
"Keysha seharusnya kamu tidak bicara seperti itu sama Audrey. Dia pasti sangat kecewa dan marah terhadapmu." Rania berbicara dengan lirih, tapi Sandy dan Keysha masih bisa mendengarnya dengan jelas.
Keysha mengusap wajahnya frustasi, ia merunduk menyembunyikan wajah karena sesal yang mendera. Betapa kecewanya ia dengan lidah yang berbicara tanpa berpikir. Keysha berulang kali mengusap wajah secara kasar.
"Aku Benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih..." Lirih Keysha.
"Sudah biarkan saja. Audrey memang terlalu manja, dia perlu sekali-kali di kerasi agar dewasa." Seru Sandy santai, ia memasukkan salah satu jemarinya ke dalam saku celana. Berjalan, tanpa menoleh istrinya untuk berpamitan, mungkin hatinya masih kesal dengan perdebatan yang tidak sejalan.
"Rania maafkan Audrey yang kurang sopan kepadamu." Sandy kembali menoleh ketika telah sampai di ambang pintu. Sekilas, ia melirik Keysha yang belum juga mengangkat kepala. Perempuan itu masih bergelut dengan sesal yang berkepanjangan. Sementara Sandy masih bersikeras dengan egonya yang tinggi. Ia melanjutkan langkahnya, menelusuri anak tangga dengan cepat lalu bergegas menuju ke mobil. Sandy memancal pedal gas dengan kencang. Menelusuri jalan yang mulai ramai dengan hati yang geram. Berulang kali pria itu memukul-mukul kemudi tanpa sadar. Ya, walau sebenarnya hanya di mulai dengan permasalahan sepele. Ia hanya tidak ingin melihat istrinya kecewa lalu meradang karena luka. Berdiam dalam suka dan hati yang teriris tanpa berbicara. Perempuan itu hanya sedikit lesu, ketika ada yang menusuk dalam kalbunya. Tiada sepatah kata yang ia wakilkan untuk kembali menghujat apalagi mengadu pada telinga manusia yang sejatinya selalu setia mendengarkan.
---------
Masih di lingkungan butik, gadis itu merunduk dengan sesenggukan. Ia menangis tanpa rasa malu banyak lalu-lalang orang yang menatapnya heran. Reno hanya tertegun, berdiri di samping kursi menunggunya hingga terdiam. Tidak banyak yang pria itu lakukan, selain menggoda Audrey dengan siulan ringan yang sebenarnya tidak bisa ia lakukan dengan sempurna.
"Kak Keysha kenapa jahat banget, " Audrey membuka cerita, ia masih tersedu dengan tangisnya dan menyisipkan sepenggal kalimat yang ia mulai untuk berkisah.
"Sejak kapan kamu berpikir jika kakak ipar mu itu jahat ?" Reno mulai menanggapi dengan serius. Ia beralih dan perlahan turut duduk di bangku taman yang menopang tubuh Audrey sejak dua puluh dua menit yang lalu.
"Sejak kak Keysha marahin Audrey di depan sahabat penghianat nya !" Sungut Audrey kesal. Ia menggenggam tangannya kuat-kuat. Seakan mengintai dan berpikir buruk akan membalas rasanya terhadap perempuan yang tengah di bela Keysha.
"Ya sudah, gampang. Pecat saja dia dari jabatan kakak ipar dalam hidupmu. Aku pasti akan memungutnya." Seru Reno santai. Ia melipat tangan, lalu menyandarkan tubuh di sandaran kursi.
"Apa maksud kak Reno ?" Audrey membulatkan mata. Dengan arogan, ia membuang pandangan dengan segera ke arah Reno.
"Bukankah dia jahat ? Untuk apa kamu pertahankan ?"
"Bukan seperti itu."
"Lalu ?"
"Ya....anu...."
"Anu...anu...anunya siapa ?"
"Kak Reno ! Apa sih !" Audrey mengernyit kesal. Ia menggertak dan menguatkan pegangannya pada pinggiran kursi.
"Kenapa kamu tidak coba dengarkan penjelasannya ? Kamu tidak tahu, seburuk apa hidup mereka ketika kamu berada di luar negeri. Apalagi tentang sakit yang hampir saja merenggut nyawa kakakmu, apa kamu tahu semua itu ?" Imbuh Reno dengan jelas. Ia terpaksa mengatakan lebih cepat dari apa yang Keysha kehendaki. Mengambil langkah untuk berjalan satu jengkal di arah berdiri Keysha.
"Sakit ?" Audrey membelalakkan mata. Ia mengulang kata yang membuatnya bergidik ngeri. Sepenggal cerita yang sudah cukup memadamkan api amarahnya. Menyulut rasa malu pada tingkah yang tidak mengimbangi usianya. Ia bertanya pada diri, mengapa harus dangkal menggali perkara, menimpali dengan kecewa tanpa dasar yang terpercaya. Ah, bodoh ! Ia sedang memaki diri dengan untaian kata yang tidak terucap.
"Kenapa ? Kaget ? Nyesel sudah kasar sama orang lain ? " Reno menimpali dengan ledekan ringan. Ia juga tersenyum dan menggelitik ringan pinggang adik sahabatnya itu.
"Au kak Reno geli....." Teriak Audrey seirama dengan suara tawa yang tidak di harapkan.
Bodohnya, di tengah canda tawa yang menyenangkan bagi mereka berdua, tampak ada Dokter Alexa yang tercengang memperhatikan dari jarak yang sudah cukup dekat. Perempuan itu tertegun tidak lagi kuasa untuk melanjutkan langkahnya. Berulang kali mencoba menarik nafas untuk mengalihkan rasa, ia sedang menahan diri agar air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata itu tidak mengalir di sana.
"Kak Reno stop it ! " Audrey memang tidak tahan jika di gelitik sejak kecil, ia pasti terkekeh walau hatinya meraung kesal dan ingin marah jika ada yang sengaja menjahili.
Jika di hitung dengan langkah, mungkin sekitar tujuh langkah jarak yang memisahkan Dokter Alexa dengan tempat Reno dan Audrey. Mundur, sama saja terang-terangan ia mengakui jika dirinya sedang terluka dan tidak baik-baik saja. Maju, ia belum sekuat itu untuk tersenyum dalam sapa yang akan ia lontarkan ketika melewati hadapan pria yang sedang tertawa lepas dengan perempuan lain.
"Alexa ?"
Deg ! Jantung Dokter Alexa terpompa kencang, berdetak semakin buas dan sulit di kendalikan. Hatinya sudah ingin menyerah lalu berlari dari sana, tapi kakinya seolah terkunci dan tidak ingin di jauhkan dari hadapan pria itu.
"Hai...." Dokter Alexa berusaha tersenyum walau terasa kaku.
"Alexa kamu ada apa kesini ?" Tanya Reno penuh selidik.
"Oh, jangan salah paham Ren, aku ada perlu sama Keysha." Ucap Dokter Alexa seraya tersenyum simpul. Ia bergantian menatap Reno, lalu berpindah kepada Audrey yang masih duduk dengan tenang di bangku taman. Perempuan itu melempar senyum ketika matanya bertemu dengan mata Dokter Alexa.
"Oh...Ya...ya..ya" Reno mengangguk-angguk mengerti. "Mau duduk dulu ?"
"Terima kasih, tapi nanti malah ganggu lagi. Aku ke dalam dulu ya.." Entah apa niatnya berujar demikian. Namun hatinya memaki dengan kata bodoh untuk bibirnya yang ringan berbicara.
"Ganggu ? Hahaha....." Reno terkekeh geli. "Tidak ada yang merasa terganggu, ya kan Drey ?" Reno menoleh, seakan meminta dukungan dari Audrey.
"Yoi kak..." Audrey menimpalinya dengan santai. Ia juga tampak sedang mengangkat jari jempol dan menunjukkan dengan hangat.
"Lain kali saja, maaf aku buru-buru." Dokter Alexa semakin tidak mengerti, bahkan merasa malu dengan perempuan yang ia anggap sebagai kekasih Reno. Gadis yang tampak tenang walau lelakinya sedang berusaha merayu wanita lain. Sementara dia ? Hanya berteman tanpa status yang jelas, tapi sering tiba-tiba merajuk tanpa alasan. Merasa tersisih bahkan cemburu jika melihat Reno berdekatan dengan wanita lain.