I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
takut terulang



"Lalu hari ini, kita ada meeting dan makan bersama " Angkuh Cherry penuh kemenangan. Ia bersorak di atas keheranan Keysha. Walaupun tak ia dapati reaksi yang berlebih dari wanita itu.


"Wah, bagus sekali. beruntunglah Cherry! suamiku sangat menghargai istrinya. Hingga dia sangat nurut saat gue memintanya mengasihani lo " Senyum sinis mengembang di kedua sudut bibirnya. Menyirami harapan yang mulai layu. Mengikis pikiran kalut yang mulai terbuai akan suasana. Kerapuhan kembali menabur benih di sela-sela hatinya. Benarkah? Sandy ? kenapa kau seperti ini ? Ah ! tidak ! tidak ! Wanita ini punya otak yang sudah kotor . Dia pasti menyimpan ribuan trik untuk membuatku kalah. iya ! Bukan hanya kalah, tapi mengalah lalu menjauh dan melepaskannya . Lelaki yang sangat membuat hidupnya setengah mati. Harinya tidak bersinar, karena cahaya yang terang telah beralih ke tempat lain. Dan itu tempat gue, Keysha Larasati !


"Lo ? " Cherry hendak bangkit, tetapi kembali lagi setelah beberapa detik . Wajahnya panik,seolah sedang menyembunyikan sesuatu . Mata Keysha tak lepas dari kakinya. Kaki yang sempat kuat menopang tubuh nya .. .


"Keysha . Bersiaplah hidup menjanda seumur hidup lo " Cherry menarik pandangan Key dengan kata-kata nya. Ia memposisikan kembali tubuhnya seperti sedia kala. Seakan yang terjadi hanya kebetulan karena rasa kesal yang Key buat.


"Heh ! kalau mimpi sebaiknya sadar diri saja Cher. Lo yang harus bersiap menjadi perawan tua . dan perlahan mati tanpa pasangan jika lo tidak melepas rasa lo pada suami orang !" Tegas Keysha kemudian kembali berjalan menuju butik . Tidak lagi terpengaruh dengan suara Cherry yang masih menarik telinganya. Ocehan perusak gendang telinga . Mengukir coretan kata tiada manfaat. Kekesalan yang ingin ia tumpahkan justru kembali lagi pada dirinya sendiri. Semakin mengekang hati tanpa jeda, Memburu dada penuh kebencian . Begitu dan selalu begitu. hei , Cherry Veronika. Apa kau akan menyadari setelah bumi terbalik dari porosnya ?


-------


"Hei San ? Maaf jika menunggu " Bibir Cherry memang sangat ringan berbicara. Ia memiliki karakter yang bisa berubah seiring waktu berjalan. Menjelma baik bak bidadari yang baru meninggalkan singgasana . Bergelar ratu drama tanpa penghargaan.


"Jika dua detik lagi kau masih basa-basi, gue akan urus hal lain ." Ketusnya. Tanpa sedikitpun menoleh pada sumber suara yang menyapa. Fokus dengan laptop yang masih menyibukkan jari-jarinya. Menari hebat dengan irama yang sama.


"Ok . Baiklah " Cherry menyerah, ia mengeluarkan laptop. Mulai mendiskusikan hal yang sudah masing-masing siapkan. ah , tidak ! Tepatnya hanya Sandy kali ini yang bekerja. Tidak ada hal besar yang Cherry perlihatkan. Dia Memang sedang mengulur waktu, bermain-main di zona yang membuatnya senang. Tak peduli dengan rasa bosan dan jijik yang sedang Sandy ekspresi kan untuknya.


"Jangan main-main Cherry ! lo sendiri yang akan membayar semua jika lo sengaja mengulur waktu !" Sudah jelas ! Apa yang Cherry lakukan sangat membuat Sandy muak. Ia mengangkat ponsel di sampingnya yang tidak ia sentuh sedari awal meeting. Mengetik sesuatu lalu mengirimnya dengan cepat. Tak menunggu lagi, ponsel kembali berdering. Menandakan pesan yang ia kirim sudah mendapat balasan.


Lima menit yang berasa lima jam. Sandy tidak bisa tenang dengan duduknya. Jika jam yang mengikat pergelangan tangannya bisa bicara mungkin saja sudah protes akan rasa bosan karena mata Sandy terus saja menatapnya di setiap perputaran anak jarum jam. Menoleh kiri dan kanan, seolah menunggu sesuatu. Tak begitu mempedulikan Cherry yang terus mengajaknya berbicara di luar proyek mereka. Mengungkit masa silam yang menusuk sangat dalam di dasar hati Sandy. Menggali rasa yang sudah mati dan terkubur dalam , bahkan telah terurai tiada satupun jejak yang tertinggal.


Cinta yang terangkai di hati Cherry memang telah salah langkah. Tidak bisa berada di tempat yang tepat. Bahkan, salah memperhitungkan waktu hingga muncul di celah yang sudah terisi. Mungkin, sasarannya adalah seseorang yang sempat menyanjungnya. Tetapi, itu dulu. Masa yang sudah berlalu dan sudah lama menghilang.


"Kita pergi !" Sandy membereskan laptop nya. Kembali memasukkan ke dalam tas berwarna hitam yang biasa ia bawa. Bangkit dari kursi panas yang sudah menyiksa sepanjang pagi. Bukan tentang tempat, hanya saja pemandangan yang tidak menyejukkan hati.


Reno sadar jika Cherry menatapnya dengan garang. Mengeluarkan taring yang siap menerkamnya hidup-hidup. Namun, tidak ada yang ia takutkan. Karena ia paham niat buruk yang Cherry rencanakan.


Di belakang tubuh Sandy yang telah berjalan lebih dulu , Reno menyempatkan diri melirik Cherry dan meledeknya dengan menjulurkan lidah. Lalu ia kembali mengikuti Sandy kembali ke luar dari restoran.


-----


Sampai di halaman Restoran , langkah mereka terhenti. Melempar pandangan ke arah yang sama . Menangkap pada Keysha yang juga sedang menatapnya dengan senyum. Ia baru saja keluar dari butik pakaian muslim miliknya.


Jarak yang tidak memisahkan, tidak menjadi pemersatu di antara mereka. Kekakuan yang menyekik leher keduanya. Seolah membungkam kerinduan yang menyeruak. Berdiam diri diantara keramaian mungkin menjadi pilihan jika hati sedang tidak terkondisi. Kata hanya akan melukai jika terus memaksakan diri untuk menyelidiki. Kalimat akan menghukum diri jika segala ego di kedepankan.


Keysha menutup diri, masuk ke dalam mobil yang telah bersiap mengantarkan nya ke tujuan awal. 'Sandyku, apa kunci hatimu yang hilang sudah kau temukan? Kamu kembali kepada dia dan mengulang kisah yang sempat terhenti ?' Hatinya memanas. Menangisi bukti dari sebuah kata yang kembali terngiang jelas di benaknya.


Sandy hanya memandangi wanita nya berlalu . Membiarkannya mengitari bumi, menghibur diri. Ia menyadari jika apa yang telah ia jalani akan melukainya walaupun hati yang telah ia jaga tidak mengetahui.


"Lo sedang ada masalah dengannya ?" Reno berbisik di balik telinga Sandy. Ia menggeleng heran , tak mengerti kisah cinta yang sobatnya alami. merasa telah lama tak menjadi pakar percintaan yang paling di andalkan di antara mereka.


"Semua baik. Hanya gue takut mengatakan tentang Cherry. Dan ketika gue menutupi semua, emosi gue tercurah kepada mereka. Kesal gue, sedih gue. Gue takut malam itu terulang, hingga tak berani menemui mereka seperti dulu lagi. " Kesahnya dalam . Menyentuh hati kecil Reno yang tak berpikir tentang itu sebelumnya. Sandy menunduk pilu, menyembunyikan keresahan hatinya yang kian hari kian menghantui.


"jalani dulu bro. Tapi lebih baik lo bilang sama Keysha. Gue ngerti kok, dia akan bisa memahami semua. Dia bukan Cherry bro !" Reno mencoba menghibur. Mendekap mesra hati yang hampir terjatuh dan menghilang dari posisinyaq.