
Sandy sudah tiba di depan butik, mobilnya menepi dengan pelan. Allan dan Lena berlarian kecil menghampiri, menyapa pria itu dengan sangat riang. Layaknya anak-anak yang lain, mereka langsung berebut peluk dengan manja ketika melihat papanya datang.
"Terima kasih ya Nur, aku tidak tahu bagaimana kalau tidak ada kamu." Ucap Keysha, ia menyentuh lengan Nur tanpa rasa risih walau dia hanya berstatus karyawan biasa di butik miliknya.
"Sama-sama bu, aku sangat menyayangi anak kecil, dan berharap cepat mendapat kepercayaan untuk memiliki anak sendiri." Jawab Nur sopan, ia menunduk seraya mengusap perutnya ketika matanya memperhatikan tingkah Allan dan Lena.
Kasihan dia, sudah lama menikah tapi Allah belum kasih dia rejeki berupa anak, padahal setiap pasang manusia yang secara matang memutuskan untuk menikah, pasti juga berharap hadirnya seorang buah hati di tengah-tengah keluarga mereka...
"Sabar Nur, Allah sudah mengatur rejeki makhlukNya masing-masing." Seru Keysha lembut, ia beralih mengusap bahu Nur untuk membuatnya kuat. Menjadi sosok perempuan hebat, mampu bersabar dalam ujian dan juga kata-kata pedas orang-orang yang di lontarkan bebas tanpa berpikir perempuan itu sakit hati atau tidak.
Nur mengangguk cepat, tidak lupa seutas senyum simpul turut menghias wajah manisnya.
"Ini untukmu, terima kasih ya. Jangan putus asa, penantian mu pasti di ganti dengan pahala yang besar oleh Allah," Seru Keysha, ia menyelipkan beberapa uang ratusan ke tangan Nur.
Perempuan itu benar-benar berniat tulus tanpa pamrih, awalnya ia menolak dengan tegas. Tapi, Keysha tetap kukuh untuk memberinya sedikit rejeki. Jika Nur terus menolak, ia akan beralasan menitip sedikit untuk ibu Nur yang terbaring sakit.
"Terima kasih bu, padahal saya tidak berniat seperti ini." Ujar Nur yang merasa tidak enak hati. Ia takut jika majikannya berpikir Nur seorang yang tidak bersyukur. Namun, Keysha segera menepis. Ia mengatakan jika semua adalah rejeki dan tidak baik jika di tolak.
Sandy, Allan dan Lena telah menanti di dalam mobil. Setelah berpamit, Keysha bergegas untuk segera masuk ke dalam mobil. Hari itu dia memang tidak mengambil lembur, ia menyerahkan dan percaya kepada para karyawan yang sudah cukup lama bekerja dengannya.
Allan dan Lena memilih tidur sepanjang perjalanan. Keduanya cukup lelah, karena terus-menerus bermain yang menguras energi bersama Nur. Mereka saling berlarian, kejar-kejaran dan banyak hal baik yang Nur ajarkan pada keduanya.
Keysha menghempas tubuhnya ke sandaran kursi ketika usai melihat kedua buah hatinya terlelap dalam tidur.
"Apa mereka rewel ? Kau terlihat sangat lelah." Tanya Sandy, ia fokus mengamati jalanan, tapi tetap menyempatkan diri untuk menoleh ke arah Keysha.
"Tidak....Mereka sama sekali tidak rewel, bahkan tidak menggangu pekerjaanku." Jawab Keysha pelan, perempuan itu melempar senyum ke arah suaminya. "Mereka sangat senang bermain dengan Nur." Imbuh Keysha, ia membuang pandangan ke arah luar mobil. Memperhatikan hiruk pikuk kehidupan di sekeliling jalan. Masih cukup ramai karena hari baru menjelang malam. Sejuk, udara yang berhembus cukup menyentuh rasa. Dingin, menembus sampai ke tulang dan hati.
"Cherry tadi datang ke kantor," Ucap Sandy pelan, ia sesekali memperhatikan raut wajah istrinya.
"Benarkah ? Untuk apa ? Apa dia merayu mu ?" Keysha terus saja memberondong suaminya dengan rentetan pertanyaan. Ia bergeser dari duduknya, memposisikan tubuh serong ke arah Sandy.
Sandy mengernyit menahan tawa, ada kesan yang berbeda tiap dia melihat ada raut cemburu di wajah istrinya, "Apa kau cemburu ?"
"Cemburu ? Ah, tidak ! Bukankah kau membencinya, untuk apa aku cemburu." Seru Keysha cepat, ia membantah tuduhan suaminya..Menepis dan berdalih dengan ragam alasan yang mewakili. Duduknya kembali menghadap ke depan. Ia juga melipat kedua lengannya di depan dada.
"Oh," Jawab Sandy sambil membulatkan bibirnya.
"Memangnya, apa yang Cherry lakukan di kantor kak Sandy ?" Lima menit, pertahanan Keysha akhirnya luluh. Ia tidak sanggup menahan rasa penasaran yang menimbulkan seberkas cemburu. Entahlah, ancaman Cherry tadi berhasil menembus otaknya. Jantung Keysha sering tiba-tiba berdetak kencang ketika mengingatnya.
"Tidak jelas, aku keburu kesal. Dia hanya nangis waktu aku marah-marah dan mengusirnya." Jawab Sandy jujur.
"Apa kakak berbuat kasar padanya ?" Tanya Keysha penuh selidik.
"Ti...tidak...." Bantah Sandy, ia berucap dengan terbata-bata.
"Berapa kali sih kak Keysha bilang, jangan terlalu kasar sama Cherry. " Seru Keysha. sejahat apapun Cherry, Keysha memang tidak senang jika Sandy berlaku kasar pasanya. perempuan itu bukanlah lawan yang imbang untuk Sandy. Dia juga tidak mungkin pandai berkelahi untuk membela diri.
"Aku sangat muak melihatnya." Sandy tetap bersikeras dengan pendiriannya. Ia selalu berpikir jika Cherry memang layak mendapat hukuman yang setimpal. Sebuah balasan dari perlakukan keji yang sering ia lakukan pada Keysha.
Sandy memang benar-benar murka ketika membahas perihal wanita licik dari masa lalunya. Meskipun dia yang memulai, tapi ia selalu tidak setuju jika Keysha masih bisa berpikir positif tentang perempuan itu. Dia cukuplah jahat, dan tidak layak mendapat perhatian atau perlakuan yang lembut dari siapapun.
Mobil melesat dengan kecepatan sedang, di jalanan yang cukup ramai lalu lalang orang-orang yang berjalan kaki, tiba-tiba ada seorang perempuan yang menyebrang jalan tanpa memperhatikan sekitar. Ia sudah menjerit bahkan tak kuasa melangkah karena panik yang membuntukan logikanya. Sandy, dengan cepat menginjak rem seraya memanjatkan doa agar keluarganya di beri keselamatan.
ciiiittt (Suara decitan rem mobil yang bergesekan dengan jalan raya)
"Astaghfirullahal adzim" Spontan Keysha menjerit keras. Ia menutup wajah dengan kedua matanya. Allan dan Lena tampak kaget dan kompak terbangun.
---------
Meera dan Chandra sudah menanti di ruang tunggu di Bandara, di dekat pintu kedatangan. Chandra duduk santai menikmati secangkir kopi yang dia pesan di sana. Meera mulai tak sabar, ia berulang kali berdiri dan menengok ke arah kanan dan kiri. Berjalan mondar-mandir tak terkendali.
"Mama sudah coba telepon Sandy ?" Tegur Chandra pelan, ia menyesap kopi hangat di tangannya.
"Sudah pa. Tapi tidak di angkat dari tadi, " Meera mendudukkan tubuhnya di samping Chandra.
"Biar Audrey saja yang telepon kak Sandy," Seru Audrey. Gadis itu sudah tumbuh menjadi perempuan dewasa, ia tampak anggun dengan balutan dress berwarna biru muda lengkap dengan sepatu flat berwarna hitam yang senada dengan tas yang di kenakan.
Sudah bertahun-tahun ia tidak menginjakkan kaki di Indonesia, banyaknya jadwal kuliah dan pekerjaan yang tidak bisa ia tinggalkan. Kini, gadis itu sudah lulus, dan memutuskan untuk kembali dan merintis usaha di negerinya sendiri.
Ada banyak ide yang akan dia kembangkan, hasil dari apa yang dia pelajari di negara orang.