
"Jadi mau menikah kapan ni kalian ?" ucap Chandra dengan nada menggoda, membuat dokter Alexa yang sedang menyesap minumannya tersedak.
"Pelan-pelan nak, gak usah kaget gitu. " Imbuh Meera. Ia terkekeh kecil menyaksikan tingkah dokter Alexa yang mendadak salah tingkah. Semakin tidak bisa tenang dengan duduknya. Ia berulang kali bergeser, merubah posisi duduk.
"Reno mau secepatnya om, tapi ya tergantung Alexa..." ucap Reno yakin.
"Nanti kalau kakak nikah, kita tinggal terpisah dong ma ?" Naura memandang Febi dengan pandangan sedih. Ia tidak menyadari jika semua pasang mata menatapnya iba. Ya, semua menyadari betapa sayangnya gadis itu terhadap dokter Alexa. Ialah hidupnya, salah satu dari dua manusia yang selalu ia sebut dengan istilah malaikat. Naura sudah mendengar sedikit cerita jika ia bukanlah anak kandung Febi, tapi karena perempuan itu tidak pernah membeda-bedakan kasihnya antara ia dan dokter Alexa, Naura tidak pernah ingin mendengar lebih dalam lagi mengenai hal menyedihkan di masa kecilnya itu. Semua ia biarkan berlalu, semakin hilang dan hilang terkikis waktu. Mengenai harapan untuk berjumpa dengan orang tua kandungnya, ia selalu sempatkan untuk meminta kepada Allah karena ada pertanyaan yang telah Naura siapkan untuk memberi kejutan dua manusia durhaka itu.
"Kan kita bisa main ke rumah kakak kalau kita kangen..." jawab Febi lembut, ia mengusap kepala Naura penuh kasih. Hatinya teriris mendengar kata yang selama ini ia takutkan. Bagaimana ? Ah, mungkin tak akan sanggup jika benar-benar harus berpisah karena dokter Alexa pasti akan tinggal bersama suaminya untuk menjalankan kewajibannya.
"Tidak akan. " Sahut Reno tegas. Ia beranjak dari bangkunya, menghampiri Naura yang tampak berkaca-kaca begitu membayangkan perpisahan yang sudah menyapa dengan dekat. "Kakak tidak akan memisahkan Naura sama kak Alexa, " ucapannya sungguh menenangkan hati. Sejuk, begitu tepat dengan kemauan yang di harapkan. Naura mulai tersenyum lebar.
"Kakak akan membiarkan aku dan mama tinggal dengan kalian nanti ?" tanya Naura antusias, tanpa sadar ia telah menggenggam tangan Reno, menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam.
"Tentu..."
Adik mana yang tidak akan luluh dengan ucapan calon kakak ipar yang sangat lembut. Pria itu tanpa canggung duduk berlutut di hadapan Naura, gadis kecil yang meninggalkan jejak malang di masa kecilnya. Gadis itu melabuhkan tubuhnya ke dalam dekapan Reno. Ia tidak lagi malu-malu, bahkan sangat mudah akrab dan menyapanya seperti kepada dokter Alexa.
"Naura...." dokter Alexa mengedipkan mata. Memberi kode agar adiknya berlaku sopan karena dia baru saja mengenal Reno. Tidak pantas seorang gadis yang dengan mudah memeluk pria yang belum menjadi bagian dari keluarganya, sekalipun ia masih bisa di bilang gadis kecil.
"Naura, nanti kakakmu cemburu loh !" Audrey sengaja menyematkan kalimat sindiran untuk dokter Alexa. Ia masih ingat betul, bagaimana sikap perempuan itu di awal perjumpaan mereka. Dingin, ketus bahkan sangat menyebalkan hanya karena rasa cemburu yang salah.
Semua menyambut ucapan Audrey dengan tawa lepas. Bukan mencibir, justru semua mengagumi dengan rasa cinta yang telah mengikat hati dokter Alexa. Sebuah perasaan yang muncul, tanpa garis status yang menyatukan.
Malam semakin larut, sudah menunjukkan pukul sebelas lewat sepuluh menit malam. Mereka saling berpamitan, meninggalkan restoran dan kembali ke persinggahan masing-masing.
Sepanjang jalan, Reno tidak berhenti tersenyum, begitu pula dengan dokter Alexa yang berada di mobil yang berbeda. Bayang-bayang kisah yang baru saja usai, terus bergumam dan berputar indah mengitari otaknya.
"Fokus Alexa, jangan senyum-senyum terus. " seru Febi, menegur dokter Alexa yang tak berhenti tersenyum.
"Ih mama, ini Lexa juga fokus kok.." ucap dokter Alexa.
"Kak Reno itu orangnya baik ya ma, pantas saja kak Alexa langsung bilang iya pas di lamar. " Naura yang berada di belakang, menyahuti percakapan dokter Alexa dan Febi.
"Anak kecil, tahu apa sih dengan lamaran ..." seru dokter Alexa.
***
Sudah beberapa hari ini Shinta tidak bekerja. Ia hanya berdiam di dalam apartemen, tapi tidak lagi dengan pintu yang terkunci. Vino memberikan kebebasan untuk perempuan itu, tidak lagi mengekang karena sudah tahu jika Shinta tidak akan kabur karena tidak lagi punya keluarga di luar sana.
Vino tahu, hanya Keysha yang ia anggap saudara, karena memang Lita mengakui jika kehamilan nya itu karena ulah Danu. Namun, tanpa mereka sadari, ikatan itu hanya sebatas di lidah. Tidak ada yang tahu, status yang Shinta yang sebenarnya.
"Apa kamu sudah sehat ?" tanya Vino begitu masuk ke dalam kamar. Ia duduk di sofa, di samping Shinta yang tengah santai menonton televisi.
"Seperti yang kamu lihat..." sahut Shinta santai. Wajahnya flat, ia tetap fokus dengan film horor yang sedang tayang.
"Apa akhir-akhir ini kamu terlalu banyak makan ?" Vino memperhatikan Shinta dari ujung kepala sampai kaki. Ada yang aneh dari tubuh perempuan itu. Terlebih lebih padat dan berisi.
"Tidak...sudah tiga hari aku tidak makan nasi. Kamu tahu kan aku selalu mual setiap kali mencium baunya. " ucap Shinta.
"Aneh sekali..." gerutu Vino.
"Aku juga merasa badanku sangat berat. Rasanya malas sekali bergerak..." Imbuhnya, menjelaskan apa yang ia rasakan beberapa hari terakhir.
"Jangan banyak makan makanan seperti ini ! " Vino merampas snack dari tangan Shinta. Melipatnya rapat, lalu meletakkan begitu saja di meja samping nya.
"Vino...aku mau makan !" rengek Shinta, ia masih berusaha meraih bungkusan snack itu.
"Siapa yang akan tergoda dengan mu jika tubuhmu melar ? Mereka akan jijik melihatmu !" Teriak Vino, tangannya menggenggam erat snack itu agar tidak lagi di ambil oleh Shinta.
"Vino...aku lapar...aku mau makan , " Shinta menatap wajah Vino dengan sedih. berharap pria di sebelahnya itu merasa iba, dan membiarkan ia untuk melanjutkan makannya.
"Aku juga sangat lapar sayang, aku ingin memakan mu sekarang..." Vino menarik dagu Shinta. Mendekatkan bibirnya dengan bibir perempuan di hadapan wajahnya. Dengan cepat, Vino menyatukan keduanya, matanya terpejam, menikmati setiap sentuhan yang kian membuatnya candu.
Tidak ada gerakan penolakan yang Shinta lakukan. Perempuan itu hanya diam sambil memejamkan mata. Tangannya meremas kuat sofa yang ia duduki, merasakan sensasi luar biasa yang Vino berikan. Jemari kekar yang lebih sering menjajah tubuhnya dengan kasar itu menjadi candu tersendiri untuk Shinta.
Mereka saling menyentuh, membiarkan tubuhnya menyatu di tengah hening nya malam. Menggelinjang, merasakan kenikmatan yang selalu di rindukan.
Keringat keduanya mengalir, seirama dengan gerakan yang ia lakukan dengan cepat.