I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Bertemu di butik



Mobil mulai memasuki halaman butik, berjalan kian melambat dan terparkir rapi dengan jajaran beberapa mobil mewah yang berkunjung ke butiknya.


Keysha melenggang masuk tanpa menunggu suaminya. Ah, sudah tidak sabar sekali rasanya dia ingin menghirup udara segar di dalamnya. Walau pasti akan sangat melemahkan, tapi Keysha sangat senang dengan pekerjaan yang dia pilih.


"Bu, ada yang menunggu semenjak pagi." Ujar seorang karyawan tergesa-gesa. Ia bahkan lupa untuk mengucapkan salah atau sekedar ucapan selamat pagi untuk memulai pembicaraannya.


"Menunggu ? Siapa ?" Keysha mengernyitkan dahi. Tidak biasa ada seorang konsumen yang rela menunggunya lama. Kebanyakan dari mereka pasti memilih pulang dan membuat janji di kemudian hari.


"Itu ...." Jawab karyawan itu singkat. Jemarinya menunjuk pada sosok perempuan yang tengah duduk di ruang tunggu. Rambutnya tergerai panjang sehingga menutup sebagian wajahnya.


Keysha hanya mengangguk mengerti, ia berjalan tegak untuk menghampiri perempuan itu. Karyawan tadi juga tampak kembali pada pekerjaannya. Dia mulai sibuk merapikan pakaian-pakaian yang sedikit berantakan karena pagi ini cukup banyak konsumen yang datang.


"Maaf, selamat pagi. Ada yang bisa saja bantu ?" Sapa Keysha ramah. Ia sedikit menundukkan badan yang walau belum melihat wajah perempuan itu dengan jelas.


Dia menoleh, matanya bersinar terang dan sangat indah ketika menatap ke arah Keysha.


"Keysha ?" Betapa terkejutnya perempuan itu. Ia meletakkan majalah yang menjadi temannya menunggu semenjak pagi.


"Dokter Alexa ?" Keysha tersenyum. Mereka saling berpelukan hangat.


"Jadi ini butik milikmu ?" Dokter Alexa memperhatikan sekeliling. Ia memutar bola mata penuh kagum. Tidak pernah terlintas jika perempuan sederhana seperti Keysha, memiliki pengetahuan yang cukup luas perihal fashion.


"Beginilah." Jawab Keysha seraya tertawa ringan. "Jadi, apa yang membuat Dokter Alexa rela membuang waktu untuk menungguku ? "


"Butik mu sangat terkenal, dan aku membutuhkan pakaian untuk acara keluargaku dalam waktu dekat." Ucap Dokter Alexa menjelaskan. "Tentu aku tidak mengetahui jika butik besar ini milikmu. Kau sangat tertutup dan tidak terekspos publik." Dokter Alexa mengakhiri kalimatnya dengan tawa kecil.


"Aku hanya berharap mereka datang karena karyaku, bukan karena siapa aku." Jelas Keysha singkat.


Sandy melangkah masuk di pintu utama. Dia menatap sekeliling, mencari keberadaan wanitanya. Tidak lama, kakinya sudah berbelok arah lalu ia tersenyum ketika mendapati istrinya telah bercengkrama dengan Dokter yang merawatnya.


"Dokter Alexa ? Apa sedang mencari Reno ?" Tutur Sandy spontan. Sorot matanya sangat serius, ia tidak berniatan meledek sedikitpun.


"Haha... Tuan Sandy sudah ku katakan aku dan Reno hanya berteman." Jawabnya seraya tertawa lebar.


"Ku doakan semoga kalian berjodoh. "Ucap Sandy.


"Kak Sandy....!" Keysha menoleh kearahnya. Memberinya kode agar segera menghentikan kalimat ledekan itu.


"Reno sangat baik, dia tampan, kaya , sukses, apa lagi yang masih di cari ?" Sandy tersenyum lebar. Ia kian asyik menggoda Dokter Alexa yang mulai tersipu malu. Wajahnya memerah, bahkan dia sulit melempar pandangan untuk membuat diri lebih tenang.


"Sudah jangan dengarkan kak Sandy. Kita ke atas saja untuk melanjutkan mengenai pesanan kamu." Tutur Keysha sopan. Ia mempersilakan Dokter Alexa untuk menapaki tangga menuju ruang kerjanya.


Kini mereka berada di ruang atas. Seperti biasa, Sandy mulai membuka lembaran-lembaran buku yang telah lama tidak terjamah oleh tangannya. Ia memilih duduk di luar ruangan, menatap langsung pada alam semesta yang melukiskan indahnya langit biru.


Keysha mengajak Dokter Alexa masuk. Ia memperlihatkan beberapa desain yang dj buat oleh tangannya sendiri.


"Ini beberapa contoh yang belum pernah orang lain lihat sebelumnya." Ujar Keysha. Ia menunjukkan beberapa lembar kertas.


"Wah, ini kau semua yang membuat ?" Dokter Alexa terpana. Ia benar-benar takjub dengan kelebihan Keysha yang tidak tampak. Betapa mahirnya jari jemari itu bermain-main dengan pensil di atas kertas. Ah, indah ! Ini sangat indah sekali.


"Kenapa kau tidak memasarkan ini di butik mu ? Maksudku, kau buat satu yang sama persis lalu kamu pajang. Itu pasti akan menambah daya tari konsumen mu." Celetuk Dokter Alexa santai. Nadanya tidak lagi ada kecanggungan yang membatasi antara dirinya dan Keysha.


"Aku memilih ini." Dokter Alexa menunjuk pada gambar dress simple, tapi terkesan sangat elegan. "Warna biru laut, untuk adikku dan mamaku nanti akan ku ajak mereka menemui mu."


"Bisa kau perkirakan kapan aku harus menyelesaikan semua ? Aku harus mempersiapkan semua termasuk penjahit yang tidak setiap hari stay di sini. " Tutur Keysha menjelaskan.


"Tenang saja. Aku akan mengenakan itu dua bulan ke depan di pesta pernikahan sepupuku."


"Baiklah, akan ku usahakan untukmu."


"Terima kasih Keysha....."


Keysha tersenyum, ia juga mengangguk ringan mengiyakan apa yang diucapkan Dokter Alexa.


"Nanti ketika aku menikah, aku akan meminta kamu menjahit gaunnya untukku. "


"Benarkah ? Itu suatu penghormatan untukku."


Dokter Alexa tertawa, "Kamu bisa saja. Seharusnya aku yang mengatakan itu karena kau merupakan istri dari pengusaha tersukses di kota ini."


Mereka saling menatap lalu kembali terkekeh geli. "Apa kau sudah menentukan tanggalnya ?" Ucap Keysha dengan pelan.


"Tanggal ? Maksudnya ?" Dokter Alexa mengerutkan keningnya. Ia tidak paham dengan kalimat yang Keysha lontarkan tanpa ragu.


"Pernikahan...."


"Haha....Belum...aku hanya bercanda tadi. Suatu saat jika jodohku sudah datang." Jawab Dokter Alexa sambil tersenyum.


----------


Reno sedang makan siang di tempat yang menjadi favoritnya. Ah bukan favorit, tapi tempat itu sangat strategis dan dekat dari kantornya. Jadi ketika jenuh dengan suasana kantor dan meja kerja dia memilih untuk pergi ke cafe tersebut. Ya, walau terkadang hanya untuk menyeruput kopi hitam.


"Ren...." Cherry tiba-tiba berdiri di depannya. Ia menatap Reno dengan lemas. Mungkin, ia mulai sadar jika raganya tengah menjadi incaran dan buronan oleh orang-orang suruhan Sandy.


"Kau sangat berani ? Apa kau berniat menyerahkan diri ? " Reno menjawabnya dengan datar.


"Ren, aku mohon...Jangan laporkan aku ke polisi, aku sudah cukup takut dengan preman-preman yang Sandy kerahkan untuk memburuku. Aku janji...."


"Stop ! Aku tidak ingin menodai telingaku dengan janji palsu mu." Seru Reno. Ia sengaja memotong kalimat Cherry yang belum selesai. Membiarkan menggantung dengan janji yang hanya tinggal janji.


"Ren...." Cherry menjatuhkan tubuh. Ia memohon dan tidak peduli dengan setiap pasang mata yang mengintai tingkahnya.


"Cherry apa kau lupa jika aku bisa lebih kejam daripada Sandy ?" Reno menyeringai. Ia menerkam kedua pipi Cherry dengan jemarinya. Menariknya dengan sangat kuat, matanya terlihat tajam penuh dengan nada kebencian. "Aku bahkan bisa membunuhmu di sini, dan tidak peduli dengan semua yang melihat nya !" Gertak Reno. Ia melepas cengkraman tangannya di pipi Cherry, lalu mendorong perempuan itu dengan sangat kasar.


Kau sengaja bermain-main dengan singa yang pulas tertidur Cherry, sudah ku pastikan hidupmu akan jauh lebih menderita dari apa yang Keysha rasakan....


"Kau membuat nafsu makan ku hilang !" Seru Reno. Ia beranjak dari bangku, mendorong kursi dengan kasar ke arah belakang. Langkahnya tegap menelusuri jalan menuju pintu utama.


Laki-laki itu sudah berada di dalam mobil. Ia membanting pintu dengan sangat keras, melampiaskan segala kekesalan yang berkecamuk di benaknya. Ah, sial ! Kenapa bertemu dengan iblis itu di saat lapar seperti ini, pekiknya dalam hati.