I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Berpura-pura Baik



Sehari penuh, Reno merelakan waktunya untuk menemani Sandy dan Keysha. Ia lupa dengan rutinitas lainnya, tentang pekerjaan nya, tentang istirahatnya, dan banyak hal yang mungkin sangat penting, tapi dengan rela dia kesampingkan.


Banyak pikiran-pikiran tak menentu yang merajai otaknya, bergerumuh membuatnya merasa pusing karena tidak memahami.


Sebenarnya, tidak banyak yang dia lakukan selain mengawasi Sandy. Pandangannya berulang datang lalu beranjak dan kembali lagi pada pria itu. Dia tidak peduli dengan adegan romantis yang sengaja Sandy perlihatkan di depan matanya. Jemari yang saling menggenggam, tubuh yang berulang kali mendekap, bahkan kecupan di kening yang di tinggalkan dengan suara menggoda sudah mewarnai waktu Reno dalam sehari ini.


"Apa kau tidak bisa menundanya ? Aku dari tadi di sini dan kau terus melakukan hal yang menyebalkan itu di depan ku. " Protes Reno kesal. Ia mendengus, tidak terima dengan sikap Sandy yang semakin terang-terangan menyiksa nafsu nya yang sedikit tersentuh karena adegan Sandy dan Keysha.


"O-oh maaf Reno, aku pikir kamu tidak melihatnya. " Sandy berkata dengan datar. Bagaimana tidak, dia memang sengaja bermanja kepada Keysha karena ingin menggoda Reno. Sengaja mengumbar kemesraan. Entahlah, apa tujuan Sandy melakukan itu. Hanya dia sendiri yang mengerti.


Keysha bungkam, ia memilih diam karena dia pun risih dengan kelakuan suaminya. Namun, apalah daya. Dia hanya seorang istri, dan menolak suaminya adalah dosa pada dirinya, termasuk kecupan mesra di depan Reno sekalipun. Ah Keysha, kau terlalu manis dan baik, kau tidak pernah lupa aturan meskipun Tuhan telah mengangkat derajat mu hingga berpuluh-puluh kali lipat.


"Sandy, bagaimana Allan dan Lena ? Ku rasa bunda sangat khawatir begitu mendengar berita tentang hilangnya aku." Keysha mengalihkan topik yang sedang mereka bahas. Sebuah hal yang tidak penting untuk mereka berdua perdebatkan. Keysha menatap Sandy dengan pandangan sedih. Rasa bersalah yang bertumpu pada poros hatinya, ia menyesali kebodohannya karena begitu percaya dengan kata-kata Shinta yang sejatinya memanglah licik.


"Astaga ! " Reno menepuk jidatnya. "Aku belum memberi tahu bunda jika Keysha sudah kembali." Reno bangkit dari sofa, lalu merogoh saku celananya untuk mengeluarkan ponsel.


"Sebentar. " Ucap Reno seraya menempelkan ponsel di telinga. Ia menunggu beberapa saat, hingga ada seorang yang menjawab telepon nya.


"Assalamualaikum...."


Seorang pria kecil itu menyapa dengan ramah. Cara berbicaranya tidak perlu di ragukan, dia adalah jenis pria yang dingin dan ketus.


"Wa'alaikum salam...Allan..Oma ada ?" Jawab Reno dengan ceria. Ia menekan tombol loud speaker agar Sandy dan Keysha bisa langsung mendengarkan.


"Om Reno ya ? Oma lagi mandi om, ada apa ? Nanti Allan sampaikan. ".Katanya dengan lugas. Allan memang anak yang cerdas dan memiliki kosa kata yang sangat banyak jika di banding dengan anak-anak seusianya.


"Bilang sama oma, kalau Mama Keysha sudah ketemu. Sekarang mama lagi di rumah sakit Medika untuk menjalani perawatan." Reno berbicara dengan pelan-pelan agar Allan mudah menangkap kalimatnya. Setidaknya, pria kecil itu tidak akan salah menyampaikan berita jika Yeni mempertanyakan itu.


"Baik om. Nanti Allan....mmm, maksud om Reno, Mama ketemu ? Jadi, mama Keysha sudah sama om Reno dan Papa Sandy ?" Allan melontarkan pertanyaan dengan sangat antusias. Ia meloncat gembira, ada tawa kecil wujud syukur yang terdengar mengiringi kalimatnya.


Sontak saja, tingkahnya mengundang tawa Keysha dan Sandy. Orang tua kandung dari Allan itu bisa meresapi rasa gembira yang terpancar dari suara Allan di sebrang telepon.


"Allan...apa kabar sayang ?" Keysha menyapa Allan dengan lembut.


"Mama...Mama kemana saja ? Apa Mama baik-baik saja. Atau ada yang terluka ? " Allan sudah tidak sabar menyembunyikan cemasnya kemarin, ia menerkam Keysha dengan aneka ragam pertanyaan yang tidak pernah Keysha pikirkan jika putra kecilnya sudah sangat dewasa dalam menanggapi permasalahan.


"Sayang, Mama baik-baik saja. Kemarin sempat adalah sedikit halangan yang membuat Mama tidak bisa pulang. " Keysha terkekeh geli. Sekarang, tidak hanya Sandy yang begitu cemas dengan raga dan jiwanya, tapi ada Sandy kecil, yang lebih menggemaskan ketika menyampaikan kata-kata yang mewakilkan rasanya.


Allan menghela nafas lega. "Syukurlah. Oma terus saja menangis memikirkan Mama. Allena juga sempat demam karena itu."


"Baik Pa. " Jawab Allan menurut.


Mereka menyudahi sambungan telepon, Reno mematikan ponsel dan memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celananya.


"Jadi, aku boleh pulang kan hari ini ? Aku sangat merindukan anak-anak. " Keysha memelas. Ia menatap Sandy dengan harapan yang besar bermohon agar suaminya itu menuruti apa yang menjadi kemauan hatinya.


Reno dan Sandy saling melempar pandangan, ada dilema yang bergelut dengan tanya yang Keysha pintakan. Semua bukan hanya berdasar pada diri Keysha, tetapi penyakit Sandy juga sedang memerlukan penanganan untuk sekarang. Mana mungkin dia bisa terus berpura-pura baik-baik saja dan bersikap seperti tidak ada yang sakit. Yang ada, dia akan kembali pingsan di depan Keysha, lalu memperpanjang masalah. Keysha akan terus mencemaskan nya, sama seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Dia juga pasti akan semakin curiga dengan sakit yang bersarang pada tubuh kekar Sandy.


Sandy mengangkat bahu, "Akan ku coba bicarakan dengan dokter yang menangani mu. Jika dia mengizinkan, aku tidak kuasa untuk melarang mu menemui anak-anak. Mereka juga pasti sangat merindukanmu, apalagi Allena...Dia gadis yang manja, mana bisa berlama-lama pisah denganmu." Senyuman tulus merekah indah di bibir merah Sandy.


Keysha tersenyum lega, Reno dan Sandy saling melihat.


"Ya sudah. Sekarang istirahat lah, aku harus kembali ke ruangan ku. " Sandy berpamit. Ia kembali duduk di atas kursi roda yang membawanya ke dalam ruangan Keysha.


"Apa kakak masih harus di rawat ?" Ucap Keysha mulai curiga.


"Tidak...bukan seperti itu. Aku tadi tidak mengatakan apapun pada dokter yang merawat ku. Dan seharusnya, aku menghabiskan dua kantong infus baru boleh keluar, tapi belum habis setengahnya aku sudah tidak tahan dan meminta perawat melepasnya. " Jawab Sandy panjang lebar. Ia memberi alasan agar istrinya tidak menuntut untuk dirinya tetap tinggal.


"Mmm....Baiklah." Keysha mengangguk paham.


"Kalau ada apa-apa kau bisa menghubungi nomorku, karena ponsel Sandy tertinggal di mobilku tadi. " Sahut Reno memberi isyarat.


"Menghubungi ? Aku tidak membawa ponsel Reno, dengan apa aku menghubungi mu ?" Keysha terkekeh.


Reno hanya menepuk jidat, ia lupa jika ponsel Keysha tertinggal di butik.


"Ya sudah. Kau bisa memanggil perawat, lalu menyuruhnya untuk memberi tahu kami." Jawab Reno asal.


"Ya ya ya....baiklah." Keysha mengangguk-angguk paham. Bibir tipisnya semakin menghilang kala dia berusaha menyembunyikan tawa.


Reno dan Sandy bergegas keluar, mereka berbalik badan ketika sampai di ambang pintu. Melambaikan tangan pada perempuan menatap langkahnya dengan seutas senyuman. Reno masih setia mendorong kursi roda Sandy, menghentikan sejenak ketika tangan kanannya berusaha menutup rapat pintu kamar Keysha.


Mereka menelusuri lorong panjang, penyatu beberapa ruang yang saling berhubungan.


"Bagaimana jika Dokter Liem mengizinkan ? Apa yang akan kau katakan pada istri mu San ? Kau tidak mungkin pulang dengan kondisi mu yang belum stabil." Reno membuka obrolan setelah memastikan jika langkah mereka telah membawa tubuh keduanya menjauh dari ruangan Keysha. Tidak ada kemungkinan yang jelas, untuk Keysha mendengar percakapan mereka.


"Aku belum memikirkan itu Ren. Ku harap, Dokter Liem masih memberiku waktu satu hingga dua hari. " Sandy menggeleng kepala ringan. Otak dan logikanya sedang bekerja, mengatur cara agar rahasia besarnya tidak segera terbuka. Ia tidak ingin Keysha mengetahui rasa sakit yang selama ini ia tutupi. Biarkan semua menjadi cerita sedih, dan kenangan buruk untuk di lupakan ketika raganya sudah kembali pulih. Dan jika Tuhan berkehendak lain, dan mempercepat ajalnya sesuai diagnosa yang Dokter Alexa katakan, biarkan semua menjadi rahasia dan sebuah mimpi buruk yang menghilang seiring berjalannya waktu.