
--Sandy POV --
Kulit putihnya sudah beberapa hari ini tidak terjamah air. Sandy sangat menikmati setiap belaian lembut, guyuran ringan dari shower yang mengalirkan air jernih. Menelisik di seluruh tubuh kekarnya. Mendinginkan setiap rongga, memberi rasa segar yang menjalar hingga otak dan logikanya.
Setelah ini mungkin akan lebih mudah untuk berfikir tentang kejutan kecil yang akan ia beri untuk istrinya....
Ia masih sengaja memanjakan diri, di balik sekat kaca pemisah antara bath tub dan WC.
dorrrr dorrr dorrrrrrrr
Pintu bergetar dengan keras, seakan menggoyangkan seluruh isi kamar mandi. Mengoyak, memaksa keras agar Sandy segera beranjak.
"Sialan !" Gertak Sandy menyahuti. Ia meraih handuk yang sudah ia siapkan di gantungan handuk di dekat bath tub. Tubuhnya ia angkat, mengoyak air yang gemercik karena pergerakannya.
Ia berdiri di depan cermin mirror yang dengan jelas menggambarkan detail tubuhnya. Menyapu satu persatu bagian tubuh dengan handuk hijau yang sudah ia genggam. Tidak terlalu tergesa, ia melakukan dengan sangat penuh penghayatan dan santai.
Pakaian yang sudah di ukur sesuai ukuran tubuh Sandy itu melekat pass saat ia mulai mengenakan. Tidak terlalu kecil, hingga menganggu gerakannya, tidak juga terlalu longgar menyisakan celah yang tiada guna.
Dorrr dorrrrrr
"San ....."
Kali ini Reno menggedor pintu dengan memanggil nama. Membuat Sandy menyipitkan mata dan menatap arah pintu dengan sangat tajam. Mata yang seakan sanggup menyengat, mematikan hanya dengan satu kedipan mata.
Sandy kembali fokus dengan kaca di depan tubuhnya. Memastikan pakaian yang ia kenakan sudah terlihat rapi. Tangannya menarik pelan bagian kerah baju lalu memutar langkah menuju pintu. Membukanya tanpa ragu. Menunjukkan si pengganggu yang masih menganga di depan pintu. Tangannya yang terkepal dan ia angkat sudah siap untuk menghasilkan suara berisik lagi. Mulutnya menganga lebar, saat suaranya kembali tertelan setelah sempat sampai di tenggorokan.
"Berisik !" Gertak Sandy tajam mengintai Reno . Suaranya tertekan dalam mengancam atas dasar tidak suka.
"Ya, aku pikir kamu pingsan di dalam kamar mandi." Ucapnya membela diri . Wajah datarnya tak lagi ia tunjukkan di hadapan Sandy, berlagak biasa tidak merasa bersalah sedikitpun.
"Heh, Aku belum separah itu." Jawab Sandy dengan nada tanpa amarah.
"Lalu, bagaimana rencana mu ? apa kamu sudah berpikir tentang itu ? " Reno memutar tubuh, mengikuti arah kaki Sandy mengayun . Terhenti disudut ruang yang tertata sangat elegan. Dengan meja bundar dan dua kursi yang menghadap luar. Menantang alam untuk lebih indah lagi menampakkan rona warnanya.
"Aku cuma butuh tempat untuk memberinya sebuah kejutan makan malam yang hangat. Kamu bisa membantu mengurus semua ?" Sandy menautkan kedua alisnya. Tangannya meraih secangkir teh hangat yang telah tersedia di atas meja. Ia tahu itu pasti Reno siapkan untuknya meskipun tidak ada kata yang mempersilakan.
"Mudah saja. Tapi jangan bertindak di luar kendali seperti yang pernah kau lakukan beberapa tahun yang lalu." Jawab Reno dengan santai. Bibirnya seakan bergerak menahan tawa. Ya, percaya saja jika pria itu sedang meledek Sandy dengan satu kejadian yang sempat membuatnya gila.
Benar saja, pria yang duduk di hadapannya dengan membuang jauh pandangan mata kini beralih mengincarnya. Matanya membelalak tidak suka dan sangat garang.
" hahahaha ..."
Ekspresi wajah Sandy memancing gelak tawa Reno. Suaranya menggelegar keras memenuhi ruang. Pantulan suaranya bersaut merdu dengan sumber aslinya. "Hentikan tatapan mu itu ! itu sangat membuatku geli dan ingin tertawa saat melihatnya."
Sandy kembali meraih cangkir teh lalu meneguknya hingga beberapa kali. Memperhatikan setiap putaran cangkir sebelum kembali meletakkan dengan sedikit sisa teh. "Kau punya rencana dengan tempat yang nyaman ?" Tanya Sandy dengan duduk bersandar pada kursi. Tangannya hangat memeluk tubuhnya sendiri.
"Kenapa tidak tempat yang dulu kamu gunakan untuk melamarnya. Ya walau gagal. Tapi tempat itu sangat unik dan memiliki tingkat kenyamanan yang sangat layak."
"tidak ...jangan ...Apa di dunia ini hanya ada satu taman ?" Sandy menoleh, menyimpan tatapan tajam yang menusuk daging di sudut mata. Terkuak kembali hal bodoh yang menyebabkan derita yang memanjang. Masih ada rasa trauma yang ikut mengalir di seluruh penjuru darahnya. Ah mengenangnya hanya menimbulkan sifat malu. Ya, malu dengan diri sendiri dan sang waktu, ketika ia harus bertindak tanpa berpikir panjang dengan konsekuensi besar yang telah lebar mengepakkan sayapnya.
Tatapan mata dan ekspresi Sandy menarik untuk membuat Reno kembali tertawa lepas. Ia berulang kali, menekan perut untuk menahannya. Tetapi, semua tetap sulit ia kendalikan. Tawa kencang yang bernada meledek sungguh mampu memecah kesunyian, bergema riang di seluruh otak Sandy yang terusik.
"Ayolah men, tidak akan ada yang sia-sia belajar dari sebuah kesalahan. Yakinlah, aku akan memikirkan kata yang lebih tepat untuk menarik Keysha datang ke tempat itu." Reno meluruskan duduknya. Ia menatap Sandy dengan serius. Berbicara dengan sangat pelan untuk membuat sahabatnya memahami maksudnya .
"Kamu yakin ?" Sandy mulai tertarik, ia memiringkan kepala menanti jawaban Reno.
"Sangat yakin. Aku rasa tidak perlu membuatnya sakit hati seperti yang pernah kamu lakukan. Hanya kita bikin dia merasa cemas. " Reno memicingkan mata. Dengan keyakinan yang tinggi bahwa apa yang ia lakukan akan menuai keberhasilan. Keysha akan datang dengan isak tangis yang bernada cemas, mengelilingi sekitar dan mencari keberadaan suaminya .
Dia ini sangat pandai merayu hati wanita, tapi mengapa memilih jomblo dengan usainya yang sudah begitu tua ....
"Tidak...aku tidak akan rela jika kamu mengatakan tentang sakitku padanya ." Sandy beranjak dari kursi. Menjawab dengan tegas nan cepat. Ia tak ingin istrinya di rundung cemas yang berkepanjangan karena berita sakitnya. Apalagi Keysha bukanlah wanita bodoh yang tidak mengenal tentang ragam penyakit. Ia pasti tahu betul cara memperoleh informasi mengenai itu jika Sandy tidak mengatakan dengan jujur. "Aku yakin aku akan sembuh." Urat wajahnya bringas, ia terbuai dengan tarian burung di depan jendela kaca yang menampakkan langit yang membentang luas .
"Percayalah ! Aku tidak akan membuka itu jika kamu belum mengizinkan." Reno turut bangkit. Ia menepuk bahu Sandy hingga membuat pria tersebut tersentak lalu mendongak, mengangkat kepala.
Reno merogoh ponsel dari saku di balik jas yang ia kenakan. Memanggil beberapa orang yang menjadi tangan kanan nya untuk masuk ke ruang pribadinya. Awalnya kedua pria yang baru masuk itu hanya berdiri sigap. Siap dengan segala arahan yang Reno tegaskan. Pria itu mulai sibuk dengan instruksi, dengan sangat pelan dan jelas Reno mencoba menjelaskan. Matanya tajam mengawasi, memaksakan jawaban sanggup terlontar pasti dari lidah kedua pria itu.
Tiada banyak tanda tanya atau penolakan yang mereka luapkan. Terus fokus dengan bibir Reno yang tidak juga usai bicara, tangannya ikut terangkat, bergerak seolah-olah turut menjelaskan dengan lebih gamblang. Membuka sisi rumit dari kata-kata yang bergerumuh sesak di mulut Reno.
"Bagaimana San ? kau setuju dengan apa yang ku rencanakan?"
Sandy tampak tersentak. Entah otaknya yang lambat menangkap maksud Reno, atau dia sengaja masa bodoh dengan kalimat-kalimat Reno yang terus bergema. Awalnya, ia berdiam diri dengan mata yang membelalak meminta penjelasan ulang.
"Kau tidak mendengar ku berbicara ?" Reno menyipitkan mata, menatap Sandy dengan tajam.
"Ya ya ya, aku mengikuti apa rencana mu saja. Bukankah jika aku sendiri yang mengatur semua, atau bertindak sedikit bodoh saja akan menyebabkan sebuah hal yang fatal ?" Sandy menyeringai, ia mencoba melindungi diri dengan memutar balik kata ledekan yang sempat Reno lontarkan untuknya. Ia menekan setiap kata penuh dengan hati yang merendah. Reno memicingkan mata, lalu terkekeh geli mendengar kata-kata Sandy. Ia menggeleng ringan kepala, dengan tangan yang memberi kode kepada kedua anak buah itu, jika perintahnya sudah seluruhnya terucap. Tinggal berdiam, menyiapkan diri dan menunggu hasil.
"Kau sangat cerdas jika berurusan dengan wanita, harusnya tidaklah sulit untukmu memutuskan menikahi seorang wanita dambaan hatimu." Entahlah, itu sebuah pujian atau justru ledekan yang memojokkan dirinya. Reno hanya sedikit melirik, tidak begitu tertarik dengan fakta dari tujuan pembicaraan Sandy. Tangannya kembali menelusuri saku, menyimpan kembali ponsel di dalamnya.
"Sudahlah. Aku tidak ingin membahas itu untuk sekarang."
Sementara itu, Sandy justru melangkah dan membanting tubuhnya di atas sofa, bersikap santai seolah-olah tatapan tajam Reno bukanlah suatu ancaman. Ia masih asyik dengan tingkahnya, mengabaikan Reno yang tak kunjung mengalihkan tatapan itu.
" Bagaimana aku bisa tahu rencana mu selanjutnya jika kamu terus mematung dan menatapku seperti seekor anjing melihat kucing ?" Sandy mulai merasa jika sorot mata tajam itu sedang menegurnya. Menolak celaan Sandy yang membahas mengenai wanita. Entahlah, luka yang mana yang bisa melukainya sedalam itu. Dari seseorang yang di kenal dengan sebutan penakluk wanita karena dengan ringan mengganti teman kencannya di setiap malam, tanpa memikirkan hati dan perasaan wanita-wanita yang sudah menjadi korbannya. Kini ia menjadi seorang pria yang dingin dan kaku. Tidak tertarik dengan paras cantik seorang wanita lagi. Sulit di goda, dan di bujuk rayu.
Reno tidak menunggu Sandy menyusulnya. Ia terus keluar meninggalkan kamar dan mengabaikan suara Sandy yang terus berseru menyebut namanya lalu berjalan menuju lorong apartemen, melewati beberapa ruangan hingga sampai di sudut bangunan. Sebuah balkon yang memang khusus di peruntukan Reno.
Bangunan tinggi yang menjadi saksi keseharian Reno itu memiliki beberapa lantai VVIP. Banyak sekali penjagaan dan prosedur khusus untuk sampai di lantai tersebut. Pemeriksaan yang ketat apalagi bagi pengunjung yang baru pertama kali menginjakkan kaki di sana. Ya, kecuali Reno . Dia adalah pemilik utama apartemen itu, memilih menjadikan beberapa ruangan di salah satu lantai sebagai perusahaan yang ia dirikan.
"Aku akan menelpon Keysha, mengatakan jika kamu dalam bahaya. Lalu mengirimkan lokasi kepadanya." Kalimat Reno terhenti beberapa detik sebelum akhirnya ia melanjutkan kembali. "Akan aku siapkan anak buah ku untuk berpura-pura menculiknya, menutup matanya dan sedikit keras memegangnya agar mengikuti arah yang telah kita atur. Dan kau ? kau sudah harus duduk di sana, lakukan apapun yang kamu bisa, senangkan hatinya dengan kejutan kecil yang sudah kamu siapkan !"
"Jadi, apa kejutan yang kau siapkan ?" Tanya Reno menelisik, menyusuri setiap gambar yang jelas terlihat dari sinar mata Sandy. Pria yang tengah asyik tersenyum dengan tangan yang menyangga kepala. Mengangguk ringan, seakan-akan paham dengan kata-kata Reno yang hanya berlalu di telinga. Tanpa ada yang meresap, masuk dan di asah oleh otak dan logikanya.
"Sandy Atma Hutama, apa kau mendengar ku ? Sandy !" Reno menimpali kalimatnya yang tak kunjung mendapat kepastian jawaban dari Sandy. Ia menoleh, membaca penjelasan yang tertera dari binar bening mata. Suatu jalan untuk menelisik lebih dalam, berlayar hingga ke dasar hati.
Ya, Sandy kian terbuai dengan lamunan indah yang sudah bisa ia lukis dengan yakin di angan. Menggema, menari di dalam tempurung kepalanya. Berlari-lari mengitari otak, mengisyaratkan logika jika semua akan menjadi baik.
"Ok, Baiklah !"
Tak terhitung, sudah berapa detik Reno bersabar dalam diam, menatap seolah terbuai menanti sebuah jawaban pasti dari balik bibir Sandy. Ia memiringkan kepala, mendesak agar pria di hadapannya itu segera menyemburkan kata-kata yang ia nantikan. ah, percuma ! Sandy masih terlena dengan alunan merdu nada cinta di bawah alam sadarnya.
"Lalu, kita akan berangkat jam berapa Ren ? Tempat itu lumayan jauh jika di tempuh dari apartemen ini." Sandy tersentak kaget ketika benda di tangannya bergerak jatuh dan menciptakan bunyi yang keras. Kalimat itu, akhirnya lolos juga dari mulutnya, namun bukanlah satu jawaban yang di nantikan.
Terserah lah San .... apapun itu semoga kamu benar-benar sudah memikirkan dengan sangat matang ...
Reno menghela nafas pasrah. Sudah tiada lagi keinginan untuk kembali mendesak Sandy, menanti sebuah jawaban sungguh menyita waktu dan sangat membosankan.
Badannya terlempar di kursi panjang bercat putih yang menghadap alam. Memberi pertunjukan tanpa campur tangan manusia. Langit yang menjulang tinggi dengan warna biru sempurna, lengkap sudah dengan warna senja yang mulai menyapa.
Hari memang sudah beranjak, meninggalkan mentari dengan rona bundar rembulan yang samar-samar bergantian menyapa. Senja hanya sekilas, menjadi pembatas masa yang tidak bisa di tolak. Cantik, merona dan selalu di rindukan hadirnya.
Reno menatap lekat pada jam yang berputar mengitari pergelangan tangan. Ia sempat melirik Sandy yang tertangkap sedang melihatnya dengan tanda tanya besar yang menggantung. Tidak mengerti apa yang membuat sahabat kentalnya itu berwajah masam setelah mendengar pertanyaan darinya. Kursi bergoyang menimbulkan suara khas kayu saat ia memutuskan mengangkat tubuhnya dan berjalan kembali menelusuri lorong yang menyatukan beberapa ruangan itu. Arah yang pasti dengan langkah tegap, kini ia sudah berada di depan kamar pribadinya. Menekan beberapa digit angka untuk membuka pintu. Tidak berlama dengan menunggu Sandy menyusul, ia terus melangkah masuk dan bergegas menyiapkan diri.
Mata Sandy tertuju tajam pada jalanan yang dapat ia perhatikan dari atas gedung sambil memikirkan rencana rumit yang ia sendiri belum mendapat kejutan khusus untuk istrinya. Masih sibuk mengasah otak dan logikanya yang tak kunjung mencetuskan konsep.
Pertama-tama ia harus memastikan Keysha datang ke tempat yang di rencanakan, lalu setelah itu.......
Hah, sudahlah. Biarkan berjalan seperti aliran air, mengalir pada jalan yang sudah menjadi ketentuan nya...
Sandy beranjak dari bangkunya, melangkah mengikuti jejak Reno yang sudah lebih dulu berlalu. Langkahnya telah membawa tubuh Sandy sampai di dalam kamar milik Reno. Berdiri mematung di sana, mengamati sekeliling ruangan. Tiada gerakan yang menyatakan adanya orang. Reno telah bungkam dan fokus dengan urusannya di dalam kamar mandi. Tidak ada suara walau hanya senandung kecil.
Mungkin Reno benar, walau bagaimanapun Sandy tetap harus memiliki rencana yang terpikirkan sebelumnya. Ia tidak mungkin terlihat kaku dan tegang saat telah bersama Keysha. Mematung hanya akan membuat nya menjadi salah tingkah dan kehabisan akal untuk kembali menyambung moment.
Mata Sandy berbinar penuh tekad, Aku harus menghubungi bunda untuk membantuku memperlancar semuanya ....
Ia terkesiap dan langsung bangkit, meraih gagah telpon yang berada di nakas di samping ranjang Reno.
Dengan menghubungi telpon rumah tidak akan menaruh curiga dari Keysha meskipun wanita itu tengah berada di dekat Yeni . Dengan mengatakan jika dia adalah teman dari Yeni sudah cukup membuat Keysha yakin dan berhenti bertanya ....
-----------------
"Maaf bu Yeni, ada telpon untuk ibu." Seorang pelayan muda yang baru saja mengangkat telpon yang berbunyi, kini sudah tegak menghadap kepada wanita paruh baya yang sedang menelusuri kain dengan jarum dan benang wol yang saling menyatu. Wajahnya lugu menunduk, mengucap kata dengan sangat halus dan menjunjung tinggi sopan santun.
"Telpon untuk saya ?" Yeni mengulang kata pelayan untuk meyakinkan .
"Benar bu." Ucap pelayan seraya menganggukkan kepala dengan pelan .Tangan yang masih saling mengeratkan di depan tubuh menjadi pusat pandangan di sela-sela kepala yang menunduk.
"Baiklah."
Tidak lagi banyak berbicara atau membuang kata yang akan memperlama waktu, Yeni meletakkan hasil sulam yang belum selesai dan bergegas beranjak. Berjalan dengan tenang untuk meraih telpon yang pelayan tinggalkan.
"Assalamualaikum , ini dengan siapa ?"
Suara lelaki itu dengan lantang menjawab salam. Menyerukan nama yang langsung di sambut hangat oleh Yeni. Pria yang tidak melupakan bertanya tentang istri dan anak-anaknya, kini tengah sibuk bermain dengan kata, memastikan dengan pelan agar Yeni paham maksud nya. Ia memberi instruksi dengan sangat lembut dan berhati-hati.
Dukungan penuh dari Yeni, menjadi bagian dari rencana, penyulut gairah dan semangat yang membara. Setelah semua niat baik tersalur dengan lisannya, Sandy menutup telpon. Ia melukis senyuman tulus, wujud terima kasih. Ya walau itu adalah hal yang mustahil untuk bisa di lihat oleh Yeni. Tetapi jangan salah, Yeni sudah sangat memahami.
"Telpon dari siapa bu ?"
Deg ! Jantung Yeni berdetak kencang, getarannya sungguh mendorong paksa dada hingga baju yang ia kenakan turut bergerak pelan. Mata yang mulai berkerut itu kelabakan, mencari-cari alasan agar tidak ada lagi curiga yang Keysha rasakan.
"Ah itu. It-itu dari teman bunda." Jawabnya terbata, dengan kaki yang mulai gusar .
"Teman ?"
Alasan Yeni tidak mudah di terima oleh Keysha karena memang semenjak mereka tinggal bersama, Yeni tidak pernah memiliki teman dekat selain Meera, sahabat kecilnya yang kini menjadi besan.
"i-iya."
Orang yang terbiasa jujur, akan lebih panik ketika harus memaksa diri untuk berbohong...
"Bunda, Keysha paham betul sikap bunda. Jadi, jangan berusaha menutupi apapun itu dari Keysha."
"Menutupi ?"
"Ya, bukankah bunda sedang melakukan itu sekarang?"
"Ah, tidak. Bunda memang mendapat telpon dari teman bunda."
"Bunda selalu mengatakan jika bohong adalah perbuatan yang tidak terpuji."
"Itu betul nak. Tapi bunda benar-benar mendapat telpon dari teman bunda sewaktu di Bandung. " Yeni melirik Keysha yang masih fokus mendengarkan sebelum akhirnya ia melanjutkan kalimatnya. "Dia ingin bertemu bunda, karena kebetulan dia sedang berkunjung ke Jakarta sekarang."
Mata bulat Keysha, terus berkeliaran menatap Yeni, fokus seakan menyelidiki. Ia tak ingin melepas meskipun kini Yeni sudah beranjak dan kembali memainkan jarum dan benang yang sempat ia letakkan. Melenggak-lenggok, menari di atas kain. Merakit sebuah karya indah dengan bertulis nama Allena dan Allandra.
Walau sudah puluhan sulaman nama yang ia buatkan untuk kedua cucunya, tetapi Yeni tidak pernah merasa puas atau bosan dengan kegiatan itu ....
"Sudahlah Keysha. jangan melihat bunda seperti melihat musuh. Lebih baik kamu segera mandi, bunda akan selesaikan ini untuk Allena." Ucapnya Yeni menyadarkan Keysha. Wanita itu memicingkan bibir lalu beranjak menelusuri anak tangga dan kembali ke dalam kamar.