I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Di Villa



"Bagaimana ?" Sandy menempelkan ponselnya di daun telinga. Wajahnya berubah 180° menjadi arogan. Tatapan tajam selalu ia arahkan ketik berbicara dengan orang-orang suruhannya, padahal itu hanya dari sebuah ponsel. Bagaimana kalau bertatap muka ? Tentu akan lebih arogan lagi dari saat itu.


"Saya akan kirimkan videonya tuan, "jawab seseorang dari sebrang telepon. Dia adalah laki-laki kekar, yang baru saja keluar dari Club Malam tadi. Mobilnya menepi di jalanan yang di rasa cukup sepi untuk ia bisa menghubungi Sandy, sang tuan yang berani membayarnya dengan harga tinggi hanya untuk mendapatkan bukti itu. Hal sepele, jika yang melakukan adalah orang-orang profesional sepertinya.


Sandy memutus sambungan telepon secara sepihak. Sudah menjadi hal yang lumrah untuk orang-orang yang namanya begitu di agungkan sepertinya. Kini, ia melangkah mendekati Reno lalu mendudukkan tubuhnya di samping Reno. Aura kebahagiaan terpancar nyata dari matanya, bahkan ia tak bisa bersembunyi dari senyuman dan tawa ringan yang terlontar dari balik bibir tipisnya.


Reno mengernyitkan dahi karena merasa heran dengan tingkah sahabatnya. Melihatnya seperti itu setelah mendapat telepon, membuat nya tak lagi tertarik untuk memainkan game di ponselnya. Pandangan nya terus terarah kepada Sandy, yang tak juga membuka suara tentang apa yang di dengar olehnya.


"Ada apa sih ?" Keysha yang baru saja memasak untuk makan malam, datang membawakan teh hangat untuk Reno dan suaminya. Ia duduk di seberang sofa yang mereka berdua duduki.


"Kalian, dengar ini baik-baik." Sandy menekan tombol play pada ponselnya, untuk menyalakan rekaman suara yang di kirimkan oleh orang suruhannya.


Reno dan Keysha memasang telinga dengan jeli. Keduanya duduk bersimpuh di atas lantai, agar lebih dekat dengan ponsel yang Sandy letakkan di atas meja. Meskipun rekaman itu tanpa gambar, tapi sangat jelas bahwa itu adalah suara milik Cherry dan Shinta. Percakapan panjang yang tak hanya membahas perihal pekerjaannya di sana, Shinta juga terdengar memperkenalkan Vino kepada Cherry. Laki-laki yang mulanya ingin menghancurkan masa depannya, ternyata malah takluk dalam genggaman asmara.


Terakhir, Shinta bercerita tentang kehamilan nya. Dengan suara yang serak dan bertele-tele, ia mengatakan jika janin itu bukanlah darah daging Reno. Kejamnya lagi, ia mengatakan apa yang sedang ia rencanakan untuk menjerat Reno. Bahkan tujuan dari segala ke-munafikan yang sedang ia drama kan.


"Jadi, kamu tetap meniduri adikku ? " Keysha mengerucutkan bibirnya. Berpura-pura kecewa dengan tingkah sahabat suaminya itu.


"Dia bukan adikmu. Kalian tidak ada mirip-mirip nya." Sahut Reno seraya bangkit dan kembali duduk di atas sofa. Yang kemudian di tanggapi dengan dengusan kecil oleh Keysha.


"Kamu bisa kirimkan ini kepada Alexa untuk membuatnya tak salah paham lagi. " Seru Sandy. Ia meraih ponselnya kembali dan mengirimkan rekaman itu kepada Keysha dan juga Reno sebelum akhirnya memasukkan ponsel ke dalam kantong celana.


"Bagaimana aku bisa memberitahunya ? Dia saja melihatku sudah seperti melihat setan sekarang." Reno merunduk pilu.


"Bagaimana kalau kamu ikut ke Villa ?" ucap Keysha, yang kemudian di sambut tatapan tak mengerti oleh kedua laki-laki itu.


"Ya, kamu ikut saja. Aku akan buat Alexa menyusul ke sana. Dia tadi menghubungi ku, dan mengatakan, mulai lagi bekerja tiga hari ke depan. Masih ada hal yang perlu dia siapkan sebelum bekerja. " Ungkap Keysha dengan jelas.


Reno dan Sandy mengangguk mengerti. Kini, mereka semua mulai bersiap-siap. Reno segera menghubungi orang suruhannya untuk mengantarkan barang-barang yang ia perlukan. Ia juga sudah menyusun rencana untuk memberikan kejutan ketika dokter Alexa sampai di Villa.


Allan dan Lena bersenandung senang sepanjang jalan. Mereka sudah lama sekali tidak bepergian jauh. Apalagi sampai menginap hingga berhari-hari. Kedua anak itu hanya sibuk di sekitaran rumah dan sekolah. Sesekali pergi ke pusat perbelanjaan bersama Yeni. Itupun mereka harus di paksa karena tanpa Keysha, mereka enggan untuk keluar rumah.


"Om Reno bawa pelampung ?" tanya Lena dengan wajah polosnya, ketika mobil telah melesat melewati jalanan sepi. Satu-satunya jalan untuk menuju Villa pribadi mereka. Sebuah bangunan megah yang berada si puncak, sangat menarik karena beradu langsung dengan keindahan alam. Di belakang Villa ada kolam renang yang cukup besar dan menarik, tak jauh di sana di bangun rumah pohon dengan fasilitas lengkap di dalamnya.


"Pelampung ? Untuk apa ?" tanya Reno. Allena berada di pangkuannya sekarang, padahal ada kursi kosong yang di siapkan khusus untuk anak gadis itu.


"Allena mau berenang sama om Reno, nanti kalau om Reno tenggelam gimana ?" Seru Allena dengan raut polosnya.


Sandy dan Keysha tertawa mendengarnya, anak itu memang sangat polos. Dia sungguh jauh berbeda jika di bandingkan dengan Allandra.


"Om Reno jago berenang sayang. Jadi tidak perlu pakai pelampung, " sahut Keysha yang berada di kursi depan bersama dengan Sandy.


"Wah, hebat !" Allena bertepuk tangan girang. "Allena mau di ajari berenang. " imbuhnya.


"Gimana tuh Om ? Mau jadi guru privat berenangnya Allena gak ?" Kata Sandy dengan nada bercanda. Ia melirik dadi kaca kecil yang berada di depannya, memperhatikan ekspresi wajah geram Reno karena mendengar ledekan darinya.


"Nanti pas di Villa kita belajar berenang ya. " Seru Reno kepada Allena, yang tak kunjung memejamkan matanya. Padahal, Allandra sudah terlelap sejak tadi. Semenjak mobil melesat cepat membelah gelapnya malam.


Perjalanan tidak terlalu lama, hanya butuh beberapa jam saja dari rumah Sandy sampai ke Villa itu. Reno dan Sandy langsung menurunkan barang setelah mobil terhenti di halaman luas Villa. Sementara Keysha, ia membawa Allan dan Lena ke kamar.


Villa yang berada di kawasan puncak itu, terbentang luas. Walaupun hanya memiliki satu lantai, tetapi jika untuk menginap puluhan orang pun tidaklah takut sempit. Di sana juga ada beberapa karyawan yang menjaga dan merawatnya. Jadi, meskipun jarang di kunjungi oleh keluarga Sandy, Villa itu tetap bersih dan rapi.


Keysha memilih kamar yang dekat dengan ruang televisi, supaya anak-anaknya tidak kebingungan ketika mereka nanti bangun tidur.


"Kamu sudah minta Alexa datang ?" Tanya Reno. Ia sudah tak sabar untuk membongkar kedok Shinta. Memperdengarkan suara rekaman yang mengatakan semua dengan nyata. Ia juga memiliki bukti-bukti foto Shinta bersama dengan Cherry dan Vino.


"Baru juga sampai, sudah Alexa mulu yang di pikirkan. " gerutu Sandy kesal. Ia masih mondar-mandir memindahkan barang-barang dari mobil seorang diri.


"Besok Ren, kita di sini dua hari loh, masak baru sampai sudah bohongin Alexa, nanti gak rame, " sahut Keysha seraya tertawa kecil.


"Memang nya apa sih yang mau kamu katakan untuk membuatnya datang ?" tanya Reno penuh selidik.


"Tenanglah. Sudah malam tidurlah, besok siapkan apa yang akan kamu lakukan ketika Alexa datang." sahut Keysha seraya menepuk-nepuk ringan bahu Reno.


Reno mengangguk mengiyakan apa yang Keysha katakan. Ia segera menyeret kakinya dengan berat. Padahal, ia sudah tidak sabar untuk mengatakan semua kepada dokter Alexa. Namun, lagi lagi Keysha hanya menyerukan kata sabar di balik daun telinganya.


Setelah selesai membereskan barang-barangnya, Reno segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Mengganti pakaian santainya dengan piyama bersama hitam yang sangat kontras dengan sprei yang terpasang di salah satu kamar pilihan nya.


"Huff...." Reno membanting tubuhnya dengan kasar di atas ranjang. Ia terlentang memperhatikan langit-langit kamar yang bercorak awan. Matanya bersinar terang, padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah satu dini hari. Ia kesulitan untuk tidur, rasa penasarannya dan keinginan yang kuat untuk bertemu dengan dokter Alexa sudah menggebu. Membuatnya hanya berkutat dengan memperhatikan jam dinding. Berharap jarumnya berputar kian cepat. Mengitari roda agar pagi segera tiba.


Sudah ke sekian kalinya Reno keluar masuk kamar. Berpindah-pindah tempat untuk mengusir kejenuhan. Televisi itu juga sudah ke sekian kalinya nyala dan mata. Reno di buat gila dengan perasaannya sendiri.


"Keysha !" Nafas Reno terdengar ngos-ngosan, kasar dan tak beraturan. Ia mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan kedatangan Keysha yang tiba-tiba. Lebih tepatnya, datang tanpa suara lalu memukulnya dengan ringan. Membuatnya harus berpikir cepat dan menuduh makhluk penunggu Villa lah yang tengah mengganggunya. "Apa kamu tidak bisa datang tidak membuat ku kaget, hah ?"


"Aku sangat haus. Kamu tidak tidur ?" Tanya Keysha tanpa peduli dengan dengusan Reno.


"Aku tidak bisa tidur. " Keluh Reno seraya memukul bantal sofa di depannya. Matanya kembali fokus pada layar televisi.


"Kau takut ?" Tanya Keysha meledek. Perempuan itu meraih gelas di meja makan dan mengisinya dengan air hangat.


"Takut ? Kau pikir aku Allan atau Lena. " Gerutu Reno kesal. Ia merasa terhina mendengar ledekan Keysha.


"Terus, kenapa tidak tidur ? Oh, jangan-jangan lagi mikir Alexa ? " Seru Keysha penuh yakin.


Keysha bisa menebak meskipun Reno tak kunjung menjawabnya. Ia tahu, laki-laki itu sedang berpikir keras tentang hari esok. Memikirkan semua yang akan ia lakukan, katakan bahkan pakaian yang akan ia kenakan untuk menyambut kedatangan dokter Alexa.


"Padahal, belum tentu Alexa datang." Gumam Keysha dalam hati. Ia kembali melangkah masuk ke kamar setelah meneguk habis satu gelas air hangat yang ia ambil.


******


Cuaca pagi yang hangat, matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya. Cuaca pagi di kota hujan kali ini cukup terang. Sinar tipis yang menembus di antara celah pepohonan menambah keindahan alam.


Allan dan Lena sudah berlari-lari di taman Villa sejak pagi. Sandy juga sibuk mengabadikan momen itu dengan kamera ponsel nya.


Angin berhembus teratur, menyibak bulu kuduk dan membuatnya merinding. Keysha duduk termenung di bangku panjang tak jauh dari mereka bertiga. Menatap pada rimbunnya bunga yang bermekaran segar. Embun pagi menetes di celah daunnya, menambah ketenangan yang tak mereka temui di pusat kota.


"Muach" Kecupan hangat mendarat di ujung kepala Keysha, membuat terperanjat kaget karena tak menyadari kedatangan Sandy.


"Kenapa sayang ?" tanya Sandy dengan nada lembut.


"Bagaimana ketika kita sudah kembali kerja, dan anak-anak tak terima itu kak ?" Sahut Keysha. Ia menatap kedua anaknya yang tengah asyik berlarian dengan tatapan sedih.


"Mereka anak cerdas. Mereka pasti paham jika kita bicarakan pelan-pelan. " Sahut Sandy. Ia ikut mengawasi anaknya, sesekali melambaikan tangan ketika Allan atau Lena berteriak riang memanggilnya.


"Maafkan Keysha ya kak..." Keysha merunduk pilu. Angannya berlarian menggiring opini buruk tentang dirinya. Anggapan yang tak serupa dengan apa yang Sandy rasakan, membuat semakin tertekan dengan banyaknya desakan yang tak bisa sejalan.


"Maaf ? Maaf untuk apa sayang ?" Sandy mulai fokus memperhatikan istrinya. Wajah yang manis itu sedang bersembunyi di balik balutan jilbabnya. Senyuman teduh, yang hanya berbentuk simpul yang bisa ia temui.


"Aku belum mampu jadi istri dan mama yang baik untuk kak Sandy dan anak-anak. " Wajah teduhnya sedang bersedih. Terbesit di balik keindahan rupanya.


Tak hanya paras, tapi caranya bertutur selalu membuat Sandy semakin takjub dengan kelebihan Keysha. Ia tak mengira, gadis ketus dan dingin dengan ego yang bertahta tinggi dulu bisa secepat itu bergeser. Merubah sikap terdepan dengan kelebihan yang ia punya. Hanya orang-orang yang bersabar di masa remajanya lah yang kini beruntung. Keysha dulu memang ketus, ia juga galak. Bahkan jarang sekali terlihat tersenyum. Wajah cantik nya kurang menarik karena selalu ia bumbui dengan ekspresi flat. Namun kini, semua itu hilang. Keysha yang nyata telah lahir. Semakin lama usia pernikahan, semakin mengajarinya banyak hal. Tentang tolong-menolong, tentang kelembutan, tentang bertutur dan segala hal yang membuat wanita lain merasa iri kepadanya. Entahlah, mungkin itu sebagian skenario yang ia buat untuk mengetahui orang-orang yang tulus di sekitarnya, atau memang ia telah terdidik untuk menjadi perempuan yang tangguh.


"Justru, aku bersyukur sekarang. Allah itu baik, Allah itu adil, kenapa ? Karena Dia telah kirimkan bidadari surga untukku. Bidadari yang tidak pernah mengeluh dengan kurang ku, bidadari yang sangat murah hati, bidadari yang ...tidak ada yang bisa menandingi.." Sandy tak melepaskan pandangan nya. Ia kian dalam bahkan mengurangi frekuensi kedipan matanya agar lebih lama lagi menatap wanitanya.


"Sebenarnya, membawa aku ke sini itu untuk menyelesaikan semua masalahku, atau untuk menyuruhku melihat kalian pacaran ? " Reno datang dengan wajah yang bersungut-sungut. Sudah semalam suntuk ia tak bisa tidur, ketika pagi menjelang, tak juga ada kabar mengenai kedatangan dokter Alexa.


Lagi dan lagi, Keysha dan Sandy terkekeh geli karena tingkah Reno. Reno memukul-mukul bahu Reno dengan pelan, lalu ia merogoh kantong untuk mengeluarkan ponselnya.


"Jangan berisik !" kata Sandy memberi instruksi.


Sandy menempelkan ponselnya di telinga setelah menekan tombol panggil pada ID bernama Alexa.


"Assalamualaikum San ?" suara dokter Alexa di sebrang telepon.


"Wa'alaikum salam, Lex kamu dimana ?" Sandy berbicara dengan nada panik.


"Di rumah, kenapa ? Kalian baik-baik saja kan ?" dokter Alexa mulai terpancing. Ia turut khawatir mendengar kecemasan Sandy.


"Keysha Lex, tolong ! Kamu bisa kan ke sini ?"


"Ada apa San ? Kenapa Keysha ? Kalian jadi le Villa ?"


"Lex, ini gimana ? Kamu ke sini sekarang ya."


"Ok, baiklah. Nanti kabari dimana posisi kalian, "


Sandy menutup telepon dengan tergesa. Menambah keseriusan sandiwara yang mereka ciptakan.


Sebenarnya, Keysha tidak tega harus membohongi sahabatnya itu, tapi hanya itulah cara satu-satunya untuk mendamaikan Reno dan dokter Alexa.