
drtt drrt (Suara musik mengayun dari ponsel milik Reno)
Reno yang larut dengan candaan dan permainannya bersama Allan segera bangkit meraih ponselnya.
"Ayo om." Rengek Allan tidak ingin permainan kuda-kudaan itu selesai.
"Om Reno angkat telpon sebentar ya ." Jawab Reno lembut. Ia menunggu pria kecil itu mengangguk, mengizinkan lalu segera melangkah keluar.
"Hallo ?" Sambungnya dengan sopan. Bicaranya sangat datar dan penuh penjiwaan. Tidak banyak kata selain mengiyakan dan beberapa kata penting yang terlontar dari bibirnya . Sudah jelas, itu adalah telepon penting dari client pentingnya di kantor.
"Siapa Ren ? " Tanya Keysha.
"Eh Key. Aku ada urusan mendadak, maaf ya aku harus pergi." Reno merapikan diri. Ia mengenakan jas yang ia lepas semenjak tiba di sana.
"Kamu tidak jadi nginep di sini ?" Keysha menghentikan aktivitas nya. Ia memfokuskan diri pada lelaki yang sangat sibuk dengan rambutnya. Tidak hanya sekali menyisir, sisir berwarna hitam itu sudah berulang kali menjamah rambutnya, menatanya padahal sudah sangat rapi semenjak dua kali ayunan sisir.
"Mungkin lain waktu." Pungkasnya. "Bilangin sama yang lain ya Key. Maaf aku tidak mungkin pamit sama mereka satu persatu. Tentu kamu sangat hafal dengan drama keluargamu kan ?" Reno menyunggingkan seutas senyum.
Keysha terkekeh kecil mendengar ucapan Reno. Dia tentu saja sangat hafal. Meera selalu memiliki drama panjang. Dia kadang lupa jika seorang pebisnis dan pengusaha seperti Reno bisa saja memiliki kepentingan mendadak. Tidak bisa bersantai-santai dan mengulur waktu seenak jidat walau terkadang hanya urusan sepele. Ya, dengan statusnya sebagai seorang owner sekalipun. "Nanti akan ku sampaikan."
Reno melambaikan tangan, kakinya melangkah cepat ke luar rumah. Dengan hitungan detik, tubuh kekar yang sangat mirip dengan Sandy itu sudah menghilang di balik pintu.
"Sayang, Reno kemana ?" Sandy melihat istrinya bercengkrama dengan Reno. Tapi, langkahnya kalah dengan kecepatan yang Reno kerahkan. Ia belum sampai untuk menghampiri, tetapi lebih dulu Reno menghilang dari pandangan mata.
"Dia ada urusan mendadak. Sepertinya urusan kantor." Jawab Keysha yakin.
"Kantor ? Jam segini ?" Sandy mengernyit tidak percaya.
"Dia pemilik apartemen mewah Reno. Dua puluh empat jam apartemen itu beroperasi. Jadi, ya ...mungkin konsumennya ingin bertemu dengan pemiliknya langsung. Kita kan tidak tahu urusan orang. Jangan memiliki prasangka buruk. " Keysha menepuk bahu suaminya. Ia menyadarkan lelaki itu agar tidak berpikir yang buruk tentang sahabatnya.
"Ya, bisa saja itu dari Dokter Alexa yang tiba-tiba minta di jemput." Ucap Sandy santai. Ia merebahkan tubuh di atas sofa dengan keras. Menikmati busa lembut yang menyapa tubuhnya. Sungguh, sebuah tempat singgah dengan segala kenyamanan yang sangat membuat orang yang berkunjung betah dan ingin berlama-lama di sana.
Keysha kembali terkekeh kecil, "Mana mungkin."
"Kenapa kamu sangat yakin ?" Sandy mendongak. Mencermati wajah istrinya yang lagi lagi membantah kalimat pernyataan yang baru saja ia lontarkan.
"Karena aku mendengar percakapan mereka. Reno tidak selembut seperti saat bicara dengan Dokter Alexa. Jadi, apa mungkin dia sedang bersandiwara." Keysha menghela nafasnya ringan. Ia turut menjatuhkan tubuh dan duduk berdampingan dengan suaminya.
"Mama...." Allan menghampiri mereka. "Boleh Allan tidur sama mama dan papa malam ini ?"
Tidak biasa pria kecil itu menunjukkan betapa rindunya yang menyapa hati. Dia bermanja dengan kedua orang tuanya. Bergelayut dan memohon untuk di izinkan sehari saja merangkai mimpi dengan orang terkasihnya.
"Tentu saja sayang." Jawab Keysha lembut. Ia tersenyum seraya menyapu lembut kepala Allan. Sudah pasti hatinya merasa senang. Bagaimana tidak, baru kali ini anak lelakinya meminta hal yang sudah tidak dia inginkan semenjak mereka memiliki kamar sendiri.
Pun dengan Sandy, dia juga menyambut permintaan putranya dengan senang. Ya, tentu karena dia sudah terlebih dahulu meminta jatahnya siang tadi. Coba kalau belum, wajahnya sudah tentu sangat ketus dan enggan tersenyum. Dia akan terbayang dengan angan yang mengisyaratkan malah yang penuh kegelisahan. Hasratnya yang menggunung, tak memiliki celah untuk tersalur.
"Allan ngantuk ma." Ucap Allan dengan manja.
"Allan ke kamar dulu ya sama papa. Mama bilang sama oma sama opa dulu." Jawab Keysha tidak melepas tangannya dari kepala Allan.
Pria kecil itu mengangguk, lalu menggandeng tangan Sandy yang sudah bersiap. "Mama jangan lama-lama ya." Pintanya sebelum menapaki tangga satu persatu.
Keysha menatap punggung Allan dan Sandy dengan kasih yang melesat mengiringi irama kaki mereka. Seutas senyum turut hadir mengurai pinta yang selalu dia senandungkan dalam sujud panjangnya.
"Ma ...Allan mana ?" Suara Lena yang sudah mendongak di hadapannya membuyarkan diamnya. Keysha tersentak, lalu berjongkok untuk mengimbangi tinggi badan putrinya.
"Allan bilang ngantuk sayang. Dia mau tidur sama papa. Lena mau menyusul ?"
"Lena mau tidur sama oma Meera. Bolehkan ma ?" Ucap Allena memohon izin.
Dia tidak pernah menyanggah keinginan anaknya selama itu benar. Meskipun hasrat dan rindunya menggumpal menyesakkan nafas, menekan kencang hingga membuat dadanya terasa nyeri ketika mendengar celoteh riang yang menyapa hati, Keysha tetap bukanlah seseorang yang egois. Meera adalah bagian dari adanya Lena, jadi dia tidak ingin menjauhkan anak-anaknya dari Oma nya. Dengan rela, Keysha mengalah dan menyerahkan malamnya bersama Lena untuk Meera. Ah, masih ada esok, pekiknya dalam hati ketika kecewa itu kembali mengetuk hatinya. Ya, kecewa. Bukan karena Meera ada di sana, melainkan putrinya tidak memilih bermanja dengannya di malam pertama mereka kembali ada di tempat yang sama di saat malam hari.
"Mama, besok oma Meera sudah pulang. Jadi, Lena tidak akan bisa tidur dengannya jika malam ini ikut tidur mama." Bisik Lena pelan. Putri kecil itu seakan memahami gejolak hati yang bergerumuh di balik dada Keysha.
"Mama mengerti sayang." Keysha mengangguk. Dia mencoba mencerna batin putrinya. Memahami hal yang tidak sempat terlintas di benaknya. Ah, kenapa aku berotak pendek. Seharusnya aku memikirkan apa yang sedang Lena pikir, bukan menerka-nerka yang hanya membuat hatiku luka karena kecewa dari prasangka.
Lena berlarian, ia kembali menghampiri Chandra dan Meera yang sudah menantinya di bawah tangga. Senyuman sumringah wujud syukur dan terima kasih itu tanpa ragu mereka loloskan di bibir keduanya.
"Selamat malam ma." Lena melambai ke arah Keysha. Lalu merengek dan meminta di gendong oleh Chandra.
..
"Bunda tidak tidur ?" Keysha menegur Yeni yang masih duduk seorang diri di ruang tengah. Ia sedang menggeliat, melepas penat dan rasa lelah yang menyita waktunya sehari penuh.
"Sudah Keysha katakan, jangan terlalu banyak bekerja. Mama sudah waktunya istirahat." Pungkas Keysha tegas. Ia mengambil benang dan jarum itu dari genggaman Yeni.
"Tanggung sayang. Bunda senang melakukan itu." Protes Yeni. Ia mencoba menarik kembali sisa benang, tapi segera di tepis dengan halus oleh Keysha.
"Masih ada hari besok bun"
"Iya nak. Itu lo sedikit lagi, tanggung !"
"Tolonglah bun. Perhatikan juga tubuh bunda."
"Baiklah....Tapi jangan di gulung biar bunda besok tidak kerepotan ketika memulainya lagi." Ucap Yeni mengingatkan. Ia beranjak dan berjalan dengan ocehan-ocehan kecil yang tidak bisa di dengar oleh indera pendengaran Keysha.
Sudah pasti bunda sedang ngomel karena sulaman ini, batin Keysha seraya tersenyum simpul.
Keadaan rumah sudah sepi. Keheningan mulai menyapa dan berdenging keras di gendang telinga. Lampu-lampu mulai di padamkan oleh Keysha. Perempuan itu menghela nafas panjang. Betapa bahagianya waktu yang ia lewati belakangan ini. Ia di kelilingi oleh orang-orang yang mengasihinya dengan tulus. Mereka saling bahu membahu menjaga, seolah-olah membuat putaran luas dan membiarkan Keysha bergerak bebas di lingkup yang penuh kenyamanan.
"Selamat malam, selamat bertemu dengan dunia yang lebih menggairahkan. Selamat tinggal masa lalu yang penuh kebodohan ! Akan ku pastikan, aku tidak akan mudah terhasut oleh air mata yang menjebak seperti yang selalu terjadi dan berulang kali ku lewati." Tutur Keysha penuh tekat. Jemarinya mengusap lembut tepi tangga, kakinya menginjak dengan yakin. Ia menelusuri tangga yang menghubungkan dua lantai, lalu melangkah masuk ke dalam kamar.
Lampu masih menyala terang, tapi dua pangerannya telah terlelap dan terbius dengan kantuk yang mendera matanya. Mereka saling berpelukan, dengan selimut yang menjamah hingga bagian perut keduanya.
"Mama sangat rindu ketika kalian tidak ingin tidur terpisah seperti saat ini." Ucap Keysha pelan. Ia membelai kepala Allan, mengulang kenangan ketika ranjang lebar itu terasa sesak dengan empat manusia yang terbaring di atasnya setiap malam.
"Kasur ini sangat luas tanpa kalian nak." Lanjutnya. Ia menutup kenangan, bibirnya tersenyum simpul. Ada senang dan susah yang secara bersamaan menyapa. "Apa lagi nanti ketika kalian sudah dewasa, sudah pasti semakin sulit untuk tidur satu ranjang dengan mama kan."
Sandy yang belum benar-benar pulas, mulai mengerjapkan mata. Ia mengusap pelan kelopak matanya.
"Sayang ?" Sapa Sandy dengan suara parau.
"Kak, kamu belum tidur ?"
"Sudah. Tapi aku mendengarmu bicara." Pungkasnya seraya membenarkan tubuh. Ia setengah mengangkat badannya dan bersandar pada ujung ranjang.
"Oh maaf, apa Keysha bicara terlalu keras, hingga membuat kakak terbangun ?"
"Tidak ...." Jawab Keysha cepat. Ia menyanggah pernyataan Keysha dengan melambai.
Keysha melepas jilbab. Dia juga membersihkan wajah di depan cermin mewahnya. Jemarinya mengusap riasan tipis yang menghias kulitnya dengan kapas. Ya, tentu matanya fokus melihat diri, tapi dia juga menangkap mata Sandy yang terus memperhatikan dirinya.
"Jangan melihat ku seperti macan yang siap menerkam mangsa ! Tidurlah lagi, aku akan ganti pakaian lalu menyusul mu." Protes Keysha yang mulai risih dengan pandangan suaminya.
"Apa salahnya aku melihat istriku, itu sudah menjadi hak ku."
Keysha tidak menggubrisnya, ia memilih melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi. Dengan cepat, ia sudah keluar dengan pakaian tidur yang melekat pas di badannya. Cantik sekali, dan beruntunglah Sandy karena hanya dia satu-satunya pria dewasa yang menyaksikan itu secara terang-terangan.