
"Dok, hmm maaf, Alexa apa kau sudah makan ?" Reno tampak gugup ketika membuka obrolan. Ia memaksa lidah nya untuk mencairkan suasana. Dinginnya angin malam, sudah cukup menembus ke dalam tulang, di tambah suasana dingin yang hanya menyisakan suara deru AC dan mesin mobil. Itu tidak menyenangkan bagi Reno, justru akan memperlihatkan betapa salah tingkahnya dia kala itu.
"Sial kenapa aku salah tingkah seperti ini." Gumam Reno dalam hati.
"Jika ini cinta, kenapa berbeda sekali rasanya. Bukanlah, aku sering merasakan sebelumnya ? Bahkan dengan dua, tiga atau beberapa wanita sekaligus dalam waktu yang sama." Gumamnya lagi.
"Belum.." Ucap Dokter Alexa santai. Ia menoleh lalu melempar senyum khasnya kepada Reno. Pria yang terlihat gusar dan tidak bisa bersembunyi dari gugup yang menerka hatinya.
"Reno ini dingin sekali, kenapa kau tampak berkeringat ? " Dokter Alexa mengangkat alisnya sebelah. Ia merasa heran dengan kondisi Reno.
"Ah...tidak...Aku...Aku memang selalu seperti ini " Jawabnya panik. "Jika bersamamu." Imbuh Reno dalam hati.
"Tunggu." Dokter Alexa membuka tasnya, sementara itu Reno kembali fokus melihat jalanan. Jam baru saja menunjukkan pukul sembilan malam, tapi jalanan kota sudah sangat sepi dari lalu lalang kendaraan dan aktivitas manusia. Wanita itu mengeluarkan satu lembar tisu, lalu menyeka pelipis Reno dengan lembut. Jemarinya lihai bermain di sana, mengusap satu persatu peluh yang menetes. Reno sempat tercengang, tapi segera sadar dan kembali fokus ke jalanan.
"Maaf. " Ujar Dokter Alexa dengan pelan. Ia menunduk, merasa malu karena memegang wajah Reno tanpa izin. "Maaf tidak sopan." Imbuhnya masih dengan wajah yang merunduk.
"Tidak apa-apa, terima kasih sudah membantuku." Jawab Reno cepat. Ia kembali menatap depan. Berusaha memfokuskan mata pada jalanan yang mulai gelap.
Reno menepikan mobil saat mendekati sebuah restoran mewah. Memarkirkan mobilnya di salah satu jajaran mobil-mobil mewah yang berjajar di sana.
Reno dan Dokter Alexa turun dengan kompak. Perempuan yang sangat mandiri, ia tidak pernah bermanja pada lelaki yang memujanya. Walau lelaki itu terang-terangan mengakui.
Mereka saling melempar senyuman, lalu melangkah melenggang masuk ke dalam restoran. Sudah jadi rahasia umum jika restoran Bintang yang mereka kunjungi memang sangat spesial. Berlokasi di pusat kota, dengan bangunan mewah dan sangat luas. Menyajikan halaman yang menarik, dan sambutan-sambutan unik di setiap harinya, Restoran Bintang akan membuat setiap pengunjung takjub pada pandangan pertama melalui desain interiornya yang sangat mewah dan elegan.
Semua karyawan di sana menyambut dengan hormat dan segera menunjuk pada bangku yang kosong. Salah satu di antara mereka mengikuti Reno dan Dokter Alexa, dan segera menyodorkan sebuah buku menu dengan sopan setelah mereka berdua duduk.
"Kau mau apa ?" Ucap Reno dengan lembut. Ia membolak-balik buku menu untuk melihat segala makanan yang tersaji di sana.
"Mushroom Burger and avocado juice." Celetuk Dokter Alexa spontan tanpa membuka menu yang telah di letakkan di hadapannya.
Reno mengernyit, lalu menutup buku itu dengan kepala yang mengangguk ringan.
"Aku mau Avocado Sandwich sama Chicken salad." Ucap Reno kepada pelayan yang tengah berdiri menunggunya dengan sabar.
"Baik tuan, " Jawabnya seraya menuliskan pesanan pada buku notes yang sejak tadi ia genggam. "Ada lagi tuan ?"
"Avocado juice nya 2 ya ..." Tambah Reno.
"Baik..." Pelayan itu mengangguk cepat. Ia melangkah mundur dan memohon agar Reno dan Dokter Alexa bersabar menunggu.
"Kau sangat hafal menu makanan di sini, apa kau sering makan di sini ?" Reno duduk bersandar pada kursi, dan menyelidiki Dokter Alexa dengan pertanyaan yang menggelitik.
Perempuan itu terkekeh geli mendengarnya, itu lebih dari sebuah penekanan atau rasa ingin tahu yang tidak wajar. Bukan tentang pertanyaan kilas yang tampak biasa, tapi raut wajah yang begitu dalam penuh dengan penyelidikan, bahkan mendekati dengan sebuah raut yang di landa cemburu.
"Aku beberapa kali makan di sini, menurutku Mushroom Burgernya sangat lezat." Jawab Dokter Alexa santai.
"Dengan siapa ?" Seolah benar-benar terbakar cemburu yang tidak berporos, Reno terus menghujam Dokter Alexa dengan pertanyaan yang tidak berguna.
"Dengan temanku, Reno. Untuk apa kau menanyakan hal seperti itu ? Itu konyol sekali." Dokter Alexa tersenyum kepadanya, ia menaikkan alis dan memajukan wajah agar lebih menantang untuk menggoda rasa Reno.
Sial, laki-laki itu sedang sadar diri. Ia menjadi salah tingkah, dan tidak berani kembali menatap pada perempuan yang menggerogoti imannya. Menarik rasa untuk segera mengungkapkan cinta. Ah, benar-benar menyiksa. Rasa yang entah sejak kapan timbulnya, menggelitik mengetuk dada membuatnya berbunga.
"Silahkan tuan, nona..." Seorang pelayan datang dengan menu lengkap yang sudah di pesan mereka. Ia meletakkan dengan rapi sesuai dengan pemesannya masing-masing. " Selamat menikmati. Permisi..."
Reno mulai mengangkat sebuah garpu dan pisau pemotong. Ia melahap makanan dengan tenang, tapi tetap tanpa suara. Begitu juga dengan Dokter Alexa, ia menikmati burger kesukaannya. Menyesap, menikmati juice yang tidak luput dari daftar minuman favoritnya.
"Apa kau selalu diam ketika makan ?" Celetuk Dokter Alexa setelah puas memperhatikan raut wajah dingin Reno. Pria itu menghentikan gerakan mulutnya sejenak, juga dengan tangan yang asyik memainkan garpu di atasnya.
"Tidak..." Jawabnya singkat. Ia kembali melahap makanan miliknya.
"Benarkah ? " Jawab Dokter Alexa ragu-ragu. Ia mengernyit lalu tersenyum tidak percaya pada jawaban singkat yang Reno berikan.
"Lalu kenapa kau diam saja ? Kau juga tidak menjawab pertanyaan ku sebelumnya." Seru Dokter Alexa tidak begitu jelas, karena mulutnya penuh dengan makanan.
"Pertanyaan apa ?" Reno mengulang kata Dokter Alexa. Berlaga tidak mengerti tujuan pembicaraan.
"Tadi..."
"Yang mana ? Kau diam saja dari awal makan sampai makanan mu habis tak tersisa." Reno menunjuk piring besar di depan Dokter Alexa yang sudah bersih tanpa makanan. Membuat wanita itu tersipu malu merasa rakus di depan pria tampan itu.
"Jangan malu. Untuk apa kau bersembunyi dari dirimu sendiri ?" Reno mengambil selembar tisu, lalu menyeka bibirnya.
"Aku tidak malu. Untuk apa malu ?" Jawab Dokter Alexa sewot.
"Lalu ?" Kali ini Reno yang bertingkah jahil. Ia mendorong wajah lebih dekat dengan Dokter Alexa. Menatap kedua bola mata yang bingung membuang pandangan. Perempuan itu beringsut mundur, memilih jauh untuk mengatur nafas lebih tenang.
"Ayo pulang. Sudah terlalu malam untuk perempuan sepertimu masih di luar rumah." Reno mengangkat tubuhnya dari kursi. Ia meraih ponsel dan kunci mobil yang ia letakkan begitu saja di atas meja. Beberapa lembar uang ratusan ribu ia tinggal di sana. Sudah menjadi tabiatnya, ia malas untuk sekedar bertanya pada pelayan total dari seluruh makanan yang ia pesan. Bagusnya, sikap angkuh yang sulit di tegur itu sudah sangat terkenal di tempat-tempat makan yang sering ia datangi.
"Apa maksudmu ? Hei, apa kau tidak bisa memanggil pelayan untuk memberimu bill ?" Dokter Alexa terus berteriak di belakang Reno. Ia meronta, meluapkan tanda tanya yang menyita perhatiannya. Aneh sekali, orang se angkuh ini kenapa di biarkan bebas berkelana. Bertingkah tanpa aturan dan tiada satupun orang yang berani menjegal nya. Lebih sulit dipahami lagi, ketika semua pelayan tetap menunduk ramah, memberi hormat dengan tidak peduli jika laki-laki ini tidak membayar.
Dokter Alexa terus saja meneriakkan ketidaksetujuan nya dengan sikap Reno yang tidak sopan menurut hatinya. Ia terus melayangkan kalimat protes yang hanya di tanggapi senyuman sinis di bibir tipis Reno.
"Apa kau tidak lelah berbicara sepanjang itu ?" Seru Reno ketika mereka telah masuk ke dalam mobil. Seketika, kalimat yang Reno lontarkan membuat Dokter Alexa bungkam dan tidak lagi bicara.
Reno mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Melesat di atas jalanan, menaburkan daun-daun kering yang berjatuhan. Perjalanan sunyi, hanya desiran AC yang menghampiri. Dokter Alexa membuang pandangan ke luar mobil, menyapa dedaunan yang menyapa dengan nyanyian rindu. Keheningan yang menyapa, memberi ketenangan yang menelisik masuk ke dalam kalbu. Sebuah rasa yang tidak pernah ia terima sebelumnya. Nyaman, tentu menjadi perihal sepele yang sulit ia dapatkan.
"Apa kau sudah mempunyai kekasih ?" Reno melontarkan tanya yang sedari awal ia bendung. Di biarkan berlayar dengan bebas di atas benaknya. Melayang, menabur gejolak-gejolak asmara yang semakin luas menyebar.
Dokter Alexa menoleh, ia menatap Reno tanpa ekspresi. Cukup lama membiarkan matanya bermain di sana.
"Kenapa diam saja ? Atau jangan-jangan kau sudah menikah ?" Ucap Reno penuh selidik. Ia menyipitkan mata, memeriksa jawaban yang tersirat dari mata.
"Rumahku lima rumah dari sini." Dokter Alexa menunjuk pada tepi jalan ketika mobil memasuki kawasan perumahan elit di Jakarta. Reno menepikan mobilnya tepat pada rumah yang di tunjuk Dokter Alexa. Sebuah bangunan mewah, dengan ekterior yang menarik dan sangat elegan.
"Terima kasih Reno, kau mau mampir dulu ?" Ucap Dokter Alexa seraya mengulur senyuman manis. Ia membuka pintu dan segera keluar, lalu berdiri di samping mobil.
"Lain kali aku saja akan main ke rumahmu." Jawab Reno lembut.
"Baiklah.. Hati-hati di jalan."
Reno mengangguk ringan, ia kembali memancal pedal gas dan mengatur kecepatan sesuai dengan kondisi hatinya. Ada senang yang bersarang, tapi tetap diiringi rasa sesal karena telah lantang bertanya tanpa dasar. Bukan kepuasan atas jawaban yang mewakili, justru hatinya kian di warnai dengan kegelisahan karena bayangan raut wajah flat yang tidak memberi sepatah jawaban itu terus berburu dengan angannya.
"Sial ! Kenapa aku bodoh sekali." Gerutu Reno seorang diri. Ia memukul-mukul kemudi, meluapkan kesal yang merajai.
"Harusnya aku tidak bertanya hal konyol seperti itu ! Bodoh !" Hardiknya pada diri sendiri. Reno mengencangkan pijakan pada pedal gas, dan melesat cepat pada jalanan yang sunyi.