I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Kejutan Untuk Cherry



"Sial !" Gerutu Cherry. Ia bangkit dan menyeka air mata dengan jemarinya. Kakinya sudah melangkah keluar cafe dengan penuh amarah. Emosi yang mencuat, membuatnya tidak menyadari jika Reno masih mengawasi dari dalam mobilnya.


"Sudah ku duga, kau hanya bersandiwara Cherry !" Reno tersenyum simpul. Terbesit pikiran jail yang perlu dia lakukan untuk membuat gadis tua itu semakin kesal.


"Aku ada kejutan untukmu, Cherry. Ku harap kau menyukai ini " Gumamnya dengan senang. Reno bersiap memancal pedal gas, sengaja mengencangkan deru mobil mengambil ancang-ancang. Dengan pelan, tapi sangat pasti mobil melesat dengan kecepatan sedang. "Nikmatilah !" Seru Reno.


Bibir tipis itu mengembang indah dengan balutan suara tawa yang menggelegar. Memekik riang di balik telinga. Ah, dasar ! Reno sengaja mengejar-ngejar perempuan itu dengan mobilnya. Pedal gas yang ia injak, seirama dengan langkah kaki yang Cherry ayun. Jika dia berlari, Reno akan sedikit mencepatkan laju mobilnya, pun sebaliknya. Hingga perempuan itu memilih meringkuk dan menangis di tengah jalan. Lagi dan lagi, Reno mengitari tubuhnya berkali-kali. Bahkan decitan mobil karena gesekan keras antara roda dan jalanan itu membuat Cherry semakin bergidik ngeri. Tentu saja, perempuan itu merasa sangat ketakutan hingga hampir gila karena ulah jail Reno.


"Ini baru permulaan Cherry." Reno menyeringai puas. "Tenang saja, aku tidak akan melaporkan mu ke polisi, aku tidak akan menyerahkan mu kepada mereka yang tidak akan berani membalas semua perbuatan buruk mu !" Reno berlalu, ia memacu laju mobil dengan kecepatan tinggi.


Suara tangis Cherry mulai menghilang. Dengan ragu, perempuan itu mulai mengangkat wajah. Mendongak memperhatikan keadaan sekitar. Ia berharap dalam cemas, sedang memohon agar Tuhan melindunginya. Ya, kali itu dia meminta kepada Tuhan, tapi tidak menyertakan permohonan ampun atas segala perbuatannya.


"Reno, kau bukan manusia !" Jerit Cherry dengan keras.


Dengan sisa-sisa energi yang masih ada Cherry menyeret kaki menuju tepi jalan. Tubuhnya masih gemetaran, lututnya seakan lemas dan hilang kendali.


"Aku tidak pernah berpikir jika Reno akan sekejam ini padaku." Batin Cherry.


Harusnya dia bisa sadar diri dengan ragam perbuatannya. Niatan buruk, yang selalu kembali pada dirinya sendiri. Betapa Tuhan teramat sangat menyayanginya, Dia masih memberi teguran dengan cara yang baik. Setidaknya, Tuhan masih memberinya kesempatan kedua untuk Cherry memperbaiki diri, menghapus kesalahan yang telah berlalu, menghadirkan jiwa yang baru dengan hati yang bersih. Tapi sayang, itu hanya angan. Cherry tidak bisa berpikir sejernih itu. Dia tetap memiliki prasangka yang justru semakin menguatkan kebencian yang menyapa.


"Kak Cherry ?" Seru Shinta terkejut. Ia tidak menyangka jika Cherry bisa menangis di tepi jalan seperti yang dia lihat sekarang. "Kakak ngapain di sini ?" Tegur Shinta heran.


"Reno." Jawab Cherry singkat. Ia menyapu wajah untuk menyeka air mata yang membasahi pipi.


"Reno ? Ada apa dengan Reno ?" Shinta mengulang nama yang di sebut Cherry untuk meminta kejelasan.


"Dia hampir membunuhku..." Cherry menoleh. Ia menatap Shinta seakan memberi peringatan.


Perempuan itu beringsut mundur, ia duduk begitu saja. Tidak peduli dengan tempat kotor dan tanah yang pasti akan mengotori pakaian yang dia kenakan.


"Kenapa diam ?" Seru Cherry.


"Semua salah kak Cherry ! Kalau kakak tidak melakukan hal sekejam itu sama kak Keysha, Reno tidak akan mengancam keselamatan kita." Protes Shinta dengan anda tinggi. Gadis itu mulai tidak peduli dengan kekuatan Cherry. Dia tidak takut melontarkan kalimat yang memojokkan karena ya memang semua berawal dari kesalahan perempuan itu.


"Apa katamu ? Salahku ? Shinta, bukankah kau juga senang jika Keysha lenyap dari muka bumi ini ?" Pekik Cherry tidak terima.


"Ya, tapi....tapi aku tidak pernah berpikir untuk membunuhnya secara perlahan." Lirih Shinta. Perempuan itu menunduk mulai sadar jika dia telah salah nada dalam berkata.


"Hahaha......." Gelak tawa Cherry menyambar. Mungkin perempuan itu terlihat bahagia dengan suara tawa yang penuh damai, tapi justru membuat Shinta bergidik ngeri dan semakin tertekan. "Jangan munafik ! " Bisik Cherry di balik telinga Shinta.


"Lalu apa yang harus kita lakukan ?" Shinta memandang lekat pada perempuan yang kembali bungkam itu. Suaranya sudah tidak lagi terdengar tertawa, raut wajahnya tidak bisa di tebak dengan pikiran apa dia sedang bicara.


"Kita ?" Cherry mengernyitkan dahi. "Aku hanya akan memikirkan diriku sendiri, terserah apa yang kau lakukan aku tidak peduli." Ucap Cherry santai. Dia beranjak dan berlalu meninggalkan Shinta dengan sejuta kebingungan.


"Kak Cherry...." Jerit Shinta.


Perempuan itu hanya menoleh, lalu menyeringai arogan.


------


Sementara di tempat lain, Keysha sedang menikmati menu makan siang yang tersaji di atas meja Masih ada Dokter Alexa dan turut menemani Keysha dan Sandy di sana.


"Bagaimana dok ? Apa Dokter suka menu di sini ?" Tanya Keysha, ia telah selesai melahap spaghetti yang di pesannya tanpa tersisa. Sementara itu, tangannya meraih tisu dan mengarahkan ke mulut untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang menempel di sana.


"Aku yakin, kau makan di sini karena dua hal."


"Pertama, karena kau tidak ingin membuang waktu kerjamu hanya untuk makan dengan menu favorit."


"Kedua, karena hanya ini satu-satunya restoran yang buka saat ini." Imbuh Dokter Alexa, seraya tertawa ringan.


Keysha paham apa maksud Dokter Alexa berbicara seperti itu. Iapun turut tertawa sementara Sandy hanya memperhatikan mereka berdua dengan wajah flat tanpa ekspresi.


"Sepertinya, justru aku yang menjadi obat nyamuk di sini. Ku pikir tadi, kau yang akan merasa canggung karena aku dan istriku bermesraan sedangkan kau hanya seorang diri." Seru Sandy. Ia mengatakan apa yang tersirat dalam benaknya secara gamblang.


"Yee...." Keysha menepuk bahu suaminya, lalu di sahut suara tawa oleh mereka bertiga.


Dokter Alexa menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sepertinya aku harus pulang sekarang."


"Kenapa buru-buru sekali ?" Keysha mengembuskan nafas kecewa.


"Masih ada waktu di lain hari, aku ada jadwal pekerjaan nanti sore." Jawab Dokter Alexa.


"Jaga suamimu baik-baik ! Aku pasti akan sering berkunjung ke butik milikmu." Dokter Alexa berdiri, ia menepuk ringan pada bahu Keysha kemudian berlalu meninggalkan mereka berdua.


Langkah kakinya mengayun dengan cepat. Karena terlalu asyik bercengkrama, ia sampai lupa dengan jadwal janji yang telah ia setujui.


Dokter Alexa berjalan menuju halaman butik karena dia memarkirkan mobilnya di sana. Dengan mata dan tangan yang sibuk mengoprek tas untuk mencari kunci, sampai-sampai ia tidak melihat seseorang yang berjalan sigap di depannya.


bruggg (Suara tubuh yang bertabrakan)


"Eh maaf....maaf....Aku kurang hati....." Dokter Alexa membelalakkan matanya. "Tuan Reno..." Panggilnya pelan.


"Dokter Alexa ? Kau di sini juga ?" Seru Reno penuh semangat.


"Sudah ku katakan, panggil aku Alexa." Protes Dokter Alexa. Entah, apa yang membuatnya semakin tersipu dan malu ketika pandangannya bertemu dengan mata Reno.


"Haha...baiklah. Kau tahu jika ini butik Keysha ?" Tanya Reno penuh selidik.


"Kebetulan mamaku menyarankan agar aku memesan gaun di sini. Katanya, butik ini sangat terkenal di kalangan menengah ke atas." Dokter Alexa bercerita dengan tawa kecil.


"Sudah ketemu Keysha ?"


"Oh sudah....Aku malah baru selesai makan siang bersama mereka tadi." Ucap Dokter Alexa.


"Lalu, dimana mereka ?" Tanya Reno. Ia memiringkan kepala mencari keberadaan dua sejoli yang selalu membuatnya merasa iri.


"Mereka masih di sana...." Jawab Dokter Alexa.


"Astaga ! Maaf Reno, aku harus buru-buru pergi. Ada janji yang harus aku penuhi." Dokter Alexa berlarian kecil. Ia segera masuk ke dalam mobil . Dengan cepat, tubuhnya sudah menghilang di balik pintu.


tiin ( Suara klakson mobil)


Reno hanya melambai, mengiringi laju mobil yang semakin menghilang dari pandangan matanya.


"Kenapa aku deg-degan gini setiap melihatnya." Senyuman tulus itu merekah indah di bibir Reno. Ada hasrat yang berbahagia karena sebuah rasa rindu sedikit tuntas dengan satu kali kedipan mata di depan perempuan itu.