I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Jawaban dari segala doa



Merendahkan hati, tidak berarti menghina diri. Mengalahkan sebuah ego, demi mencapai sebuah titik kedamaian memang perlu kita lakukan. Aku adalah insan yang menjunjung tinggi harga diri, namun menjadi saksi merendah tidaklah salah, ~dokter Alexa


🍃🍃


"Keysha sudah aku katakan agar kamu beristirahat. Lihatlah, wajahmu sangat pucat. " ucap dokter Alexa dengan tegas. "Aku adalah dokter mu sekarang. Jadi menurut lah demi kebaikanmu dan calon bayimu, " imbuhnya dengan bersungut-sungut. Dokter Alexa membantu Keysha memegangi cairan infus yang terhubung dengan Keysha.


"Kau juga Sandy, kenapa menuruti kemauan istrimu jika itu membahayakan. Apa ketika ia memintamu untuk mendorongnya ke sebuah jurang, kau juga akan melakukan hal itu ?" dokter Alexa memberi sebuah kode agar Sandy kembali menopang tubuh Keysha masuk ke dalam kamar. Merebahkan tubuh istrinya untuk kembali beristirahat. Memanjakan diri dengan lingkungan sekitar yang membuatnya nyaman.


"Apa kau sedang berpikir aku sudah gila ? " Sandy mendengus kesal. Merasa tidak terima dengan cuitan panjang yang di lontarkan oleh dokter Alexa. Sebuah kata yang meremehkan kejantanannya.


"Faktanya ?" dokter Alexa mengernyit. Masih senang beradu pandang dengan mata yang menatapnya sinis.


"Keysha meminta melihat drama Korea secara live, dan kebetulan di depan rumah ada. " jawab Sandy dengan nada meledek. Mengungkit sebuah moment antara dua insan yang sedang di mabuk cinta. Memutar waktu yang bertanda kisah romantis. Lantas kalimatnya membuat dokter Alexa dan Reno kelabakan karena salah tingkah. Menelan ludah, seolah-olah keseleo dengan lidahnya sendiri.


"Keysha memerlukan istirahat lebih. Kau harus memperhatikan itu, " celetuk dokter Alexa. Ia membereskan alat-alat medis yang berserakan. Merapikan kembali dan mengemasnya dalam satu tas besar yang ia bawa.


Malam beranjak cepat, Keysha sudah lebih segar dari waktu sebelumnya. Wajahnya tidak lagi terkesan pucat pasi yang mengkhawatirkan. Dokter Alexa melepas selang infus yang mengikat, menempel plester pada bekas luka tusuk di punggung tangannya.


"Ingat ya, kamu harus banyak istirahat ! " Seru dokter Alexa setelah selesai mengemas bekas infus.


"Besok pagi, akan ada orang yang mengantar vitamin dan penguat kandungan untukmu. Kau harus rajin meminumnya. " Imbuhnya, mulai bawel dengan nada perintah.


"Terima kasih Alexa, kau perempuan baik. " seru Keysha pelan. Sinar mata lugu tak rela ia lepas dari tautan mata yang mengalirkan kehangatan dalam diri.


"Itu sudah tugasku Key. " dokter Alexa mengusap lengan Keysha. "Aku pulang dulu ya. "


"Hati-hati lah di jalan..."


dokter Alexa beranjak, meninggalkan sebuah bekas bulat pada tepi ranjang.


"Lexa..." Keysha menarik pergelangan tangan dokter Alexa. Membuatnya mengurungkan langkah, kembali pada diri Keysha.


"Kamu harus kuat mempertahankan hubungan mu dengan Reno. Jagalah dia, mungkin kau akan menemukan sebuah kenyataan yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya, tapi kau harus tahu, Reno sangat mencintaimu Lex, " Keysha merenggangkan cengkraman tangannya. Melepas tangan halus yang menatapnya dengan pilu. Entah mengerti, atau sedang mencoba mengerti. dokter Alexa hanya tersenyum simpul seraya mengangguk pelan. Mengiyakan apa yang Keysha katakan sebelum berlalu melangkah keluar kamar.


Kata demi kata yang tersembur dari bibir mungil Keysha terus bercengkrama dengan logikanya. Berputar, menemukan sebuah titik tujuan yang di gapai oleh perempuan berhati malaikat itu. Menembus alam, menusuk kuat pada langit-langit bayangan. Ah masih susah untuk di katakan. Semua seperti kode yang hanya waktu yang akan mudah mencernanya.


"Aku harus bersiap untuk segala kemungkinan yang akan datang, " tekadnya bulat. Berlayar pada cinta yang telah berlabuh pada satu hati yang telah bernama. Kasih yang menepi pada diri yang senantiasa di semogakan. Alunan waktu yang akan mewarnai segala tawa. Mencampurkan sedikit tangis yang berujung suka. Luka-luka kecil yang menghias tidak akan memperumit langkah. Sudah, sudah bulat tekat yang melekat. Cinta yang ada akan menuntunnya mengarungi lautan drama. Bersandiwara dengan macam-macam ketentuan yang akan menjadi saksi dari sebuah pencapaian.


Setelah berpamitan dengan Yeni dan Sandy, dokter Alexa bersama Reno menyeret kakinya keluar rumah. Bersama masih dengan rasa yang sama. Waktu yang memisahkan menghadirkan sebuah rasa canggung yang turut mewarnai.


"Hati-hati di jalan, " Reno menyentuh bahu dokter Alexa. Mengusapnya halus, menunjukkan betapa sayang telah dalam mengikat diri. Mengisi kosongnya angan yang pernah menggila dengan bayangan. Entahlah, bagaimana perempuan itu akan menanggapi jika kenyataan pilu mendera telinganya. Sebuah arah salah yang pernah ia lampaui, bujukan setan yang dengan enteng di ikuti oleh Reno.


"Kau tidak bawa mobil ?" dokter Alexa memperhatikan sekitar. Mencari-cari keberadaan mobil yang biasa Reno gunakan.


"Aku bisa meminta sopirku untuk menjemput, " serunya santai.


"Kamu bawa mobilku saja, tapi antar kan aku pulang terlebih dulu, " dokter Alexa terkekeh kecil. Ia menyerahkan kunci kepada Reno.


"Tidak perlu Alexa, aku bisa nunggu di jemput. " Reno menggeleng, di tepisnya jemari yang menanti sambutan dengan lembut.


"Baiklah, tapi aku tidak akan mengembalikan mobilmu selamanya. " ucap Reno menggoda. Ia tersenyum lalu meraih kunci yang sudah menggantung di jemarinya dokter Alexa semenjak tadi. Sejak awal gadis itu menawarkan bantuan. Hingga membuat lengannya pegal karena terus terangkat menanti kemauan.


"Ye..kau ini ada-ada saja. " suara tawa ringan terdengar menggembirakan. Mengalun dengan nada penuh keikhlasan. Reno menarik pintu samping kemudi lalu merunduk mempersilahkan wanitanya masuk. Membuka tangan seolah menyambut tuan putri gang terpandang dari suatu kerajaan.


lagi, lagi dokter Alexa terkekeh geli. Membaur dengan keromantisan Reno yang tidak pernah menemui titik bosan. Reno menutup pintu kembali setelah dokter Alexa menaikkan kedua kakinya. Ia segera berputar, mengambil kendali mobil dan melesatkan roda dengan perlahan.


Roda telah menjamah jalanan lebar. Keadaan malam yang sudah jelas membaur dengan sunyi. Gelap, namun tetap memperlihatkan ribuan bintang yang menari-nari menghibur rembulan. Gemerlap malam, menambah keharmonisan yang terjalin indah.


"Baru jam tujuh lebih lima menit, " seru Reno ketika melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Memangnya kenapa ?" dokter Alexa memperhatikannya. Menautkan alis, merasakan heran. Ia tidak bertanya apapun sebelumnya, tapi pria itu jadi salah tingkah sendiri ketika mendengar pertanyaan yang mematikan gayanya.


"Kita...."


"Kita kenapa Ren ?"


"Kita ...kita pergi sebentar ya ?" ucap Reno ragu. Merasakan takut jika akan mendapatkan penolakan. Mungkin, dokter Alexa memang terbiasa bekerja dan pulang hingga larut, tapi bagaimana dengan hari-hari santainya ? Tidak mungkin. Ia tidak mungkin menjadi gadis yang gemar keluar rumah hingga larut malam.


Dokter Alexa terkekeh. Ia menggeleng-gelengkan kepala, menertawakan tingkah laku Reno yang merasa serba salah.


"Jadi kau mengajakku berkencan ?" Suaranya berat. Terkesan mendesah untuk menggoda. Dokter Alexa mencondongkan wajah, mendekat ke samping telinga Reno yang berpura-pura fokus dengan jalanan. Ah, itu hanya yang terlihat. Nyatanya, ia sedang merasakan sesak hingga mencekik lehernya ketika merasakan hembusan nafas dokter Alexa menyapa telinganya. Harapannya memang detik itu tidak akan berlalu dengan gencar. Mematung dengan posisi yang sama.


"Aku hanya ingin mengajakmu...."


"Berkencan. " dokter Alexa bersikeras. Seolah-olah sedang memaksa Reno menyerah. Mengaku di depan matanya bahkan kepada dirinya sendiri perihal isi hatinya.


"Baiklah. " Reno menghela nafas pelan, " Alexa, aku ingin sekali mengajakmu berkencan. Kau mau ? Di depan sana ada sebuah danau yang indah ketika malam. Terlihat dengan jelas lampu-lampu kota yang menyatu dengan bintang-bintang. Bagaimana, kau mau ?"


Dari secuil, merebak menjadi sebuah kubangan yang besar. Begitulah perumpamaan untuk senyuman yang di lukiskan oleh dokter Alexa. Is tersipu, merasa malu dengan pengakuan Reno yang di sampaikan dengan jelas. Sebuah ajakan yang sebelumnya ia paksakan agar segera di akui.


"Kenapa diam saja ?" seru Reno lembut. Membuyarkan rangkaian kisah yang sedang di rajut dengan cerita indah oleh dokter Alexa.


"Aku mau. " serunya yakin. Ia sangat antusias mengiyakan.


*_*


"Sayang ? Kenapa kau senyum-senyum sendiri ? " Sandy tergoda dengan senyuman manis yang sejak tadi Keysha ukir dengan indah di bibirnya. Bersandar pada tepi ranjang, terus menerka dengan bayang-bayang indah yang mengisyaratkan.


"Allah memang adil ya kak " gumam Keysha. Ia memejamkan mata, menikmati setiap hembusan nafas yang berirama rasa syukur.


"Bukankah sejak dulu seperti itu ?" Sandy berjalan menghampiri Keysha. Berbaring dengan memeluk dan mengusap halus perut sang istri.


"Iya, tapi hari ini aku benar-benar bisa merasakan semua. " Keysha menghela nafas lega. "Aku tidak pernah berpikir di usia ku yang ke dua puluh empat tahun ini aku sudah mengandung anak ketiga. Semua mengalir begitu saja, berlalu dengan cepat. Apalagi, sekarang Alexa sama Reno sudah saling memaafkan. Senang sekali rasanya, " Keysha berdecak riang.


"Allah menjawab semua doa-doa baikmu yang tidak pernah berhenti, " sandy mendongakkan kepala. Menatap raut wajah yang sedang terharu dengan segala kebaikan. Mengukir senyuman menawan yang di pintakan tak akan pernah menghilang. Kebahagiaan Keysha dan kedua anaknya, adalah suatu anugerah besar dalam hidupnya. Sebuah pencapaian hidup yang tidak pernah lelah ia usahakan. Titik dari tujuan ia bertahan dalam segala terpaan angin yang mencoba menjatuhkan.


"Terima kasih Allah. Engkau memang tidak pernah salah dalam memberikan kebahagiaan, " Sandy memejamkan mata. Mendekap erat tubuh Keysha yang sudah terlelap terlebih dulu.