
tap tap tap
Keysha mengayun langkahnya ringan, ia pelan-pelan memasuki rumah sendiri seperti seorang pencuri. Jantungnya berdebar tak karuan rasanya. Detak yang semakin sulit di kontrol olehnya. Kecemasan bahkan rasa takut yang terus membayangi. Ia tak tahu apa yang harus di lakukan nya jika bersama Sandy. Haruskah seperti biasa, seolah tiada masalah apapun atau harus diam dan merajuk agar Sandy mengikuti kemauan hatinya.
"Non Keysha, kenapa sembunyi-sembunyi ? Kan masuk rumah sendiri ?" Mbok Darmi yang heran memnghampiri Keysha dan melontarkan pertanyaan dengan kerasnya.
"Shut ! Jangan keras-keras Mbok, nanti Sandy dengar." Keysha spontan mengangkat jari telunjuk. Menempelkan di depan bibir merah miliknya.
"Emang kenapa Non ? Tuan Sandy juga belum pulang. " Jawab Mbok Darmi yang tak juga memelankan suara.
"hah ?" Keysha membulatkan mata. Tak percaya dengan hal yang Mbok Darmi katakan. Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah terlalu larut, bahkan untuk lembur sekalipun , dan Sandy masih belum pulang ? 'Oh Tuhan, sebegitu marahnya kah dia sama aku ?' batin Keysha pilu.
"Kenapa Non ? Lagi berantem ya ? Apa Non Keysha bikin Tuan Sandy cemburu ya ?" Mbok Darmi tersenyum menggoda.
"Ah, engga Mbok. Cuma salah paham saja. " Sahut Keysha menyembunyikan duka hatinya. " Anak-anak ? Sudah pada tidur Mbok ?"
"Sudah Non, sehari ini pada rada rewel Non." Ucap Mbok Darmi memberi tahu. Ia menjelaskan kenakalan-kenakalan yang di perbuat oleh si kembar. Mengatakan hal yang tidak pernah mereka lakukan, berperilaku keras kepala dan sulit di nasehati.
Keysha hanya mengangguk-angguk ringan lalu tersenyum simpul mendengar itu. Tidak ada komentar yang ia ungkapkan. Ya, mungkin saja karena keributan yang terjadi antara Keysha dan Sandy. Kedua bocah itu ikut merasakan gelisah yang tak mereka pahami. Entah bagaimana cara terbaik untuk melampiaskan selain marah-marah dan merajuk, melakukan hal di luar nalar bahkan sedikit membandel.
"Maaf ya Mbok merepotkan." Keysha menunduk. Masih tak mengerti apa yang harus dia lakukan.
"Eh bukan gitu Non. Saya sama yang lain tidak merasa direpotkan kok, justru malah kita yang harus berterima kasih sama Non Keysha dan juga Tuan Sandy." Jelas Mbok Darmi. Ia ikut menunduk, merasa tak enak hati karena Keysha merendah.
"Bunda sudah tidur juga ya Mbok ?" Keysha memalingkan wajah, melihat setiap sudut ruangan. Keadaan sangat sepi, tiada lagi lalu lalang orang-orang beraktivitas.
"Sudah Non. Bu Yeni kelelahan sepertinya. Dari sore sudah masuk kamar tadi." Ucap Mbok Darmi datar.
Keysha kembali mengangguk paham. Ia mengerti maksud Mbok Darmi masih berkesinambungan dengan kenakalan anak-anak sehari tadi. Keysha berpamit, lalu kembali menggerakkan langkahnya. Menelusuri anak tangga yang lumayan panjang hingga sampai di lantai kedua. Sedikit berputar kearah kanan baru sampai di depan kamar pribadinya. Ia berdiri cukup lama di sana sebelum masuk memutuskan masuk ke dalam. Menguatkan indera pendengaran sejeli mungkin. ' Ah, benar-benar sudah tidak ada suara anak-anak sama sekali ' pekiknya dalam hati.
Keysha kembali memutar langkah, kembali ke dua ruang yang telah ia lewati. Membuka pintu dengan sangat pelan hingga tiada suara yang terdengar. Sebelum memutuskan masuk ia melirik, memasukkan sebagian kepala hingga mampu melihat keadaan sekitar dengan jelas. Rina dan Dwi sudah tidur pulas di sana. Begitupun dengan Yeni yang ternyata ikut tidur di kasur Allena. Allandra, yang memilih tempat di sudut ruang juga sudah tertidur pulas dengan membelakangi arah pintu. Air mata dukanya kembali lagi memenuhi setiap sudut mata. Membasahi kedua pipi dengan setiap tetesnya. Bukan perihal waktu kali ini, melainkan masa yang tak bisa lagi ia genggam lebih erat. Mungkin, dengan memutuskan untuk tidak ada lagi hubungan dengan Rania akan membuat Sandy tidak lagi marah. Begitu pula dengan batin anak-anak, mereka akan jauh lebih tenang tanpa di hantui rasa gelisah yang tak mereka pahami datangnya.
Ia segera menoleh ke arah suara yang ia sadari sedang menegurnya. Ditatapnya dalam wajah datar itu, sekilas senyuman tak nyaman ia sentil kan di kedua sudut bibirnya.
"Iya San. Tadi sempat mampir ke rumah mama sama papa, ngga sengaja malah ketiduran di sana." Terang Key lugu.
Sandy menatap istrinya lekat. Lama sekali ia memandangi garis-garis yang tergambar di sana. Tiada satupun titik yang menunjukkan kebohongan atau hanya menerka-nerka alasan untuk bersembunyi.
Tiada lagi suara yang terdengar. Key yang masih setia menunduk, memperhatikan gerak kaki Sandy, yang sekilas sudah menghilang di balik pintu kamar. Ia tak menutupnya kembali, tak membanting seperti yang siang tadi ia lakukan. Keysha menghela nafasnya lega, membuang jauh-jauh rasa ragu di dadanya. Ia meyakinkan langkahnya, perlahan semakin mendekati pintu kamar.
"Kenapa masih berdiri disitu ? Kau tidak mau tidur denganku ?"
Suara pria di dalam kembali membuat Keysha terkejut. Tembok yang menghalangi, tak menjadi penghalang bagi matanya. Seolah bisa menembus, memahami kegelisahan wanitanya di balik pintu. Key kembali mematangkan langkah, dengan yakin ia menggeser kaki. Menampakkan diri di depan pintu yang terbuka lebar, senyum tipis ia kembangkan ragu-ragu.
Sandy mengangkat kembali tubuh yang baru saja ia baringkan di atas sofa. Membuka jas yang ia kenakan dan di tanggalkan begitu saja di senderan kursi. Ia mulai meraba dada bidangnya, membuka satu persatu kemeja putih yang ia kenakan. Ia sempat melirik wanitanya dari pantulan cermin di depannya, menyunggingkan secuil senyum yang tak sempurna merekah. Entahlah, timbul rasa puas melihat wanitanya menunduk dalam rasa takut. Ah, bukan! melainkan kepercayaan diri akan rasa di cintai sedang membabi buta. Ia tahu, rasa takut dan cemas istrinya menjadi sebagian dari perwujudan kasih dan patuhnya pada suami.
Keysha meletakkan tas di atas meja samping ranjang. Memposisikan duduk dengan membelakangi Sandy. Ia masih memainkan jemari di atas pangkuannya. Menggigit bibir bawah memikirkan kata yang tepat untuk memulai.
"Kamu sudah makan San ?" Kalimat pertama yang lolos dari lidah kakunya. Ia memberanikan diri membuka obrolan untuk mencairkan suasana. Ia sudah berharap dalam kecemasan hatinya, terdiam lama menunggu jawaban.
' Ah, tidak di jawab ' hatinya ikut meronta, menjerit tak pasti dalam kebimbangan.
"San, kamu masih marah ya ?" Keysha mengulang pertanyaan dengan kalimat yang berbeda. Kembali terdiam dan menunggu dengan asyik memainkan jemari. Ah, semua seperti sia-sia , tetap saja tiada suara yang menyahut, lelakinya tak kunjung menjawab walau hanya sekedar berdecak.
"OK San, aku tahu kamu pasti sedang marah sama aku. Aku juga sadar, aku sudah terlalu keras kepala dan tak patuh dengan kata-katamu. San, aku pun ngga paham bagaimana sebaiknya aku memilih, Rania adalah teman baik dalam beberapa tahun, ketika dia menjauh, kamu adalah orang yang paling mengerti sedihku, lalu hari ini, saat dia kembali, aku yakin kau pasti sadar seberapa bahagianya aku mendengar itu. " Keysha berbicara panjang, mengumpulkan ribuan keberanian untuk menyatakan semua kecamuk dalam hatinya. Tetapi lagi dan lagi, hatinya kecewa sendiri dalam harapan. Ia tak juga mendapat jawaban dari Sandy. Kini, ia mengangkat kepala, menarik nafas dalam-dalam mengusir rasa kesal.
"Sandy kamu ini dengar aku bicara ngga sih ?" Keysha berbicara dengan setengah berteriak, meluapkan kesal karena merasa diacuhkan. Seketika ia pun membalikkan tubuh, tepat dengan keluarnya Sandy dari dalam kamar mandi. Kedua pasang mata itu saling bertatap, terdiam dan mematung dengan posisinya masing-masing.
"Kamu mengajakku berbicara saat aku mandi ?" Sandy mengerutkan dahi. Ia heran dengan teriakan istrinya, tak paham dengan kata "dengar" yang baru saja di proteskan oleh wanita itu.