
Matahari pagi telah bebas menerobos masuk ke dalam kamar . Menyelinap dari celah jendela, membelai mesra rambut-rambut halus yang menutup mata.
Keysha meregangkan otot-otot nya yang di rasa kaku, ah ini karena terlalu lelah dan sangat kurang istirahat. Ia meraba-raba kasur, berniat membangunkan suaminya . Dannn ...nyatanya ia tak menemui Sandy disana .
Ia segera bangkit, membuang penat dan rasa malas yang menyelimuti . Membuka jendela dan memanggil Sandy di balik pintu kamar mandi . hem, tidak ada .
Keysha keluar dari kamarnya, ia menelusuri anak tangga dan menggenggam harapan bersama dengan pegangan tangga. Di bawah, tak juga ia temui Sandy . Hanya Allan dan Lena yang sudah menikmati sarapan pagi .
"Pagi ma " Lena berteriak. Ia menyambut pagi Keysha dengan keceriaan.
"Pagi sayang, kalian tumben udah pada bangun?"
"Mama yang tumben baru bangun ."
"loh, emang sekarang jam berapa?"
Keysha panik, ia mengusap mata , memperjelas pandangannya di jam dinding yang terpajang di atas televisi.
"Astagaa ! ya Allah, maafin mama ya nak . Mamanya yang kesiangan "
"Ngga apa-apa ma . Mama istirahat aja lagi, atau libur dulu ke butiknya." Tutur Allan
"engga bisa sayang, ada karyawan mama yang minta cuti hari ini . Mama harus masuk , kalian di rumah ngga apa-apa kan ?"
"santai aja ma. Allan bakal jaga Lena "
Semua tertawa mendengar jawaban nyeplos Allan , Yeni pun menggeleng ringan.
"Umur kita itu sama . Kalau kamu sudah besar, aku juga . Aku juga bisa jaga diri sendiri. " Allena protes, ia merasa terganggu dengan nada angkuh saudara kembarnya. Mata yang sudah bulat itu memelototi Allan dengan sinis.
"Yang keluar duluan siapa ?"
"Kan cuma beda beberapa detik kan ma ?"
"Sudah-sudah. Kalian ini kok makin besar makin pinter ributnya. " Keysha membelai rambut Lena dan Allan. Ia berjalan mondar-mandir di sekeliling mereka, mengemas dua bekal makanan ringan untuk putra-putrinya.
"Biar saya saja non" Sus Rina tak enak hati. Ia risih, melihat majikannya sibuk sedangkan dia hanya duduk menemani Anak-anak makan.
"Sudah sus. ini tugas saya, kamu ikut anak-anak makan saja dulu. Nanti takutnya pas di sekolah tidak bisa makan" Bantah Key dengan nada lembut , ia kembali meraih kotak bekal yang sempat sus Rina ambil dari tangannya.
"Ya Allah non, saya ngga enak ." Rina menunduk, ia menatap lantai yang tak pernah bergeser tempat. Mengikuti garis di antara sela-sela pemisah lantai.
"Terima kasih non, non Keysha sungguh orang yang baik " Rina masih sangat setia dengan pandangan matanya. Ia tetap menunduk, sesekali memainkan jemarinya di samping tubuh.
Keysha hanya menggeleng pelan, Sudut bibirnya pun tak terhenti tersenyum. Ia beranjak, dan kembali menyelesaikan pekerjaan nya . Memasukkan bekal ke dalam tas masing-masing, Mengisikan air putih di tempat minum masing-masing pula.
"Allan , Lena .. maaf ya sayang , mama hari ini ngga bisa anter kalian sekolah dulu. " Keysha menunduk pilu, terlambat bangun adalah bagian dari beban harinya. Ia kehilangan waktu untuk anak-anak dan suaminya.
"Mama sedih sebenarnya, tapi gimana. mama belum siap-siap. terus kalau kalian nunggu mama, kalian nanti terlambat ." Sambungnya Key lirih. Sesekali ia mencium kening si kembar secara bergantian.
"Hari ini sama sus Dwi , sama Sus Rina aja ya dek ? " Tambah sus Dwi yang sedari tadi hanya diam. Ia hanya mengekspresikan perasaan yang ada. Menatap dengan senyum,lalu ikut tertawa bila ada yang lucu. Dia memang lebih pendiam dari pada Rina, tapi Lena sangat menyayanginya.
"Iya sus . Kita suka kok" Sahut Lena yang langsung loncat dari kursinya. Ia telah selesai sarapan, masih ada beberapa potong roti yang tidak ia habiskan . Namun, saat di paksa ia selalu berlarian dan menutup mulutnya. Dan jika ada yang memakan sisanya ia pun akan marah karena katanya "Aku ngga mau nyisain, aku nya jadi ngga sopan " dan merengek lalu menangis . Uuuh, sensitif sekali hatinya.
"Besok-besok kalau mama kesiangan kalian bangunin mama aja . Biar mama bisa anter kalian sekolah, terus kalian bangun semuanya udah di siapin sama mama" Usul Keysha, ia mengangkat jari seolah menandakan baru mendapat ide . Tangannya juga tak lepas dari kedua tubuh anak kembarnya.
"Mama, Allan tau .Lena pun tahu, mama terlalu capek. Tadi aja papa keluar kamar kaya maling, kata papa mamanya masih pules terus ngga boleh di ganggu. Kasihan " Jawab Allan jelas . Ia menceritakan sekilas perlakuan Sandy, seakan memberi tahu jika Papanya sungguh sangat menyayangi Keysha. Ia tak mau ada yang mengganggu istrinya, sekalipun itu Anak-anaknya sendiri. But, Keysha tidak suka di perlakukan istimewa, ia akan menolak di depan Sandy . Tapi tidak di depan anaknya. Itu akan mengajarinya membantah perintah dari Sandy, begitulah pikirnya.
"Ya sudah. Udah siang . Kalian berangkat ya " Ucap Key berbisik di balik telinga Allan dan Lena. Kedua anak itu langsung mengiyakan dan mendekap tubuh Key, mencium dengan mesra seraya mengucap salam .
Keysha mengantar mereka hingga ke teras rumah. Memastikan mereka berangkat dan menghilang di balik pagar rumah . Tangannya tak berhenti melambai hingga mereka benar-benar tak terlihat . Lalu ia kembali bergegas dan terburu-buru untuk kembali bersiap .
Banyak hal yang menanti, apalagi kunci butik dia sendiri yang membawa ." Duuh, kacau ! Kenapa Sandy malah membiarkanku kesiangan. Harusnya dia bangunkan aku saat dia bangun ! uuh , awas aja nanti ." Batinnya.
Tidak memakan banyak waktu, Keysha sudah siap dengan penampilan nya yang sederhana. Ia berlarian kecil menelusuri anak tangga.
"Sayang, kok buru-buru ?" Tegur Yeni yang sedang sibuk dengan sulamannya. Jantungnya ikut berdebar melihat Key yang berlari saat turun tangga.
"Iya Bun, maaf ya Key buru-buru. Key yang bawa kuncinya " Jawab Key ngos-ngosan. Ia tak lupa mencium punggung tangan Yeni begitu pun mencium pipi tua Yeni.
"Assalamualaikum Bun " Key berlari, tak menunggu salamnya terjawab dengan sempurna .
"Wa'alaikum salam , hati-hati Key " Jawab Yeni setengah berteriak. Ah, pasti juga sudah tidak di dengar oleh Keysha. toh, buktinya sudah tidak di jawab lagi . Atau, mungkin Yeni yang tak mendengar Key menjawab.
-------
"Pak, sedikit ngebut ya . Saya buru-buru" Perintah Key kepada pak maman, sopir pribadinya.
" Baik Non " Pak Maman mengiyakan, ia mengangguk ringan . Dengan Perlahan, ia mulai memancal laju mobil. Lambat laun, hingga mobil melesat dengan gesitnya.
"Tapi tetap hati-hati ya pak " Beginilah jadinya, kalau sebenarnya takut tapi sok-sokan minta ngebut .