I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Menghilang



Tap tap tap


Suara sepatu Sandy nyaring terdengar di ruang kerjanya. Suara berbalik seperti meledeknya, ah iya suaranya memantul dan itu memancing emosinya. Ocehan bibir tipisnya tak berhenti meskipun dia telah sampai di lantai atas. Sebelumnya semua karyawan yang menurut dia tidak benar akan di omeli, memuaskan nafsu dan menyalurkan amarahnya. Sandy benar-benar hancur tanpa Keysha. Langkahnya mematikan, membungkam setiap lidah yang tadinya bisa bercengkrama dan saling melempar canda. Kini semua terdiam, menunduk dan tak berani menatap lelaki arogan di depan mereka. Sandy lebih seram dari lima tahun yang lalu, saat Cherry menghianatinya. Dia benar-benar merubah dirinya menjadi liar dan seenak jidatnya. Dia tidak lagi mengenal cara menghargai orang lain, bahkan dia lupa cara berbuat lembut terhadap wanita. Uh, Keysha..... Semua karena kau!


Braaakk


Pintu dibanting sesuka hatinya, jas yang baru saja dia lepas dari tubuhnya dilempar tanpa arah.


"Wih sob, kejutan apa yang dikasih sama Cherry. Girang amat" Yang tanpa kesadaran Sandy, Reno telah berada di ruang kerjanya. Memutar kursi kebesaran Sandy yang sedari tadi dia duduki. Tatapannya meledek, seolah paham kejadian apa yang baru saja Sandy alami.


"Gila Kamu! Dasar kutu" omel Sandy dengan keras. Matanya melotot penuh emosi.


"Kamu kenapa sih men? Kamu sendiri kan yang bikin janji sama Cherry? Sekarang kenapa marahnya sama aku coba?" Reno membela diri. Dia membenahkan pakaiannya sembari berjalan kearah Sandy. Paham sekali dia, dilema yang membayangi Sandy berawal dari kesalah pahaman yang memisahkan dia dan Keysha. Namun Reno enggan beramsusi dan membahas hal itu. Semua akan memancing keributan dan perdebatan yang sulit di reda.


Sandy memanglah lelaki yang sudah berumur, dia menikahi gadis SMA yang notabennya berselisih usia dengannya. Benar memang, usia tidak menjamin kedewasaan seseorang. Semua bergantung pada pola pikir dan lingkungan. Ke tertekanan batin yang di dera Key menuntutnya agar bisa lebih dewasa dari usianya. Bahkan dia harus merelakan masa remajanya, masa bersenang-senangnya demi keluarga. Keysha terpaksa menikah di usia dini dengan seorang lelaki yang dari awal tidak dia cintai, yang kemudian mampu membuatnya merasa beruntung bisa berada di samping lelaki itu, bahkan mampu membuatnya luka dalam atas permainan yang lelaki itu buat.


Sementara Sandy? Dia memang cinta pada Key, sulit untuk diungkap sedalam apa rasa yang dia miliki. Namun semua nya harus hilang dan hancur karena keisengannya. Ingin memberi kejutan dengan cara menyakiti terlebih dahulu. Dan itu, childist menurutku. Well, sudahlah! Dengan mengingat yang sudah berlalu tidak ada membuatnya menjadi lebih baik bukan? Yang ada hanya akan kembali terluka dan menyesali. Jika memang jodohnya dia pasti akan kembali. Sandy, berdoa saja!


Tut tut tut


Sudah terlalu lama Sandy tidak mendengar suara wanita itu, wajahnya juga sudah semakin menjauh dari pandangan matanya. Rencana liburan yang dia bangun pun hancur karena Keysha memutuskan untuk tidak lagi hadir di kehidupan Sandy. Dia entah kemana, sedang bersama siapa, senangkah? Sedihkah? Sandy sudah tidak lagi mengerti tentang itu. Dia sudah Mengitari setiap penjuru kota, bahkan desa yang Yeni tinggali, masih saja, Nihil! Tidak ada aroma Key tinggal di antara mereka. Dia benar-benar hilang, bak ditelan bumi. Tanpa kabar bahkan tanpa jejak. Yeni pun tidak tahu menahu dimana Keysha tinggal, dia hanya akan sesenggukan dan terisak meratapi putrinya yang tidak lagi memberinya kabar. Apa benar dia tidak tahu? Ah, mana mungkin Key setega itu? Sandy selalu bertanya dengan hatinya mengenai kejujuran Yeni. Tapi, dia tidak berhak lagi mendesak wanita tua ini.


Bersambung........