
"Ada apa kak?" Key membuka obrolan. Kini, dia memilih duduk bersandar pada bangku taman. Tidak ada yang aneh dari dirinya selain matanya yang berlarian mencari perlindungan.
" Key" sapa Sandy lembut.
"To the point saja ya kak. Aku banyak urusan" ketus Key memotong ucapan Sandy.
"Ok, baiklah! kamu kenapa ke...."
Drrttt drrrttt
Kini suara ponsel Key yang menganggu, memotong kembali pertanyaan Sandy yang belum seluruhnya dia ungkapkan. Key memberi kode pada Sandy untuk meminta waktu sebentar. Sekedar menyapa seseorang dari sebrang telpon.
" Iya, halo? Ada apa sus?
........
Apa?
.........
Gimana bisa? Bukannya baik-baik aja?
........
Baik, saya akan segera kesana!"
Key menyudahi telpon secara sepihak. Wajahnya tampak panik dan khawatir, tangannya dengan cepat membereskan buku yang dia letakkan di bangku taman.
" Sorry kak, aku harus ke rumah sakit sekarang. Lain kali saja ya kita bahas ini! " Keysha segera beranjak. Dia tidak ingin lagi membuang waktu dengan menunggu jawaban Sandy. Langkahnya sangat cepat dia seret, bahkan matanya sudah tidak lagi bisa menyembunyikan ketakutan yang memenuhi batinnya. Jika tidak ingat tempat, dia bahkan ingin menjerit dan menangis histeris.
Tiiiinnn
Sandy menghentikan mobilnya, dia bertepi mendekati Keysha. Membuka perlahan kaca mobil sebelah kemudi.
"Naik!" perintahnya angkuh.
Mendengar kondisi Danu yang memburuk, membuatnya tidak bisa berpikir untuk dirinya sendiri. Sesegera mungkin dia berputar, meraih gagang pintu mobil di samping Sandy. Airmata nya masih deras mengalir, tanpa suara namun terasa di hati Sandy.
--
"Ma, Ayah gimana?" tangis Key semakin menjadi kala melihat Sinta dan Lita sesenggukan di depan ruang IGD.
"Kamu kemana saja sih Key! Kamu kok tega meninggalkan ayahmu sendiri!" Lita meninggikan suaranya. Tangannya masih saja sama dengan ciri khasnya, menunjuk seolah merendahkan dan menyepelekan Keysha. Andai saja suasana tak sekalut itu, Sandy pasti akan murka dan mengutuk wanita jahat itu. Namun itu bukanlah detik terbaik untuk dia menunjukkan citranya.
"Ma tadi Key sudah ke sini dan ayah masih baik-baik saja. Key ngga tau kalau semuanya bakal kaya gini ma." Key menunduk. Dia menjatuhkan tubuhnya yang semakin lemah, kakinya tak kuat menopang tubuhnya. Kini ia terkulai lemas diatas lantai.
"Halah ! Bilang saja kamu tidak mau merawat ayah kan?" Sinta menambahi, dia mendorong pundak Key.
"Sinta! Kamu bisa lebih sopan dengan kakakmu?" Akhirnya Sandy buka suara. Dia tak sanggup melihat wanita yang dia cintai dihina di depan matanya.
Hanya dengan satu kalimat, mereka bisa sekaligus dibungkam oleh Sandy. Tidak ada lagi perlawanan, atau ocehan-ocehan kecil yang hanya menambah beban pikiran Key.
Kalian juga hanya pandai berbicara. Hapus air mata kalian, karena itu palsu! Aku tau kalian hanya berpura-pura sedih melihat kondisi ayah sekarang.
Kreeekk
Pintu terbuka dengan ragu, seorang dokter diikuti beberapa perawat berwajah pilu itu menghampiri. Ah, raut wajahnya meragukan! Membuat mereka semua berpikir buruk tentang kondisi Danu. Key bangkit, dia menyeret kakinya yang sudah tak bertenaga. Menghampiri dokter dan menanyakan keadaan Danu.
"Maaf Dek, kami tidak bisa menyelamatkan Beliau" Ucapnya sedih. Tangannya memegangi kedua bahu Key seolah memompa energi bagi Key kamu yang kuat ya nak.
"Ayah?" Entahlah, dia bisa dengan cepat berlari menjumpai tubuh Danu. Lelaki yang sudah tertidur pulas dengan selimut putih yang menutupi seluruh tubuhnya. Key memeluknya dengan erat, menggoyangkannya berharap tubuh itu kembali bergerak.
"Ayaaaaaahhhhhhh.........."
Key menjerit semampunya sebelum tubuhnya terkulai lemas tak sadarkan diri.
Bersambung.........