
**
Luka itu memang timbul karena cinta yang tumbuh tidak menemukan pengakuan. Kecewa menyapa, karena kerisauan dari hati yang tidak di anggap ada. Jika di biarkan, bisa saja sebuah penyesalan yang tiada usai akan selalu menggelayuti diri.
**
"Maaf Keysha aku harus berbohong padamu," Dokter Alexa menghempas tubuhnya di atas kasur lebar bercorak kotak-kotak di kamarnya. Ia membuang pandangan pada langit-langit kamar yang berlukis awan putih dengan indah. Kedekatan Audrey dan Reno selalu nampak di setiap diamnya, terbayang dengan jelas seolah-olah menjadi pengingat jika rasanya semakin salah arah. Cintanya telah tumbuh, walau iya selalu menepis dugaan itu. Cemburu yang membunuh keceriaannya tidaklah kuat untuk memberi bukti jika memang hatinya telah menemukan titik labuhan yang tepat.
Dokter Alexa beranjak dari rebahan yang membosankan. Ia sedang merasa menjadi jam dinding yang terus berdetak dengan arah dan ritme yang sama, tapi akan di lirik ketika orang lain membutuhkan. Otak dan logikanya selalu seimbang dan berpikir dengan hal yang sama.
"Aku bahagia Key hidup di lingkungan mu, tapi aku telah bodoh membiarkan hatiku jatuh pada orang yang salah." Dokter Alexa tersenyum miris, ia membelai lembut kelambu putih yang menampakkan remang-remang kabut di luar rumah. Gerimis yang turun isyarat hati yang gundah. Langit yang sedang protes pada bibir yang terus bergeming menyebut satu nama tanpa henti. Sedihnya tidak pernah tercurah selarut itu, karena sebelumnya ia tidak pernah merasakan rasa cinta yang berlebih.
Dokter Alexa memang perempuan yang cantik, usia muda cukup sukses dengan karir yang baik. Mirisnya, hingga di usia dua puluh empat tahun, ia belum juga menemukan satu pria yang membuatnya nyaman, meluapkan cinta tanpa banyak kata. Dan buruknya, ia merasa jika Reno lah yang mampu, walaupun ia sadar jika lelaki itu telah menjadi milik orang lain.
"Ah, sudahlah ! Aku tidak bisa seperti ini terus. " Dokter Alexa mengusap wajahnya. Bersedih dan terus merenung tidak akan mengembalikan waktu yang telah ia lewati dengan hal yang konyol, atau mungkin mengembalikan rasa yang telah ia beri tanpa syarat.
-------
"Malam pa..."
"Kak tidak jemput kak Keysha dulu ?"
"Malam anak-anak."
Sandy menghampiri kedua anaknya yang asyik bermain di depan televisi. Ada Audrey yang duduk di sofa, fokus pada layar televisi yang menyiarkan sebuah kartun.
"Audrey sudah lama ?" Setelah cukup lama menyapa si kembar, Sandy beranjak dan duduk di samping Audrey.
"Dari sore. Kak Keysha yang minta Audrey ke sini."
"Oh.." Sandy membulatkan bibir, mengerti dengan jawaban yang adiknya berikan.
"Sudah tidak ngambek ?" Pria itu menyenggol lengan adiknya.
"Apa sih kak ! Audrey tidak pernah ngambek sama siapapun !"
"Masa ?"
"iye !"
"Oh.." Lagi-lagi Sandy membulatkan bibirnya dengan sempurna.
Keysha sudah tiba di halaman rumah. Ia melenggang masuk karena pintu rumah masih belum terkunci. Mengayun langkah, lalu mengurai senyuman lega ketika melihat kedua anaknya dan Audrey serta Sandy yang sudah larut dalam canda. Bergurau, walau lama tidak saling berjumpa. Mungkin, di dalam tubuh yang mengalirkan darah yang sama cukup memberikan magnet tersendiri untuk mendekatkan mereka. Mempercepat kehangatan yang terjalin.
"Assalamualaikum..."
Lantunan salam yang terlontar dari bibir tipis Keysha cukup membuat mereka semua menoleh serentak. Membalas senyuman dengan ketulusan yang sama, lalu menjawab salam yang terlintas dengan kompak. Allan dan Lena sudah berlarian kecil menghampiri perempuan yang teramat mereka sayangi. Meskipun waktu yang tercurah tidak selamanya untuk mereka, tapi cinta yang mengalir tidak pernah memiliki jarak, apalagi waktu yang memisahkan. Mereka berdua tidak peduli dengan itu, rasa yang mengalir tiada henti cukup memberi penjelasan untuk kedua bocah itu. Cinta yang mereka terima tidak pernah berada di garis kurang. Allan Lena, tidak seutuhnya tersisih karena nyatanya Keysha selalu meluangkan waktu di setiap detik tersibuknya untuk mereka.
"Ma, ada tante cantik loh." Lena berbisik di balik telinga Keysha ketika Keysha merunduk memeluk mereka.
"Oh ya ?" Senyuman Keysha mengembang. Keysha berpura-pura tidak mengetahui dan menaruh ekspresi tertarik dengan berita yang di sampaikan putrinya.
"Ayo ma, sini..." Lena sudah tidak sabar mempertemukan Keysha dengan Audrey. Menarik lengannya dengan tenaga yang ia miliki. Keysha menyeret kakinya, mengikuti gadis kecil itu membawanya. Berlarian ringan lalu terhenti di hadapan Audrey.
"Oh tante Audrey ?"
"Mama kenal ?"
"Sayang, tante Audrey itu adiknya papa. Kaya Allan dan Lena, bersaudara. Jadi ya mama kenal. Memangnya tante Audrey tidak bilang ?"
Allan dan Lena menggeleng pelan, lalu saling melempar pandangan. Bertanya dengan tatapan tanpa suara yang terlibat. Audrey tampak senyum-senyum melihat tingkah dua bocah itu.
"Padahal pas umur kalian dua tahun enam bulan, kalian kan sudah pernah bertemu tante, masak lupa ?" Audrey mengangkat bicara, lalu mencolek hidung Allan dan Lena dengan gemas.
"Haha...." Tawa Sandy menggema, menyebar dam bersahutan di udara dengan tawa kecil Keysha yang mengikuti.
"Audrey, apa kamu ingat ketika umur mu tiga tahun, kamu pernah memegang pup kamu sendiri ?" Sandy beranjak dari duduknya, ia berkacak pinggang dan menautkan kedua alisnya.
"Iuh...Apaan sih kak Sandy ! jijik banget !" Audrey memukul lengan kakaknya, memaki dengan kata yang fasih dan selalu ia semburkan untuk membalas ledekan kakaknya. Mungkin, remang-remang gadis itu telah mendengar cerita menjijikkan di masa kecilnya, tapi tetap saja Audrey tidak mau mengakui menepis nya dengan cepat.
Keysha hanya terkekeh geli mendengar candaan Audrey dan Sandy. Mereka sudah lama tidak tinggal bersama. Seiring jarak dan waktu yang memisahkan, selama itu pula canda yang mewarnai hari mereka mulai menghilang. Aneh memang, sepasang adik kakak yang selalu bertengkar dengan perbedaan pendapat, berantem hanya karena makanan..Kini bertemu dengan usia yang jauh lebih dewasa. Canda dan ledekan tidak lagi tersampaikan dengan gaya polosnya seperti waktu yang sudah berlalu.
Waktu terus bergulir, menggiring jam dinding berjalan hingga hampir setengah putaran. Pukul setengah sebelas malam, Allan dan Lena sudah terlelap di atas ranjang masing-masing. Berawal dari sebuah dongeng di bacakan oleh Audrey dengan tingkah lucunya. Suara tawa-tawa kecil yang semakin memudar, lenyap bersama keheningan malam. Rupanya, gadis yang masih suka meninggikan ego dan menuruti nafsu yang bergerumuh, sudah sepandai itu membuat kedua bocah itu terlelap walau suaranya tidak bisa lembut ketika berkisah.
Keysha memperhatikan Audrey dari ambang pintu, membiarkan gadis itu menyelesaikan akhir tugas Keysha dengan menutup tubuh-tubuh mungil itu dengan selimut hingga sampai sebatas dagu.
"Hebat !" Keysha memuji Audrey ketika Audrey sudah sampai di lantai bawah. Menelusuri anak tangga lalu menghampiri suara Keysha yang terdengar sedang membicarakannya.
"Aku ingin seperti kakak," Audrey duduk di samping Keysha. Mengambil secangkir kopi yang Keysha seduhkan untuknya. Perlahan, ia mulai menyesap dan merasakan kehangatan yang menyapa dan menjalar ke seluruh tubuh.
"Audrey pernah dengar kalau kak Sandy kemarin sempat sakit ?" Keysha memulai pembicaraannya. Ia berkata dengan serius walau matanya masih fokus dengan asap lembut yang keluar dari seduhan kopi di cangkir miliknya.
Audrey tercengang, lalu meletakkan kembali cangkir di atas meja. Ia mulai fokus memperhatikan Keysha, siap mendengar sebuah kisah yang tersembunyi dari dirinya.
"Mama Meera mungkin pernah cerita tentang Rania Cherry dan orang-orang yang cukup membahayakan nyawa kakak kan ?" Audrey mengangguk, mengiyakan setiap kata yang Keysha lontarkan.
"Tapi mama tidak pernah cerita tentang sakitnya kak Sandy ?" Keysha meneruskan interogasi, berniat meluruskan pola pikir Audrey yang tengah jauh membenci.
"Baiklah." Keysha menghela nafasnya pelan.
"Audrey, kak Sandy pernah sakit liver dan dokter mendiagnosa jika Kak Sandy mungkin bisa bertahan hidup tiga bulan lagi, jika tidak di temukan liver yang cocok untuk di cangkok kan pada liver kak Sandy, " Keysha merunduk, bibirnya tersenyum pilu ketika mengingat masa tersulitnya dalam hidup.
"Dan saat semua hampir menyerah, Rania diam-diam mendonorkan hatinya untuk kak Sandy. " Keysha mengangkat kepala, mentransfer betapa sedihnya masa sebelum Rania memberinya penghidupan yang lebih berarti.
"Kak Rania ?" Audrey tertegun mendengarnya. Ia mengulang menyebut nama itu untuk meyakinkan keraguan yang menyapa hatinya.
"Ya, Rania yang kamu pikir buruk hingga saat ini yang sudah menyelamatkan nyawa kakak kamu" Keysha menutup ceritanya. Ia tidak ingin lagi mengulang pilu dengan bernostalgia. Baginya masa itu sudah berlalu, sudah tidak ada lagi detik yang mampu menggoyahkan bahagia yang bernaung di keluarganya saat ini.
Tidak berhenti di situ, Keysha menyempatkan waktu untuk memberi arahan kepada Audrey, gadis kecil yang selalu mendengar katanya dengan lapang dada. Tidak pernah merajuk hingga lama, selalu memikirkan ulang kata demi kata yang Keysha ucapkan untuknya.
"Terima kasih kak, Audrey pasti akan minta maaf sama kak Rania." Mereka saling berdekapan, meluapkan segala cinta yang mengalir. Mungkin, hubungan darah tidak terjalin sempurna di dalam tubuh mereka tapi cinta mengalir tidak memilih darah yang mengikat.
"Kakak selalu bangga sama kamu." Keysha menatap dalam pada mata Audrey. Mengungkapkan betapa salutnya dengan hati yang berlapang dan tidak malu mengakui dengan salah yang di lakukan. Bersuka rela bahkan sadar jika dirinya harus mengatakan sebuah khilaf yang terjadi tanpa sengaja.
"Sudah malam, tidur !" Sandy sudah berdiri di pertengahan anak tangga. Berteriak memberi peringatan jika kedua perempuan itu sudah lama saling bercurah dan bercengkrama. Melewati waktu hingga dini hari tanpa menyadari. Keysha dan Audrey menyahuti dengan terkekeh kecil, lalu beranjak menuju kamar masing-masing.