I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Gara-gara kompor rusak



"Ya sudah, nikmati saja senjata mu sendiri. "


"Kau ini sebenarnya di pihak siapa sih Vino ? Kenapa kau begitu senang aku kesusahan ?" Gertak Shinta dengan sengitnya. Ia memukul keras bahu Vino, menyuarakan ketidaksukaan nya mengenai sikap Vino yang begitu acuh terhadap masalah besar yang melandanya.


"Pihak ? Sejak kapan aku memihak mu Shinta ?" Vino mengerutkan dahi. Ia membalas tatapan sengit Shinta dengan senyuman sinis.


"Vino ! Aku hamil karena ulah mu, kenapa kau tak peduli ? Seharusnya, kau membantuku agar anak kita memiliki bapak. Bukan malah senang melihatku menderita seperti ini. " seru Shinta. Ia terus saja berteriak dengan gundah yang melanda hatinya. Pikiran dan jiwanya kacau, terkoyak karena kuatnya masalah yang mengancam masa depannya.


"Kenapa kau bingung mencari bapak jika kau paham itu adalah anak kita ? Kenapa kau tidak peka Shinta !" gumam Vino dalam hati.


"Kenapa diam saja ? Kau pasti menertawakan aku di dalam hati kan ? Kau sedang bergembira atas kegagalanku ! kau...kau benar-benar keterlaluan Vino . Kau kejam ! Kau tega menghancurkan ku padahal semua bukan salahku ! Semua salah mamaku !"


Sejatinya, Vino teramat merasakan kasihan terhadap wanita yang ia puja diam-diam. Hatinya sakit ketika harus berpura-pura kejam dan tega terhadapnya. Namun, bagaimana ? Jika Vino mengungkapkan isi hatinya, ia akan mendapat sambutan yang menyedihkan. Sudah pasti Shinta akan menertawakannya. Ia tidak akan meremehkan kegagalan Vino. Seperti apa yang Vino katakan, menikmati senjatanya sendiri. Ya, jika Vino berubah rasa, Shinta akan dengan bangga mengatakan jika Vino tengah terjerat dengan senjatanya sendiri.


"Bukanlah kau tahu , tujuan utamaku adalah membuat hidupmu menderita. Tentu, tanpa ku katakan, aku sangat berbahagia dengan penderitaan mu itu. " Vino menatap Shinta dengan mengukir senyuman sinis. Ia bergegas beranjak dari sofa, lalu meninggalkan Shinta dengan jeritan tangis.


"Maaf Shinta..." gumam Vino dalam hati.


Pergi di saat wanitanya menangis bukanlah pilihan yang tepat. Namun, Vino terpaksa melakukan itu untuk menjaga perasaannya. Ia takut, jika kesedihan Shinta membuatnya hilang kendali. Ia akan luluh, lalu merayu Shinta sesuai anjuran hati. Dan itu, itu akan membuktikan jika dirinya kalah. Ia menyerah pada rasa yang susah payah ia tolak. Melupakan wasiat terakhir di sisa nafas yang ayah.


"Vino, kau harus hancurkan hidup anaknya Lita, sama seperti apa yang papamu minta. " batin Vino seraya berlalu semakin jauh dari Shinta.


Shinta tak segera beranjak. Ia setia duduk di atas sofa dengan tangis yang tak kunjung mereda. Ada sesal yang bertahta. Mendesak pada rasa yang mengelak akan kekalahan.


"Mama, bagaimana nasib Shinta nanti ma..."


Shinta hanya duduk meringkuk dengan wajah yang ia sembunyikan di antara kaki jenjang miliknya. Otak dan logikanya terus mencari cara untuknya segera keluar dan mengakhiri kesalahan dalam melangkah.


*****


Keysha pulas tertidur ketika ia sedang menonton televisi. Sementara Sandy, ia tengah sibuk menyelesaikan pekerjaannya dari Villa. Ia melakukan meeting melalui sambungan video call dengan para client nya.


"Selesai..." Sandy menghela nafas lega. Ia menutup laptopnya setelah sambungan video di tutup.


Allan dan Lena berlarian tepat beberapa detik setelah Sandy menyelesaikan pekerjaannya. Reno dan dokter Alexa menyusul dari belakang. Mereka sudah selesai berenang, dan sudah berganti pakaian.


"Jangan berisik ya, mama lagi bobok. " Kata Sandy seraya meletakkan jari telunjuknya di bibir.


Allan dan Lena mengangguk, dan mengikuti tingkah Sandy. Meletakkan jari telunjuknya tepat di bibir mungil mereka. Reno dan dokter Alexa senyum-senyum memperhatikan tingkah lucu kedua anak yang mereka anggap seperti keponakan mereka sendiri. Sedikit gerakannya saja selalu mengundang tawa. Menjadi obat dari kegelisahan yang menyapa hati.


Keysha mulai mengerjap, sesekali mengucek kedua matanya. Ia menggeliat ketika matanya belum seutuhnya terbuka.


"Kalian sudah selesai berenang nya ?" tanya Keysha begitu melihat kedua anaknya yang sedang duduk manis bersama Sandy.


Suasana hening, tidak ada suara yang menyapa telinga. Meskipun hanya sebuah kalimat yang di sampaikan melalui bisikan telinga. Allan dan Lena cepat menangkap apa yang Sandy sampaikan. Anak-anak yang cerdas ! Selalu mengerti kondisi dan situasi yang ada. Hanya, jika hilang kendali. Allan yang lebih sering merengek menyampaikan perasaannya. Ia tak bisa di atur jika berurusan dengan tatanan hati. Apalagi, jika kemauan yang haknya di usik. Dengan segala cara, ia akan mempertahankan itu.


"Mama terganggu ya boboknya ?" tanya Allena seraya melangkah mendekati Keysha.


Keysha bangkit dari sofa. Senyuman manis merekah indah di sudut bibirnya. " Tidak sayang. " Sahut Keysha dengan lembut. Ia mengusap rambut basah Allena penuh kasih. Lalu meninggalkan Kecupan kecil di ujung kepalanya.


"Kalian habis berenang pasti lapar. Bagaimana kalau kita goreng kentang sama nugget ? Ada yang mau ?" Keysha mengacungkan jari telunjuknya.


Allan dan Lena menyahuti dengan girang. Mereka bersorak riang mengiyakan tawaran dari sang mama. Lebih hebatnya, Allan dan Lena berebut untuk membantu Keysha menyiapkan semua.


"Biar aku bantu Key, " ucap dokter Alexa.


"Tidak perlu Lex. Kau pasti sangat lelah karena harus menemani anak-anak ku berenang, jadi biar aku saja yang menyiapkan makanan untuk kalian." Keysha menolak tawaran dokter Alexa dengan sopan.


"Duduk lah Key. Biar aku dan Alexa yang menyiapkan !" seru Reno dengan bahasa angkuhnya. Ia berjalan lebih dulu menuju dapur, lalu di susul dokter Alexa dari belakang.


"Ok, baiklah !" sahut Keysha yang entah masih di dengar atau tidak oleh kedua sejoli yang tengah di mabuk cinta itu.


Keysha kembali duduk dan menemani anak-anak nya menonton kartun favorit mereka.


Sandy beranjak untuk meletakkan laptop nya di atas meja, lalu kembali duduk di sebelah Allena. Mereka menghadap pada layar besar di ruangan itu. Suara tawa menggema ketika ada moment lucu yang di lakukan oleh tokoh-tokoh kartun tersebut. Bahkan Allan dan Lena sampai tak berhenti tertawa karena kelucuannya.


Dokter Alexa segera menyiapkan alat-alat yang akan ia gunakan untuk menggoreng kentang dan nugget yang sudah Keysha keluarkan beberapa waktu yang lalu. Reno terus membuntuti dari belakang Dokter Alexa. Karena kenyataannya, ia belum pernah menjamah dapur. Ia sama sekali tidak mengenal alat-alat masak. Bahkan lebih lucu lagi, ia tidak mengerti bagaimana caranya menyalakan kompor di Villa tersebut.


"Reno, tolong dong tuangkan minyak gorengnya ke wajan. " perintah dokter Alexa karena ia masih sibuk mempersiapkan yang lain.


"Wajan ? Apa itu wajan ?" tanya Reno dengan ekspresi bingung. Ia menggaruk tengkuk lehernya, tak mengerti barang seperti apa yang wanitanya minta.


Dokter Alexa terkesiap. Ia tak menyangka jika Reno yang mengerti alat penggorengan yang ia tunjuk.


"Ini ?" tanya Reno seraya mengangkat baskom stainless yang baru ia ambil dari dalam lemari.


"Reno, kau ini sedang bercanda atau bagaimana ? Kau benar-benar tidak tahu menahu alat-alat yang di gunakan untuk memasak ? okelah jika kau memang tidak memasak karena kau adalah pria. Tapi, bagaimana bisa kau tidak tahu alat yang di gunakan untuk menggoreng ?" gerutu dokter Alexa panjang lebar.


"Akku memang tidak pernah masuk dapur. Di apartemen ku saja tidak ku sediakan dapur, bagaimana aku bisa tahu. " Reno mengerucutkan bibirnya. Ia juga menarik tangan, lalu meletakkan di pinggangnya.


"Ok baiklah ! Aku akan menunjukkan padamu sekarang. Aneh-aneh saja..." Gerutu dokter Alexa geram. Ia meletakkan kembali bungkus nugget yang baru ia gunting ujungnya, lalu menyeret langkah mendekat ke arah Reno yang berdiri di depan kompor.


"Lihat ini !" perintah dokter Alexa dengan nada galak.


"Galak banget sih !" gerutu Reno begitu melihat wajah garang calon istrinya.


"Ini minyak, kalau kamu mau goreng apa-apa, kamu harus menuangkan minyak ke wajan. Ini namanya wajan !" tambah dokter Alexa. Ia menuangkan minyak ke dalam wajan dan terus berbicara layaknya emak-emak yang tengah mengajari anak gadisnya. " Kalau sudah, nyalakan kompornya !" perintah dokter Alexa kepada Reno.


Reno hanya memandangi kompor itu dengan raut bingung. Bagaimana cara menyalakan nya ? Di colokin ? Atau di tekan tombolnya ? gumamnya dalam hati.


"Kau juga tidak bisa menyalakan kompor ?" dokter Alexa menautkan salah satu alis. Ia di buat heran dengan Reno, apa selama ini ia hanya tahu caranya berbisnis saja ? Padahal dia memiliki cafe dan rumah makan yang begitu melegenda di pusat kota. Tapi, bagaimana bisa ia sama sekali tidak bisa menyalakan kompor.


"Bisa kok..." jawab Reno asal.


"Ya sudah nyalain, aku ambil kentangnya dulu..." dokter Alexa membalikkan badan. Baru saja hendak melangkah, tiba-tiba.....


"Nyala...." ucap Reno dengan menepuk tangan dua kali.


"Aneh sekali, kenapa tidak mau menyala. Apa kompornya rusak ?" gerutu Reno.


Dokter Alexa menggaruk-garuk tengkuk lehernya, padahal sama sekali tidak gatal. Ia menggeleng frustasi melihat calon suaminya yang sangat lugu ketika berada di dapur.


"(Berdecak kesal ) Renoo....." teriak dokter Alexa menggema di setiap sudut dapur. "Apa yang kamu lakukan ?" gertaknya dengan wajah bersungut-sungut.


"Aku sedang berusaha menyalakan kompornya sayang, tapis sepertinya ada yang rusak. " sahut Reno dengan serius. Ia tak menyadari kesalahannya. Bahkan masih bersikeras menyatakan jika kompor di Villa rusak.


"Reno, kenapa kau menawarkan diri untuk membantuku jika kau belum pernah masuk dapur ?" seru dokter Alexa dengan wajah frustasi yang di buat-buat.


"Aku hanya ingin membantumu sayang, kau sangat capek ya ? Aku panggilkan pelayan saja ya, biar kau tidak perlu repot-repot menyiapkan ini.." Reno menyentuh bahu dokter Alexa. Ia tak tahu, jika wanitanya itu tengah kesal terhadapnya. Bukan membantu, Reno justru membuat kerja dokter Alexa menjadi lambat. Hanya menyiapkan saja, ia sudah menghabiskan waktu hampir setengah jam. Dan itu karena Reno terus-menerus mengganggunya.


"Kau hanya merepotkan saja. Sudahlah ! Diam lah di tempat tanpa bergerak sedikitpun !" perintah dokter Alexa kepada Reno.


"Aku ingin membantumu sayang.." Reno masih tak mengerti. Ia terus mengikuti langkah kaki dokter Alexa kemanapun perempuan itu bergerak.


"Reno, diam atau aku marah ?" gertak Dokter Alexa. Seketika Reno diam mematung dengan mulut yang menganga. Kakinya yang hendak melangkah terhenti di udara. Membuat ia bertahan berdiri dengan satu kaki.


Dengan lihai, dokter Alexa menyalakan kompor. Setelah minyak mendidih, ia memasukkan kentang terlebih dahulu. Tidak membuang banyak waktu seperti saat Reno masih menyibukkan titik fokusnya. Dokter Alexa telah selesai menggoreng kentang, lalu bergantian menggoreng nugget.


Hanya butuh dua puluh menit. Semua sudah siap tersaji.


"Kau sudah boleh bergerak Reno.." seru dokter Alexa. Ia tersenyum sinis ketika Reno menghela nafas lega. Bagaimana tidak ? Dua puluh menit hanya ia habiskan dengan lelah. Bertahan berdiri hanya dengan satu kaki.


Dokter Alexa sudah nyelonong keluar dapur. Ia membawa nampan untuk mengeluarkan piring-piring yang berisi kentang dan nugget. Ia juga menyiapkan saus pedas dan saus tomat di sebelah piring masing-masing.


Reno yang menyusul keluar, langsung membaringkan tubuh di atas karpet. Biasanya ia merasa jijik dengan benda-benda yang sudah tersentuh kaki. Namun, tidak dengan saat itu. Ia terlihat sangat lelah, terdengar dari nafasnya yang ngos-ngosan.


"Kalian habis lari-lari atau goreng kentang dan nugget ?" sindir Sandy. "Lihatlah, Allan dan Lena sampai ketiduran menunggu kalian. " Imbuhnya seraya menunjuk kedua anaknya yang sudah terlelap di pangkuan Keysha dan Sandy.


"Maaf San, tadi kompornya rusak. Jadi, Reno harus betulin dulu." Sahut dokter Alexa seraya menatap Reno. Laki-laki itu hanya diam, ia masih sibuk mengatur nafasnya yang berat.


"Alexa benar-benar tega..." gumam Reno di dalam hatinya.


"Oh ya ? Kau bisa memperbaiki kompor yang rusak Ren ? Hebat sekali." Keysha tampak serius menanggapi. Ia tak tahu, jika dokter Alexa hanyalah menyindir calon suaminya itu. Hidup puluhan tahun, tapi sama sekali tidak bisa menyalakan kompor.


"Sudahlah ! Abaikan itu, lebih baik ayo makan." sahut Reno mengalihkan pembicaraan.


"Bisa Key. Lihat saja, gara-gara pusing mikir cara buat benerin kompor, wajahnya sampai kelihatan lelah begitu. Nanti, kalau alat-alat dapurmu ada yang rusak, gak usah buru-buru beli Key. Panggil saja Reno, di jamin pasti bisa di pakai lagi." ungkap dokter Alexa. Ia menatap Reno dan menyunggingkan ujung bibirnya dengan begitu sinis.


"Wah ide yang bagus tuh, " sahut Sandy. "Bagaimana caranya Ren ? Bukankah kau tidak pernah masuk dapur ?" Tanya Sandy penasaran.


"Apaan sih kalian. Berlebihan sekali, " sahut Reno dengan suara yang bernada geram.


"Sudah, sudah. Ayo kita makan." kata Keysha menghentikan ledekan-ledekan yang bersahutan di telinga.


Keysha meletakkan bantal di bawah kepala Allan, karena ia tadi tertidur di pahanya. Sandy juga melakukan hal yang serupa kepada Allena.


Mereka berempat menikmati sore hari dengan menu sederhana. Kentang goreng dan nugget, yang sebenarnya Allan lah yang meminta. Sandy juga memanggil pelayan, agar membuatkan mereka teh hangat. Dan dengan cepat sang pelayan sudah kembali dengan empat cangkir teh.


"Sisakan untuk Allan dan Lena, nanti mereka nangis." ungkap Reno begitu melihat makanan tinggal sedikit.


"Tidak perlu, biar nanti aku menggoreng yang baru untuk mereka." sahut Keysha.


Reno mengangguk mengerti. Lalu melanjutkan meneguk tehnya.


Dokter Alexa berucap syukur dalam hatinya. Kebahagiaan yang ia pinta bukanlah sesuatu yang di landasi dengan kemewahan. Kebersamaan, dan saling mengasihi sudah cukup memberikan kenyamanan untuknya.


Namun, sudah hampir dua minggu ke belakang, ia tidak menemukan itu di rumahnya. Dulu tempat yang ia singgahi bersama mama dan adiknya itu terasa dingin dan damai. Hanya ada canda tawa di dalamnya. Berantem kecil, itu pun lebih sering karena Naura dan dokter Alexa yang merebutkan mamanya. Namun, seiring berjalannya waktu, semakin tua umur mereka. Semua memiliki jalan pikiran yang berbeda. Apalagi, sejak hal memalukan yang membuat Febi menjadi bahan gunjingan oleh orang sekitar. Itu cukup mengusik ketenangan keluarganya. Dan hal itulah yang menyebabkan Febi selalu melihat dokter Alexa dengan kesal. Menatapnya, sama halnya mengingat kembali kejadian malam itu. Dan mengulang suara-suara yang bangga menertawakan kegagalan keluarganya.


******


Naura terus-menerus menangis. Ia masih tidak bisa merelakan kepergian dokter Alexa yang karena perdebatan. Di dalam kamar minimalis nya, Naura sedang meratap ketika memandangi foto dirinya bersama Febi dan dokter Alexa. Di sana, tergambar raut wajah ceria ketiga. Aura kebahagiaan yang terpancar bebas tanpa sebuah paksaan.


"Kakak dimana ?" keluh Naura di sela tangisnya.


Febi memperhatikan Naura dari ambang pintu . Hatinya yang terketuk dengan kerinduan kepada sang putri, membuatnya tak bisa menahan tangis ketika melihat Naura yang bersedih.


"Apa kakakmu menghubungimu ?" tanya Febi dengan pelan begitu langkahnya sudah berada di samping ranjang Naura. Ia mendudukkan tubuh di tepi ranjang, turut memandangi album foto yang berada di tangan Naura.


"Apa mama masih peduli dengannya ?" tanya Naura dengan kesal. Kepergian dokter Alexa semua karena Febi yang terus saja menyalahkannya. Jadi, wajar saja jika Naura turut kesal dan menganggap tiada lagi kasih dan kepedulian di hati Febi terhadap dokter Alexa.


"Kenapa kau berkata seperti itu Naura !" bentak Febi kesal. Naura selalu berkata dengan lemah lembut, tetapi karena membela kakaknya, kini ia berani berkata dengan nada tinggi dan terkesan kasar.


"Aku hanya bertanya seberapa peduli mama dengan kak Alexa ?" tanya Naura mengulang kalimatnya.


Plakkkkk ( Suara tamparan keras )


Naura memegangi pipinya yang memerah. Febi yang spontan melakukan perbuatan keji itu, hanya menangis melihat ke arah telapak tangannya. Ia menyesal, karena seumur hidupnya, ini kali pertama ia berbuat kasar terhadap Naura.


"Benar kata kak Alexa, mama benar-benar berubah ! Mama jahat..."


Naura semakin keras menangis. Ia tak melepaskan tangan dari pipi kanannya. Bahkan, ia menepis dengan kasar ketika Febie berusaha menyentuhnya dan meminta maaf atas ketidaksengajaan itu.


"Tinggalkan Naura ma..." seru Naura dengan suara parau.


"Maafkan mama sayang..." Febi hanya bisa menangis.


"Mama tolong keluar, jika tidak Naura yang akan pergi !" Naura mengancam Febi. Ia lalu turun dari atas ranjang dan menarik koper yang berada di sela lemari dan meja belajarnya.


"Oke , Oke, mama keluar..." seru Febi menyerah. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menuruti kemauan putri angkatnya untuk sementara. Naura butuh ketenangan, ia hanya ingin menyendiri untuk menyembuhkan lukanya. Bukan urusan sakit yang terukir di pipi merahnya, tetapi tangisan hati yang tergores karena perbuatan kasar Febi.


Febi memang berhak melakukan itu, jika anak-anaknya berbuat yang tidak selayaknya. Namun, ia terlalu berlebihan karena Naura hanya berupaya menyampaikan suara hatinya. Ia benar-benar terpukul atas kepergian dokter Alexa. Ia hanya menginginkan, kebersamaan mereka bisa kembali. Meskipun dalam kesederhanaan, terapi hal yang ingin ia utamakan adalah keluarga.