
"Kak Sandy cukup, please..." Dengan suara yang menyatu dengan tawa Keysha berusaha melepaskan diri. Menahan setiap pergerakan tangan Sandy yang semakin bebas menggerayangi tubuhnya. Keysha sudah menjatuhkan tubuh di atas kasur, terlentang dengan sebagian tubuh suaminya yang menimpanya. Nafasnya terengah-engah karena energi yang terkuras untuk menahan gelitik Sandy yang menyebalkan baginya.
"Kak Sandy, mau kan bantu Keysha mencari Shinta ? Keysha memainkan rambut tebal suaminya. Memutar-mutar lalu melepaskan agar kembali terurai mengenai wajah.
"Iya sayang, " Sahut Sandy dengan tersenyum. Meskipun hatinya menolak dengan alasan yang jelas terlihat, tapi ia memilih mengiyakan. Belajar dari kejadian yang cukup mengejutkan, perempuan yang di pintakan uluran tangan oleh Keysha, kini telah tiada. Menghembuskan nafas terakhir dengan tujuan yang belum terselesaikan. Meninggalkan bumi tanpa di ketahui oleh anak semata wayangnya.
"Keysha tahu kok, kakak masih belum bisa lupa dengan perbuatan Shinta dan almarhumah mama Lita, tapi aku hanya ingin memastikan jika Shinta baik-baik saja di luar sana, " Seru Keysha dengan santai. Setelah menutup kalimatnya, ia kembali membenamkan wajah di antara tubuh Sandy.
******
"dokter Alexa ! Kamu hampir saja membunuh pasien. Apa yang kamu lakukan dokter Alexa ?" Seorang laki-laki paruh baya, dengan tubuh tinggi besar dsn menggunakan jas berwarna putih polos berteriak dengan keras. Wajahnya menyeringai lebar, menatap dokter Alexa dengan tatapan arogan.
"Ma...maaf dok, " ucap dokter Alexa dengan bibir yang bergetar. Kepalanya tertunduk, menyembunyikan wajah yang larut dalam rasa takut dan kecemasan hebat. Menguasai jiwa dengan rapuh dan tidak berdaya.
"Maaf dokter Alexa, untuk kesalahan mu kali ini saya sudah tidak bisa lagi memberi toleransi. Besok dan seterusnya, anda tidak perlu datang lagi ke Rumah sakit. " seru pemilik Rumah sakit dengan tegas.
"Ta..tapi dok, saya mohon..."
"Saya tidak mau mendengar apapun lagi darimu dokter Alexa, "
"Dok, "
"Keluar ! Sebelum saya melakukan hal yang lebih buruk lagi dari ini !"
Tidak hanya cinta yang lepas dari genggaman tangannya, tidak hanya harapan dan masa depan yang telah ia pasrahkan pada seseorang yang menghilang begitu saja. Sekarang, di waktu yang sangat melemahkan jiwanya, dokter Alexa harus kehilangan pekerjaan. Sebuah aktivitas yang selalu ia lakukan dengan senang hati. Cita-cita yang ia wujudkan dengan susah payah, harus musnah dalam hitungan detik. Lenyap, terbawa arus perasaan yang menghanyutkan segalanya.
Dengan lemas, dokter Alexa menyeret kakinya, mengayun memberesi barang-barang pribadinya dari ruangan besar yang menjadi saksi dari segala prestasi yang telah di capai olehnya.
Dokter Alexa melangkah keluar dengan ragu. Menatap pada sekeliling ruangan dengan pilu, ah mungkin memang jodohku hanya sampai detik ini, pekik dokter Alexa dalam hati.
Banyak perawat dan dokter-dokter yang menungguinya di depan ruang. Menatapnya dengan pandangan sedih, lekat nan sayu. Dokter Alexa berusaha tegar, mengukir senyuman dalam kecamuk kecewa yang mendalam. Air mata yang melesat tidak lagi bisa berbohong dengan suara hati yang sesungguhnya. Mereka semua berlarian menghampiri gadis malang itu, mendekap erat tubuhnya seolah-olah mengatakan salam perpisahan. Memberi dorongan rasa semangat dan sebuah keyakinan jika dokter Alexa bisa lebih sukses dan bersinar di luar sana. Dengan jalan yang memang telah menjadi jodohnya, sebuah takdir yang Tuhan berikan, tanpa ada satu tangan pun yang mampu menepisnya.
"Alexa, " dokter Liem berdiri di antara jajaran orang-orang yang menangis melepasnya. Memanggil dengan nada lirih, yang sulit sekali sampai ke telinga. Dokter Alexa menoleh, lalu mengurai senyum yang lebih menggiurkan ketika mendapati wajah dokter Liem yang telah basah karena air mata.
"Kamu baik-baik ya di luar sana, " seru dokter Liem seraya memeluk tubuh dokter Alexa dengan erat. Mendekapnya dengan kuat tanpa ada keinginan untuk melepasnya lagi.
"Dokter Liem, sudah aku anggap kakak dan guruku di sini, jangan nangis dong. " seru dokter Alexa terharu, mengikuti suara serak yang tersembur keluar dari bibir dokter Liem. Mereka saling bertatapan, mengisyaratkan sebuah kerinduan yang akan selalu menghampiri hati mereka setelah perpisahan ini.
Drama yang mengharukan, tidak hanya orang-orang yang mengenalnya dengan baik yang turut merasakan sebuah kesedihan. Sebagian keluarga pasien yang tidak sengaja melintas dan mendengar itu ikut terisak dan menyembunyikan tangis. Menatap sedih, tanpa berani mengumbar suara. Diam mematung, dan mata terus terarah menghembuskan doa.
"aku pamit ya, assalamualaikum..." ucap dokter Alexa lirih.
Mereka kompak menjawab salam, anehnya itu terdengar menyedihkan. Seperti sebuah jurang yang memisahkan. Memberi jarak dan waktu yang panjang lagi, untuk saling bertemu, bertatap wajah dan saling melepas kerinduan.
"Tuhan..." dokter Alexa kembali menghentikan mobil di bahu jalanan setelah memastikan telah melesat jauh dari Rumah Sakit.
"Kenapa jadi seperti ini, " Ia memukul-mukul kan tangan pada kendali kemudi. Mengurungkan wajahnya di sana, dan kembali menangis dengan tersedu-sedu seorang diri.
Reno melambatkan laju mobilnya, ketika melihat mobil dokter Alexa di tepi jalanan. Membiarkan roda berputar melintasi perhentian dokter Alexa. Reno menginjak rem mendadak, setelah menyadari jika apa yang di duganya bukanlah hal yang salah.
"Ad..duh, " keluh Audrey dengan kesal. Lagi dan lagi tubuhnya harus tersentak ke depan karena Reno melakukan kesalahan yang sama seperti sebelumnya.
"Kak Reno, bisa nyetir gak sih ?" Sungut Audrey seraya mengusap jidatnya yang terbentuk bagian depan mobil.
"Ma..maaf drey. " jawab Reno acuh, ia melepas sit bel yang terpasang di tubuhnya dengan tergesa-gesa. Membuka pintu cepat, lalu berlari kecil menghampiri mobil dokter Alexa.
tok...tok...tok...
Berulang kali Reno mengetuk-ngetuk kaca mobil dokter Alexa. Memanggil dengan lembut perempuan yang membenamkan wajah di atas kemudi.
Dengan wajah yang sembab dan terlihat sangat menyedihkan, dokter Alexa mengangkat kepala. Mendongak, menatap ke arah luar untuk memastikan yang memanggilnya bukanlah preman jalanan.
" Alexa..." ulang dokter Alexa cemas.
Perlahan, dokter Alexa membuka kaca mobil. Menatap Reno dengan wajah flat seperti seseorang yang sama sekali tidak mengenalnya. Ia segera membasuh wajah dengan telapak tangannya, menghapus air mata yang masih saja menyisakan sembab di kedua kelopak matanya.
"Apa mobil saya menghalangi perjalanan mu ?" Tanya dokter Alexa kepada Reno.
"Ti..tidak Alexa, apa yang terjadi kepada mu ? Kamu menangis ?" Reno balik bertanya dengan penuh khawatir.
Dokter Alexa tersenyum sinis, menatap tajam ke arah depan. Jantungnya berdenyut, ketika melihat seorang perempuan yang berbalut dress cantik dan rambut yang tergerai dengan panjang berjalan anggun ke arah Reno. Langkahnya tegap, terlihat santai tanpa rasa cemburu yang menyeruak. Bodoh, justru dokter Alexa sendiri yang merasakan hal tersebut. Rapuh, dan terpuruk sendiri menyembunyikan rasa yang sebenarnya sudah tidak sanggup ia tahan-tahan sendiri.
"kak Reno, siapa sih ?" sapa Audrey pelan, ia memiringkan kepala untuk mempermudah indera penglihatannya menangkap wajah seseorang yang duduk lurus di balik kemudi.
"Hallo, Dokter Alexa ? Apa ada masalah dengan mobilnya ?" Celetuk Audrey ramah setelah melihat dokter Alexa dengan jelas.
"Tidak, " jawab Dokter Alexa singkat.
"Oh, " Audrey membulatkan bibir, semakin merasa jika dokter Alexa memang tidak menyambutnya dengan baik. Interaksi dan bahasa yang ia gunakan terkesan angkuh, bahkan selalu enggan ketika Audrey memaksakan diri untuk mendekat.
"Sepertinya saya salah memilih tempat berhenti, maaf jika sudah mengganggu kesenangan kalian, " Seru dokter Alexa seraya bersiap untuk kembali bergegas melajukan mobilnya.
"Permisi, " imbuhnya setelah memastikan jika Reno dan Audrey telah beringsut mundur, tidak menghalangi laju rodanya.
"Masih saja ketus. Ayo ah kak, " Sahut Audrey kesal. Ia menghentakkan kakinya dengan kuat, ketika mobil dokter Alexa telah melesat jauh. Meninggalkan kesan kesal dan jengkel untuk hati Reno dan Audrey. Membawa luka, yang memusnahkan segalanya, mematikan jerih payah yang telah lenyap karena ingatannya yang sulit di kendalikan.