I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Hari terakhir di Bandung



"Kamu tidak ngigau kan bro? Kamu benar-benar ketemu Keysha?" Reno yang baru saja sampai protes. Dia memegangi dahi sahabatnya, karena takut jika Sandy gila tidak pada tempatnya. Logikanya tak percaya jika Key berani keluar dari jalur nyaman sejauh ini. Hidup di kota yang dia sendiri tidak pernah mendatanginya, tidak mengenal orang-orangnya. Key, kau gadis yang nekat.


"Kamu tidak percaya sama aku. Kamu pikir aku halu?" Merasa tak di percayai Sandy gantian protes. Dia membulatkan matanya dan menatap Reno kesal. Wajah nya juga masih tetap terlihat tampan walau dia perlihatkan seringainya.


"Ya kali aja, kamu stress mikirin Keysha. Sampai orang lain kamu anggap istrimu" elak Reno acuh. Dia tak memperdulikan tatapan menyebalkan dari Sandy. Dia juga tetap percaya diri mencari makanan seperti sedang dinrumah nya sendiri.


"sudahlah! Jauhkan itu tatapan yang menyebalkan! Aku akan bantu kamu mencari dia besok. Heug!" Ocehan Reno yang mulai tak nyaman dengan pandangan Sandy.


--


Detik berubah menjadi menit, berlari ke pelukan jam hingga hari menjelma menjadi senja. 24 jam dalam 7 hari telah mereka habiskan untuk mencari keberadaan Keysha. Namun, nihil! Tidak ada sedikitpun clue yang membantunya menemuka wanita itu.


Apa mungkin aku sedang bermimpi? Atau hanya bayangannya saja yang datang? Ah, tidak tidak! Aku memang gila karena Key, tapi aku masih bisa membedakan mana mimpi dan mana nyata.


"Kak, sebelum balik jakarta, Audry mau kuliner dulu sama temen-temen. Kakak mau ikutan?" Audry memecah lamunan Sandy. Ia berfikir dengan membawa Sandy ke teman-teman nya akan membuatnya sedikit melupakan Key, melepas sejenak kepenatan yang memenuhi otaknya.


" wiih, boleh tuh ikutan " Sahut Reno dari kejauhan. Ah, dasar telinga! Pendengarannya bisa setajam kelelawar kalau berhubungan dengan makanan.


"boleh kok kak. Kak Sandy? Gimana?" Audry kembali memutar matanya dan menatap Sandy yang tak menggubrisnya sama sekali.


"Kalian saja" jawabnya sebelum meninggalkan mereka dan masuk ke kamarnya.


Audry dan Reno hanya saling menatap, matanya bercengkrama seolah saling memahami. Sungguh, mereka sangat merasa kasihan dengan kondisi Sandy saat itu. Dari fisiknya saja, sudah jelas perbedaanya. Sandy terlihat lebih kurus sekarang, tatanan rambutnya juga terkesan acak-acakan tak beraturan.


--


"Sorry ya Guys aku telat" Sapa Audry lekat dengan gaya ABG nya kepada ke tiga sahabat karibnya yang telah bercanda dan menanti kedatangan nya.


"kita juga baru sampe kok Dry. Haha" sahut salah satu dari mereka diiringi tawa ringan oleh yang lain.


Sajian unik dan rasa yang lezat membuat mereka terlarut pada belaian waktu. Tak Terasa mereka telah memakan waktu yang lama hanya untuk bercanda dan menikmati makanan yang mereka pesan.


"Dry, aku balik dulu ya. Kamu hati-hati" Reno melirik tangannya. Memperhatikan jam yang telah berputar jauh dari porosnya.


"Ih kak Reno kok buru-buru sih. Kan baru sebentar" Rengek salah satu bocah itu. Dia adalah teman Audry yang memang sedari tadi membuat Reno merasa risih. Gaya genit dan matanya selalu menggoda dan membuatnya bergidik geli.


Ah sia-sia, rengeknya hanya disambut senyuman oleh Reno dan sorakan cibiran dari teman-teman nya.


Reno dengan cepat melangkahkan kaki, berdiri di tepi jalan menanti kendaraan umum yang lewat. Pandangannya bergerilya mengitari sekitaran jalan. Tatanan yang unik seperti ini membuat semua yang berkunjung merasa nyaman. Matanya membelalak saat dia melihat wanita yang juga berdiri tak jauh darinya, perlahan dia menyeret kakinya. Mendekat memastikan dengan apa yang dia lihat. Iya benar, wanita itu adalah Keysha.


Benar apa yang Sandy katakan.


"Keysha?" panggil Reno memastikan.


"Reno?" dan lagi, Keysha merasa tak sanggup berjumpa dengan orang-orang yang berhubungan dengan Sandy. Dia mencari celah dan bergarap bisa lari dari Reno. Namun, laki-laki iku mencekal nya membuatnya terdiam dan mengikuti kaki Reno membawanya.


"Key, kamu bisa jujur sama aku?" Reno memulai obrolan setelah menemukan tempat untuk mereka duduk.


"Jujur? Apa aku pernah membohongimu?" Key masih berpura-pura. Ia tahu, arah pembicaraan Reno namun tak kuasa untuk menjawabnya.


"Mungkin, kamu tidak pernah bohong sama aku tapi, kenapa kamu tidak jujur dengan hati kecilmu sendiri?" Reno memperjelas kata-kata nya. Namun, tak kunjung memperoleh jawaban dari Key. Wanita itu hanya menunduk menahan tangisnya.


"Aku tahu, kamu masih cinta kan sama Sandy? Kenapa kamu lari dari semuanya? Kamu tahu? Sandy bisa saja esok gila jika kemarin tidak menemukanmu" lanjut Reno. Ia beranjak dari bangku dan terus berbicara tentang Sandy. Menceritakan satu tahun ke belakang dan menjelaskan tentang kesalahan pahaman yang membuat Key pergi. Bukan karena Sandy pengecut dan gengsi untuk memperjelasnya, namun jika dia langsung yang berbicara mungkin sudah disambut emosi oleh Key dan berakhir dengan pertengkaran. Key, menggeleng tak percaya, ia merasa bodoh dan malu dengan dirinya sendiri. Harusnya, aku mendengar penjelasan Sandy waktu itu pekiknya setelah Reno selesai bicara.


"Hari ini, hari terakhir kita di Bandung Key, kalau kamu memang masih sayang sama Sandy, kamu datang ke alamat ini" reno menyerahkan kertas yang baru saja dia coreti dengan alamat rumah tempat Sandy tinggal saat ini.


Bersambung..........