
Pagi telah menyapa, mentari sudah tidak malu lagi menyinari. Cahaya yang bersinar, menerobos masuk melalui celah jendela yang terbuka. Lita mulai membuka mata dengan perlahan, ia terganggu dengan seutas sinar yang memberi ucapan selamat pagi tanpa permisi.
Perempuan itu cukup lama mengistirahatkan diri. Entah karena rasa lelah karena terus-menerus menangis, atau pengaruh obat tidur yang Dokter Alexa berikan kepadanya. Ia menggeliat, lalu mematung ketika bayangannya mengingatkan pada anak gadisnya yang sudah tumbuh dewasa.
"Shinta kamu dimana sayang ?" Air matanya kembali menetes. Mengalir bebas tanpa tangan yang menyeka.
Cekrek ( Suara pintu yang dibuka)
"Selamat pagi Nyonya Lita." Sapa seorang perawat dengan ramah. Ia tersenyum melihat Lita yang juga sedang melihatnya.
Perawat perempuan itu mengontrol Lita, memeriksa infus lalu mengajukan beberapa pertanyaan yang memang menjadi bagian dari tugasnya setiap pagi.
"Sus, kapan saya bisa keluar dari sini ? Saya harus mencari putri saya." Ucap Lita dengan sangat lirih. Suaranya serak tertahan karena tangis yang tidak bisa terkendali.
"Semua sudah membaik Nyonya, nanti akan saya tanyakan pada dokter yang berjaga. " Perawat itu merunduk memohon izin untuk melanjutkan tugasnya.
Lita kembali termenung, membagi otak memikirkan cara yang baik untuk meminta bantuan kepada Keysha. Tindakan apapun yang ia ambil akan memberi resiko besar untuknya juga untuk Shinta jika ia melakukan seorang diri.
"Selamat pagi Nyonya Lita." Dokter Alexa masuk ke ruang perawatan. Salam sapa ramah selalu ia senandungkan dengan lembut kepada setiap pasien yang ia tangani.
"Bagaimana, apa ada keluhan Nyonya ?" Seru Dokter Alexa seraya memeriksa kondisi Lita.
"Tidak. Aku hanya ingin pulang." Jawab Lita dengan ketus. Tidak ada harapan selain segera menemui putrinya. Pinta yang selalu ia panjatkan dalam bangun bahkan tidurnya.
"Baik. Karena kondisi Nyonya yang sudah membaik, saya akan izinkan Nyonya untuk pulang. " Seru Dokter Alexa dengan tenang. Nada bicara yang tidak pernah meninggi meskipun di hadapkan dengan pasien yang di luar nalar. Entah mereka yang tidak kuat dengan sakit yang menjalar, atau sekedar pasien-pasien yang menua dan sedang bangga dengan gayanya memaki.
"Benarkah ?" Tanya Lita dengan antusias. Ia beralih duduk dan bersemangat tinggi memperhatikan Dokter Alexa.
"Yang terpenting, perbanyak air putih dan istirahat yang cukup ya bu..." Seperti biasa, Dokter Alexa selalu memberikan pesan untuk setiap pasien yang sudah ia izinkan pulang dan meninggalkan ruang perawatan.
"Baiklah. Terima kasih Dok, terima kasih." Lita cukup senang dengan berita yang di peroleh. Sebuah jawaban yang di nanti dari hari-hari yang berlalu. Ia tenang, meskipun belum menemukan di mana putrinya di bawa pergi. Namun, dengan bebasnya ia dari lilitan jarum infus yang melukai sudah memberinya sebuah kesempatan yang lebih besar dari sebelumnya. Segala kemungkinan pasti terjadi, dan Lita selalu berseru dengan harapan baik mengenai keadaan Shinta.
Setelah perawat selesai melepas alat-alat medis yang tertanam di tubuhnya, Lita segera bergegas meninggalkan ruangan yang cukup memberinya siksaan karena ruang gerak yang sempit. Ia berjalan dengan langkah yang terarah, kaki jenjang yang memberi jarak lebih cepat berlalu.
Setiap bagian-bagian tempat favorit Shinta tidak luput dari pengawasannya secara langsung. Sudah beberapa tempat yang ia kunjungi untuk memastikan tempat Shinta di sandera. Namun, tidak satupun menunjukkan tanda-tanda keberadaan Shinta.
Lita terus saja melangkah mengitari sudut kota, satu persatu ia sibak dengan jeli. Tiada titik yang melemahkan fokusnya, tiada tempat yang terlewat dari intaian matanya. Walau raganya mengeluh dengan letih yang menghampiri, tapi Lita tidak menyerah dan tidak memilih mundur lalu pasrah pada ketentuan yang belum berakhir.
--------
Sekilas mimpi buruk menerjang angan, sebuah bayangan buruk yang melintas membuatnya membelalak dengan sempurna. Ia menggerayangi tubuhnya, yang hanya tertutup selimut tebal tanpa sehelai benang yang membalutnya.
"Tuhan..." Shinta menangis sejadi-jadinya. Air mata yang mengalir, mewujudkan tanda kecewa pada dirinya sendiri.
"Apa yang telah ku lakukan ?" Ia memaki dirinya sendiri. Memukul-mukul tubuhnya pada bagian-bagian yang di kehendaki.
"Sayang, kenapa kau menangis seperti itu hei ?" Vino keluar dari kamar mandi dengan telanjang dada. Ia hanya memakai kolor sebatas paha dan cukup memberikan kesan cool padanya. Ia tidak peduli perempuan yang ia sapa lembut dengan panggilan akrab itu telah beringsut mundur. Shinta bingung menutup tubuhnya dan terus berusaha menepis tangan yang mulai nakal menerobos masuk ke dalam selimut.
"Apa yang sudah kita lakukan Vino ? Dimana kita sekarang ?" Jerit Shinta cukup keras, memecah keheningan ruang yang cukup melelahkan telinga.
"Haha...." Suara tawa Vino menggelegar keras. Menepis amarah Shinta, menghanyutkan kata sepi di sana. Ia berdiri dari tepi ranjang, dan berjalan menuju lemari pakaian. Ia memilah-milah dan mengambil satu pasang pakaian dan dengan tenang memakai di depan Shinta tanpa rasa malu.
"Vino ? Katakan, apa yang sudah kita lakukan ! Dimana kita sekarang !" Shinta menepis rasa takut yang sudah asyik bermain di hati kecilnya. ia tidak lagi peduli kegilaan yang akan Vino lakukan padanya, jika ia terus berteriak dan tidak menurut pada ucapannya.
"Kenapa kau begitu ingin memancing rasa kesal ku sayang ? Sudah dua hari kemarin kau diam tanpa suara, kenapa sekarang sangat cerewet dan menyebalkan ?" Vino mencengkram erat kedua pipi Shinta. Ia tidak peduli bahkan jengah dengan air mata yang mengalir di pipi Shinta.
"Dua hari ? " Gumam Shinta dalam hati.
"Apa aku tertidur selama itu ? B a j i n g a n ! Apa yang telah ia lakukan pada ragaku dua hari ini ?" Gumamnya lagi.
Shinta terus saja menangis, dan berusaha melepas tangan Vino dari pipinya. Sakit yang ia rasa, seolah-olah tidak membuatnya kesal, ia lebih tertarik memikirkan Lita, nasibnya selama dua hari tanpanya.
"Jika kau bisa diam seperti ini, maka aku bisa lembut kepadamu." Vino melepaskan cengkraman itu, lalu mengusap lembut wajah Shinta penuh dengan perasaan.
"Jangan menangis ! Bukankah aku melakukan itu dengan sangat lembut ?" Vino tersenyum sinis, ia tetap membiarkan tangannya membelai wajah Shinta. Mengusap rambut-rambut panjang yang menutupi wajah wanitanya, lalu menyelinapkan pada daun telinga.
"Vino, aku mau pulang. Dimana pakaianku ?" Shinta memohon dengan suara yang tertahan. Tidak bisa tergambar betapa takutnya ia pada lelaki di hadapan tubuhnya itu. Entah, kata-kata lembut yang terlontar manis dari bibirnya, justru memberikan tekanan pada hatinya.
"Pulang ?" Vino menautkan kedua alisnya. Ia menatap Shinta dengan tatapan tajam dan tidak suka.
"Aku telah membayar mu pada mamamu, apa kau lupa ?" Senyuman sinis itu mengembang bebas lagi di sudut bibir Vino.
Tidak ada jawaban dari Shinta, selain suara tangis yang mulai mencari ketenangan. Perempuan itu memeluk kaki dan membenamkan wajah pada selimut yang membalut rapat tubuhnya.
"Pakailah ini." Vino melemparkan sebuah lingerie seksi tepat pada wajah Shinta. Pria itu menarik kedua ujung jasnya, lalu melangkah keluar dari kamar dan menguncinya dengan rapat dari arah luar.