I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Sebenarnya Cinta



Dokter Liem tersenyum lebar, "Semangat Nyonya Rania sungguh tinggi tuan. Saya tidak menyangka jika dia bisa secepat melewati masa-masa komanya."


"Alhamdulillah." Ucap Keysha dan Ibnu kompak. Mereka sama-sama mengusap wajah, menutup dengan sebuah kalimat syukur yang tersirat.


"Apa aku bisa menemuinya sekarang Dok ?" Keysha menatap Dokter Liem dengan pandangan memelas. Perempuan itu seolah sedang memohon agar pintanya tidak mendapatkan jawaban dengan kata penolakan yang lembut.


"Silahkan. Tapi, saya harap anda tidak terlalu lama di dalam dan mohon untuk sendiri-sendiri agar tidak menggangu istirahat Nyonya Rania." Jawab Dokter Liem pelan. Pria berkaca mata itu merunduk lalu pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.


Keysha melangkah masuk, ia mendorong pintu dengan pelan, lalu kembali menutupnya rapat setelah ia tiba di dalam.


"Rania...."


Mungkin, Tuhan sedang mengampuni dosa-dosanya. Ia sengaja di buat luka, untuk menguji seberapa dalam kesungguhan hatinya untuk membantu. Seberapa besar keinginannya untuk benar-benar kembali pada arah yang benar, dan juga setulus apa ia bersungguh-sungguh dengan kata maaf yang ia bisikkan dalam sela hati.


"Rania, kenapa kamu senekat ini ?" Keysha meneteskan air mata. Senang dan sedih yang berkecamuk, teraduk rata dalam masa yang sama. Kesungguhan yang Keysha rasakan pada tekat Rania untuk meminta maaf sangat lah besar dan dia sangat senang dengan itu. Sedangkan melihat seorang sahabat yang baru saja mengikrarkan kembali kata yang mengikat itu, lalu terbaring lemah dan tak sadarkan diri sungguh sangat menyiksa hatinya. Ia bersedih untuk itu, bahkan sama sedihnya pada saat ia mendengar jika Sandy mengidap penyakit yang mematikan waktu itu.


Keysha tersenyum simpul ketika bayangan masa lalunya bersama Rania kembali hadir di antara angannya. Masa-masa indah tanpa adanya cinta pada lawan jenis yang menjadi pemisah. Tidak mengenal harta yang membedakan kasta. Ya, persahabatan Keysha dan Rania sangatlah indah pada masanya. Mengalir, mengikuti alur kehidupan. Mereka sering berdebat, tapi selalu di akhiri dengan suara tawa geli.


"Rania....Apa kau ingat. Dulu, ketika kau sakit aku pasti menginap di tempatmu hanya untuk menemani mu tidur. Aku tidak peduli meskipun besoknya aku mendapat amukan khas dari mama Lita. Pun sebaliknya, ketika aku sakit, kamu selalu berusaha keras menyusup masuk ke rumah tanpa sepengetahuan mereka....Haha...Rania itu sungguh sangat lucu untuk di ingat." Keysha meraih jemari Rania yang masih terkulai lemas. Ia menggenggam nya dengan erat bahkan sesekali menempelkan pada salah satu pipi miliknya.


Keysha menyapu pipi Rania, meninggalkan kecupan hangat dan dekapan erat pada tubuhnya yang masih lemah. "Rania, kau harus janji kepadaku untuk segera sadar. Aku menantimu Rania, aku memaafkan mu." Bisik Keysha lirih. Ia bercakap di samping telinga Rania, berharap wanita itu mendengar walau tidak bisa menjawabnya.


Keysha kembali bangkit. Ia menghela nafasnya pelan, "Baiklah. Rania, aku akan sering menemui mu, tapi aku tidak bisa berlama-lama meninggalkan Sandy. Dia masih sangat membutuhkan ku kali ini." Ucap Keysha memberi tahu. Ia menatap mata Rania yang masih terpejam rapat.


--------


"Ibnu." Keysha memanggil pria yang masih setia duduk di kursi depan ruangan. Dengan pelan, Keysha menutup pintu dengan rapat.


"Key ? Sudah ? Apa Rania sudah sadar ?" Tanya Ibnu cepat.


Keysha menggeleng pelan, " Belum Nu....Sabar, semua butuh proses, toh Dokter Liem juga sudah bilang kalau Rania semakin membaik. Jadi, jangan khawatir."


"Iya Key. Terima kasih ya..."


"Terima kasih ?" Keysha mengernyit cepat. Ia menertawakan apa yang Ibnu ucapkan.


"Terima kasih, kau masih berbesar hati memaafkan Rania. Keysha, aku tahu. Istriku selalu salah paham dengan kita, walau kita sangat jarang bertemu. Dia selalu membawa-bawa namamu di setiap pertengkaran kita. " Ibnu kembali membanting tubuhnya di atas kursi. Ia membuang pandangan, merasa malu ketika menatap perempuan yang berhati malaikat di hadapannya. Seberapa besar salah yang Rania lakukan, dia dengan suka rela memaafkan. Tanpa embel-embel, ataupun syarat yang melelahkan. "Haha...Itu sangat aneh mungkin kedengarannya bagimu. Tapi, Ya...seperti itulah Rania." Karena tidak kunjung mendapat jawaban dari Keysha, Ibnu melanjutkan kalimatnya. Ia larut dalam senandung cerita yang membuka luka. Hatinya, cukup hancur ketika mengingat setiap luka yang Rania tancapkan tanpa adanya salah yang jelas telah di perbuat olehnya.


"Ibnu, Rania begitu mencintaimu. Dia sangat takut kehilanganmu, makanya dia sangat berlebihan dalam menjaga hatimu dari wanita lain, termasuk aku sekalipun." Dengan pelan, ia turut duduk di samping Ibnu. Menghibur dengan kata-kata yang tidak menyudutkan Rania. Namun, apa yang Keysha katakan adalah suatu kebenaran. Perempuan yang sedang mereka bicarakan memang seperti itu. Dia hanya takut kehilangan, itulah sebabnya Rania sangat takut ketika mendengar Ibnu mencintai Keysha. Ya, walaupun sahabatnya telah memiliki suami yang sangat perhatian dan mencintainya, tapi bagi Rania itu tidak menutup kemungkinan untuk dua orang yang ia curigai itu saling menaruh rasa, lalu diam-diam merajutnya dengan mesra di belakangnya.


"Ku rasa memang seperti itu Key." Ibnu tersenyum simpul.


" Nu ?"


"Ya ?"


"Apa kau mencintai Rania dengan tulus ?"


Deg ! Pertanyaan yang Keysha lontarkan terdengar konyol, tapi mampu membuat jantungnya berdetak kencang. Jujur saja, Ibnu belum bisa mengartikan rasa yang belum terarah dalam hatinya. Pria itu tampak salah tingkah jika di perhatikan dari tingkah dan sorotan matanya.


"Kenapa kau bertanya seperti itu ? Tentu saja....Tentu saja aku mencintainya." Ucap Ibnu ragu. Ia tidak yakin dengan kalimatnya yang terlanjur tersembur keluar dari dalam tenggorokannya.


"Jujurlah Nu ! Rania pasti akan sangat senang jika kau bisa jujur dengan dirimu sendiri." Jawab Keysha pelan. Ia tidak melepaskan Ibnu dari cengkraman matanya. Sinarnya terus mengintai, mematikan bisikan yang berusaha berkilah dengan tanda tanya yang Keysha tunjukkan.


"Entahlah Key. Aku tidak bisa mengatur hatiku sendiri." Ibnu merunduk.


"Tidak bisa mengatur hati ? Maksud mu apa Nu ? Aku tidak mengerti ?" Keysha mengulang hampir seluruh kalimat yang Ibnu ucapkan. Ia mendesak Ibnu, untuk lebih terbuka padanya.


"Aku tidak tahu apa yang aku rasakan. Dulu, aku terpaksa menikahinya karena suatu hal dan tentu Kak Cherry yang memaksaku. Tapi, kali ini...Melihatnya rapuh seperti itu aku sangat sedih. Aku...aku tidak mengerti kenapa aku seperti ini..." Ibnu mencoba memberi penjelasan. Ia berusaha merangkai kata, menyampaikan rasa yang tertera dengan kalimat jelas. Ya, dia sangat membutuhkan orang lain memecahkan teka-teki yang tersimpan dalam hatinya. Dia terlalu bodoh untuk memutuskan itu.


"Haha...." Keysha terkekeh kecil. Ia menekan perut agar tidak terlalu kencang tertawa. Ia masih bisa mengendalikan diri dan tahu posisi, tentu saja ! Mereka berada di rumah sakit saat itu. Tidak bisa bersikap seenak hati, tanpa memikirkan aturan yang berlaku.


"Kenapa kau tertawa ? Apa ada yang lucu ?"


"Kenapa kau ragu Ibnu. Sudah jelas, waktu menghadirkan cinta dalam hatimu. Jaga itu baik-baik. Aku yakin, Rania adalah perempuan yang baik jika kau bisa mengarahkannya dengan lembut."


Keysha berlalu, ia membiarkan Ibnu berpikir seorang diri. Meninggalkan pria itu dengan rasa heran yang kuat. Ah, dia benar-benar tidak paham atau hanya alasannya saja karena enggan mengakui semua ? Entahlah !