I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Penawaran



Pagi ini Keysha sudah membuat janji dengan Rania untuk bertemu di sebuah cafe tidak jauh dari butiknya. Perempuan itu sudah menunggu, melewati pagi dengan secangkir kopi yang menghangatkan tubuh. Ia menyesap kopi dengan lembut, meresapi setiap tetes yang masuk melalui tenggorokannya. Terasa hangat, mengalir ke seluruh dadanya.


"Key maaf sudah lama menunggu ya ?" Perempuan dengan celana jeans dan sweater rajut telah berdiri tegak di samping. Ia tampak anggun, menatap Keysha penuh dengan senyuman tulus. Keysha sempat tertegun, tapi segera tersadar dan menyambutnya dengan hangat. Ia berdiri, untuk mempersilahkan perempuan itu duduk di hadapan kursinya.


"Kakimu sudah sembuh ?" Keysha sangat antusias dengan berita gembira yang tampak mata. Perempuan di depannya itu mengangguk cepat masih dengan senyuman yang mewarnai .


"Syukurlah, Allah mendengar doa kita." Keysha sangat bersyukur dengan kesembuhan sahabatnya. Perempuan yang aura kecantikannya semakin terpancar jelas ketika hatinya kembali terketuk. Jiwanya yang sempat mengeras telah luluh dan melunak hingga kembali menapaki jalan yang benar.


Keysha mencoba menahan diri untuk tidak menanyakan mengenai Ibnu kepada perempuan yang sedang memilah hidangan untuk menemani paginya. Ia ingat betul, awal perseteruan yang memanas hingga bertahun-tahun. Sanggup bertahan dan tidak kunjung menyadari dengan hakim yang perempuan itu tuduhkan.


"Jadi, kenapa kamu pagi-pagi gini sudah mengajakku bertemu ? " Ia memulai pembicaraan, membuka rasa penasaran yang terbesit sejak suaminya berteriak memberi tahu ketika ada pesan singkat yang Keysha kirimkan.


"Oh, jadi gini Rania, aku ada pesanan banyak sekali di butik dalam waktu dekat. Sayangnya, aku kehilangan beberapa desainer andalanku di sana. Kalau kamu mau, aku mau mengajakmu untuk join. Jadi, kita kerjain ini bareng-bareng. Kamu kan hebat di bidang ini..." Keysha menyentilkan kata pujian di ujung kalimatnya. Ia menjelaskan dengan gamblang apa yang menyulut keingintahuan Rania menenai janji yang mereka buat.


Rania tercengang, tidak percaya dengan tawaran yang Keysha berikan. Sebuah mimpi yang sudah lama ia pintakan. Bisnis di bidang yang memang menjadi keahlian sekaligus hobi yang mendarah daging padanya. Ia menganga, benar-benar terpukau dengan ucapan Keysha, sehingga tidak sadar ia telah membuat sahabatnya menunggu terlalu lama.


"Jadi, gimana Ran ?" Keysha mengulangi pertanyaannya karena Rania tidak kunjung mengiyakan ataupun menolaknya.


"Key kamu serius ?" Rania mempertanyakan ulang tawaran Keysha. Ia takut semua hanya guyonan semata. Takut ketika sudah larut dalam suka, tiba-tiba Keysha tidak serius dengan ucapan manisnya.


"Rania aku tidak akan menawarkan ini padamu jika tidak serius. Aku sudah kebingungan mencari pengganti dua desainer ku yang mengundurkan diri karena suatu hal." Keysha sudah menggenggam erat jemari Rania. Seakan-akan meminta agar gadis itu segera mengiyakan tanpa syarat. Sebuah persetujuan yang ia pintakan dalam hati.


"Aku mau." Rania mengangguk cepat. Ia sangat antusias dengan tawaran pekerjaan yang satu garis dengan hobinya.


"Aku pasti akan bekerja dengan baik untukmu." Imbuh Rania menguatkan, ia juga mengencangkan genggaman tangan keduanya.


Keysha terkekeh kecil, " Untukmu juga."


Tidak alasan untuk mereka berdua tidak larut dalam tawa. Berbahagia karena hati mereka menemui titik kepuasannya masing-masing. Tidak ada penolakan untuk setiap tawaran. Tiada tawaran yang tidak selurus dengan keyakinan.


Dua insan yang pernah berjauhan karena suatu alasan itu saling melempar canda riang, sebuah kata-kata yang saling meledek ikut bersahutan. Mereka menyesap kopi masing-masing, sesuatu dengan pesanan yang di pinta.


"Tentu, tapi aku harus bilang dulu sama Ibnu." Jawab Rania antusias. Ia segera merogoh ponsel dari dalam tas, lalu memainkan jemarinya di atas layar. Matanya jeli, mengikuti pergerakan layar yang berpindah dengan cepat, seirama dengan jemari lentik yang cekatan memainkannya.


"Sebentar." Rania tersenyum manis, memberi isyarat kepada Keysha bahwa ia akan meminta waktu sejenak untuk menyapa seseorang di sebrang telepon. Perempuan itu beranjak dari bangkunya, berdiri beberapa meter dari tempat Keysha duduk.


Tiada pergerakan yang Keysha lakukan selain mengangguk ringan. Is tersenyum, masih dengan tangan yang di lipat di atas meja seperti seorang murid yang memperhatikan pelajaran yang di berikan oleh guru.


Entah, apa yang Rania sampaikan kepada seseorang yang berada di ujung telepon. Raut sumringah dengan wajah yang ceria. Ia menyudahi percakapan setelah merasa cukup dan telah menemui jawaban yang di pinta.


"Bagaimana Ran ?" Keysha menyambut dengan pertanyaan antusias ketika Rania kembali duduk di kursinya.


"Tentu saja Ibnu mengizinkan. Dia juga titip salam untukmu, terima kasih katanya." Rania tersenyum manis.


Keysha bungkam, ia hanya membalas senyuman yang tiada usai. Tiada lagi dendam dan kecemburuan yang mewarnai. Semua sudah sejalan, kembali pada takdir yang memang sudah di tentukan. Persahabatan mereka tidak seharusnya berhenti di tengah jalan. Kandas lantaran sebuah rasa yang salah, cinta yang berlabuh pada hati yang salah. Tidak ada yang berhak di salahkan atau pun merasa bersalah seharusnya, semua tumbuh tanpa permintaan, tanpa isyarat untuk di paksakan ataupun memaksa. Semua terjadi begitu saja, seiring berjalannya waktu, seiring hati menemui titik ternyamannya.


Namun, itu dulu, tidak untuk hari ini dan seterusnya. Yang salah telah di benarkan, yang belok arah telah di luruskan. Cinta berhenti pada takdirnya masing-masing. Berjalan lurus tanpa mengikuti gejolak nafsu yang menggebu.


"Kita ke butik sekarang ya..." Keysha berjalan menuju kasir untuk membayar pesanan yang mereka pilih. Lalu segera bergegas menuju butik mewah yang sedang ramai pengunjung.


"Ayo..."


Keysha menoleh ketika Rania berhenti di ambang pintu. Perempuan itu tertegun dalam lamunan. Langkahnya terhenti, seiring dengan air mata yang tiba-tiba mengalir tanpa alasan.


"Kamu kenapa menangis Ran ?" Keysha bertanya dengan heran, tiada apapun yang melukainya, tapi perempuan itu sudah tersedu tanpa alasan.


"Aku malu kepadamu Key. Kenapa kamu baik sekali, padahal aku sudah berbuat jahat padamu. " Rania menunduk pilu, ia memainkan kedua jemarinya di samping tubuh. Bergelut dengan penyesalan masa lalu yang tidak bisa ia hapus.


"Rania, kamu baik. Kalau bukan karena kamu, mungkin kak Sandy sudah tidak bisa terselamatkan." Keysha meraih jemari Rania, menggenggamnya dengan erat dan penuh kasih. Ia tidak berhenti tersenyum, menopang kerapuhan yang mulai bersarang pada hati sahabatnya.


Mungkin, jika berbicara masa lalu, yang terlintas hanya kata sesal bahkan kecewa. Malu, dan kesal dengan perbuatan yang tidak pernah menguntungkan. Mereka saling berdekapan dengan mesra, menata kembali puing-puing hati yang berserakan tidak pada tempatnya. Menepis sebagian rasa yang tidak seharusnya ada. Benci, dendam, duka, luka dan semua yang tidak berguna untuk masa-masa yang akan mendatang.