I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Menyudahi



"Kamu masih yakin dengan kerja sama mu dengan Cherry ? itu hanya trik nya untuk bisa merayu mu." Kata Reno sesaat setelah tiba di perusahaan Sandy. Tidak banyak kata yang membuka obrolan. Dengan sisa waktu yang ada, Reno menyodorkan pertanyaan yang membelit otaknya, memaksa lidah untuk mendorong keluar menyemburkan setiap fakta yang sudah membuat hatinya kesal bersandiwara. "Cobalah pikirkan baik-baik, mungkin benar lisan Keysha mengatakan bisa menerima tapi siapa yang tahu tentang isi hatinya ?" Timpal Reno meyakinkan sebelum kata-kata penolakan terlahir dari bibir Sandy.


Sandy menghentikan gerakan tangannya di atas keyboard. Ya, sudah menjadi hal biasa bagi Reno ketika datang ke perusahaan itu hanya di anggap angin lewat, Sandy akan lebih sibuk dengan pekerjaannya. Dan jika obrolan yang Reno sampaikan tidaklah penting, dia tidak akan menanggapi meskipun hanya sebuah gelengan ringan atau anggukan kepala.


"Menurutmu ?" Sandy menyipitkan mata.


"Pikirkan matang-matang, lalu tanyakan kepada dirimu sendiri. Men, kamu udah tahu apa tujuan Cherry dengan semua ini, dengan adanya Rania yang tiba-tiba kembali muncul di kehidupan Keysha itu sudah sangat mengancam anak-anak mu dan juga istrimu. Dan kamu masih mau diam tanpa tindakan ?" Kata Reno dengan pelan-pelan. Dia mengatakan sedemikian jelas, agar Sandy lebih mudah memahami. Berbicara dengan serius tidak akan di anggap serius oleh Sandy jika tidak setengah menekan. "Kalau aku jadi kamu, aku sudah melepas semua . Kerugian yang kamu terima tidaklah besar San. Ibaratnya kau hanya akan kehilangan ujung kuku mu dan dalam hitungan hari semua akan kembali." Seolah mengerti dengan pertanyaan yang akan Sandy lontarkan, Reno langsung melanjutkan kalimatnya. Ia tidak memberi waktu untuk Sandy membuka mulut, menyampaikan sesuatu yang sudah terbendung. Entah penolakan, atau kata-kata yang sepemikiran dengan Reno . Dari garis-garis wajahnya tidak mudah untuk di baca.


"aku ....."


"Tidak ada alasan yang bisa mengganti semua hal yang telah terjadi kepada Keysha San. Dan jika kamu tulus, kamu akan lebih mudah memahami hal yang tidak dia sukai."


Reno benar-benar tidak mengizinkan Sandy berbicara. Ia terus saja memotong kata yang hendak Sandy ucapkan. Tidak ad lagi alasan yang mewakilkan. Semua, seolah memaksa dengan apa yang Reno ucapkan.


"Bagaimana aku bisa berbicara jika kamu terus saja memotong kalimat ku ." Kata Sandy dengan geram. Matanya membelalak lebar, memprotes keras mulut Reno yang tidak berhenti bicara. Kini, lelaki itu hanya nyengir tak berdosa, bersedekap dengan tubuh yang menyandar santai di bantalan sofa.


Reno adalah bos tersantai selama ini. Tidak ada waktu yang membuatnya tertekan dengan hal yang berhubungan dengan pekerjaan. Hari-harinya hanya ia habiskan untuk terus menjadi tameng dalam kehidupan Sandy ....


"Baiklah. Hari ini juga aku akan putuskan semua hubungan bisnis dengannya. "


"Itu bagus." Sambar Reno dengan cepat. Membuat Sandy menoleh dengan tatapan arogan. "Hee ... lanjutkan." tambahnya setelah menyadari mata tajam Sandy sedang mengintainya.


Benar-benar menyerupai singa yang melihat daging segar....


"Tapi perlu kamu ketahui, setelah ini bukan hanya aku yang rugi. Tapi semua client yang terlibat di sini. Tidak terkecuali denganmu." Sandy memperhatikan Reno sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. "Aku adalah pemilik saham terbesar di sini. Dari situ sudah sangat jelas, mereka semua bergantung kepada perusahaan ini, apalagi kamu."


Reno mengangguk ringan sebagai isyarat memahami apa yang Sandy ucapkan. Hingga akhirnya ia menyadari lalu melirik Sandy dengan cepat. Ada tanda tanya besar yang menggantung di sana. "Apalagi aku ? Maksud kamu ?" Ucapnya meyakinkan.


"Kamu tidak akan meraih keuntungan apapun, bukan berarti itu sebuah kerugian untukmu." Kata Sandy dengan nada meledek. Ia menahan tawa melihat ekspresi wajah Reno yang menanggapi hal itu dengan serius.


"Aku tidak se matre itu Sandy Atma Hutama !" Gertak Reno dengan nada kesal.


Gelak tawa Sandy memenuhi ruangan. Mengalir cepat di seluruh penjuru ruang. Hingga akhirnya, rasa itu kembali hadir. Mengoyak, seperti jarum-jarum kecil yang sengaja di tusuk-tusukkan di sana. Perih, pedih dan rasa yang semakin menggila tingkatnya.


Sandy kini mulai meraba perutnya, menekan pada bagian sebelah kiri dengan kuat. Tawanya musnah seketika. Pudar berganti dengan wajah yang meringis seperti menahan sakit yang luar biasa. Keringat dinginnya mulai bercucuran di kedua pelipis.


"Sandy....ka-kamu sakit lagi ?" Dengan sangat panik Reno menghampiri. Ia merangkul tubuh Sandy yang mulai terkulai lemas ke dasar lantai. Reno menopangnya dan membawa ke sofa panjang untuk mendapat posisi duduk yang lebih baik.


"Apa kau tidak meminum obatnya ?" Kata Reno semakin panik.


Wajahnya sudah pucat pasi, tidak akan lagi kata yang keluar dari mulut nya, tetapi Sandy masih mampu menggeleng lalu menunjuk pada laci yang berjajar rapi di balik kursi kerjanya.


Reno beranjak dengan cepat, meraih setiap gagang laci untuk mencari obat yang dokter bawakan. Sebuah pil berukuran kecil sebagai pereda nyeri yang ampuh. Itu merupakan obat dengan dosis tertinggi, karena sakit yang Sandy derita sudah akut ...


Tangan Reno gemetaran saat mendorong pil ke dalam mulut Sandy. Air putih sebagai penawar paitnya obat turut berceceran membasahi jas yang Sandy kenakan. Rasa panik dan cemas yang sempat melanda nya kemarin, hari ini kembali hadir melemahkan pertahanan nya.


"San, kamu baik-baik saja kan ? bagaimana ? apa sudah lebih baik ?" Reno terus memberondong Sandy dengan rentetan pertanyaan yang mengganggu hatinya. Tiada lagi candaan dan jawaban ketus yang melayang-layang di udara. Hening, ya hanya keheningan yang mewarnai.


Waktu terus melangkah tanpa kendala, seolah tidak ada perihal di bumi ini yang tidak mengingkan nya berjalan lebih lambat dari tempo yang sudah di tetapkan. Reno masih setia duduk bersimpuh di samping tubuh Sandy yang terbaring di atas sofa. Menatapnya dengan lekat dan pandangan yang menaruh rasa kasihan.


"Jangan melihatku seperti itu." Protes Sandy dengan nada parau. Ia bangkit dari tidurnya setelah merasa perutnya telah membaik.


"Kamu itu perlu perawatan khusus San. Kenapa sih kamu tidak bilang saja kepada Keysha dengan jujur. Bukankah itu akan membuatmu lebih tenang." Mungkin ini sudah ke sepuluh kali Reno membawa-bawa nama Keysha di tengah-tengah rasa sakit yang menghentak tubuh Sandy. Bukan perihal tidak mau merawat dan menjaga kala sakit itu datang. Tetapi, justru ia tidak sanggup melihat seorang yang sangat ia sayangi terbaring lemah seorang diri, tanpa keluarga yang menyejukkan hati nya.


"Kau pernah berjanji padaku Ren. Kamu tidak seutuhnya mengenal Keysha. Tolong jangan katakan padanya..." Kata Sandy menolak. Ia mendongak, menatap lekat pada langit-langit ruangan yang menjulang tinggi.


"Tapi San ...." bantah Reno.


"Kamu sudah tidak sanggup menemani ku ?" Kata Sandy melirik ke arah Reno. Nadanya sangat datar, bahkan wajah pucat itu belum benar-benar menghilang dari wajahnya meskipun sakitnya sudah perlahan reda.


"Bukan...bukan seperti itu San." Jawab Reno mencari alasan yang masuk akal.


"lalu ?......"


"Ah, ya sudahlah. Aku akan tetap pegang kuat janjiku. Tetapi apa kau yakin hari ini tetap hadir meeting?" Reno mengalihkan topik agar Sandy tidak lagi mendesaknya. "Jika di lakukan sesuai jadwal, harusnya setengah jam lagi sudah di mulai." Lanjutnya sambil melirik jam tangan yang melingkar pada pergelangannya.


"Tidak ada alasan untuk aku tidak hadir di sana. Bukankah kau sangat ingin aku memutus hubungan bisnis ini. Lalu kenapa kau menghalangiku untuk hadir ?" Sandy menyipitkan mata lalu menatap Reno dengan arogan. Seolah menekan dan memaki jika apa yang Reno katakan adalah kesalahan yang besar dan tidak seharusnya ia bertanya demikian.


"Bukan...aku tidak melarang mu Sandy. Aku hanya khawatir dengan kesehatanmu." Bantah Reno dengan nada kesal.


Ah, pria ini benar-benar menyebalkan. Dia memiliki pemikiran yang seenaknya. Mudah sekali membolak-balik kata untuk menyalahkan orang lain...


Reno dan Sandy melangkah keluar dari ruangan secara beriringan. Langkah mereka tegap, seakan di beri aba-aba. Kompak dengan jarak yang saling mengimbangi. Tatapan yang sama-sama dingin juga menambah wibawa mereka sebagai atasan.


Mereka memasuki lift dan turun satu lantai dari ruang pribadi Sandy untuk sampai di ruang meeting. Berjajar dengan beberapa orang yang berpangkat tinggi di antaranya.


Para karyawan dan staff semua berdiri dari bangku hanya sekedar untuk menyapa, membungkuk sebagai wujud rasa hormat yang tidak terucap.


Semua client dari berbagai perusahaan sudah hadir di sana. Mereka tampak mengulur senyum tatkala langkah Sandy sudah terdengar. Berjajar lalu membungkuk bersama mengucap selamat datang.


"Bagaimana pak Sandy ? apa saya sudah bisa memulai meeting kali ini. Ada hal yang perlu saya persentase kan ..." Cherry mengangkat tangan sebelum berucap. Senyum manis sudah terlukis jelas di sana.


"Sebelumnya ada hal yang perlu saya sampaikan di sini. " Ucap Sandy memotong kalimat Cherry. Ia kembali berdiri di hadapan semua, menarik nafas dalam sebelum membuka lembaran-lembaran berkas yang sudah ia siapkan.


Dengan gamblang dan perasaan tidak berdosa Sandy berbicara. Memutuskan hubungan kerja secara sepihak tanpa pemberitahuan terlebih dulu.


Tidak hanya Cherry yang melayangkan kalimat protes, tetapi ada beberapa pihak yang mengikuti langkah Cherry. Melihat, perusahaan yang baru mereka rintis harus mengalami kebangkrutan hanya keegoisan Sandy.


Itu karena mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi...


"Untuk semua yang terlibat saya akan mengganti kerugian kalian hingga seratus persen, kecuali perusahaan yang memiliki niat buruk di balik kerja sama ini. " Kalimat terakhir Sandy sebelum kembali berlalu meninggalkan ruang meeting .


Mereka saling berbisik, tidak mengerti maksud Sandy. Niat buruk ? seharusnya, semua memiliki niatan yang baik yaitu sama-sama ingin memajukan dunia bisnis mereka.


Lalu, siapa yang di maksud Sandy memiliki niat buruk ?


Reno masih menempel pada langkah Sandy. Mengikuti arahnya, layak seorang asisten yang tidak banyak melontarkan kata. Di ikuti orang-orang yang terlibat di sana, mereka beranjak meninggalkan ruang meeting dengan perasaan kecewa. Mimpi besar, dengan bisa bekerja sama dengan perusahaan besar harus terkikis sampai di situ. Bukan hanya kecewa, tetapi perasaan seperti di permainkan dan di buang secara mentah-mentah mulai menyulut pemikiran mereka.


Cherry sendiripun tidak paham kenapa Sandy bisa menghentikan semua di tengah jalan. Padahal semua sudah sesuai kesepatan, tinggal menunggu waktu untuk memulai semua. Menerapkan pada bangunan yang mereka tangani.


Aneh, ada hal yang tidak Cherry ketahui di sana ...