
Telah menjadi kebiasaan di setiap pagi, sebelum beranjak dari atas kasur lebar yang hanya dia tempati berdua dengan suaminya, Keysha menggeliat terlebih dulu. Meregangkan setiap jengkal otot yang tampak menegang. Rasa kaku yang menjalar menjadi beban yang membuatnya malas memulai hari.
Keysha membuka matanya lebar, kilau cahaya yang berhasil menerobos masuk dari celah jendela kamar cukup mengganggu matanya. Matanya mengerjap, ia menatap sekeliling ruang yang selalu membuatnya nyaman.
Sudah tidak ada Sandy di sisinya. Lelaki itu, terdengar sedang bersenandung kecil di balik pintu kamar mandi. Keysha segera bangkit dan duduk, otak dan logikanya mencoba mengulang peristiwa yang terjadi semalam setelah selesai makan di jajanan pinggir jalan.
"Kenapa aku tidak bisa mengingat semuanya." Keysha tampak frustasi karena kepalanya terasa sakit saat memaksa untuk mengingat. Tidak ada sebuah gambaran jelas yang memperlihatkan aktivitasnya setelah makan. Dia hanya ingat, dia sempat membicarakan Cherry di mobil. Lalu....ah ! semua sudah tidak lagi muncul di angannya.
Sandy tampak bingung saat melihat istrinya. Ia menautkan kedua alisnya, masih tidak bisa menebak dengan apa yang terjadi dengan wanita yang menunduk menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Pagi sayang..." Sapa Sandy lembut, membuat Keysha terkejut lalu mengangkat kepala. Ia menoleh pada suara yang lembut membelai telinga.
"Pagi kak. Aku kesiangan ya." Senyuman tulus terukir manis di bibirnya. Wanita itu mencoba menutup rasa lelah yang tidak kunjung berlalu dari tubuhnya. Semakin bertumpu menjadi beban hari-harinya.
"Tidak...aku memang sengaja bangun pagi hari ini." Jawab Sandy membantah. Ia tidak ingin membuat istrinya merasa bersalah dan menyesal dengan waktu yang telah ia gunakan untuk tidur.
"Kamu mimpi buruk ?" Sandy menyipitkan mata. Alisnya terangkat sebelah seolah mempertebal tanda tanya yang terlontar.
"Ah tidak..." Lirih Keysha. Ia segera beranjak dan merapikan kasur. Menarik setiap sudut sprei dan menumpuk rapi bantal yang menjadi penyangga kepalanya ketika tidur. Tak tertinggal dengan selimut tebal yang baru saja dia singkirkan dari tubuhnya sebelum beranjak turun dari ranjang.
"Kamu bangun tampak bingung. Apa kamu ada masalah ?" Sandy tidak puas dengan jawaban singkat wanitanya. Ia duduk di tepi ranjang, menghalangi aktivitas wanita itu untuk memastikan jika dia memang sedang baik-baik saja.
"Tidak kak...aku hanya sedikit bingung kenapa aku tidak bisa mengingat apa yang aku lakukan setelah keluar dari tempat makan semalam." Keysha berbicara dengan serius. Matanya berputar seakan memaksa otak untuk kembali mengingat yang telah berlalu. Mustahil ! Semua tidak bisa dia dapatkan.
Gelak tawa terdengar nyaring dari mulut Sandy. Laki-laki itu sungguh sudah tidak sanggup lagi menahan diri. Keysha hanya terpana, dia membisu dalam kebimbangan yang bergelut dengan jiwanya. Tidak paham dengan apa yang suaminya tertawakan. Wajah lugu yang tampak alami terhias rasa bingung yang sudah menjulang di ubun-ubun nya.
"Sayang, apa kamu tidak ingat jika kamu tertidur di dalam mobil?" Sandy menarik nafas dalam-dalam sebelum menjelaskan yang terjadi kepada istrinya.
Keysha tercengang, ia masih belum juga sadar dengan apa yang membuatnya sulit mengingat. Jelas saja, dia telah terlelap bahkan berpindah kasur juga Sandy yang membopong tubuhnya. Mana bisa dia ingat yang tidak dia lakukan.
"Jadi, kakak tidak membangunkanku semalam ?" Tanya Keysha masih tidak mengerti.
"Harusnya aku yang tanya, kenapa waktu kakak membangunkan kamu, kamu justru mengangkat tangan meminta untuk di gendong ?" Sandy mencondongkan wajah semakin dekat dengan wajah lugu istrinya. Sontak membuat wanita itu merona dengan rasa malu. Sedikit ingatan mulai tergambar, tetapi tidak dengan kalimat terakhir yang Sandy ucapkan.
"Ah iya . Aku baru mengingatnya..." Jawab Keysha malu-malu. Dia berjalan mundur menghindarkan tubuh dari cengkraman tangan Sandy.
"Aku harus mandi kak..." Protes Keysha kesal karena dia sudah sulit untuk bergerak. Tubuhnya di apit antara tembok dan badan kekar Sandy. "Aku juga harus segera menemui anak-anak." Erang Keysha saat tubuhnya benar-benar sudah berada di bawah kendali Sandy.
"Baiklah.." Laki-laki itu tampaknya menyerah. Dia mengalah dengan meregangkan tubuh dan berjalan mundur. Tubuhnya kembali ia tumpukan di tepi ranjang. Duduk dengan mata yang fokus menatap wanita yang sangat menarik saat bangun dari tidur. Rambut panjang tergerai tanpa penghalang karena mereka hanya berdua saat di kamar.
Sandy hanya tersenyum tergoda dengan sikap istrinya. Lesung pipinya terpampang manis dengan gigi ginsul yang menawan. Ia menggeleng ringan kepalanya sebelum bangkit dan melanjutkan persiapannya sebelum berangkat kerja.
---------
Dengan gaya cool Sandy menelusuri anak tangga. Melangkah dengan sigap dan tatapan yang pasti. Dia tidak seperti Keysha yang ketika turun tangga matanya bergerilya. Mengitari setiap sudut ruang mencari arah yang menjadi tujuan.
"Pagi pa ..." Jerit Lena melunturkan tatapan tajam yang lekat di mata Sandy. Gadis kecil itu tampak berlarian, lalu mendekap erat tubuh Sandy. "Papa sama mama semalam lembur ?" Lena mendongakkan kepala untuk menatap wajah Sandy. Wajah ranum dengan sorot mata yang berbinar menjejali telinga Sandy dengan pertanyaan yang membuatnya bergidik. Sebuah kode yang meminta jatah waktu, menarik dengan cara halus uluran tangan yang setia mendekapnya di setiap menjelang tidur.
Sandy berjongkok agar putrinya tidak lelah saat ingin menatapnya. Wajah mereka sama rata, sehingga lebih mudah berbicara dengan bahasa mata. Tidak akan ada kebohongan yang berani di sembunyikan karena mata-mata tajam di depannya pasti akan terus mengintai. Sandy menarik nafas panjang sebelum menyemburkan kalimat yang dinantikan putrinya. "Papa tidak lembur sayang, tapi mama yang lembur. Jadi, papa bantuin mama biar mama tidak lelah."
"Harusnya papa melakukan itu setiap kali mama lembur. " Allan yang mendengar turut melontarkan kata-kata bijaknya. Dia melirik Sandy memberi ancaman tanpa ampun.
"Ya, papa selalu melakukan hal itu." Jawab Sandy membela diri.
"Papa hebat..." Lena tampak belum mengerti apa yang di bicarakan oleh saudara kembarnya dan Sandy. Dia hanya mengacungkan jempol, wujud rasa bangga seperti kata yang baru saja terucap.
Sandy membopong tubuh Lena lalu beranjak menuju meja makan. Allan sudah asyik meracik roti dengan selai coklat kesukaannya. Gadis kecil itu meraih kursi dan memilih duduk di bangku sebelah Allan duduk.
"Allan itu untukku ?" Serunya manis. Ia menunjuk roti yang belum selesai di olesi selai.
"Lena mau ?" Allan menawarkan.
"Mau ...tapi Lena tidak suka coklat. Lena maunya selai strawberry." Rengek Lena dengan manja. Ia mendorong maju bibir bagian bawah, melukis raut dengan mimik manja di sana.
"Baiklah....Tapi aku harus menyelesaikan ini dulu untuk mama." Jawab Allan datar.
Sandy hanya tersenyum melihat tingkah kedua anaknya. Pria kecil dan gadis kecil yang selalu memiliki cara untuk membuat orang-orang terdekatnya membusungkan dada penuh bangga terhadap mereka. Sikap Allan yang cool dan judes lengkap dengan nada galaknya setiap kali memprotes sesuatu yang tidak sejalan dengan pola pikirnya. Semua berbanding balik dengan Lena yang manja dan sangat cerewet tetapi sangat lembut dan baik hati.
"Lagi buat apa sih kalian ? kok serius sekali mama turun tidak ada yang tahu." Keysha menyenggol lengan anak-anaknya.
Spontan Lena dan Allan tersenyum senang lalu meraih tubuh mamanya. Seakan berlomba untuk mendekap erat dengan rasa hangat yang mengalir.
"Ini untuk mama...." Allan mendorong piring di tangannya. Menyerahkan sebuah roti dengan hiasan coklat yang sedikit berantakan ke hadapan Keysha.
"Wah hebat sekali. Ini Allan sendiri yang buat untuk mama ?" Kata Keysha penuh pujian. Ia tersenyum sumringah mendapat kejutan dari anak laki-lakinya. Menerima sebuah roti yang terbuat dengan cinta yang membara.
"Ini enak sekali." Pungkas Keysha setelah memakan beberapa gigit roti tersebut.