
Sandy melesatkan mobil dengan bebas di jalanan yang sunyi. Niatnya sudah bulat, ia tetap akan mengusut kejadian yang terjadi beberapa bulan yang lalu. Sebuah perihal besar yang yang menimpa istrinya, bahkan mengancam nyawa wanitanya tanpa belas kasihan. Dendamnya memuncak, tidak lagi peduli sosok yang akan ia tuntut dengan hukum.
Sebuah laporan telah sampai kepada pihak hukum, sudah lengkap dengan daftar saksi dan bukti-bukti yang menguatkan. Ia tersenyum sinis, tidak sabar melihat wanita iblis itu mendekam dengan semua rencana busuknya yang mulai di rancang kembali.
"Laporan tuan Sandy akan segera kamu selidiki, " Ucap seseorang itu dengan lantang. Mereka berdiri bersama, lalu saling mengulurkan tangan untuk saling menjabat.
"Terima kasih." Ucap Sandy dengan nada arogan. Seperti telah hilang rasa kasihan, ia benar-benar di puncak kegarangan dan tidak lagi berpikir panjang dengan apa yang akan Cherry rasakan. Jangankan sebuah belas kasihan, untuk tinggal dalam satu lingkungan walau tanpa suara yang saling bertegur saja sudah cukup membuat Sandy kesal.
"Sandy melangkah keluar dengan rasa bangga. Jiwa angkuhnya berkobar-kobar, meninggalkan aroma kepuasan yang menyita perhatian.
"Sandy, aku telah di kantormu. Kau dimana sekarang ?" Suara Reno menggema ketika Sandy mengaktifkan kembali ponselnya.
"Cepatlah datang ! Aku sudah jamuran di sini."
"Sandy !"
"Baiklah, aku hitung sampai lima."
"San ? Kau benar-benar tidak merespon ku ? Hei, dimana kamu ? Tidak mungkinkan kamu sedang berencana menabur bunga untuk membuatkan adik kecil untuk Allan dan Lena ?"
"Satu..."
"Dua..."
"Tiga...."
"Empat...."
"Lima...."
Sandy tersenyum simpul mendengar celotehan Reno yang mulai geram. Ia kembali menutup ponselnya tanpa membalas walau dengan satu kata. Tidak peduli seberapa kesal sahabatnya di sana. Ia justru meletakkan ponsel di dalam laci mobil begitu saja. Kakinya mulai menginjak pada pedal gas, dan membiarkan mobil melesat dengan kecepatan tinggi. Senandung merdu terus menggema di kepala, melempar riang menyulut seuntai senyuman yang cukup nyaman.
Reno memarkirkan mobilnya asal di halaman gedung yang menjulang tinggi. Meninggalkan kunci begitu saja di dalamnya.
"Selamat pagi tuan Reno." Seorang satpam telah berdiri tegak di depan gedung. Merunduk, memberi ucapan hormat ketika Sandy berlalu. Pria itu hanya menjawab dengan anggukan kilas. Wajah arogan seolah meminta penghormatan yang tinggi, tapi faktanya ia tidak peduli semua itu.
Semua yang di lewati pasti menyapa dengan hormat. Bagaimana pun rasa dan gejolak yang di rasa, tiada satupun dari mereka yang secara terang-terangan berani mengangkat bicara.
Ia sudah berdiri di dalam lift, menekan-nekan tombol untuk menuju lantai teratas gedung. Ia menanti dengan sabar karena hatinya di penuhi dengan rasa senang.
"Gila ! Hampir saja aku pergi." Reno menggerutu dengan geram tatkala pintu lift terbuka. Sudah di duga jika yang datang adalah Sandy, karena lift itu di khususkan hanya untuknya. Tidak ada yang boleh memasuki kecuali atas perintah Sandy.
"Kenapa ? Apa kau akan memberikan undangan pernikahan mu dengan Dokter Alexa ? Sepertinya penting sekali kau ingin menemui ku ?" Ucap Sandy dengan nada bercanda. Ia melintas , menelusuri lorong untuk masuk ke dalam ruangannya. Reno hanya terus menggerutu dan berjalan satu langkah di belakang Sandy.
Setibanya di ruang dengan tampilan interior yang memuaskan mata, Sandy merebahkan tubuh di atas sofa panjang. Mendongak, menatap langit-langit ruangan dengan senyuman yang tak kunjung usai. Gambaran penderitaan yang akan menjemput mantan kekasihnya cukup membuatnya bergairah. Bukan perihal dendam dan rasa puas melihat penderitaan orang lain, melainkan rasa gembiranya jika orang-orang yang selalu membahayakan nyawa istrinya tidak lagi bebas berkelana.
"Sandy ? Apa kau benar-benar menghamili Keysha lagi ?" Reno menatap Sandy dengan jeli. Kata-kata intim yang terlontar dengan ragu tidak seutuhnya masuk ke indera pendengaran Sandy. Laki-laki itu hanya menoleh tanpa suara, lalu kembali merajut angan bersama bayang-bayang tawa.
"Sandy Atma Hutama ? " Reno melangkah lebih dekat. Ia menyapukan tangan di kening Sandy. Memeriksa suhu dengan perkiraan yang ia bisa.
"Apa kau sedang belajar teori kedokteran bersama Dokter Alexa ?" Sandy mengernyit heran, senyumnya musnah berganti dengan sorot arogan yang tajam mengintai.
"Apa tidak ada pembahasan yang tanpa Alexa ? " Reno beringsut mundur. Ia memukul udara dengan kesal. Anehnya, itu hanya yang terlihat mata, hatinya justru sedang merasa biasa saja. Tanpa amarah dan rasa-rasa lain yang menyebalkan baginya.
"Aku hanya takut jika kamu beneran gila ! Sudah sepuluh menit kamu terus tertawa tanpa alasan. Apa kau anggap aku ini patung ?" Reno melempar mata. Ia tidak tahan dengan wajah Sandy yang sedang cengengesan melihatnya.
Sandy terkekeh geli mendengar Reno merajuk. Ia berdiri untuk menghampiri sahabatnya, duduk bersanding menantang alam. Beradu dengan burung-burung yang terbang bebas, berlarian dan saling mengejar. Indah, sama seperti kisah hati mereka. Tentunya, alam sedang mengerti isi hati kedua anak manusia itu. Nyatanya, semesta sedang memanjakan mata dengan tampilan yang menawan.
"Kau tahu, aku sedang menunggu saat-saat Cherry di seret lalu mendekam di penjara." tutur Sandy dengan pelan. Ia menata kalimatnya sedemikian rupa hingga langsung mudah untuk di pahami oleh Reno.
Reno menyesap kopi kaleng di tangannya. Ia hanya menoleh sekejap mendengar ucapan itu, lalu kembali fokus membuang pandangan jauh ke jarak yang mampu di tangkap oleh matanya.
"Sudah ku duga." Seru Reno seraya melempar kaleng kosong itu tepat ke dalam tong sampah yang tidak jauh dari posisinya berdiri sekarang. "Lalu apa rencana mu selanjutnya ? Shinta dan Lita pun terlibat pada penculikan itu. Apa kau tetap diam karena mereka keluarga Keysha ?" Imbuh Reno dengan nada flat tanpa ekspresi.
"Mam Lita di rumah sakit karena hampir ketabrak mobil ku, sedangkan Shinta hilang beberapa hari terakhir ini." Imbuh Sandy memberi penjelasan.
"Eh gimana ? Hilang ?" Reno mengulang kalimat Sandy untuk meyakinkan.
"Ya...." Sandy mengangguk cepat, lalu berdiri dan melipat kedua tangannya di depan dada bidangnya.
"Kau yang merencanakan penculikan itu ?" Ucap Reno penuh selidik. Ia berbisik tepat di depan daun telinga milik Sandy. Melontarkan kecurigaan yang saling bertautan dengan erat. Dendam dan keinginan kuat untuk membalas, tepat waktu dengan penculikan yang terjadi mendadak.
"Gila !" Sandy memaki Reno dengan tajam. Ia menoleh, menyimpan rasa tidak suka dengan pertanyaan yang tanpa dasar. Tuduhan yang tidak mempunyai alur. Ya, Sandy memang berencana membalas dendamnya, memutar cerita agar perempuan-perempuan yang berhati iblis itu merasakan derita yang Keysha alami. Setidaknya sebuah peringatan agar mereka jera dan berpikir lebih jernih ketika mengambil langkah. Cara halus yang sering Keysha berikan tiada satupun yang berkenan, Sandy hanya baru mengatur siasat untuk memberi mereka sebuah pengalaman berharga, sebuah tragedi yang akan memacu adrenalin mereka karena akan do hadapkan dengan orang-orang yang lebih menyeramkan di dalam sel penjara sana.
"Aku tidak akan jadi pengecut jika ingin membalaskan dendam ku !" Seru Sandy dengan keras. Ia mengingkari apa yang Reno ucap, setitik pun mengaku tidak mengetahui siapa dan dengan tujuan apa ada orang yang menculik perempuan licik itu.
"Sungguh ?" Reno masih senang menguji emosi Sandy. Ia mendesak, dan berusaha agar Sandy mengakui jika ia telah berbohong.
"Kau tidak mempercayaiku ?" Mereka saling menatap dengan jarak yang sangat dekat. Mata tajam yang beradu dengan pandangan arogan. Tiada pergerakan yang lebih selain sorot yang saling mengintai. Siap menerkam kapanpun mangsa melakukan pergerakan yang menjerumuskan.
"Ku pikir, kau telah bosan dengan kakaknya dan hendak menerkam adiknya." Reno beringsut mundur lalu terkekeh geli.
"Jika Seperti itu, aku yang akan menjadi pahlawan untuk menyelamatkan masa depan Keysha." Imbuhnya masih dengan suara tawa yang menggema. Bernada ledekan yang hanya memancing kekesalan Sandy.
"Apa kau sudah benar-benar tidak laku ,hah ? Senang sekali jika melihatku dan Keysha saling membenci." Teriak Sandy kesal sendiri. Reno hanya terus tertawa dan memegangi perutnya berulang kali. Tawa yang bebas tanpa penghalang, sudah pasti akan membuat perutnya keras dan terasa kaku tidak nyaman.
"Jangan terlalu serius. Aku hanya bercanda." Ucap Reno seraya menepuk ringan bahu Sandy. "Ku rasa aku sudah menemukan apa yang ku cari-cari selama ini." Gumamnya pelan, tapi masih terdengar jelas oleh indera pendengaran Sandy.
"Dokter Alexa ?" Tanya Sandy antusias. Ia beralih dan menatap Reno tanpa berkedip.
"Kenapa kau tampak Semangat jika bicara soal Alexa ?" Reno mengerutkan keningnya, lalu membuang tubuh di atas sofa.
"Alexa ? Kau saja sudah tidak menggunakan gelarnya ketika menyebut nama wanita itu. " Sandy mengikuti langkah Reno. Ia duduk di sampingnya menanti cerita cinta yang sudah lama di nanti. Persis seperti bocah kecil yang bersiap mendengar sebuah dongeng putri kerajaan dari mamanya.
"Aku hanya malas saja harus menggunakan gelar. Lagian, aku dan dia tetap lebih tua aku." Gerutu Reno beralasan.
"Benarkah ?" Reno hanya tersenyum-senyum menggoda.
------------
Keysha baru saja turun dari mobil dan tengah menunggu seseorang di teras perusahaan. Ia berulang menoleh ke kanan dan kiri. Berharap penantian kali ini tidaklah menyita waktu yang lama.
"Selamat pagi Nyonya Keysha. " Sapa seorang Security dengan ramah. Ia menunduk memberikan salam hormat.
"Selamat pagi pak." Jawab Keysha seraya mengukir senyum manis.
"Apa Nyonya sedang menunggu tuan Sandy ? Mau saya panggilkan ?" Serunya menawarkan bantuan.
"Oh tidak ...Tidak ...terima kasih pak." Ujar Keysha melambaikan tangan.
"Sorry kak, Audrey telat." Seorang gadis cantik tiba-tiba datang menepuk bahu Keysha dengan pelan. Penampilan sangat sangat elegan dan menarik perhatian. Keysha terdiam sejenak untuk meyakinkan diri jika yang tengah berdiri di depan matanya adalah Audrey, adik kecil yang suka merengek dan meminta pembelaan darinya ketika bertengkar dengan abangnya.
"Audrey ?" Keysha meyakinkan diri.
Audrey mengangguk cepat, lalu membuka tangan dan mengulurkan dekapan yang telah lama tidak ia lakukan. "Audrey kangen banget."
"Kakak juga." Keysha membalasnya dengan mesra. Mereka lama saling bercurah dan melepas rindu karena bertahun-tahun lamanya tidak saling bertemu. Mereka menikmati jalan hidup yang di ambil masing-masing. Jarak, bahkan komunikasi yang cukup memisahkan, membuat keduanya tidak hanya sekedar melepaskan kerinduan yang mencekik tenggorokan.
"Kenapa tidak bilang kakak jika kamu pulang ?"
"Tadinya aku mau kasih kejutan, karena mama bilang kak Sandy bakal jemput. "
"Oh..Maaf Audrey kemarin ada sedikit kendala. Jadi kak Sandy tidak sempat untuk menghubungi mama. " Seru Keysha memberi penjelasan.
"Tidak masalah kak. Yang penting kan kita sudah ketemu sekarang. Audrey benar-benar rindu sama kakak." Audrey kembali membenamkan wajahnya di sela leher Keysha. Berlama-lama bermanja di sana, menghangatkan hati yang telah lama tidak saling bersentuhan.