
Keysha meraih tas lalu beranjak. Mengingat jalan setapak yang di lewati Ibnu dan Sandy sebelum beranjak dari tempat mereka. Tidak butuh waktu yang lama, Key sayup-sayup telah mendengar suara putrinya menanyakan tentang hadirnya.
"Lena ... Allan ..."
Semua menoleh, menatap ke arah yang sama. Titik yang menunjukkan adanya Keysha, senyum indah di bawah jilbabnya sungguh menambah keteduhan hati. Semilir angin, membelai lembut ujung jilbab yang ia kenakan.
"Mamaaaaa ...."
Jerit riang dua bocah itu menggema. Indah dan erat mengetuk telinga. Rona terang terpancar teduh di pelupuk mata. Pelukan hangat yang mereka hadiahkan, mengusir jauh resah yang menghujam tanpa alasan.
"Urusan mama sudah selesai ?"
"Allan, jangan sok tahu deh, mama tadi ketemu doang sama temen kecilnya. "
"Iya karena mama ada urusan Lena ! gimana sih."
"Kalian kok lagi senang debat sih." Ucap Key seraya menyentuh hidung kedua bocah itu. Ia tersenyum lebar, seirama syukur yang ia lantunkan di dalam hati kecil.
"Lena tu ma yang mulai."
"Bukan Lena ! tapi Allan ma ..."
"eh sudah sudah... kalian lagi bicara sama siapa sih tadi ?"
Tidak ada yang berlomba menjawab. Mereka hanya memaku dan berdiam diri, dua bola mata itu saling mengadu keluh. Wajah-wajah riang kini menghilang menjadi masam tak sedap di pandang.
"Kenapa pada diam nak ?"
"Mereka hilang mood saat wanita itu datang."
Tidak jelas kapan Sandy berjalan ke arahnya. Tidak terdengar langkah kaki yang semakin mendekat. Ia telah tegak berdiri di samping Keysha, melirik kesal pada wanita yang turut mengikuti langkahnya mendekat ke Keysha.
"Cherry ? "
Keysha segera bangkit dari posisi jongkoknya. Menarik lengan Lena dan Allan untuk sedikit berjarak dari wanita itu. Sus Rina yang melihatnya, dengan cekatan mengajak anak-anak menghindar dari mereka.
"Tidak perlu takut Keysha, aku tidak akan memangsa anak-anak lo yang menggemaskan itu." Cherry membuka mulutnya lebar. Memainkan ujung rambut panjangnya dengan genit. Lisan boleh saja memanggil nama Keysha. Tapi mata jernih itu tak beralih dari wajah tampan Sandy. Dia tidak sadar apa yang terungkap dari lidahnya, yang ia tahu ia akan menjadi wanita anggun jika di depan Sandy. Ya hanya di depan Sandy saja, tidak saat Keysha seorang diri ....
"Sayang, kita pulang. Kasihan anak-anak sudah cukup lelah."
"iya sayang."
Keysha menyambut uluran tangan Sandy, melingkar dengan erat di lengan lelakinya. Mereka berjalan beriringan, meninggalkan Cherry dengan sejuta rasa kesal. Kalimat demi kalimat ia lantunkan tanpa permisi. Hentak kesal mengirama kata kasar yang terlontar. Oh, Cherry malang. Sudahi rasamu untuk hidup yang lebih baik, mungkin kau akan lebih tenang setelahnya. Well, nasihat hanya akan menjadi kata yang tersirat, tak tertulis bahkan secepat angin berlalu. Ia mungkin saja seakan diam mendengarkan, nyatanya lagi dan lagi dia akan mengulang hal yang sama, menjatuhkan diri dalam lubang dosa yang besar kubangannya. Hmm, kurasa kau akan makin sulit untuk keluar dari lubang itu Cherry .Entahlah ! percuma ...
------
"Kau sangat lama berbicara dengan wanita itu sayang, tentu kau sangat senang hari ini?"
"Maksudmu Rania ?"
"hmm "
Hati yang tengah berbunga-bunga, selalu membawa pikiran positif bagi yang merasakan. Keysha menoleh dan mendapati Sandy yang tak juga menatapnya saat mempertanyakan rasanya. Ia sibuk dengan pemandangan di sekitar jalan. Menggoreskan ujung jari di sisi kaca yang berembun.
"Kamu tidak menyukai jika aku senang ?" Keysha bertanya dengan serius. Ia menekan setiap kata yang sengaja ia lontarkan dengan datar. Matanya nanar menatap lelaki itu, seakan tak mengizinkan mata itu berbohong dan menyembunyikan sedikit rasa dari dirinya.
"Bu ... bukan sayang." Sandy bingung, tak mengerti bagaimana merangkai kosa kata guna menjawab pertanyaan itu. Ia tahu, ini adalah hal sepele yang jika di lanjutkan akan menjadi petaka untuk mereka. Perdebatan mungkin saja tidak bisa di hindari.
Hati Sandy sudah bergerumuh, sesak dengan keinginan memberi tahu semua niat buruk Rania. Tapi, setitik saja dia belum menemukan bukti, bahkan Ibnu pun masih meminta waktu untuk membuktikan tuduhan itu.
"Kamu masih tidak mempercayainya ? dia sangat baik San." Keysha terus saja menggerutu. Mengeluarkan kata-kata maut untuk membela Rania.
Keysha menyipitkan mata, menatap Sandy semakin tajam. Mengiris tajam, membuat aliran darah terhenti seketika.
hentikan tatapan mu itu, hei ..apa kau sangat ingin membunuhku hanya karena wanita picik itu ...
"Kau tidak sedang menyembunyikan apapun dariku bukan ?" Seperti sedang menagih sesuatu, Keysha bertanya dengan nada menuntut.
"ti tidak sayang. percayalah ..." Sandy menjawab dengan suara terbata. Suaranya seperti tertahan di tenggorakan, sulit untuk ia dorong keluar dengan cepat.
Semoga saja wanita ini tidak meragukan itu ..
Petang semakin cepat meraba, menutup mentari membuka rembulan. Kemerlap bintang indah, berkedip mesra di angkasa luas. Semilir angin melengkapi ketenangan yang ada. Suara binatang malam yang sangat khas, menyambut kedatangan mereka.
Allan dan Lena telah lelap dalam tidurnya, merajut mimpi bersama indahnya hari. Lelahnya raga, tak lagi memaksa jiwa untuk kembali bersuara.
"Selamat malam sayang" Keysha meninggalkan kecupan sayang di sana. Di kening-kenjng kecil yang selalu ia rindukan tatkala jauh. Usapan lembut mengiringi panjatan doa yang ia semogakan dalam hati.
Ia menarik selimut hingga menutup sebagian tubuh Lena, menyibakkan rambut panjang yang mulai menutup bagian wajah milik Lena. Tak tertinggal dengan Allan yang sudah berlayar di balik mimpi, membelakangi Lena yang mengukir senyum di bawah sadar.
"Mereka tidak juga bangun ?"
Sudah menjadi hal yang terbiasa bagi Sandy muncul tiba-tiba dan tanpa suara. Hadir di balik badan Keysha, dan memotong angan dengan kalimat yang mengejutkan ...
"Apa kamu bisa jalan dengan sedikit suara. Kau selalu saja membuatku kaget tiba-tiba." Protes Keysha kesal. Ia segera beranjak dan mematikan lampu dengan menyisakan satu lampu tidur di antara Lena dan Allan. Mengayun langkah keluar tanpa menutup rapat pintu kamar.
Rina dan Dwi belum masuk, setidaknya akan terdengar ketika ada yang tiba-tiba bangun diantara mereka ...
Dua langkah di depan pintu kamar pribadinya, Sandy meringis memegangi perut yang sudah tak sanggup lagi untuk ia tahan. Tangannya meraba-raba tembok, menopang tubuh yang sudah sulit ia kendalikan. Sesekali ia bersandar di sana, menyeka keringat dingin yang sudah membasahi keningnya.
bruuuggggg
beberapa benda yang tertata rapi di meja kecil di antara kamar itu saling berjatuhan. Menyebar luas, tak berada di tempat semula.
"Sandy ......"
Jerit Keysha tak bisa lagi di tahan. Suara yang menggema, memanggil seluruh penghuni rumah yang mendengar. Rasa panik, semakin membuat tangannya bergetar hebat, jantungnya terpompa dengan detak yang tak beraturan. Semua ikut bingung, tidak mengerti dengan apa mereka harus berbuat. Sandy menolak saat Yeni berlari menghampiri telpon dan hendak menghubungi dokter.
"Aku ngga apa-apa sayang. Mungkin karena aku terlalu lelah. Untuk apa kamu menangis ? dasar cengeng ! " Dengan sisa tenaga yang masih ada Sandy mencoba bangkit. Menguatkan diri demi wanita yang tengah menangis di hadapannya. Senyum yang di buat-buat itu tak bisa menutup pucatnya wajah yang tergambar.
"Kamu sakit San, kenapa kamu berbohong !" Isak tangisnya semakin menjadi. Menerjang ketakutan yang semakin menekan hati.
"Apa kamu sangat menginginkan aku sakit ?"
Terus saja berkilah, Sandy sungguh tak rela melihat wanitanya menangisi sakitnya.
"Aku tidak apa-apa sayang." Sandy menarik nafas dalam-dalam. Jemarinya perlahan mengarah ke pipi yang masih berderai air mata. Si sekanya dengan halus, tanpa meninggalkan setitik duka di sana. Dengan senyuman tulus, Sandy berusaha meyakinkan.
Sial, kenapa tiba-tiba perut ini tidak bisa terkontrol. Batin Sandy berjalan masuk ke kamar dengan langkah tegap. Ia meninggalkan semua orang yang masih nanar menatapnya. Rasa panik dan cemas jelas tergambar di pantulan bola mata yang terus mengintai tubuhnya. Hei, aku bukan nara pidana yang kabur dari tahanan. Hentikan tatapan yang sama sekali tidak menyamankan itu.
"San ,kamu yakin sudah membaik ? apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit buat memastikan kesehatan mu ?" Ada seberkas kekhawatiran di sorot matanya. Setiap kata yang terangkai menjadi kalimat yang cemas.
Sandy menanggapi itu, memandang lekat garis yang belum bisa menenangkan jiwanya sendiri. Debar jantung yang terus terpompa akan rasa takut. Sandy melepaskan jilbab yang masih rapi membalut kepala Keysha, di sibaknya rambut yang mulai berjatuhan menutup wajah, untai demi untai ia selipkan di balik telinga Keysha.
"Tidurlah sayang, kamu pasti lelah sehari ini " Suara Sandy melembut, mengusir halus rasa takut yang masih bergelut dengan hati kecil Keysha. Ia membaringkan tubuh, bersamaan dengan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.
Bayangan akan kesakitan yang Sandy rasakan terus terngiang jelas di benak Keysha, seolah di ingatkan kembali membuat tubuh wanita itu bergidik ngeri.
"Kamu kedinginan ?" rupanya Sandy menyadari gerakan istrinya dan langsung salah mengartikan. Ia merapatkan tubuhnya dengan menarik pelan pinggang ramping Keysha. Mengeratkan pelukan tanpa penolakan. "Lekas tidurlah ! hari sudah malam."