I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Sebuah Penjelasan



"Aku sungguh tidak bisa hanya berdiam seperti ini Ren." Sandy kembali merajuk.


"Sandy ! Kamu juga sedang sakit . Pikirkan dirimu, aku akan berusaha menemukan Keysha untukmu. " Reno menatap Sandy dengan kesal. Ia di buat kewalahan dengan sikap Sandy yang terus berubah-ubah.


"Reno ! Keysha itu istriku dan dia sedang menderita di luar sana ! " Gertak Sandy dengan geram.


"Aku tahu itu Sandy ! Apa yang bisa kamu lakukan jika kondisimu selemah ini ? Percayalah anak buah pasti akan menemukan Keysha dengan cepat. "


"Reno, kamu belum merasakan apa yang ku rasakan saat ini. Ku harap jangan menghalangiku untuk mencari wanitaku. " Mata Sandy memerah. Ia menekan kalimatnya tepat di depan wajah Reno.


"Sandy !" Reno berdiri menghalangi jalan Sandy.


"Reno ! Keysha sedang menungguku untuk menyelamatkan nyawanya. Kenapa kau menghalangiku untuk melakukan itu. "


Mereka masih bersitegang beradu pendapat. Melontarkan argumen masing-masing dengan otot yang turut menegang. Rasa kesal Sandy sudah berada di ujung tanduk. Ia menghela nafas kasar dan mengepalkan kedua tangannya.


"Arrghh...." Tiba-tiba saja dia kembali mengerang. Meringis menahan sakit yang kembali menyapa perutnya. Luka yang tidak tampak dengan mata terbuka, tapi selalu membuatnya lemah tak berdaya. Ia meringkuk kembali di tepi ranjang. Menekan dalam perutnya untuk menyurutkan sakit yang kian mengancam.


"Sialan !" Sandy mengumpat dalam hati. Merasa kesal dengan dirinya sendiri karena selalu di kalahkan oleh rasa sakit yang mencengkram pada bagian perutnya.


"Sudah ku katakan padamu, berhentilah bersikap keras kepala dan merepotkan orang lain. " Reno menekan tombol yang tertempel pada dinding di belakang ranjang Sandy. Tombol itu berfungsi untuk memanggil seorang dokter agar segera datang ke dalam ruang perawatan.


Bukan karena tidak lagi sanggup merawat atau hilang rasa kasihan, tetapi Sandy memang selalu keras kepala dan sulit di kendalikan. Ia selalu bersikap sombong dan lupa dengan sakitnya yang bisa saja datang dengan tiba-tiba.


"Permisi..." Seorang dokter perempuan memasuki ruangan. Wajahnya ayu, lengkap dengan kacamata tipis yang menunjang penampilannya. Senyuman manis merekah begitu indah di bibir tipisnya.


"Dokter Alexa..." Reno menyapanya dengan sopan.


"Saya akan melakukan pemeriksaan, tolong tuan Reno keluar sebentar agar saya lebih fokus dan tidak terganggu. " Ucap Dokter Alexa sopan. Ia membungkukkan badannya untuk memberi rasa hormat.


Reno hanya tersenyum lalu melenggang keluar dengan gaya cool nya. Meninggalkan Sandy yang masih meringis menahan sakit dengan dokter yang semenjak awal menanganinya.


"Bagaimana ? Apa sudah ada kabar ?" Reno berbicara dengan serius. Telepon genggam yang menempel erat pada daun telinganya, menjadi alat penghubung antara dia dan anak buahnya mengenai kabar Keysha.


"Bodoh ! Aku tidak mau tahu, kalian harus menemukan perempuan itu dengan cepat." Entah apa yang di katakan mereka di seberang telepon. Reno menghardiknya dengan makian kasar.


Ia masih berjalan menelusuri lorong untuk sekedar menghibur diri. Mengistirahatkan otak dari rasa penat yang sudah dua hari ini mengincarnya. Reno berjalan dengan sigap, memasukkan kedua tangan pada saku celana masing-masing.


Laki-laki itu tercengang di ujung jalan, menatap lekat pada perempuan yang masih tersedu di depan rumah UGD. Wajahnya di benamkan di antara kaki jenjangnya, tapi tidak membuat Reno tidak mengenali perempuan itu.


"Rania ? " Celetuk Reno tepat.


Perempuan itu mendongak, mencari sumber suara yang lantang menyebut namanya.


"Reno ? k-kau di sini ? " Jawabnya gugup.


"Suamimu sedang sakit ? Atau anakmu ?" Reno menyipitkan matanya. Dia melempar tanya tanpa menjawab terlebih dulu pertanyaan Rania sebelumnya.


"Ah tidak..." Perempuan itu menggeleng cepat.


"Lalu ?" Ucap Reno penuh selidik.


"Dimana Sandy ? Apa kau bersamanya ?" Kali ini Rania yang mengembalikan tanya. Berbicara seolah tidak nyambung dengan kalimat yang Reno lontarkan. Ia menyeka air mata yang sudah berhasil membuat matanya bengkak.


"Itu bukan masalah mu...."


"haha....." Reno tertawa dengan suara lantang. Tidak peduli tempat dan juga peraturan yang melarang setiap pengunjung membuat suara gaduh.


"Apapun yang bersangkutan dengan Sandy, sudah menjadi bagian dari urusan ku." Reno mencondongkan tubuhnya. Ia mendekatkan wajah tepat satu jengkal di depan wajah Rania. Nafas mereka saling berinteraksi, menyampaikan sapuan halus pada setiap hembusan yang mereka lepaskan.


"Sudah ku katakan itu bukan urusanmu, jadi aku tidak akan mengatakan padamu." Rania melangkah mundur. Membuang muka jauh dari pandangan yang mempertemukan dengan bola mata bulat yang sedang mengawasinya.


"Dan sudah ku katakan padamu, apapun yang bersangkutan dengan Sandy, sudah jelas menjadi urusan ku. Apa kau tidak mengerti itu ?" Rupanya Reno tidak kunjung puas. Ia mengikuti langkah Rania yang terus beringsut mundur hingga membawa tubuhnya menempel pada dinding pembatas.


"Reno ! Kenapa kau begitu keras kepala dan memaksakan apa yang menjadi kemauan mu pada orang lain ?" Rania mendongak, menyemburkan kalimat dari tenggorokan nya. Ia berbicara seolah menantang.


"Tampaknya kau mulai berani kepadaku Rania, apa Cherry menjamin keselamatan mu ?" Reno berbicara dengan manis. Senyuman itu ia bebaskan terukir di sudut bibir. Namun, terlihat begitu mematikan dan membuat Rania bergidik ngeri. Ia menyesal telah berani melontarkan kalimat tanpa berpikir panjang sebelum nya. Kepalanya kembali ia benamkan, menunduk dengan rasa cemas yang menyertai.


"Baiklah....Aku menemukan Keysha Ren." Rania berkata dengan sangat pelan-pelan.


"Apa ? Kau menemukan Keysha ? Atau jangan-jangan memang kau yang menyembunyikan nya ?" Reno memiringkan kepala. Menatap lekat dengan tatapan arogan. Sorot matanya mengancam, seakan telah siap menerkam mangsa yang sudah tidak berdaya di hadapannya.


"Kau boleh bertanya pada Keysha jika dia sudah sadar. " Rania meraih tas yang tergeletak di lantai. Mengayun langkah, meninggalkan Reno dengan rasa bingung yang menggelayuti.


"Sadar ? Rania, apa maksudmu ?" Ucap Reno heran, ia merah jemari Rania untuk menahan nya agar tidak pergi membawa rasa penasaran yang belum menemui jawaban yang memuaskan hasratnya.


Rania menghela nafasnya berat, memejamkan mata sekejap, menyiapkan diri untuk mendapat lagi ragam tuduhan yang tersembur bebas dari tenggorokan Reno.


"Apa kau akan percaya dengan penjelasan yang ku berikan ?" Rania menatap Reno dengan berani.


"Tergantung....." Jawab Reno singkat.


"Ya sudah. Untuk apa aku memberi penjelasan. " Rania kembali berputar dan melanjutkan langkah yang sempat terhenti.


"OK... OK.... Aku akan berusaha untuk percaya. Tolong katakan, Keysha kenapa ?" Ujar Reno menyerah.


"Dia tidak sadarkan diri, ada goresan luka di tangannya. " Rania memperhatikan ekspresi wajah Reno, lalu kembali melanjutkan kalimatnya, "Mungkin karena dia kehilangan banyak darah hingga membuatnya jatuh begitu saja di depan mobilku saat aku melintas."


"Luka ? Keysha kenapa bisa luka dan...."


"Kau sudah berjanji untuk berusaha percaya padaku. Jadi, tidak ku izinkan kau menebak dengan ragam kalimat yang yang hanya menuduhku !" Rania membulatkan mata.


"Baiklah...."


"Aku tidak tahu kenapa dia bisa terluka, seperti goresan benda tajam saat ku perhatikan. " Sambung Rania masih mencoba menggambarkan kejadian yang baru saja di alaminya.


"lalu ?....."


"Aku pikir Cherry bersembunyi di Villa pribadinya. Villa yang sengaja ia bangun di daerah terpencil di sebrang hutan. Dia mematikan semua koneksi internet yang tersambung padanya. Kemana lagi dia bersembunyi kalau tidak di sana. Belum sampai, Keysha tiba-tiba muncul di depan mobilku dengan keadaan lemah, tapi dia masih sempat menyebut namaku untuk meminta tolong. " Rania menjelaskan dengan panjang lebar. Memutar ulang rekaman yang masih jelas terbaca di otaknya. Tidak ada sedetikpun kejadian yang terlewat dari barisan cerita yang di sampaikan. Entah, Reno percaya atau tidak, yang jelas wanita itu sudah berbicara dengan sangat jujur tanpa tambahan kata sedikit pun.


"Dokter Liem masih memeriksa nya. Semoga dia bisa selamat dan segera melewati masa kritis nya. Aku harus pulang, pakaian ku sangat kotor karena darah yang keluar dari luka di tangan Keysha." Rania bergegas mengayun langkah. Dengan mantap tanpa halangan lagi dari Reno. Pria itu tertegun, masih sulit menerka dan memikirkan semuanya secara gamblang.


Rania sepertinya memang berkata dengan jujur. Tapi, aku tidak boleh tertipu dengan begitu mudah. Aku tetap harus menyelidiki semuanya....