
"Reno aku mohon lepaskan, " Tiada perlawanan yang Dokter Alexa lakukan selain kata-kata lembut yang ia mohonkan dengan suara lirih.
Reno tidak menggubrisnya, ia tetap membenamkan kepala Dokter Alexa di dada bidangnya. Mendekap gadis itu dengan erat tanpa mengiyakan suara yang menyimpan pinta.
"Reno, tolong....." Ucap Dokter Alexa kembali. Ia membiarkan kristal-kristal bening di pelupuk matanya mengalir dengan bebas. Membasahi pipi ranum tanpa tangan yang sibuk menyeka.
"Katakan, kenapa kamu berusaha menjauh dariku. Ok, mungkin kamu menganggap kita memang teman biasa, atau dekat karena suatu urusan yang bersangkutan dengan pekerjaan mu. Tapi, Alexa ! Ketahuilah aku sangat mencintaimu." Reno menangkap kedua lengan Dokter Alexa. Memandangi wajah yang sudah larut dalam tangis panjang yang mengoyak luka hatinya. Reno tidak melepas setiap jengkal garis wajah yang memancarkan aura cinta yang mendalam. Menepis setiap prasangka yang terukir buruk di dalam logika.
"Reno apa yang kamu katakan, hah ? Apa kamu pikir, aku akan tergoda dan menerima rayuan mu yang hanya manis di bibir saja ?" Suara tangisnya semakin menggema keras. Mendorong keras rasa kesal dan kecewa yang tengah meradang dengan luka yang membekas. Nafsu yang bergejolak, telah menguak setiap jengkal rasa yang masih tertata tanpa telinga yang pernah mendengarkan. Dokter Alexa menepis cengkraman yang kian merenggut kebebasan tubuhnya. Mendorong keras tubuh Reno hingga membuat pria itu beringsut mundur dan menjatuhkan beberapa buku yang tertumpuk di atas meja kerja Keysha.
Di depan ruangan, Keysha dan Sandy masih terdiam mendengar percakapan mereka. Keributan demi keributan bersahut riang di gendang telinga. Tiada langkah yang Keysha siapkan, ia memilih diam dan enggan terlibat dalam drama Reno dan Dokter Alexa yang tanpa titik akhir.
Suara benda jatuh tertangkap jelas oleh pendengaran Keysha dan Sandy. Entah, karena sengaja atau tidak, mereka tidak mengetahui pasti. Hanya hentakan suara Dokter Alexa yang menggema seiring dengan suara benda yang berjatuhan.
"Kita masuk sekarang, " ucap Sandy tanpa menunggu persetujuan. Keysha menariknya, lalu beralih mendahului langkah Sandy. Ia tidak ingin Dokter Alexa merasa di jebak, atau merasa jika semua memang di rencanakan dan Keysha terlibat. Ya, walau memang fakta yang ada memang demikian, tapi is tidak ingin jika Dokter Alexa berpikir lebih buruk dari apa yang telah di rencanakan.
Cekrek (Suara pintu yang terbuka )
"Maaf Alexa aku la...m.. " Keysha berpura-pura tidak mendengar keributan yang ada. Ia tercengang memperhatikan dua insan yang berada dalam posisi yang berjarak. Mereka saling bertatapan, tapi dengan cara yang berbeda. Reno, sungguh menaruh wajah kasih yang mendampakan sebuah permohonan, sedang menunggu sebuah penjelasan yang detik ini ia butuhkan. Sementara Dokter Alexa, ia tampak menaruh wajah geram dan menatap Reno penuh arogan.
"Tidak masalah Key, " dokter Alexa menyeka air matanya. Berbalik tumbuh, untuk menyembunyikan wajah yang telah basah dan sayu.
"Alexa kau baik-baik saja ?" Keysha melangkah dengan lambat. Menggiring kaki untuk menghampiri gadis yang sudah ia anggap seperti sahabat bahkan saudara dekatnya.
"Aku tidak apa-apa Key, gaunnya sangat bagus, mama pasti sangat menyukai ini, " gumamnya dengan pelan, senyum yang merekah memaksakan diri terlihat baik-baik saja di depan sahabatnya. Suara yang keluar jelas terdengar tertahan karena isak tangis yang bersembunyi di tenggorokan.
Keysha masih membisu, ia tidak tertarik dengan topik yang dialihkan secara paksa oleh Dokter Alexa. Tidak peduli dengan ekspresi yang dipaksa tersenyum dalam duka yang menggerogoti hati. Keysha menghela nafasnya pelan, kemudian kembali melanjutkan langkah untuk lebih dekat lagi dengan Dokter Alexa.
"Kau menangis ?" Keysha merunduk, menatap pada wajah sendu yang menampakkan kristal-kristal bening di kedua sudut matanya.
"Tidak, mataku terkena debu tadi jadi berair terus-menerus," Tawa ringan turut mengimbangi kata pengelakkan yang terlontar dari mulut Dokter Alexa.
"Debu ? Apa ruangan ku sangat berdebu ? " Ucap Keysha, ia masih fokus memperhatikan wajah dokter Alexa.
"Oh tidak, tidak. Bukan seperti itu maksudku," Jawab Dokter Alexa dengan cepat. Ia melambaikan kedua tangan, menggeleng ringan menepis kalimat Keysha yang merendah dan tampak kecewa dengan pernyataannya.
"Ren ?" ucap Keysha seraya berjalan menuju Reno.
"Apa yang bisa aku katakan ? Aku hanya menginginkan jawaban mengapa dia selalu berusaha menjauh dariku ? " jawab Reno, ia membalik telapak tangan dan mengangkatnya bersama dengan kedua bahu miliknya.
"Aku masih tidak mengerti, " ucap Keysha, ia memutar bola mata memandang Reno dan dokter Alexa secara bergantian.
"Itu tidak penting. " Dokter Alexa meraih pundak Keysha. "Maaf Key, aku harus segera pulang. Ada praktek siang ini, "
"kenapa buru-buru sekali ? bukankah kau kemarin bilang jika hari ini kau kosong ? Dan kita akan makan siang bersama siang ini ?" ucap Keysha memelas.
"Maaf Key, aku lupa mengatakan padamu tadi pagi." jawab Dokter Alexa.
Dokter Alexa membereskan barang-barang pribadinya, ia segera masuk ke dalam ruang ganti dan mengganti pakaian yang ia kenakan. Keysha dan Reno hanya saling melempar pandangan. Tidak mengerti lagi cara apa yang akan mereka gunakan, otak dan logikanya terus saja berputar, mengatur siasat untuk membujuk gadis itu untuk lebih terbuka dan mengatakan perihal tingkah yang membuatnya terluka.
"Key aku pulang dulu ya, kita atur janji lain kali ya, " ucap Dokter Alexa lalu melangkah mendekati pintu.
"Bilang saja kalau kamu masih berusaha menghindar dariku. Aku sudah ke rumah sakit hari ini, mereka mengatakan jika kamu tidak ada jadwal praktek untuk hari ini, " Suara Reno menggema di ruangan. Memaksa langkah Dokter Alexa agar kembali berhenti. Gadis itu tercengang lalu membulatkan mata karena tidak berpikir panjang dengan hal tersebut.
"Kenapa ? Masih mau bilang jika pihak rumah sakit baru saja menghubungi mu ? Alexa, kita bersama sejak Keysha keluar dari ruang ini, dan aku tidak mendengar ponselmu berbunyi sekalipun sejak tadi." ucap Reno tegas. Ia berjalan, mengelilingi tubuh Dokter Alexa beberapa kali putaran. Bibirnya mendekat, menyisakan jarak beberapa centimeter dari putaran wajah dokter Alexa.
"Reno menjauh lah, atau aku tidak bisa lagi berpura-pura di depan Keysha ?" gumam dokter Alexa lirih. Ia menatap tajam pada wajah lelaki yang menghentikan wajahnya tepat di hadapan wajah dokter Alexa.
"Silahkan..."ucap Reno dengan senyum sinis.
Tidak ada hal lain yang bisa Reno lakukan selain terus dan terus mendesak dokter Alexa agar mau berbicara. Mengurungnya dalam lingkup ruang, dan berusaha mengulur waktu untuk menarik rasa kesalnya.
"Baiklah," dokter Alexa menghela nafas panjang, ia memejamkan mata seolah tengah menyiapkan sebuah kalimat yang akan ia semburkan di depan wajah Reno.
"Keysha, tolong dengarkan baik-baik karena aku ingin kamu menjadi saksi dari apa yang ingin aku katakan pada Reno saat ini, " ucap Dokter Alexa tegas.
"Reno, dengan sangat berat hati aku ingin mengatakan sesuatu hal yang sudah lama aku tahan-tahan. Mungkin, ini tidak adil bagimu atau bagi orang-orang yang dekat denganmu. Reno mulai detik ini, aku tidak ingin lagi melihat wajahmu di depanku ! Aku sangat membencimu, dan muak dengan tingkah mu yang sangat menjijikkan. Jadi ku mohon dengan penuh kesadaran, jika Tuhan masih mempertemukan kita di tempat lain, anggap saja kita tidak saling mengenal, " dokter Alexa melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda. Ia melangkah, seraya menyenggol kan tubuh untuk menabrak lengan Reno yang menghalangi pintu.