I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Masa Lalu



Itulah tujuan sebuah nasihat tentang ucapan, tentang cara pandang, atau lebih tentang sikap kita terhadap orang lain. Terkadang, yang kita nilai buruk, justru adalah sesuatu hal mulia di mata Tuhan. Buruknya, kita selalu berjalan tanpa berpikir. Melangkah tanpa berjaga-jaga. Dan akhirnya, sesal yang menjadi raja.


🌱🌱


" Apa aku boleh mengajak Keysha ?" tanya Sandy kepada Reno, ketika mereka sedang perjalanan menuju ke cafe Bintang, tempat favorit ketika mereka berkumpul.


"Tentu, asal...." Reno melirik, mengedipkan sebelah matanya seolah-olah mengajukan sebuah syarat.


"OK, baiklah. Aku mengerti, " jawab Sandy cepat.


Reno kembali fokus dengan kemudinya. Melaju dengan kecepatan sedang . Melesat, menerbangkan dedaunan yang berserakan di jalan.


Sandy sibuk dengan ponselnya, mengetik untuk mengirimkan pesan singkat kepada Keysha. Tidak tertinggal, sebuah syarat yang Reno pintakan, lengkap sudah Sandy sematkan dalam pesan. Tidak aneh, hanya sebuah permintaan tanpa dokter Alexa. Baik raga, maupun hanya nama. Paham kan ?


Reno memang sedang berproses. Belajar menjadi pribadi yang tidak memaksa kehendak, apalagi perihal wanita. Hatinya, tidak lepas dari ikatan yang membuatnya terpaku dengan dokter Alexa. Ikatan yang hanya hatinya sendiri yang menyaksikan. Sebuah pengakuan, tanpa melibatkan dokter Alexa. Yang ia ketahui, perempuan yang ia kagumi sedang berusaha menjauhi, melarikan diri. Buruknya, ia sangat terlihat sangat tidak nyaman ketika bersanding dengan Reno.


Lima belas menit perjalanan yang mereka tempuh. Kini Reno telah menempatkan mobilnya di antara jajaran mobil-mobil mewah yang tampak sedang berkunjung ke sana. Memarkirkan sesuai tempat yang di arahkan oleh seseorang bapak tua yang bertugas di sana.


"Ayo, " Ajak Sandy. Mereka berjalan beriringan, melewati halaman cafe yang memiliki taman kecil yang terlihat indah. Tatanan singkat, cukup menyejukkan setiap pasang mata yang melihat.


Apalagi dekorasi dalamnya, sungguh membuat takjub setiap pengunjung. Air-air mengalir di bawah alas kaca yang mereka injak. Memperlihatkan ikan-ikan yang penuh warna berlarian di sana. Memercik air menambah ketentraman dalam hati. Menyentuh hati, mengalirkan sebuah garis damai.


Sandy dan Reno menuju sebuah bangku yang selalu mereka tempati. Berada di sudut ruang, dengan tatanan yang lebih nyaman. Reno menunjuk beberapa menu yang ia minati. Begitu juga dengan Sandy.


"Itu Keysha..." Ucap Reno, ia menunjuk arah pintu utama. Terlihat Keysha sedang berjalan ke arah mereka. Mengayun kaki dengan senyuman yang menawan. Keysha selalu membalas sapaan yang di layangkan setiap pegawai di sana.


"Sayang di sini, " teriak Sandy. Ia berdiri, memberikan kode agar Keysha melihatnya.


*_* *_*


"Hai Shin, bagaimana keadaan mu ?" Vino masuk ke dalam ruang perawatan Shinta. Ia membawa bingkisan kecil yang berisikan beberapa buah-buahan.


Shinta menoleh, melempar pandangan sedih, ketika matanya bertemu dengan mata Vino.


"Kenapa ? Apa kau merasa sakit ?" tanya Vino khawatir. Entahlah, apa yang sedang ia cemaskan. Benarkah ia sedang mencemaskan kondisi Shinta ? Atau justru ia hanya cemas dengan pundi-pundi uangnya yang terkapar tak berdaya.


"Jadi, bagaimana janjimu ? Apa kau sudah bisa menepati sekarang ?" Shinta tidak peduli dengan pertanyaan Vino. Justru ia memilih balik bertanya dengan topik yang berbeda.


"Janji ?" Vino mengernyit heran.


"Kau tidak benar-benar lupa bukan ? " Shinta membuang wajah. Ia tersenyum sinis, seolah sedang meremehkan kebodohan Vino. Mengenyahkan sandiwara yang tidak membuatnya tertarik.


"Bukankah Reno puas dengan pelayanan ku ?" imbuh Shinta. Kini, ia mengangkat tubuh. Mendudukkan diri dengan susah payah. Raganya masih terlalu lemah, tapi ia menepis ketika tangan Vino hendak menopangnya.


Davino tertawa lepas, " Oh jadi itu yang kau pikirkan, "


"Baiklah, aku akan memberikan jawaban untukmu, " Vino menarik kursi . Mendudukkan tubuh di samping ranjang tempat Shinta berbaring. Pria itu meluruskan tubuhnya, menarik nafas pelan untuk mempersiapkan diri.


"Jadi, mamamu adalah seorang p e l a c u r ...dan dia...."


"Apa katamu ?" Bentak Shinta tidak terima. Ia berteriak keras seraya memukul lengan Vino agar pria itu menyadari kesalahan bicaranya. Bagaimana tidak ? Lita sudah meninggal, dan pria itu berani menjelek-jelekkan Lita di depan Shinta.


"Apa itu sudah cukup memberi mu penjelasan ? " Vino memiringkan kepala. Melempari senyuman sinis kepada Shinta.


"Baguslah, " Vino mengangkat kedua tangannya. Melipatnya santai di depan dada, ia juga mengangkat sebelah kaki kanan untuk di lipat di atas kaki kiri, lalu bersandar seolah-olah sedang bergurau ria dengan seseorang teman.


"Apa maksudmu Vino ?" Suara teriakan Shinta semakin menggema. Semakin berontak dengan ekspresi wajah Vino yang sangat menatap nya rendah. Menganggap jika Lita adalah manusia laknat yang tidak pantas di hormati.


"Bukankah penjelasan tadi sudah cukup ? Kau tidak ingin mendengarnya bukan ?" Vino beranjak, ia menggeser kuat kursi tempatnya bersandar.


"Vin..." Diraihnya pergelangan tangan yang sudah mengayun hendak mengikuti kemana langkah kaki akan membawa. Davino kembali menoleh, memperhatikan raut Shinta yang penuh permohonan. Berharap pria itu masih bersabar dan berkata dengan kalimat yang jujur.


"Aku tidak suka, ketika aku bicara ada yang memotongnya, apalagi dengan suara keras, "Jelas Vino sebelum memutuskan untuk kembali duduk atau justru menepis tangan Shinta, lalu berjalan meninggalkan ruangan.


"Maaf Vino..." Shinta merunduk pilu.


"Untuk terakhir kalinya aku katakan, mamamu dulu adalah seorang p e l a c u r. Dia bekerja di Club Malam yang kamu kunjungi kemarin. Kerjanya sama seperti apa yang kamu lakukan. Merayu, menggoda, bahkan melayani segala yang di minta pengunjung. "Davino berhenti, ia memperhatikan raut wajah Shinta yang semakin merunduk. Air matanya berlinang, semakin tidak mengerti dengan jalan kehidupan yang tidak pernah ia bayangkan runyamnya.


"Tidak masalah Vino, lanjutkan saja..." ucap Shinta lirih, ia menyadari jika pria itu sedang tertegun menatapnya. Berhenti karena melihat mata sembab yang tidak kunjung mengering.


Vino mengangguk pelan, tanda mengerti dengan kata-kata Shinta. Ia mulai melanjutkan kalimatnya, menyambung cerita yang masih menggantung. Belum memberikan jawaban yang jelas, mengenai alasan kenapa Shinta harus di jadikan tawanan.


"Puncaknya, ketika mamamu memiliki kekasih di luar Club Malam. Lita semakin susah dan tidak tepat waktu. Pelanggan tetap nya tidak bisa bersabar dan harus selalu menunggu kedatangan Lita. Haris semakin hari, tingkahnya semakin menyebalkan. " Sungut Vino menirukan gaya ayahnya ketika bercurah kepadanya. Ekspresi serupa, terlukis dengan mata arogan yang menakutkan.


"Mamamu hamil, entah sama pacarnya atau justru pelanggannya. Ia bersembunyi di rumah papa, tinggal di sana sampai putrinya lahir. Putri yang malang, lahir tanpa seorang ayah, bahkan tidak jelas siapa ayah kandungnya sebenarnya, " Vino tersenyum sinis. Ia menyeringai, memainkan dua jemari yang menyatu di depan wajah.


"Maksudmu ?" Shinta perlahan mengangkat kepala, mendongak seperti menahan sebuah pertanyaan yang menyesakkan dadanya.


"Ya, kamulah anak itu. " Vino beranjak, ia mendorong wajahnya ke depan. Menghampiri Shinta, lalu menyesap lidahnya sekilas. Shinta masih tercengang, tidak habis pikir jika Danu belum tentu orang tua kandungnya.


"Setelah beberapa bulan kelahiran mu, Lita memberanikan diri bertemu dengan kekasihnya. Mengatakan tentang dirimu, tentang hubungan gelap mereka. Bahkan menyelipkan sebuah pembohongan bukti dari tes DNA yang di lakukan kepadamu. Bodoh sekali, lelaki itu percaya. Dia memilih perempuan murahan itu dan meninggalkan sebuah berlian. " Tawa Vino menggema, memantul dan kembali menyapa telinga.


"Jadi, kau paham bukan kenapa aku dan papa Remon, menjadikanmu sebagai tawanan ?" Vino menyeringai, ia m e r e m a s bagian dada yang menonjol milik Shinta, lalu melangkah keluar ruangan. Meninggalkan sebuah tanda tanya yang menggantung. Tidak peduli dengan isakan tangis, yang mendengarkan cerita yang menyakitkan . Vino acuh, ia benar-benar tidak ingin menggubris anak itu. Biarlah, biar dia menyelesaikan penyesalan bahkan semua rasa yang tidak seharusnya ia bebankan di saat-saat seperti ini.


"Mama, benarkah ? Apa semua yang Vino ceritakan adalah sebuah kenyataan ? Kenapa mama tidak pernah bicara ? Siapa ayahku ma ? Siapa !" Shinta mengusap rambutnya frustasi. Ia memberondong diri dengan rentetan pertanyaan yang tidak kunjung menemukan jawaban. Tangis, hanya tinggal air yang mengalir, tanpa perumpamaan yang bisa mengulangi. Semua berlalu, semua telah hilang, semua sudah jelas tidak akan bisa di cari jejaknya.


*_*


"Ren, ada yang ingin aku tanyakan padamu, " Panggil Keysha ketika Reno telah melangkah, dan hendak memasuki mobilnya. Keysha kembali menutup pintu mobil, lalu berlarian kecil ke arah Reno.


"dokter Alexa ?" tanya Reno penuh selidik.


Keysha terkekeh geli, " Bukankah kau sudah berpesan pada Sandy ? "


"Baiklah, aku mau bertanya tentang kamu dan Audrey, apa benar kalian sedang menjalankan bisnis bersama ?" Keysha tampak serius, ia menatap Reno dengan jeli.


"Oh itu benar, " Reno tersenyum simpul.


Mereka berbicara singkat mengenai itu. Semua, dari modal awal hingga pembagian hasil. Sumber-sumber yang berkaitan, dan juga rencana yang sempat Audrey ceritakan terhadapnya.


"OK, aku percaya padamu Ren, aku pamit dulu ya . Assalamualaikum..." Pamit Keysha. Ia memutar kembali arah kakinya.


"Wa'alaikum salam..." balas Reno pelan.


"Alexa sangat merindukanmu. Temui lah dia, " Keysha tersenyum sinis, kemudian berlalu meninggalkan Reno yang masih mematung di samping pintu kemudi.