I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Terbongkar



"Keysha..." Panggil seorang wanita di antara beberapa orang yang tampak berlalu lalang di lorong sekolah. Seorang wanita dan putri kecilnya yang tampak melambaikan tangan agar lebih mudah tergapai oleh pandangan mata Keysha.


Keysha hanya tersenyum simpul menatapnya. Begitu pula dengan Sandy, yang sudah berjaga dengan raut wajah arogan.


"Sayang, kalian masuk kelas dulu ya. Nanti mama sama papa langsung kerja, kalian di jemput sama suster ya." Keysha merundukkan tubuh agar lebih mudah bercengkrama dengan kedua buah hatinya.


Tidak banyak tingkah, sepertinya memang ucapan Keysha cukup mudah di mengerti oleh mereka. Allan dan Lena mengangguk cepat, mereka mencium tangan Sandy dan Keysha sebelum berlari riang menghampiri teman-temannya.


"San, kamu tumben ikut mengantar anak-anak ?" Wanita itu mengurangi senyuman manis.


"heh, ini sekolah umum. Dan jika untuk membelinya saja aku mampu. Lalu, apa masalahnya jika aku mengantar anak-anakku ? Kamu terganggu Rania ?" Jawab Sandy angkuh. Sangat terlihat betapa kesal rasanya yang mendorong dada. Seakan telah menyiapkan barisan-barisan kata yang perlu dia semburkan di hadapan Rania.


Wajah Rania berubah masam seketika. Lehernya seolah tercekik dan menegang. Ia kesulitan untuk merangkai kata. Semua hal yang sudah ia yakinkan hanya tiba di tenggorokan, keberanian itu pudar ketika melihat wajah Sandy yang tajam menatapnya. Mata bulat nan cantik seperti padam sinar cerianya. Wajah riang dan senyuman yang tergambar semakin lenyap di telan kebimbangan. Rania tampak pucat pasi dan semakin dalam menunduk menyembunyikan rasa takut.


"Angeline, kamu masuk dulu ya nak, Lena dan Allan sudah di dalam." Keysha mengusap ujung kepala Angel, lalu di balas anggukan ringan oleh gadis kecil itu.


"Rania apa kamu masih mengikuti nafsumu yang mengatakan aku dan Ibnu telah mengkhianati mu ?" Tidak banyak basa-basi lagi yang Keysha ucapkan. Setelah memastikan Angeline telah jauh meninggalkan mereka, Keysha membuka suara untuk meminta kejelasan dari Rania.


"Mengikuti nafsu ? Ma-maksud kamu apa Key ? Aku tidak mengerti." Rania menggeleng ringan. Ia berusaha membela diri, berkilah dengan lidahnya yang bisa manis saat berhadapan dengan Keysha.


"Apa kau tidak mendengarnya dengan jelas ? Buka telingamu lebar-lebar juga dengan hatimu yang terlanjur kotor !" Sandy meninggikan suara. Ia melihat Rania dengan sangat arogan. Kobaran amarah telah menyeruak di balik hatinya. Dia sungguh sudah tidak bisa lagi berpura-pura di depan wanita yang tidak kunjung mengakui rencana buruknya.


Keysha memperhatikan sekitar, ada beberapa anak dan orang tua yang terpaku menyaksikan drama Rania. Sebuah adegan yang tidak terencana. Wanita itu semakin tidak karuan mimik wajahnya. Ia sungguh kehilangan kendali oleh dirinya sendiri.


"Ikutlah denganku jika kamu mau mengerti apa maksudku." Keysha mengayun langkahnya pasti. Dia tidak memaksa wanita itu untuk mengikuti arahnya. Ia hanya menarik lengan suaminya untuk memastikan Sandy menghentikan lontaran katanya sebelum masa yang berkumpul semakin memenuhi lorong sekolah.


Mereka berada di sebuah taman tang terletak di samping sekolah. Cukup jauh dari kerumunan orang-orang. Tidak terlihat adanya aktivitas yang akan terganggu dengan keributan yang sudah Keysha bayangkan sebelumnya.


"Untuk apa kamu membawa kita ke sini sayang ? Harusnya kita tetap di sana agar semua orang tahu siapa wanita picik ini sesungguhnya." Protes Sandy dengan geram.


"Aku hanya memikirkan anak-anak yang belum seharusnya terlibat dengan urusan seperti ini." Jawab Keysha yang tidak melepaskan pandangan dari mata Rania.


"Rania untuk apa kamu kembali ke dalam kehidupan ku jika hanya untuk menyalakan api perang ? " Keysha kembali melunak. Kristal-kristal bening sudah terpusat di setiap sudut matanya, menunggu hitungan detik untuk bersama melesat menelusuri pipi.


"Api perang ? Key ....aku..." Rania kembali berkilah, memutar mata mencari alasan yang akan meluluhkan hati.


"Jangan katakan kamu tidak mengerti Rania !" Sandy menyipitkan mata, menatap tajam kearah Rania.


"Aku memang tidak mengerti Sandy ! " Nafas Rania terdengar tidak beraturan. Sepertinya dia benar-benar tertekan dengan hujatan yang Sandy lontarkan. Terbukti dari nada bicaranya yang meninggi dan matanya terlihat sinis terhadap Sandy.


"Wah hebat sekali kamu ..." Sandy bertepuk tangan beberapa kali. Ia menyunggingkan senyum tipis mengagumi keberanian yang terpancar dari diri Rania. "Kamu sudah salah dan masih berani membentakku Rania ?" Sambung Sandy setengah berbisik. Ia masih asyik bermain dengan ekspresi wajahnya. Membenamkan mimik marah di balik seringai yang lebih menakutkan.


"Maaf Sandy, aku tidak bermaksud membentak mu. Aku hanya .... benar-benar tidak paham dengan kalian." Rania kembali menundukkan kepala. Dia mulai menyadari dengan kata dan juga nada bicaranya ketika berteriak di depan wajah Sandy.


"Aku sempat berpikir kamu adalah Rania yang dulu. Wanita yang tidak mudah terprovokasi dengan berita yang tersebar luas. Aku pikir, kamu akan selalu menjadi Rania muda yang berdiri kokoh di atas pola pikirnya sendiri. Tapi rupanya, cinta telah membuatnya buta..Rania yang aku kenal hilang, dan berubah menjadi seorang wanita yang menghalalkan segala cara hanya untuk menggapai suatu hal yang tidak menghendakinya." Keysha mengurai senyuman miris sejenak sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. "Tentu kamu tidak lupa dengan dirimu sendiri kan Ran ? tetapi kenapa kamu menjadi seperti ini ?"


"Aku sudah sempat meminta maaf kepada mu dan kamu jelas sudah memaafkan. Tetapi kenapa tiba-tiba kamu mengungkit semua Key ? Kamu tidak tulus memaafkan aku ?" Rania masih mencoba membela diri. Mempertemukan sepasang matanya dengan mata Keysha yang bersinar tidak tertebak.


"Tulus ? Kamu masih meragukan ketulusanku dalam berucap ? " Keysha memiringkan kepala. Kata yang Rania lontarkan sungguh menyulut rasa kesal yang kian membara. " Harusnya aku yang menanyakan perihal tulus itu kepadamu. Rania, apa kamu tulus meminta maaf kepada ku ? Jika iya seharusnya kau tidak merencanakan hal buruk lagi di balik kata maaf yang kamu tangisi kemarin."


"Rencana buruk ?" Rania meyakinkan kalimat yang Keysha ucapkan. Ia memandangi wanita itu dengan jeli, seakan mulai menyadari arah pembicaraannya.


"Kamu sudah paham bukan ?" Kata Sandy dengan cepat.


"Aku tidak merencanakan hal buruk Key ....itu .. itu fitnah." Perempuan itu tidak juga menyerah. Dia meraih tangan Keysha yang sudah tampak lemas.


"Heh ....perhatikan baik-baik Rania ! Lalu jelaskan dengan jujur." Sandy merogoh sebuah ponsel dari balik jas yang dia kenakan. Menekan menu dan memutar sebuah rekaman yang Reno kirimkan sebelumnya.


Wajah Rania semakin pucat pasi setelah rekaman terputar seluruhnya. Ia semakin menegang tanpa kata yang membelanya lagi.


"Apa kamu bisa menjelaskan ?" Sandy melangkah maju, menghakimi Rania yang turut melangkah mundur menghindari tangan Sandy yang bisa saja melakukan hal kejam terhadap nya.