I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Taman



Keysha berjongkok, mengganjal tubuh dengan lutut sebagai tumpu. Ia membelai mesra wajah Angeline, menyelipkan rambut yang menutupi mata di balik telinga. Ia tergiur dan terbuai dalam dengan teduhnya wajah Angel. Putri kecil yang sangat cantik yang terlahir dari rahim Rania. Wajah bulat yang lekat dan mengingatkannya pada Rania kecil.


"Lena sama Allan main di deket air mancur di tengah taman sayang. Kamu mau tante antarin ?" Keysha menawarkan diri. Rasa sayang yang tiba-tiba menjalar indah, seperti rasanya sendiri terhadap si kembar.


"Tidak tante " Gadis itu tersenyum dan menggeleng ringan. Menunduk lalu berjalan mundur dengan pelan. " Angel sama mbak mia saja."


Keysha masih mematung, ia tak kunjung mengangkat tubuh mungilnya walau Angeline telah berjalan jauh meninggalkan tempatnya. Mengayun langkah penuh arti di setiap jejaknya. Tak mengerti mengapa hatinya begitu pilu menatap wajah sendu gadis itu. Seperti sedang bersembunyi di balik senyum simpul yang bersudut di bibir merah itu.


"Sayang, kau baik-baik saja ?" Suara Sandy seolah menariknya bangkit. Ia kembali membugkuk, menepuk pelan bagian lutut, ada kerikil-kerikil halus dan tanah yang menempel di sana.


"Putrimu sangat cantik, tentu kau sangat memanjakan hari-harinya." Keysha masih asyik memandangi punggung Angel yang makin tak terlihat, berputar dan menghilang di balik pepohonan. Ia beralih melihat Rania, mengulurkan senyum lebar yang kemudian di sambut paksa oleh Rania.


"tentu . Dia anak yang baik, sama sepertimu "


Pujian itu indah terdengar di telinga, mengukir rasa malu yang menyelimuti. Ia kembali mengenang masa, detik terindah di hari awal mereka berjumpa . Tampak rasa canggung yang mengiba .


Lain dengan Rania, ia tak terbayang kembali mengatakan hal demikian di hadapan wanita yang sedang ia benci. Rasa kesal yang semakin bertahta, seakan enggan bergeser dari titik tertinggi di jiwa . Ia sudah memaku wajah dengan senyum palsu, sesekali membuang wajah mengumpat dalam hati. Rasa muak yang kian mewarnai, memaksa diri segera mengakhiri.


"San, alangkah lebih baik kita berbicara sendiri di sana. Biarkan mereka saling meluapkan segala isi hati mereka." Ibnu yang dari awal hanya ikut tersenyum tatkala Key memuji putrinya, kini angkat bicara. Menatap Sandy, mengirim kata dengan bahasa kalbu. Ia mengedipkan sebelah mata, memaksa tubuh kekar Sandy dengan segera merangkul akrab dan menarik nya berlalu. Ia tak menggubris segala protes yang nyaring terdengar di telinganya. Bersaut ria dengan nyanyian burung, yang berkicau di atas pohon.


"Lo apa-apaan sih Nu ?" Sandy berdengus kesal, ia menepis tangan Ibnu yang masih setia diatas bahu milik nya. Tak ia hiraukan tangan yang masih berusaha membius mulutnya, meminta diam dan tak lagi bersuara keras.


"Gue tahu lo curiga dengan Rania yang tiba-tiba meminta maaf. Gue tahu gimana rasa cemas lo terhadap istri lo. Sandy, percayalah ! gue pun merasakan kecanggungan. Tapi, dengan lo memperlihatkan rasa lo, Rania akan semakin cerdas menutup kedoknya, dan kita akan semakin susah untuk membongkar di depan mata." Ibnu berbicara panjang, memberi masukan agar Sandy tak berbuat hal konyol. Perlahan, ia mulai melepas cekraman tangannya di bahu Sandy. Di rasa lelaki itu, mulai memahami, meresapi setiap kata yang Ibnu lontarkan. Sandy hanya diam, lalu mengangguk ringan, semakin mengerti.


"Jadi, apa rencana lo ?" Sandy melirik Ibnu, meletakkan harapan lebih besar di balik mata itu.


"Gue akan awasi selama di rumah " Pungkas Ibnu datar.


Ia merapikan pakaian yang sedikit awut-awutan karena pergulatan kecil yang sempat terjadi antara mereka. Terakhir, tangan itu menata rapi bagian kerah baju, menarik pelan lalu menyeret pasti langkah panjangnya. Sandy masih terpaku di sana, membisu tak sadar dengan sikapnya. Aneh, ini tidak seperti sebelumnya, ia selalu sinis dan ketus jika bertemu Ibnu, lelaki yang memang sempat mengakui rasanya terhadap Keysha. Ah, baiklah ! Aku mulai takluk kepada pria itu sepertinya ....


"Pa ? "


Allan menyeret pelan langkahnya, menghampiri Sandy yang masih asyik membuang jauh pandangan matanya. Tak mengerti, hal apa yang ia intai atau pikiran apa yang menutup gendang telinganya hingga tak mendengar saat Allan berteriak memanggil.


"Papaaa ....."


Allan memikirkan ulang katanya, seperti nya aku tak berteriak begitu keras.' Hingga ia dapati Sandy yang tiba-tiba terkejut melihatnya. Allan mendongakkkan kepala, menelusuri setiap inci raut wajah risau yang Sandy tunjukkan. Wajah itu, tiba-tiba tersenyum, tak jelas memang, itu memaksa atau memang tulus melakukan.


"Allan kamu di sini sendiri ?"


Ia menoleh, mengitari taman. berputar-putar mencari seseorang ya tak ia temui satupun. Keadaan sepi, yang menghadirkan Allan seorang diri, membawa rasa cemas yang berlebih di hatinya.


"Sayang, jangan terbiasa kabur dari sus Dwi ketika di luar" Nasehatnya lembut seraya menggapai tubuh mungil anaknya. Ia meraih pinggang ramping itu, lalu segera mengangkat dan memeluknya hangat.


"Allan di antar sama sus Dwi, tapi aku meminta dia kembali ke Lena setelah aku melihat ayah berbicara dengan om tadi."


"oh ya ? papa ngga lihat Sus Dwi sedari tadi ."


Sansy kembali memperhatikan sekitar, menelusuri seisi taman yang masih tergapai oleh kedua bola matanya. Masih sama, sepi dan kosong. Tidak ada pergerakan orang di sana, bahkan hanya kegiatan duduk-duduk yang biasa dilakukan muda-mudi. Semua, seakan sedang di atur sedemikian rupa. Benar kata Ibnu, wanita picik itu memiliki ribuan cara untuk mengelabuhi lawannya.


"Ada yang sedang papa pikirkan ?" Allan masih menerjang rasa penasarannya. Tak jemu dengan tanda tanya yang berujung titik yang tak memuaskan hatinya. Sandy selalu berkilah, lalu mencubit hangat hidung mungil yang selalu di bully dengan embel-embel "mancung yang tertunda" . Ah, bodoh amat dengan lelucon seperti itu. Papa, sedang lebih membutuhkan perhatianku daripada hidung tampanku ini. pekiknya sedang berperan angkuh dalam hati.


"Papa selalu memikirkan mamamu, selalu kangen kalau lama tak menemuinya." Laki-laki itu mencondongkan wajah hingga dahi mereka saling beradu mesra. Menggoyangkan kepala dan tersenyum lebar menatap pria kecilnya yang genius.


"Papa selalu memikirkan mama ? apa tidak dengan Allan dan Lena ?" Rupanya, pria ini juga memiliki rasa cemburu seperti yang selalu Sandy luapkan saat melihat Meera dan Chandra yang lebih mengharapkan hadirnya Keysha di banding dirinya. Setiap kata dan cara penyampaian yang Allan lakukan sungguh menarik untuk mengundang tawanya. Ia menyunggingkan senyum simpul, terpaksa menahan ledakan tawa agar Allan tidak semakin merajuk.


"Itu nomer satu, tapi jangan katakan sama mamamu ! Nanti dia cemburu." Tuturnya setengah berbisik.


"Allan sayang sama papa."


"Pun dengan papa . Papa sayaaaaaang sekali sama Allan, Lena dan juga mama"


Sandy membalas dekapan itu, menangkap mesra tubuh kecil yang menghilang di balik tubuhnya. Mengangkatnya berulang dan membuat Allan tertawa keras saat dirasa dirinya melayang.


"Hei San ...kamu di sini juga ternyata."


Suara wanita yang sangat familiar di telinga Sandy itu seketika mengheningkan suasana, memutus renyahnya tawa Allan. Mereka saling bertatap dan secara bersamaan menoleh ke sumber suara.


Sandy mengernyit, tak percaya dengan kondisi yang ia lihat. Berulang ia berkedip cepat, dan sama wanita itu telah berdiri tegak di atas kaki jenjangnya. mini dress yang ia kenakan menampilkan suguhan yang anggun untuk di pandang mata. Senyumnya lebar, seolah memang sedang di sambut hangat oleh Sandy.


"Papa mengenal wanita itu ?" Allan mengalihkan tatapan Sandy .


"Dia rekan kerja papa sayang."


"San, apa dia putramu ?" Sepertinya aku belum pernah menemuinya."


"Untuk apa kau di sini Cher ?"


Sandy tak menggubris pertanyaan Cherry. Ia justru memalingkan muka dan sedikit pun tak sudi menatap gadis tua itu.


Cherry kembali bangkit, ia tak lagi fokus dengan wajah tampan Allan dan lebih memilih menatap Sandy yang semakin membuai perasaanya, aroma tubuh yang tidak pernah berganti dari masa ke masa, sorot mata yang selalu membuatnya rindu. Cherry, mengukir bait-bait puisi indah di balik senyum puas nya saat lama menatap lekat tubuh Sandy. Ia tak menghentikan itu, bahkan memperlambat kedip mata agar semakin hanyut dalam pandangan.


"Paaaaa ....."


Sandy mencondongkan badan, melihat gadis cilik yang sudah tersenyum sumringah saat melihatnya. Ia menggapai senyum itu lalu segera membalasnya hangat.


"Sini sayang ..." Kedua lengannya ia buka lebar, menanti seorang putri yang berlari-lari ingin menggapai.


"Sudah selesai mainnya ?" Tanya Sandy seketika tubuh itu sampai di dekapan dadanya.


"Sudah pa ..Angel sudah pulang sama papanya " Ia mencoba menelaah setiap kata, memberi penjabaran dari setiap kejadian yang terjadi.


"Sandy ? ini putrimu ? Mereka kem-bar ?" Cherry mengernyit tak percaya jika Sandy dan Keysha telah di karunia dua anak kembar yang tampan dan cantik. Wajah yang menarik dari perpaduan yang indah, ada diri Key di sana . Yang mengoyak kembali hati Cherry untuk turut membenci.


"Tentu. yang satu tampan , dan satu lagi cantik. Mereka sangat baik. " Sandy merangkul kedua bahu si kembar. Mereka tampak serius memperhatikan, bersembunyi bak pengintai di balik tubuh Sandy.


------


"Kenapa Ran ?"


Keysha sangat jeli memperhatikan wajah sayu Rania. Tak sedetikpun ia lepaskan, saat wanita itu tiba-tiba tersenyum dan bangkit dari bangkunya.


"Maaf Key , Angeline tiba-tiba merengek dan meminta ku untuk segera menemuinya di mobil." Katanya seraya memasukkan ponsel kembali ke dalam tas.


"Oh, ya sudah. Utamakan anakmu Ran, dia lebih membutuhkan mu." Ucap Keysha dengan semangat. Ia turut bangkit lalu merangkul mesra tubuh sahabatnya. Ah, hanya dia yang menganggap ikatan itu sebagai persahabatan. Nyatanya, ribuan rencana telah rapi Rania siapkan untuk perlahan menusuk Key dari Belakang.


"Terima kasih Keysha. gue harus buru-buru, salam untuk Suami dan anak-anakmu" Rania segera melepaskan diri, berjalan mundur dan semakin menjauh dari Keysha. Mereka masih saling melambai dan kembali diam setelah jarak telah jauh memisahkan.


hari ini, puaskan tawa dan canda lo Key ...


semakin larut dalam dekapan gue, semakin dalam pula derita yang merangkul hidup lo !


Bersiaplah