I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Kelakuan Aneh



"Kak boleh tidak kalau aku ikut ke kantor ?" Keysha memeluk lengan suaminya. Mengganggu Sandy yang tengah sibuk merapikan diri. Ia kesulitan menyisir rambut karena Keysha tidak juga melepaskan pelukannya pada Sandy.


"Ikut ke kantor ?" Sandy mengernyit heran. Tidak biasanya istrinya begitu manja padanya. Lebih ke perasaan enggan untuk berpisah.


"Kenapa ? Tidak boleh ?"


Sandy semakin di buat heran dan kebingungan. Aneh sekali, tidak biasanya Keysha begitu sensitif, pekiknya dalam hati.


"Bo...boleh sayang, tapi aku kau tidak akan bosan di kantor nanti ? " Sandy meraih pundak istrinya. Dengan sangat sendu, pandangan nya ia letakkan jauh menembus mata Keysha.


"Justru Keysha bosan di rumah kak..." ucap Keysha dengan nada manja.


"Ada Allan dan Lena, biasanya kau lebih mengutamakan mereka ketika kau mengambil cuti..." seru Sandy.


"Ya sudahlah. Kakak ini alasan saja dari tadi ! Bilang saja kalau aku tidak boleh ikut kakak..." Teriakan Keysha lepas kendali. Ia menepis tangan Sandy yang masih menangkap kedua bahunya.


"Sayang..."


Keysha memutuskan untuk keluar kamar. Dengan langkah kasar ia menghentak kakinya, meninggalkan jejak dengan bunyi tapak sandal ya menggema di ruang.


Keysha sudah tidak lagi peduli dengan suaminya yang memanggil-manggil namanya dengan lembut. Ia terus menuruni anak tangga, lalu mendudukkan tubuh di sofa putih di depan televisi. Di lipatnya kedua tangannya, persis seperti Allena ketika ngambek dan merengek menginginkan sesuatu.


"Kamu kenapa Key ?" Yeni menautkan alis. Ia berjalan menghampiri putrinya lalu ikut duduk di sampingnya.


"Tidak apa-apa bun. " ucap Keysha ketus, masih di bayang-bayangi dengan wajah cemberut.


"Lihatlah dirimu, mirip sekali dengan Allena jika seperti itu." Seru Yeni, ia mengurangi tawa kecil berniat menggoda Keysha. Namun, ia justru mendapat lirikan tajam dari Keysha.


"Apa bunda tidak ada niat buat ajak Keysha jalan-jalan keluar rumah ? Keysha bosan Bun..." Keysha bergelayutan di tangan Yeni. Bermanja, dan mengembalikan sifat kekanak-kanakannya.


"Ah bunda sama saja dengan kak Sandy ! " Keysha berdengus kesal. Ia kembali melipat tangan di depan dada, dan bersandar pada sofa.


"Apanya yang sama ? Beda ah ..." Yeni terkekeh dengan kalimatnya sendiri.


Keysha sama sekali tidak menggubrisnya, ia tetap mengagungkan amarahnya yang tengah memuncak. Menyambut pagi hari, dengan emosi yang menggebu.


Tidak berselang lama, Sandy turun dan telah siap dengan pakaian kantornya. Ia juga sudah membawa tasnya berserta berkas-berkas yang akan ia gunakan untuk meeting pagi ini.


"Ayo, jadi ikut apa tidak ?" Ucap Sandy begitu melihat Keysha yang tak kunjung menghampiri nya.


"Tidak..." ucap Keysha ketus.


"Yakin ?"


"Iya.."


"Jangan cemberut terus, kasihan bunda harus kena imbasnya kalau kamu mulai seperti itu." Sandy mencubit hidung Keysha pelan, tapi tetap saja perempuan itu acuh dan tidak peduli.


"Jangan ganggu aku, kakak berangkat saja sendiri sana..Biar puas jika godain perempuan, toh aku tidak akan tahu..." seru Keysha dengan setengah berteriak.


Yeni hanya tersenyum melihat tingkah anaknya. Ia memberi kode sebuah kedipan ketika Sandy kebingungan dan beralih menatapnya.


"Sini bunda bikinkan roti bakar untuk mu..." ucap Yeni kepada Sandy. Pria itu berjalan mengikuti Yeni menuju dapur. Ia menarik kursi, lalu duduk di bangku makan seorang diri.


"Jangan di tanggapi, mungkin Keysha seperti itu bawaan bayi nya. Sudah, jangan di masukkan ke hati..." Yeni sedikit mencondongkan tubuhnya agar Sandy mendengar dengan jelas apa yang sedang ia katakan dengan suara pelan itu.