I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Strategi



"Key ?" Bisik Cherry pelan.


"Kenapa ?" Tanya Keysha semakin sinis.


"Aku ingin meminta maaf padamu..."


"Apa ? minta maaf ?" Keysha mengulang kata-kata Cherry dan menekankan dua kata terakhir. Aneh, tapi perempuan itu berbicara dengan sangat serius. Ada suara tawa ringan yang terlontar dari balik lidah Keysha, entahlah hatinya merasa lucu dengan sikap aneh yang Cherry lakukan. Perempuan itu sangat keras dan bahkan bisa melakukan hal dengan gila, tapi kenapa tiba-tiba dia sangat lembek seolah takut dengan keadaan dan perbuatan yang pernah ia lakukan. Atau, mungkin Tuhan telah menegurnya dengan cara yang orang lain tidak bisa lihat, atau justru dia mulai menyadari jika perbuatannya adalah hal yang salah. Namun, tetap saja aneh dan tidak bisa di cerna dengan mudah oleh nalar manusia yang pernah bahkan terlalu sering di sakiti olehnya.


"Keysha, aku serius dengan ucapan ku. Aku mohon padamu, maafkan aku." Cherry mulai tersedu, dia semakin dalam menyembunyikan wajahnya. membenamkan lebih dalam di balik geraian rambut yang menutupi mata.


Keysha masih bungkam, ia menatap Cherry dengan pandangan yang sulit untuk di tebak. Tidak ada garis tanpa tanda kemarahan di wajahnya, tapi tidak juga terlihat jika dia mulai tersentuh dan hendak memaafkan.


"Keysha, aku tahu aku sangat keterlaluan..." Cherry menunduk pilu. Ia memohon dengan kerendahan hati dan juga diri, meraih jemari Keysha untuk di genggamnya dengan hangat.


Keysha menarik nafasnya panjang, sorot matanya seolah-olah mengatakan jika dirinya kesulitan untuk merangkai kata menerangkan kepada perempuan berhati licik yang sedang memohon belas kasihan dengan cara di luar nalar. Ia sedang meratap dan mengadu jika dirinya adalah manusia paling menderita di atas jagat raya, nyatanya dia adalah perempuan terkejam yang berbuat kejahatan tanpa rasa bersalah.


Keysha masih memejamkan mata ketika Cherry menyentuh kedua kakinya, tidak ada pergerakan yang melarang atau bahkan menyuruhnya untuk tetap bertahan untuk memohon di sana. Ia menoleh ke sisi tembok, ada Ibnu yang mengacungkan ponsel seakan sedang mengabadikan momen. Dua kali kedipan mata menjadi isyarat, ia sedang meminta Keysha untuk membuat Cherry mengakui segala perbuatannya. Mendesaknya agar tidak ada satupun tingkah yang di sembunyikan. Menerangkan dengan pengakuan yang jelas jika dirinya lah yang membujuk Rania untuk membenci Keysha, dia juga yang menjadi dalang dari sebuah drama penculikan yang Keysha alami. Sayang, tidak ada bukti dan saksi yang kuat untuk menjerat perempuan itu ke dalam rumah tahanan. Memberinya pelajaran dengan rasa penat yang pasti akan menyiksanya. Walaupun tetap akan ada dua kemungkinan yang jelas tertangkap angan. Antara jera atau justru semakin bringas dan menjadi manusia ganas yang tidak bisa di salahkan. Ya, kecuali satu hukum yang melenyapkan, sebuah hukuman mati yang sangat setimpal untuk menuntaskan.


"Keysha, apa aku perlu mencium ujung kakimu sampai kau mau membuka pintu maaf mu untukku ? Aku sungguh menyesali semuanya." Cherry semakin tersedu dengan tangisnya. Entah air mata palsu atau memang sebuah penyesalan yang menyesakkan dada yang membuatnya terlihat buruk di pandangan mata. Ia tetap saja menangis dan berusaha menjatuhkan tubuh lebih dalam lagi walau Keysha sudah beringsut mundur untuk menghindari sembah sujud perempuan di depan matanya.


"Bangunlah Cher, aku tidak senang kau melakukan hal konyol seperti itu. Aku bukanlah Tuhan yang pantas kau sembah !" Akhirnya Keysha mengucapkan kalimat penolakan dengan nada yang cukup keras. Suaranya jelas memantul dan terus menggema di kepala Cherry.


"Aku tidak akan bangun jika kau tidak memaafkan ku Key." Cherry tetap keras kepala dan semakin menjadi dengan atraksinya. Drama baru mungkin saja sedang ia mulai dengan memanfaatkan kelemahan Keysha yang tiada usai.


Keysha terbuai, ia turut berjongkok untuk menyetarakan tubuhnya dengan Cherry. Di pandangi nya Cherry dengan sangat jeli. Tiada satu lekuk tubuh yang terlewat dari absen matanya. Cherry, perempuan ayu yang tiada usai menangis, perempuan cantik jika hatinya tidak licik. Perempuan sempurna jika di imbangi dengan hati yang baik. Ah, sayang ! Lagi dan lagi semua cukup bisa di sayangkan. Cinta membutakan matanya, cinta menutup rapat nuraninya, cinta membungkam mulut untuk tidak berkata dengan damai. Benar, cinta lah penyebabnya, cinta yang salah yang menjerumuskan dia pada lubang neraka dunia.


"Cherry apa kau masih mencintai suamiku ? Aku tidak pernah merasa bersalah padamu, lalu apa yang membuatmu sangat berambisi untuk melenyapkan ku dari muka bumi ini ?" Ucap Keysha dengan pelan. Ia tidak melepaskan pandangan matanya dari wajah yang di sembunyikan oleh Cherry.


"Ma.. Maksud kamu a..apa Key ?" Sontak, Cherry mendongakkan kepala. Matanya sendu, memperhatikan dengan cahaya pilu.


"Aku tidak bermaksud untuk membuatmu ingat dengan apa yang telah kau lakukan padaku. Tapi, apa kau benar-benar menyadari semua itu adalah kesalahan yang tidak bisa di maafkan hanya dengan ucapan ?" Keysha semakin menekan setiap katanya. Tidak ada senyum yang menguatkan ataupun sedikit membuat lawan bicaranya merasa lega.


"Cukup buktikan dengan yang bisa di percaya. Bukan sebuah ancaman yang justru menyesatkan. Apa kau masih menangkap kalimatku dengan amarah yang menggebu ? Cara berpikir mu sungguh dangkal Cherry. Aku tidak melihat sorot mata yang mengucap maaf dengan tulus." Keysha berjalan membelakangi Cherry. Ia merebahkan tubuh di atas sofa panjang dan membuang nafas dengan kasar.


"Keysha, aku hanya minta maaf padamu. Aku berharap kau tidak melaporkan ku pada polisi. Apa susahnya ha ?" Ucap Cherry dengan kesal. Ia mengangkat tubuhnya dan menghadap Keysha dengan wajah arogan.


"Jadi, kau meminta maaf karena kau takut pada polisi ? Harusnya kau juga takut sama Allah karena perbuatan mu itu sangatlah keji di mata-Nya !" Jawab Keysha santai. Ia tidak bereaksi lebih dengan Cherry yang mulai meninggikan suaranya. Ia membiarkan perempuan itu dengan ekspresi bersungut-sungut .


"Jadi kau tidak memberiku maaf ? Dan kau akan melaporkan ku pada polisi ?" Gertak Cherry semakin meracau.


"Menurutmu ?" Keysha tersenyum sinis. Ia mengangkat kaki kanannya dan menyilang kan di atas kaki kiri.


Cherry tertawa lepas, ia sangat menikmati suara tawa yang menggelegar di sudut ruang. Mungkin, resah yang menerpa jiwanya membuat ia sulit mengendalikan diri. Ia akan merasa takut dan terkadang kembali bringas dan melakukan cara apapun demi menyelamatkan diri. Sementara Keysha ? Ia tetap pada pendiriannya. Bungkam dan memilih berdiam diri tanpa menggubris tawa yang menghina. Ia tidak peduli, karena ia memiliki cara untuk menjebak perempuan di depan matanya.


Ibnu terus berjaga di posisinya, ia tidak berubah sedikitpun dengan caranya sembunyi. Camera ponsel yang dipegangnya, terus saja menyorot perlakuan dan menangkap dengan jelas ucapan Cherry.


"Apa kakakku ini sudah gila ? Apa sebenarnya yang dia inginkan." Gumam Ibnu dalam hati l.


"Cinta benar-benar membuatnya gila dan semakin senang berteman dengan setan." Gumamnya kembali. Ia menggeleng dan terus berkata dalam hati karena memang takut jika rencananya di ketahui oleh Cherry.


Ibnu bukanlah adik durhaka atau saudara yang tidak menyayangi saudara kandungnya sendiri. Tetapi, diapun merasa terganggu dengan perbuatan Cherry yang sempat menyeret istrinya berbuat dengan hal yang serupa.


"Kau tidak punya bukti dan saksi kuat jika aku yang melakukan penculikan terhadap mu Keysha Larasati. Bahkan, CCTV di butik mu tidak sedikit pun memperlihatkan adanya aku. Laporkan saja, maka Shinta yang akan mendekam di penjara." Suara tawa yang mencaci kembali menyambar telinga Keysha. Ingin sekali rasanya untuk membalasnya atau bahkan menampar pipi perempuan iblis itu, tapi Keysha terus berusaha menahan diri. Biarkan hatinya mengumpat dengan rasa kesal yang merajai. Sementara, ia membebaskan Cherry bangga dengan permainan yang sebenarnya telah mengurung jiwa dan raganya. Jika gengsi yang ia miliki tidak besar, ia sedang di rundung gelisah dan rasa takut yang menjalar di setiap waktu sebenarnya. Tapi, dia tidak mau mengakui itu.


"Apa kau sudah berpikir panjang dengan ucapan mu barusan Cherry ? Aku tidak yakin jika besok kamu masih bisa tertawa sebahagia ini." Keysha mengangkat tubuh. Ia berjalan dan mendekatkan wajah dengan telinga Cherry. Posisi mereka saling berjajar, tapi tidak menghadap ke arah yang sama.


"Oh ya ? Kau pikir aku takut dengan ancaman garing mu itu ?" Cherry mengernyit tak percaya.


"Haha...Kau bersiap-siaplah untuk menjanda kedua kalinya, karena sudah ku pastikan Sandy akan kembali kepada ku ! Dia adalah milikku, dan kau telah merebutnya dariku !" Ucap Cherry dengan pelan tapi tetap jelas di tangkap oleh telinga Keysha, pun dengan Ibnu dan ponselnya. Perempuan itu tidak main-main dengan kalimatnya, tangis yang menjadi hanya bertahan dalam hitungan detik, mata yang memelas dengan permohonan maaf hanya terjadi sekilas mimpi. Mulutnya telah pandai berkilah dengan drama yang serupa, hatinya telah menyatu dengan sikap iblis yang di percayai. Mana mungkin bisa berubah dalam hitungan detik, menit, jam ataupun hari sekalipun. Itulah yang justru sebuah kejutan yang main-main. Jika dia berlemah hati dan merayu dengan nada yang merendah, itu adalah strategi yang tidak perlu di telaah. Biarkan saja, semua hanya sebuah siaran langsung yang bisa ditebak dengan tepat seberapa lama ia bisa bertahan dengan situasi yang menyebalkan untuknya.