasang kekasih itu saling melepaskan diri.


"Kenapa ?" Sandy menyeringai ..


"Tidak." Jawab Reno singkat. Ia membuat pandangan, melepaskan mata dari pemandangan yang mengoyak rasa iri dalam dirinya. Ia sudah lama tidak menjamah tubuh wanita, walau hanya sekedar meninggalkan kecupan atau dekapan mesra.


Keysha hanya tersenyum menyaksikan kedua pria tersebut. Sebuah ikatan persaudaraan yang kental tampak dari hubungan keduanya, Ya walau mereka sangatlah sering berantem hanya karena hal sepele. Namun, itu justru menjadi hal yang membuat hubungan mereka langgeng.


"Kak Sandy, kenapa kakak memakai kursi roda ? Ini di tangan kakak bekas suntikan infus. Kakak sakit ?" Keysha baru menyadari hal tersebut. Senyumnya menghilang di gantikan ras khawatir yang tiba-tiba tersirat begitu saja.


"Ah ...ini...." Sandy tidak mempersiapkan alasan sebelumnya. Ia terlalu bersemangat ketika mendengar kabar jika Keysha telah di temukan hingga lupa jika dirinyalah yang akan menjadi pusat perhatian wanitanya tersebut.


"Dia terlalu cemas memikirkan mu Key. Sampai lupa jika perutnya perlu di isi makanan, bahkan dia juga kurang tidur. Jadi, seperti ini hasilnya. " Reno menatap Sandy dengan pandangan meledek. "Tubuhnya sudah biasa kamu manja sih. " Tambah Reno memancing rasa kesal Sandy.


"Hahaha...." Suara gelak tawa Keysha membuat kedua pria itu bernafas lega. Biar pun ada harga diri Sandy yang terang-terangan di ejek oleh Reno, tapi setidaknya Keysha tidak akan menaruh curiga yang memusingkan kepalanya.


krekk.....


Suara pintu terbuka dengan pelan, menampakkan seorang laki-laki yang melempar senyum tulus kepada mereka bertiga.


"Bagaiman nona Keysha ? Apa ada keluhan ?" Sapa nya dengan sopan. Ia mengayun langkahnya, mendekatkan diri pada kerumunan tiga anak manusia yang membungkam tawa karena suara pintu tadi.


Keysha menggeleng ringan, "Tidak dok. Aku sudah baik-baik saja."


"Apa luka pada tangan istri saya begitu serius dok ? " Sandy tampak serius memperhatikan dokter Liem. Wajah cemas begitu jelas tergambar pada rautnya.


Dokter Liem mengerutkan dahi, lalu melempar pandangan pada Reno. Ia masih tidak paham dengan hubungan mereka bertiga. Istri ? Kalau gitu, apa yang menjadi tebakannya adalah hal yang salah. Dan jelas saja, Reno menolak saat Dokter Liem melempar ledekan di sela pembicaraan mereka tadi.


"Oh..." Dokter Liem tersentak, menepis rasa heran yang tidak seharusnya ia pertahankan. 'Urusanmu hanya sebatas pasien dan dokter, untuk apa kamu bingung dengan hubungan mereka.' Ia memaki diri dalam hati. "Lukanya tidak begitu parah tuan, tapi karena terlalu lama terbuka jadi banyak darah yang keluar. Tapi sekarang Nyonya Keysha sudah lebih baik, tinggal menunggu hasil pemeriksaan selanjutnya baru bisa di putuskan untuk bisa pulang atau tidak. " Dokter Liem mencoba menjelaskan dengan teliti.


"Syukurlah...." Sandy menghela nafas lega.


"Kalau gitu saya permisi dulu karena harus memeriksa pasien lain. " Dokter Liem menunduk sopan.


Reno dan Sandy kompak mengangguk.


"Jangan banyak gerak dulu ya . Kalau ada apa-apa panggil saja saya." Kata dokter Liem seraya melangkah meninggalkan ruangan.


Ia menelusuri lorong panjang untuk kembali ke ruangnya. Dalam hati, ia masih berkelahi dengan rasa herannya. " Suami ? kakak angkat ? Apa sebenarnya hubungan mereka ? Tampaknya rumit sekali. Padahal tuan Reno terlihat sekali jika menaruh rasa pada wanita itu. Jelas saja, cemas yang dia perlihatkan sangatlah berbeda, bahkan matanya tampak mengatakan hal demikian. Aneh sekali."


"Ada masalah dok ?" Suara seorang perempuan dari arah belakang tubuhnya membuat ia berhenti. Begitu juga ocehannya yang mengiringi, mulai padam dan tidak lagi terdengar jelas.


"Ah dokter Alexa, kau membuatku kaget. " Ucapnya seraya meraba dada.


Dokter Alexa tertawa lepas, "Apa yang dokter Liem pikirkan, kenapa terlihat begitu panik ?"


Mereka berjalan beriringan, bercengkrama dalam perjalanan menuju ruangan masing-masing.


"Ah tidak..." Elak dokter Liem singkat.


"Saya mendengar jelas dokter menyebut-nyebut nama tuan Reno, apa dokter mengenalnya ?"


"Ah, kau mendengar itu ?"


"Tentu saja. Aku berjalan di belakangmu sedari tadi."


Dokter Liem terdiam, merasa malu jika mengingat kalimat panjang yang dia lontarkan seorang diri. Sebuah rasa ingin tahu yang berlebihan.


"Dokter Reno owner Mandalika Group, benarkah itu yang dokter sebut-sebut tadi ?" Ucap dokter Alexa menyelidik. Ia menoleh, memperhatikan raut wajah dokter Liem yang tampak tertegun mendengar pernyataan darinya.


"Kau begitu mengenal nya ?"


"Hahaha... tidak. Sahabatnya menjadi pasienku dalam beberapa waktu belakangan. Dia selalu mengantarkannya saat sakitnya kambuh. Pasienku ini sangat menyayangi istrinya, dia tidak ingin membuat wanita itu bersedih dan khawatir dengan kondisinya. " Ucap dokter Alexa sedikit bercerita.


"Siapa nama pria itu ?"


"Tuan Sandy . Pewaris tunggal Atma Hutama Group."


"Apa dia itu suami Keysha ?" Dokter Liem menggerutu pelan.


"Kenapa dok ?"


"Oh tidak, aku tidak asing dengan nama itu."


"Sudah pasti. Siapa yang tidak mengenalnya ? Bahkan, jika dia berkehendak menutup rumah sakit inipun, besok pasti semua terhenti tidak ada yang berani menolak. "


Kata-kata terakhir dokter Alexa membuatnya bergidik ngeri. Tidak terbayang dalam angannya sebesar apa kuasa Sandy di dunia bisnis. Laki-laki itu tampak biasa, tapi seringainya sangat menakutkan walau ia terlihat sedang tersenyum sekalipun.