I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Rencana yang sia-sia



"Bagaimana Rania ? " Desak Keysha. Ia meraih lengan suaminya agar tidak semakin menekan Rania dengan tingkahnya. Setidaknya wanita itu sempat memberikan alasan sebelum berhasil lari dari pertanyaan mereka berdua.


"Itu...itu bohong Key. Aku tidak tahu kenapa ada rekaman seperti itu." Rania terus saja mengelak. Membela diri dengan ragam kalimat spontan yang tidak terjamah oleh akal sehatnya sendiri.


"Oh jadi kamu mengatakan jika ini hanya sebuah rekayasa ?" Sandy menyeringai. Ia semakin buas menekan Keysha dengan kata-kata pilihan otaknya. Di saring masak-masak untuk semakin mendesak wanita itu untuk segera membuka topengnya.


"Bukan....aku tidak mengatakan seperti itu. Tapi aku benar-benar tidak tahu kenapa ada rekaman yang memfitnahku sekeji itu." Rania memandang Keysha dengan tatapan sedih. Wajah yang memucat karena intimidasi dari Sandy semakin jelas terlihat. Gejolak hati yang menyiksanya semakin sulit untuk di kendalikan olehnya sendiri.


Rania berusaha keras untuk terlihat sedih dan merana di mata Keysha. Ia mengatur sedemikian rupa wajahnya agar mampu mengoyak belas kasihan dari wanita di hadapannya. Menarik memang, dia selalu punya cara untuk merubah mode yang terpancar dari raut wajahnya. Tetapi percayalah, Sandy jauh lebih cerdas untuk membobol sebuah rahasia yang tersembunyi tanpa rencana. Dengan kedipan mata semua nyata dan terlihat dari mata yang terpejam sekalipun. Justru yang tampak hanyalah wajah picik yang berhias dengan kerendahan. Rania semakin pucat atas desakan rasa takut dan kecemasan yang membumbung tinggi di dalam jiwanya.


"Kamu memerlukan aku membawa saksi dan juga sebuah rekaman CCTV untuk membuat mu membuka suara ?" Gertak Sandy dengan rasa kesal.


"Rania aku tidak pernah berpikir jika kamu bisa berubah seburuk ini." Sambar Keysha dengan suara parau. Ia sedari tadi telah berusaha keras menahan isakan tangis. Menjaga agar air matanya tidak menetes di waktu yang salah. Ia tidak ingin terlihat menaruh prihatin dengan keadaan yang mengintimidasi Rania.


"Aku....itu..." Rania menunduk. Ia menyembunyikan wajahnya semakin dalam dan rapat. Tubuhnya bergetar hebat saat nalarnya mulai menyadari jika amarah Sandy dan Keysha benar-benar sudah berada di puncaknya. Sepasang kekasih yang tidak pernah mengusik ketenangan nya itu kini menjadi pisau tertajam yang mengiris halus setiap jengkal tubuhnya. Harusnya aku tidak mengikuti kemauan Cherry waktu itu, pekik Rania dalam hati. Ya, dia hanya berani mengakui di dalam kesendirian nya. Mengiyakan setiap tuduhan dengan suara hati kecilnya.


Tidak ada lagi tekanan yang terdengar dengan penggalan kalimat. Kali ini mereka hanya menanti Rania berbicara. Memberi wanita itu waktu untuk memikirkan segalanya. Memperdebatkan dengan dirinya sendiri, mengatur untuk lidahnya sanggup mengakui. Tidak tidak ! itu hanya waktu yang kian menyiksa Rania karena Sandy tidak melepaskan mata untuk terus mengintimidasinya. Membiarkan ketakutan semakin gencar berkelana. Menyentil dasar hati, membuat tubuh semakin kencang bergetar. Tubuhnya memanas seketika, namun keringat dingin sudah membasahi kedua pelipisnya.


"Rania aku mencari mu hingga ke seluruh ruang sekolah. Rupanya kau di sini." Suara wanita dari belakang Keysha dan Sandy membuyarkan keheningan yang sempat menyiksa. Tanpa ingin tahu dengan siapa Rania sedang berbicara, wanita itu dengan yakin melangkahkan kaki menuju ke arah mereka.


"Kak Cherry...." Lirih Rania dengan suara terbata dan sangat lirih. Ia menyunggingkan sebuah senyum simpul atas ketidaksadaran Cherry.


"Bukankah kau pernah mengatakan jika kau menemui wanita itu hanya ketika dia memaksa untuk bertemu dengan Angeline ?" Keysha semakin kuat mendesak Rania. Ia melirik ke arah wanita yang tampak terbelalak ketika menyadari jika Keysha dan Sandy tengah memandanginya dengan tatapan arogan.


Keadaan semakin memanas, Cherry berulang menyipitkan mata untuk menekan tanda tanya yang melintas atas pernyataan yang terlontar dari balik bibir Keysha. Seperti akan ada drama baru setelah ini. Cherry tengah menyiapkan kata-kata yang akan di semburkan untuk memaki dan menghakimi Rania atas segala yang terjadi kepada mereka.


Mungkin dengan kejadian yang terjadi sebelumnya sudah bisa memberi pengertian untuk Cherry. Bisnis yang di batalkan secara sepihak, sikap Sandy dan Reno yang semakin meningkat arogan. Dan semua kata pedas yang menyambar telinga nya beberapa hari ini.


Kurasa Cherry bukanlah gadis bodoh untuk menyadari itu ...Entah sadar atau tidak, mengakui atau justru berkilah, wanita itu pasti sudah paham arah bicara Sandy....


"Rania untuk terakhir kali ku katakan padamu, suamiku adalah seorang laki-laki hebat yang tidak ada satupun orang yang bisa mengendalikannya. Dan tentang tuduhan mu antara aku dan Ibnu , hahaha..... itu adalah hal lucu yang tidak bisa aku bayangkan dengan normal." Keysha menatap tajam kearah Rania, ada selingan tawa di antara kata yang menyambar telinga. "Aku bukanlah wanita bodoh yang mengkhianati cinta suamiku hanya demi laki-laki seperti Ibnu. Dia hanya seujung kuku kak Sandy di dalam pandangan mata ku."


Kali pertama Keysha merendahkan orang lain di atas rasa angkuhnya. Dia memuji apa yang saat ini berada di genggaman tangan. Mengakui dengan angkuh lalu mengibaskan kuat setiap debu yang berusaha menempel kepadanya. Mungkin, cara halus sudah sulit untuk di terima Rania juga otak dan logikanya. Keysha berusaha mencari jalan agar wanita itu berhenti dengan khayalan yang justru membuat dirinya sendiri membenci.


"Jika Ibnu berada di atas level suamiku, dia tidak mungkin bersanding denganmu hingga memiliki seorang putri yang sangat cantik. " Keysha melanjutkan kalimatnya hingga membuat Rania tercengang tidak mengerti. "Coba buka logika dan juga hatimu Rania, mana mungkin kakak ipar mu ini bisa gila dan memilih menjadi perawan tua jika suamiku bukanlah orang hebat dan seorang yang tidak perlu di ragukan lagi." Keysha menyudahi kalimatnya dengan seutas senyuman sinis yang dia tujukan kepada Cherry.


"Keysha...." Lirih Cherry geram. Dia menyeringai, perlahan membuka topeng yang sempat ingin dia kenakan ketika mengetahui jika Sandy berada di antara mereka.


"Sudahi rencana-rencana buruk kalian akan jauh bisa menjamin ketentraman dan keamanan kalian !" Ancam Sandy dengan datar.


"Dan untukmu Cherry Ananta Dea, bangunlah ! Kamu terlalu lama tidur hingga tak sanggup membedakan antara mimpi dan nyata. Kau sudah menyepelekan kesempatan yang salah ku berikan dan jangan lagi berharap kesalahanku bisa terulang dua kali." Gertak Sandy memperingati.


"Sandy aku tidak berencana buruk kepadamu, semua yang Rania katakan tentangku adalah fitnah. Itu bohong....."


Sandy sudah tidak lagi menggubris setiap kalimat yang terlontar dari balik bibir manis Cherry. Ia mencampakkan begitu saja dan bergegas beranjak dari atas tempatnya berpijak. Mengayun langkah dengan hentakan pasti dan lembut meraih jemari istrinya. Tidak ada lagi kecaman kalimat yang mewakilkan hatinya, semua sudah seluruhnya terpampang dari tingkah tatapan yang mudah di tangkap arahnya.


"Sandy kamu harus mendengarkan dulu penjelasan dariku !" Cherry berteriak dengan suara melengkingnya. Menekan telinga lalu memaksa semua untuk mendengar. Membuka lebar gendang telinga, memberinya kesempatan ke sekian kali untuk kembali bersandiwara.


Bodoh ! Semua usaha yang dimulai dengan cara yang tidak menyenangkan akan berakhir dengan sia-sia. Menyisakan sebuah penyesalan dan rasa kecewa yang menyebalkan. Sudah tidak ada lagi rasa percaya yang akan hadir di detik selanjutnya. Cherry dan Rania akan abadi menjadi wanita yang menduduki tahta tertinggi di antara barisan manusia-manusia yang tidak di harapkan lagi hadirnya. Jika bukan perihal sikap Keysha yang masih memiliki toleransi yang tinggi, mungkin detik itu Sandy sudah mengibarkan bendera perang lalu menghabisi keduanya dengan tangannya sendiri. Tetapi, mereka masih di biarkan tertolong dan bebas berkelana untuk mengembara, mencari jati diri yang tak kunjung menetap di hembusan nafas dan dentuman nadi.