
Satu malam penuh Rania terus terjaga. Matanya enggan untuk terpejam, menatap lekat pada langit-langit kamar yang gelap karena kurang terangnya cahaya yang menyorot.
Ia menoleh ke kanan, memperhatikan suaminya yang telah pulas dalam tidur. Tidak ada suara yang meramaikan suasana, menghapus gelisah yang datang tanpa arah.
Gelisah yang tiba-tiba menyapa seakan pertanda akan suatu perkara. Mengetuk dalam alunan sanubari. Menampakkan diri dalam pandangan yang tak kasat mata.
"Tuhan, apa sebenarnya yang sedang aku gelisah kan malam ini ?" Rania menggerutu dalam lamunan. Ia mengangkat tubuh, berjalan mondar-mandir layak sebuah setrikaan. Jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Waktu dimana kebanyakan orang sedang merasakan nikmatnya tidur. Namun, tidak dengan Rania. Ia semakin kalut dalam resah yang tidak terkendali.
Rania memutuskan untuk berpaling ke kamar Angeline, putrinya yang tidur di temani oleh pengasuhnya, dengan alas yang berbeda.
"Mungkin itu akan membuatku bisa tertidur meskipun hanya sebentar." Gumam Rania seraya melangkah ke luar kamarnya. Ia tidak peduli dengan Ibnu yang masih terlena dalam buaian alam bawah sadarnya.
Sesampai di kamar Angeline, ia membuka pintu kamar dengan sangat hati-hati. Sekejap ia tercengang ketika melihat pengasuh yang menemani Angel sedang bersujud dalam sepertiga malam. Entah apa yang sedang ia mohonkan dalam bait-bait doa yang dipanjatkan selama itu. Sepuluh menit ah mungkin lebih Rania terpaku di sana. Berdiam diri menatap lekat pada perempuan itu dari ambang pintu.
Hatinya tersentuh, ada kerinduan yang melintas pada sang pemberi hidup. Ya, dia sudah lama tidak melakukan ibadah dalam bentuk apapun. Tepatnya saat dia mulai terbawa dengan kebiasaan Cherry. Hingga lupa waktu, tempat bahkan aturan hidup yang selalu dia tegakkan ketika masih bersama Keysha. Ah, memang benar jika bergaul itu pasti akan ada dua hal yang saling bertolak belakang. Antara mengajak, atau justru terajak. Semua kembali kepada diri kita masing-masing. Mau berpegang teguh pada pendirian yang sudah tepat dan mengubah yang buruk, atau justru larut dalam sebuah lubang kekeliruan yang menyesatkan. Dan Rania adalah manusia yang mudah sekali terpengaruh. Tidak seharusnya dia bergaul dengan orang-orang yang jalan hidupnya selalu di liputi kabut hitam, atau sebuah jalan yang berkesinambungan dengan hal buruk.
"Eh...nyonya ? Belum tidur ?" Rania tersentak kaget. Diamnya larut membawanya melamun dalam rasa sesal yang menggelayuti hatinya.
Perempuan itu mengukir senyum tulus, satu hal positif yang tidak pernah ia suguhkan untuk orang-orang yang dia anggap bertahta rendah. Ya, seperti seorang pengasuh yang bergantung hidup pada gaji kecil yang dia berikan. Dia tidak pernah menampakkan senyum setulus ini. Membuat pengasuh Angeline membulatkan mata, merasa heran dengan sikap boss nya yang tiba-tiba. Lalu, dia turut mengulur senyuman, membalas yamg tersirat dari wajah cantik Rania.
"Kamu selalu terjaga setiap jam segini ?" Rania melempar tanya ketika ia sudah terduduk di tepi ranjang Angeline. Tangannya menyapu lembut kening Angel yang tertutup rambut-rambut halus.
"Bagi saya itu sebuah kewajiban nyonya. " Jawab pengasuh itu seraya merunduk sopan.
"Kewajiban ?" Keysha menautkan alis, ia masih kurang mengerti dengan kalimat yang terdengar tulus.
"Bukankah ibadah adalah kewajiban setiap muslim Nyonya ? Kurasa, memang seharusnya saya meluangkan waktu malam saya untuk bertemu dengan Allah." Pengasuh itu mengukir senyuman meskipun tidak menatap pada wajah majikannya. Lalu kembali lagi melanjutkan kalimatnya. " Lalu kenapa Nyonya belum tidur di jam segini ? Apa nyonya sangat lelah hingga sulit tidur ?"
Rania tersenyum, ia beranjak dari duduknya lalu berdiri mengimbangi pengasuh itu. Di tepuk nya bahu perempuan itu dengan penuh kasih. Membuatnya kembali membulatkan mata tidak percaya dengan sikap bosnya. Ini sungguh di luar nalar sehatnya.
"Aku dulu sama sepertimu. Namun, semua terhenti ketika aku mulai berpikir tentang kehidupan ku. Apa yang ku pintakan dalam doa-doa ku tidak ada yang Tuhan berikan. Semua hanya seperti angin, liar di angkasa, lenyap tanpa sisa. " Rania tersenyum paksa.
Rania hanya terpaku menatap pada wanita yang tidak pernah berbicara dengan panjang lebar seperti saat ini. Dia selalu menjawab dengan sepatah dua patah kata ketika Rania bertanya. Tanpa mengimbuhi dengan ragam kalimat yang mendesak atau justru terkesan seperti sebuah teguran. Tangan Rania mulai turun menelusuri lengah perempuan itu. Mengusap halus hingga terlepas dan kembali pada posisi di samping tubuhnya.
"Ma-maaf nyonya jika saya sudah lancang. Tidak seharusnya saya berbicara seperti itu kepada nyonya." Pengasuh itu kembali merundukkan kepala. Ada rasa sesal dan juga takut yang tiba-tiba menyibak dadanya. Ah, seharusnya aku tidak mengatakan itu padanya, pekiknya dalam hati.
"Ku rasa apa yang kamu katakan itu adalah suatu kebenaran. Dan memang seharusnya kamu mengatakan itu padaku. " Rania kembali menjatuhkan diri di atas Ranjang Angeline. Membuat tubuh gadis kecil itu goyang karena hentakan tubuh Rania. "Terima kasih kamu sudah mengingatkan."
Pengasuh itu mengangguk lega, setidaknya pikiran yang memberatkan otaknya tidak sampai terjadi pada dirinya. Rania selalu marah ketika dia salah bicara, tapi tidak untuk kali ini. Dia sangat menerima dengan gamblang, bahkan berkaca pada dirinya sendiri. Ia memaknai kalimat itu sebagai sebuah kode dari Allah, Tuhan yang menciptakan alam semesta beserta seluruh isinya.
"Apa nyonya ingin menemani non Angeline tidur ? Biar saya keluar agar tidak mengganggu."
"Oh tidak.....tidak perlu keluar. Tetap tidur di kasur mu. Aku akan tidur sebentar di sini."
"Apa nyonya sungguh-sungguh ? Maksud saya, apa nyonya tidak keberatan ?"
Rania menggeleng ringan. " Tidak....apa aku pernah berbicara denganmu dengan hal yang tidak sungguh. Bahkan ketika kesal pun aku pasti marah padamu. Jadi, jangan berpikir aku hanya main-main dengan kalimatku. "
Pengasuh itu tersipu malu. Ada suatu dilema yang masih tidak bisa di tangkap oleh otak dan logikanya. Namun, ada rasa senang yang turut bersenandung. Rupanya, ketika Allah sudah mengetuk pintu hati seseorang, tidak ada yang tidak mungkin terjadi, seperti perubahan seseorang hanya dalam satu malam. Seperti yang sedang terjadi di hadapannya.
"Terima kasih...." Ucap Rania seraya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Ia berbaring membelakangi wanita itu, mendekap erat tubuh mungil Angel yang tidak pernah ia lakukan pada malam-malam sebelumnya.
--------
Reno mengusap rambutnya dengan frustrasi. Sudah satu malam penuh ia berkeliling kota, mencari pada setiap sudut tapi tak kunjung menemukan Keysha. Ia semakin gila dengan kondisi yang ada, semua seakan hanya bertumpu padanya. Berkecamuk hanya pada batinnya. Sudah tidak ada lagi raga yang bisa meringankan karena Sandy masih terkapar di rumah sakit dan belum juga sadarkan diri.
"Lalu bagaimana jika Sandy besok sadar, lalu menanyakan istrinya ? Apa yang harus aku katakan." Baru kali pertama Reno menangis sejadi-jadinya. Ia sungguh bersedih dengan nasib yang menimpa sahabatnya.
"Cherry....Kamu tidak akan bisa bergerak jika sampai aku menemukan keberadaan mu. Kau sungguh menjadi ancaman besar bagi orang-orang baik yang sangat aku sayangi." Reno menyeringai tajam. Matanya memerah, seketika ia mengepalkan tangannya. Memukul keras pada kemudi mobil yang menemaninya sepanjang malam. Berputar-putar pada jalanan yang sepi, menatap pada kanan dan kiri, berharap perempuan yang ia cari berada di sekelilingnya.