
Dengan sangat tergesa-gesa, dokter Alexa bersiap-siap untuk mendatangi lokasi yang telah Sandy kirimkan. Pikirannya kalut, ia sangat ketakutan begitu mendengar suara cemas Sandy. Banyak hal yang menerka-nerka di otaknya, terutama tentang kondisi Keysha dan janinnya. Sahabatnya itu sedang kurang fit, dan kondisi itu yang membuat Keysha sangat khawatir.
"Masih mau keluyuran ?" tegur Febi ketika dokter Alexa berlarian menelusuri anak tangga.
"Mama, kak Lexa kan sudah jadi dokter lagi sekarang. " sahut Naura yang tidak setuju dengan nada ketus sang mama.
"Berapa kali mama harus katakan padamu untuk tidak ikut campur masalah kakak dengan mama ?" Febi memalingkan wajahnya kepada Naura. Matanya tajam mengintai gadis kecil yang sedang merunduk ketakutan itu.
"Berapa kali juga Alex bilang sama mama, berbicara dengan lembut ketika mama tidak ada masalah dengan Naura !" Awalnya, dokter Alexa tidak tertarik untuk berdebat dengan Febi. Tetapi, karena pembelaan sang adik, dan karena kata pembelaan itu pula ia harus melindungi adiknya. Gadis itu sedang menangis, ia merundukkan kepala tak berani menatap bola mata tajam yang sang mama.
Dokter Alexa menyadari, jika perubahan sikap mamanya adalah atas kesalahan dirinya. Ia yang terlalu tergesa-gesa memutuskan untuk menikah, melabuhkan rasanya pada hati yang baru saja ia kenal. Mudah untuknya bersinggah, hingga tak menyangka jika laki-laki yang di tunjuk nya adalah seorang penjajah wanita. Bukan tentang hati, tetapi lebih ke kasih satu malam.
"Kamu sudah bikin mama malu Lex, apalagi yang akan kamu lakukan untuk membuat mama lebih malu dari sekarang, hah ?" Gertak Febi dengan suara tertahan. Kristal-kristal bening mulai membentuk di ujung matanya. Namun, ia berusaha kuat untuk menahan agar tak terjatuh di depan dokter Alexa dan Naura.
"Terserah ! Terserah apa kata mama ! Alex muak dengar semua yang mama katakan. Jika mama malu, Alex akan pergi sekarang juga. " Dokter Alexa kembali menelusuri anak tangga. Ia berjalan cepat menuju kamarnya, mengemasi barang-barang pribadinya untuk di bawa pergi. Tidak butuh waktu lama, gadis itu hanya membawa beberapa helai pakaian dan berkas-berkas yang akan ia bawa ketika mulai kerja nanti.
Dokter Alexa turun dengan membawa ransel dan satu koper besar. Naura yang melihat itu menangis histeris dan menahan dokter Alexa agar tak meninggalkannya. Namun, dokter Alexa benar-benar sedang di landa depresi berat. Kesedihan nya masih mendalam, bahkan semakin kuat bertahta di dasar hatinya. Ia sendiri merasakan malu, bahkan sangat tidak ingin terlibat di keramaian karena banyak pasang mata yang menatapnya dengan tajam, bahkan tak sedikit yang tertawa menghinanya.
Naasnya, ketika di rumah ia harus menghadapi tatapan itu lagi. Sorot mata sengit yang melihatnya tak suka. Kata demi kata ketus, yang terangkai menjadi kalimat menyebalkan. Ia sempat berusaha untuk bertahan, meskipun hidup di rumah yang terasa layaknya neraka. Namun, ia tetaplah manusia biasa. Tak selamanya bisa bertahan dalam posisi yang sama, apalagi dengan anggapan buruk yang tak kunjung mereda.
"Biarkan kakakmu pergi ! Biar dia tahu diri ! " Kalimat yang Febi ucapkan menyengat tajam di hati dokter Alexa. Ia tidak pernah menduga jika Febi akan sekejam itu kepadanya. Ia tidak pernah memikirkan hal buruk yang akan terjadi dari kegagalan yang ia terima.
Hari itu, tepat di malam yang paling memalukan untuk keluarganya, Febi masih baik-baik saja. Dia juga berusaha membujuk dokter Alexa ketika anak gadisnya itu mengurung diri dan tidak mau menyuap nasi sama sekali. Air mata yang ia teteskan adalah bukti dari cintanya pada dokter Alexa. Namun, semenjak Febi mengetahui status dokter Alexa di Rumah Sakit, ia begitu ketus dan kejam. Ia senang memaki anaknya dengan kalimat kasar. Tatapan sengit dan menakutkan tak luput dari keseharian dokter Alexa. Apalagi jika ada hal sepele, itu akan menjadi bahan bakar ampuh untuk menyulut kemarahan Febi.
"Kak Lexa, jangan pergi..." Naura merintih dalam pilu. Ia hanya meringkuk di teras rumah mengantar kepergian sang kakak. Febi hanya berani tersedu di dalam rumah. Menangisi yang telah terjadi. Terisak karena menyadari sifat egonya yang sulit untuk di redam.
"Kenapa mama tega ?" Naura berlari ke dalam rumah. Ia mencari Febi untuk menanyakan kepergian dokter Alexa.
"Biar kakakmu tahu diri Ra ! Kita ini orang biasa, tidak pantas mengharapkan cinta CEO seperti Reno !" Febi berlari menuju kamarnya. Tangisannya pecah, tak lagi bisa ia kendalikan di depan Naura.
Sedangkan Naura, ia masih mematung tak berdaya di ruang keluarga. Duduk bersimpuh di samping meja dengan tangisnya. Air matanya terus saja mengalir deras, membasahi pipi putihnya yang mulai memerah karena perubahan ekspresi.
*****
Dokter Alexa melesatkan mobil nya dengan kecepatan tinggi. Deru mobil mewahnya membelah jalanan kota. Perempuan itu berlalu membawa puing-puing hatinya yang hancur yang bertepi. Berserakan bebas karena perasaan hancur yang sedang ia alami.
Semua terjadi tiba-tiba, bahkan kompak menghujam dada. Ia sudah rela jika Reno bukanlah jodoh yang Allah kirim untuknya, meskipun cintanya masih bertahta, setia menghias dada, tetapi seiring berjalannya waktu semua itu akan terkikis. Semakin menyusut lalu menghilang layaknya hembusan angin. Rasa yang ia miliki berawal dari cerita yang sama. Sedikit, sedikit lama-lama menjadi tebal tak terukur. Namun, bagaimana dengan cintanya kepada sang mama ? Semua tumbuh dan tertanam sejak dini. Terukir abadi tanpa ada hati lain yang bisa menggantikan.
Dokter Alexa kembali menangis mengingat nya. Keharmonisan keluarga yang mulai tak terasa. Senyuman hangat yang menjadi pendorong semangat, telah kembali kepada sang pemilik kehangatan.
tut...tut... tut....
Dokter Alexa menepikan mobilnya ketika ponselnya berdering. Ia segera memasang headset lalu menjawabnya.
"Lex, kamu masih lama ?" tanya pemilik suara di seberang telepon. Nafasnya ngos-ngosan tak beraturan. Kecemasan terdengar lebih buruk dari pada sebelumnya.
"Aku di jalan, sebentar lagi sampai. Kamu tenang ya, " jawab dokter Alexa dengan suara serak.
"Lex, are you OK ? Kamu nangis ya ?" Sandy memutar arah bicara.
"Tidak ! Tunggu lima belas menit, aku pasti sampai. " Serunya lalu menutup sambungan telepon secara sepihak. Ia kembali memancal pedal gasnya. Melaju cepat menembus dinginnya udara. Jalanan menanjak di antara pepohonan rindang yang melambai meminta di sapa. Dokter Alexa menarik nafasnya dalam, sebelum kembali fokus dengan tujuan utamanya.
Sesuai janjinya, tepat lima belas menit setelah sambungan telepon itu di matikan, mobil dokter Alexa sudah menderu di halaman Villa. Sebuah titik yang Sandy kirimkan, lengkap dengan tampilan Villa dari depan.
Dokter Alexa melangkah turun, bergantian menatap layar ponsel dan bangunan mewah di depannya itu. Villa yang berdiri kokoh di atas yang luas. Memiliki taman indah di bagian sisi rumahnya. Dokter Alexa mengambil tas yang ia gunakan untuk keperluan medis. Ia menyeret langkahnya dengan yakin dan menuju ke teras Villa.
Sebuah musik klasik terdengar hingga luar ketika ia menekan bel pintu. Tak berselang lama, seorang pelayan keluar dan menyambutnya dengan sangat ramah.
"Apa benar, ini Villa Sandy Atma Hutama ?" tanya dokter Alexa kepada salah seorang pelayan muda itu.
Mereka tersenyum ramah. Tanpa menjawab sepatah katapun, dokter Alexa di tarik oleh beberapa orang di antara mereka. Di seret ke dalam tanpa peduli dengan suara dokter Alexa yang meronta meminta di lepaskan.
Para pelayan dengan seragam hitam putih dan rambut di sanggul rapi itu tidak ada yang bersuara. Mereka masih fokus untuk mengikat tangan dan kaki dokter Alexa untuk membuatnya duduk bersandar di kursi yang terletak di salah satu kamar.
"Kalian apa-apaan ? Siapa yang menyuruh kalian ? Dimana Sandy dan Keysha ?" Rentetan pertanyaan dokter Alexa semburkan kepada para pelayan itu. Namun, tidak membuahkan hasil. Mereka hanya bungkam dan sibuk mengurusi pekerjaan masing-masing.
"Apa yang kalian lakukan ?" Dokter Alexa memberontak ketika salah seorang dari mereka berusaha mengoleskan make up di wajah dokter Alexa.
"Lebih baik diam lah nona, agar semua cepat selesai, " seru salah seorang di antara mereka.
"Bagaimana aku bisa diam ? Kalian menjadikan ku boneka semau kalian ! Sebenarnya siapa yang menyuruh kalian ?" Dokter Alexa masih meronta kuat. Tenaga nya sangat besar, kursi yang di gunakan untuk mengikatnya itu bisa bergeser tempat jika tidak ada yang memeganginya.
Mereka kembali bungkam, lalu kembali fokus menghias wajah dokter Alexa. Mengaplikasikan beberapa alat-alat make up yang tidak pernah dokter Alexa gunakan dalam keseharian. Mereka sangat lihai memainkan jemari mereka meskipun dokter Alexa terus bergerak-gerak. Merubah wajah polos itu menjadi sosok yang lebih cantik dari sebelumnya. Semua pasti pangling begitu melihatnya. Tidak hanya wajah, pelayan itu juga merubah gaya rambut dokter Alexa. Mereka juga menggantikan pakaian dokter Alexa dengan gaun berwarna salem yang senada dengan high heels yang di sematkan di kakinya.
Sempurna ! Dokter Alexa tampil anggun dan sangat menarik perhatian.
"Silahkan ke taman belakang nona ! Mereka telah menunggu nona Alexa di sana." Pelayan yang mengikat lengan tangannya itu merundukkan kepala untuk memberikan hormat kepada dokter Alexa. Tidak hanya salah satu, melainkan semua pelayan itu mengikuti instruksi yang di berikan oleh kepala pelayan.
Lagi, lagi mereka hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan dokter Alexa. Berjalan pergi meninggalkan dokter Alexa dengan rasa penasaran nya.
"Gimana sih, di tanya malah pada pergi. " Gerutu dokter Alexa dalam hati begitu melihat barisan pelayan itu meninggalkan nya seorang diri.
"Lebih baik aku ke taman belakang. Siapa tahu ada petunjuk di sana. " Gumam dokter Alexa di dalam hati. Ia tak terbiasa memakai high heels setinggi itu. Sehingga membuat langkahnya berat dan berulang kali hendak jatuh.
Dari depan pintu kamar, sudah tergelar karpet merah yang membentang panjang menuju ke arah belakang rumah. Karpet itu bertaburan dengan bunga di atasnya. Balon warna-warni juga turut menghiasi di samping karpet.
Dokter Alexa menutup mulutnya. Ia terkejut, bahkan tercengang dengan kejutan yang tak tahu asalnya itu. Sambutan yang mendebarkan, lengkap dengan kejutan-kejutan indah setelahnya.
"Ini kelakuan Keysha atau siapa sih ?" gumam nya seraya melangkah pelan-pelan. Kakinya goyang-goyang, karena ia belum bisa menjaga keseimbangan tubuhnya di atas high heels tingginya.
Kakinya terus bergerak mengikuti karpet yang membentang. Di setiap sudut ada balon unik yang di tempeli dengan quote-quote tentang cinta. Indah, dan begitu dalam menyentuh hati. Pipinya merekah merah ketika selesai membaca, kemudian ia kembali melangkah untuk mematahkan rasa penasarannya.
Dokter Alexa masih terus berjalan. Kini, kaki jenjangnya sudah berada di ambang pintu bagian belakang. Ia kembali di buat kagum begitu melihat pemandangan yang lebih mengharukan. Tidak hanya balon yang berdiri satu atau dua, tetapi rangkaian ribuan balon yang membentuk love dengan cantik. Kolam renang yang ada juga di hiasi dengan gemerlap cahaya dari lampu dan lilin. Meskipun masih sore, tetapi cuaca di sana sangat mendukung untuk menampakkan kejutan yang ada.
Dokter Alexa menghentikan langkahnya di samping kolam renang. Di seberang sana, ada layar besar yang baru saja memutar sesuatu. Sebuah file yang berisikan dengan rekaman suara dan foto-foto Shinta yang telah Sandy dapatkan dari orang suruhannya.
Dokter Alexa mematung di sana. Ia mendengar rekaman itu dengan jeli. Bahkan, sampai saat rekaman di putar untuk kedua kalinya. Kakinya gemetaran dan mulai lemas. Dokter Alexa menjatuhkan tubuhnya di atas ubin, lalu membiarkan tangisnya pecah seorang diri. Kepedihan itu kembali hadir, kepiluan yang ada seolah-olah sedang berlomba mencari kebenaran.
Di tengah tangisan pilu itu, dokter Alexa kembali di kejutkan dengan suara musik yang menyapa telinga. Alunan merdu suara piano dan lantunan merdu lagu cinta. Reno telah berdiri di dekat rumah pohon dan bernyanyi untuk dokter Alexa. Suaranya indah, begitu dalam dalam penghayatan. Jemarinya menari lincah di atas piano. Sungguh, suatu pembuktian dari rasa yang tidak perlu di ragukan keseriusannya.
Perempuan itu tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia hanya terus bersimpuh dengan air matanya. Termenung menyaksikan Reno dengan meresapi air matanya. Dokter Alexa belum bersuara. Ia masih memilih bungkam dan membiarkan Reno menyelesaikan sebuah alunan lagi cinta.
Siapa sangka, pria yang bernyanyi dengan pianonya itu juga mengalirkan air mata. Kristal-kristal bening yang sejak kedatangan dokter Alexa sudah tak sanggup di tahan-tahan olehnya. Mengalir bebas, menyuarakan kepiluan harinya tanpa wanita yang tak pernah luput dari barisan doanya.
Setelah musik berhenti, setelah syair bernada itu usai, Reno berjalan menuju dokter Alexa. Langkahnya lambat dan sendu. Hatinya bercampur rasa yang tak biasa. Ada senang yang tak terhingga, tapi ragu tetap menyelimuti kalbunya. Ada ketakutan yang menyapa lembut, takut jika wanita itu tak menerima penjelasannya, takut jika dokter Alexa semakin jauh meninggalkan nya.
Reno mengulurkan jemarinya ketika langkahnya terlah terhenti tepat di hadapan dokter Alexa. Perempuan itu mendongak menatapnya. Butuh hitungan waktu, untuk ia menerima uluran tangan itu.
Kali pertama, setelah kegagalan yang melanda pernikahan mereka. Kali pertama setelah kemarahan besar yang dokter Alexa hadirkan di malam yang mereka nanti-nantikan.
Keduanya saling bertatapan dengan dalam. Reno segera mengusap air mata dokter Alexa dengan kelembutan. Hingga akhirnya, keduanya saling bertautan dalam dekapan yang hangat. Tanpa suara, tanpa pinta yang berkata sedikitpun.
"Kau percaya dengan ku ?" Reno memegangi bahu dokter Alexa dan menatap matanya.
Perempuan itu mengangguk pelan dan mengiyakan apa yang Reno jelaskan. Suara rekaman dan foto-foto menjijikkan itu menjadi bukti. Lagi dan lagi, dokter Alexa terbuai ke dalam perangkap cinta Reno yang penuh dengan misteri.
"Alexa, mungkin aku adalah laki-laki bodoh yang tak memanfaatkan kesempatan dengan baik. Aku adalah laki-laki bodoh yang membiarkanmu menangis di malam pernikahan kita. Sebenarnya, aku tak pantas jika harus memohon kepadamu untuk memaafkan kesalahan masa laluku. Aku bukan laki-laki baik, aku bukan laki-laki yang di idam-idamkan oleh mamamu. Aku hanya memiliki cinta yang tak pernah di tandingi oleh siapapun untukmu. " Reno mengeluarkan cincin dari dalam saku jasnya. Ia membuka dan menyodorkan kearah dokter Alexa, masih dalam posisi jongkok dan mendongak menatap wanitanya. "Alexandra Nadine, maukah kau mengulang semua dari awal ? Aku berjanji tidak akan melukaimu lagi, aku berjanji tidak akan membuat menangis seorang diri ?"
Dokter Alexa sudah tak sanggup lagi menahan diri. Ia menutup mulut nya dengan kedua jemarinya. Air matanya semakin gencar mengalir.
Keadaan sunyi ketika Reno menanti sebuah jawaban. Sepi, tanpa ada apapun yang bersuara. Semua menegang, bahkan bunga-bunga yang menjadi penghias seolah-olah diam tak bergerak menunggu jawaban sesuai yang Reno pintakan.
Dokter Alexa memikirkan semuanya lebih matang. Tentang ke depannya, tentang resiko yang akan ia temui, tentang masalah-masalah baru yang harus ia hadapi dengan kuat. Ia sudah memikirkan itu baik-baik. Ia sudah berjanji akan menjadi insan yang kuat kepada dirinya sendiri.
"Iya Ren, aku mau..." Dan akhirnya jawaban itu yang lolos dari balik bibirnya.
Suara kembang api menyambut mereka. Terompet tertiup saling bersahutan. Gesekan biola mewarnai indahnya suasana. Meskipun tak terlihat dimana orang-orang yang memainkannya.
Reno dan dokter Alexa sudah kembali bertautan dalam dekapan hangat. Mereka resmi kembali mengulang kisah cinta yang tertunda. Melewati semuanya kembali dari awal.
Keysha, Sandy, Allan dan Lena keluar dari persembunyiannya. Mereka meniup terompet dengan girang. Bersahut-sahutan dengan biola. Tawa mereka pecah ketika Allan dan Lena berhasil menggangu dekapan erat mereka berdua.
Untungnya, anak-anak sudah lebih besar dan bisa di kendalikan. Mereka cukup di beritahu dengan baik apa yang harus mereka lakukan. Nyatanya, Allan dan Lena tetap menutup mulut dan diam di tempat sebelum Reno mengungkapkan isi hatinya.
"Jadi, kamu bohongi aku kan ?" gertak Dokter Alexa kepada Sandy.
"Maaf, Reno yang minta. " Seru Sandy seraya mengangkat jemarinya.
"Aku sudah buru-buru banget. Takut terjadi apa-apa sama kamu." Pandangan matanya beralih kepada Keysha. Mereka saling melihat, lalu mendekap penuh kasih. Persahabatan yang terjalin erat. Hanya bermula dari pertemuan di rumah sakit, saat Sandy terbaring tak berdaya dengan penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
"Maaf ya Lex, pasti kamu cemas banget. " ungkap Keysha dengan nada sedih.
"Banget. " Sahut dokter Alexa. Ia mengerucutkan bibirnya dan bermanja.
"Tapi terbalas kan ? Memangnya, kalau aku bilang ada Reno di sini kamu mau datang ?" goda Sandy seraya menyimpulkan bibirnya.
"Ya kalau sekarang mau..." Jawab dokter Alexa malu-malu.
Mereka tertawa secara bersamaan. Melanjutkan lagi pesta yang sempat tertunda. Pelayan telah menata makanan dengan aneka ragam menu. Duduk saling berhadapan di kursi yang baru saja di tata. Allan dan Lena turut senang, liburan kecil mereka terasa lengkap dengan orang-orang yang mereka sayangi. Hanya saja tak ada Yeni di sana, karena ketika di ajak Yeni menolak dan mengatakan, "Kalian harus punya waktu untuk keluarga, tak Bunda."
Hanya pesta sederhana, tetapi membuat mereka berenam sangat senang. Seolah-olah sedang membuat party privasi, hal terselubung yang tidak mereka kabarkan ke banyak orang.