I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Pertemuan



Reno dan Keysha saling melempar canda di sela percakapan mereka. Sebuah persahabatan yang terjalin indah tanpa sengaja. Reno selalu menganggap Keysha adalah seorang adik yang harus selalu di jaga olehnya, pun dengan Keysha, ia selalu menganggap Reno adalah kakak kandung, yang harus selalu ia bantu dalam setiap kesulitan hidupnya. Salah satunya, perihal jodoh yang terbaik. Keysha berpikir Dokter Alexa adalah orang yang tepat untuk Reno.


Mereka menyesap habis cokelat hangat yang tersaji di atas meja. Tidak menyisakan selain bercak berwarna cokelat yang menempel di sisi-sisi cangkir.


Keysha membaca pesan yang masuk di ponselnya, lalu tersenyum simpul ketika kembali meletakkan ponsel di atas meja.


"Sandy sudah mau ke sini ?" Tanya Reno penasaran.


"Tidak," Keysha menggeleng cepat. "Dokter Alexa sudah mau datang. Aku akan tunggu di atas, kamu masuk jika aku sudah menyelesaikan urusan ku. Nanti, aku akan pura-pura menerima telepon dan meninggalkan dia sendiri di ruang kerjaku." Keysha memberi instruksi dengan jelas. Mengatur sebuah rencana yang akan memberikan waktu luang untuk Reno mengeluarkan segala gundah yang mengancam jiwa, menyakiti hati, bahkan mendorong keras dada hingga terasa sesak tidak terkira.


"Ok, " Sandy membuat bulatan dengan jari telunjuk dan jempol nya. Mengatakan iya, sesuai dengan kata yang terlontar dari balik bibir tipisnya.


Keysha beranjak dari duduknya, ia meraih ponsel dan membiarkan dua cangkir kotor itu tergeletak di sana. Entah sengaja, atau memang waktu yang memburu dan memaksanya segera berlalu dari lantai dasar. Sandy tidak beranjak, ia hanya menggeser tubuh untuk membelakangi pintu masuk. Setidaknya akan menutup kemungkinan Dokter Alexa melihatnya. Gadis itu sangat jeli, ia tidak terlalu peduli dengan orang-orang yang tidak ia kenal. Bukan berarti ia orang cuek, tetapi baginya ia tidak perlu terlibat dengan urusan-urusan orang sekitar, atau harus memperhatikan lingkungan yang hanya ia singgahi untuk lewat.


Benar saja, tidak berselang lama, Dokter Alexa sudah berada di halaman depan. Ia memarkirkan mobil berjajar dengan mobil-mobil yang mulai berdatangan dan memadati butik Keysha. Melangkah dengan tegak dan menoleh ke arah yang tidak membuatnya tertarik. Ia sempat tertegun di depan pintu, lalu menyapa seorang yang tengah berdiri menyambut nya.


"Selamat pagi, nona ..."


"Pagi, Ibu Keysha nya ada ?"


"Oh ada...Anda Dokter Alexa ? Karyawan itu melontarkan kata tanya dengan ramah. Meyakinkan diri jika siapa yang sedang ia nanti bukanlah orang yang salah. Dokter Alexa bukanlah orang asing di butik itu, tapi ia datang tidak se rutin Sandy dan Reno. Bahkan customer lain yang berulang kali datang pun, tetap saja mereka pertanyakan namanya jika ada janji dengan Keysha.


"Iya, benar." Dokter Alexa mengangguk seraya tersenyum manis nan tulus.


"Silahkan masuk Dokter Alexa, ibu Keysha telah menunggu anda di ruangannya." Tutur nya masih dengan kepala yang menunduk wujud hormatnya.


Dokter Alexa telah mengayun langkahnya, dengan sigap ia telah menapakkan kaki di barisan anak tangga yang berjajar dengan rapi. Menjulang tinggi, menjadi penyambung dua lantai yang sangat megah. Ia tidak peduli dengan orang-orang yang berlalu lalang di sana, baginya mereka semua adalah orang yang berniat sama dengan niatnya. Untuk apa curiga dengan lingkungan yang tidak merugikan kita ? Sudah jelas, mereka datang karena berniat untuk membeli baju bukan ? Pekik Dokter Alexa dalam hati.


Perempuan itu telah tiba di lantai atas, ia sempat tercengang dengan barisan gaun-gaun pernikahan yang berjajar tapi di sana. Terpajang dengan indah dan melekat pas di tubuh-tubuh patung yang sangat cantik. Dokter Alexa membelainya satu persatu, menyempatkan diri untuk melihat karena rasa kagumnya yang memuncak. Keinginan kuat dari hati yang mendorong untuk memiliki salah satu dari gaun itu.


"Dokter Alexa ..." Entah sejak kapan Dokter Alexa berdiri di ambang pintu. Ia sedang tersenyum melihat ke arah Dokter Alexa yang tidak berhenti melayangkan pujian untuk setiap hasil dari desain sahabatnya.


"Key ? selamat pagi." Dokter Alexa terperanjak kaget, ia segera menyudahi penelusuran nya pada gaun-gaun yang sangat ia minati. Menghentikan hati yang memaksa segera membeli. Ah, untuk siapa ? Pasangan saja aku belum punya, untuk apa membelinya ? Dokter Alexa bergidik geli dengan tingkahnya sendiri.


"Silahkan masuk Dok, " Keysha berdiri memegangi gagang pintu. Mempersilakan Dokter Alexa masuk dan menunggunya melangkah terlebih dahulu.


"Sudah berapa kali aku bilang, panggil saja aku Alexa ...." Protes Dokter Alexa kepada Keysha.


"Haha...Baiklah do....ah Alexa, aku akan membiasakan diri memanggilmu Alexa, " sahut Keysha dengan tawa ringan.


Mereka duduk saling berhadapan. Membicarakan hal serius mengenai gaun yang di pesan oleh Dokter Alexa. Keysha beranjak dari bangkunya setelah menutup buku besar di hadapannya.


"Ini punya mama kamu, ini punya adikmu, dan ini....ini punya kamu. " Keysha menyerahkan tiga gaun yang berbalut plastik.


"Kamu coba dulu," perintah Keysha, ia menunjuk pada ruangan kecil yang berada di sudut ruang kerjanya. Dokter Alexa hanya mengangguk lalu berjalan menuju arah yang Keysha tunjukkan.


"Alexa, aku angkat telepon sebentar ya, kamu coba-coba dulu saja. Jangan lupa beritahu kalau ada yang kurang pas, "


"Siap Key, "


Keysha sengaja berpamit keluar dari ruangan, ia tidak ingin membuat sahabat yang baru saja dekat dengannya itu kecewa berlebih karena ia tidak mengatakan jika ia hendak keluar. Dengan cepat, Keysha memberi instruksi kepada Reno, membiarkan pria itu masuk dan menanti Dokter Alexa dengan gaun cantiknya.


Mereka sudah bertukar posisi, Reno tengah menanti perempuan itu dengan penuh harap. Duduk di kursi Keysha dan memutarnya membelakangi ruangan yang di tempati Dokter Alexa.


Gadis itu sudah keluar, ia sibuk menunduk memperhatikan dirinya sendiri. Rambut yang tergerai ia bawa ke salah satu bahu, memperlihatkan penampilan yang lebih anggun dari sebelumnya. Perfect. Keysha benar-benar sukses dengan hasil tangannya.


"Key, gimana ?" Ucap Dokter Alexa dengan nada antusias.


Reno tertegun saat ia memutar kursinya. Tidak terbiasa melihat wanitanya dengan pakaian yang melekat anggun seperti saat itu. Dengan raut yang masih terpana, Reno mengangkat tubuhnya dengan perlahan.


"Luar biasa, "


Dokter Alexa tidak menyadari jika Reno lah yang berada di hadapannya. Ia segera menoleh pada sumber suara yang sedang memujinya dengan tulus.


"Reno ? Keysha mana ? Kenapa kamu ada di sini ?" Dokter Alexa memberondong Reno dengan rentetan pertanyaan yang menyelinap masuk ke dalam otaknya.


"Keysha sedang...."


"Ah sudahlah tidak penting, aku akan keluar." Dokter Alexa berbalik, berniat berganti pakaiannya dengan baju yang ia kenakan sewaktu datang ke sana.


Dengan cepat, Reno segera menggapai lengan perempuan itu. Menangkapnya, dan menggenggam dengan kuat. Reno sengaja sedikit menarik Dokter Alexa hingga membuatnya beringsut dan terjatuh di pelukan tubuh Reno.


"Aku sangat merindukan mu..." Reno memejamkan mata sejenak, menikmati sapaan hangat yang menyapa jiwanya.


"Lepaskan Reno !" Dokter Alexa segera menyadari itu, ia terus meronta dan berusaha melepaskan diri dari cengkraman lelaki yang ia anggap milik perempuan lain.


"Alexa, kenapa kamu ingin sekali menjauh dariku, hei ? "


"Reno, memang seharusnya kita seperti ini. Aku tidak bisa selamanya dekat dengan mu..."


"Apa maksudmu ? Alexa, katakan dengan jelas !"


Air mata yang telah lama ia tahan mulai mengalir bebas, membasahi kedua pipi ranum yang tampak memerah.