I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Istri Idaman



*Malam hari kemudian


drrt drrttt (Ponsel Keysha bergetar, ada pesan beberapa pesan masuk secara bersamaan)


Keysha mematikan kompornya, ia segera meraih ponselnya dan membaca pesan yang masuk. Ya, itu karena dia memang sedang menantikan balasan dari seseorang semenjak siang.


"Sorry Key, aku ada jadwal pemeriksaan hari ini, setelahnya aku harus datang menemui mertuaku yang baru saja balik dari Amerika. Dan yang parah lagi, aku lupa membawa ponsel."


Keysha menghela nafasnya lega. Setidaknya ia bisa mendengar kabar dari sahabat kecilnya.


"Tak apa. Aku akan menemui mu besok pagi." Balas Keysha dengan cepat.


Keysha bersenandung kecil, lalu kembali melanjutkan memasak. Dia tidak sendiri, ada mbok Darmi yang setia membantunya. Ragam menu sengaja dia siapkan karena semua anggota keluarga besarnya masih berkumpul di sana.


Setelah selesai memasak dengan delapan menu favorit masing-masing, Keysha segera membawa ke meja makan. Menatanya dengan rapi, ia juga tidak lupa mengisi setiap gelas dengan air putih.


"Keysha apa kau yang memasak ini semua ?" Tanya Meera. Ia tertegun dengan keahlian menantunya, tenaga yang dia miliki tidak bisa di sepelekan. Dengan kondisi lelah karena pulang kerja, dia tetap berhasil menyajikan makanan yang menggiurkan pandangan.


"Keysha tidak sendiri ma, mbok Darmi membantuku menyiapkan semua ini." Jawab Keysha. Ia menepuk lengan Mbok Darmi yang berdiri di sampingnya dengan ringan.


"Kau memang istri idaman. Dimana suamimu ?" Tanya Meera.


"Kak Sandy ada di kamar, dia tidak biasa makan sebelum mandi setiap pulang kerja." Ucap Keysha.


"Aku pikir kebiasaannya itu sudah berubah." Seru Meera.


"Haha...sama saja ma." Jawab Keysha santai. Ia menyelipkan tawa kecil di sela ucapannya.


"Ayo tante duduklah ! Keysha akan memanggil yang lainnya untuk makan malam." Keysha menarik kursi dan mempersilahkan Meera untuk duduk. Dengan senang hati Meera mengiyakan ucapan Keysha dan segera mendudukkan tubuhnya di atas kursi.


"Bunda tinggalkan sulaman itu, makan malam sudah siap. Ayo makan !" Seru Keysha. Ia melepas celemek dan menggantungkan pada tempat yang tersedia.


"Iya, panggil dulu suamimu...Bunda sudah selesai dengan ini." Sahut Yeni seraya meletakkan topi kecil hasil sulamannya beberapa hari ini.


Keysha menelusuri anak tangga, ia berjalan dengan santai menuju kamar anak-anak. Ada Chandra dan Allan di dalamnya.


tok...tok...tok... (Suara pintu di ketuk)


"Pa makan malam sudah siap, Allan makan dulu sayang." Ucap Keysha, Chandra dan Allan mengiyakan dari dalam kamar dengan jawaban yang kompak.


Kemudian, Keysha segera menuju kamar pribadinya untuk memanggil suaminya. Tidak basa-basi atau mengetuk pintu terlebih dahulu, ia langsung masuk tanpa permisi.


"Kak Sandy.... Apa kakak belum selesai mandi ?" Celetuk Keysha begitu ia sampai di dalam kamar.


"Sudah sayang." Seru Sandy. Ia melirik istrinya yang masuk tanpa permisi. Walaupun status mereka adalah sepasang suami istri, tapi Keysha tetap saja malu ketika melihat suaminya telanjang dada dan hanya menutup bagian bawahnya dengan handuk kecil.


"Buka matamu ! Kenapa kau begitu takut melihatku." Protes Sandy, ia memperhatikan istrinya yang membalikkan badan di belakang pintu.


"Tidak...tidak....Aku akan menunggumu di bawah. Makan malam sudah siap, segeralah turun." Sahut Keysha, ia segera berlari keluar kamar dan kembali menuruni anak tangga dengan cepat.


Sandy tersenyum sinis, ia buru-buru mengenakan celana dan juga bajunya, lalu menyisir rambutnya dengan rapi. Tidak membuang waktu, ia segera turun untuk memenuhi panggilan istrinya.


Keysha sudah tiba di meja makan lagi, tidak lama Sandy juga berada di belakangnya. Yang lain sudah berkumpul di sana.


Mereka mulai menikmati makan malam dengan tenang, sesekali mereka menyelipkan canda tawa berulang kali, Meera memuji dan mengacungi jempol untuk setiap menu yang Keysha sajikan dengan sempurna.


Seusai makan, mereka semua kembali ke dalam kamar masing-masing, kecuali Meera dan Chandra. Mereka berdua justru berpamitan karena keesokan harinya mereka harus pergi ke luar negeri untuk menemui putri bungsu mereka. Ya, lagi dan lagi Audrey tidak bisa pulang, dia meminta kedua orang tuanya datang ke sana. Awalnya, Keysha dan Sandy berencana ikut, tapi dilarang oleh Chandra karena Sandy baru saja selesai melakukan operasi. Jadi, dia belum boleh beraktivitas yang terlalu menguras energi.


cektek ( Suara pintu kamar terbuka )


"Sudah...Mereka terlalu lelah, jadi gampang sekali untuk di tidurkan." Jawab Keysha santai. Setelah menutup pintu kamar dengan rapat, Keysha menuju meja rias. Ia mendudukkan tubuhnya di sana, meraih botol susu pembersih wajah dan sebuah kapas. Keysha memijatkan di wajah dengan lembut, lalu menyekanya dengan kapas.


Sebelum mengistirahatkan tubuh yang seharian ini sangat aktif bekerja, Keysha terlebih dulu mencuci wajah dan menggosok gigi di kamar mandi. Ia kembali duduk di meja rias untuk memakai toner dan juga cream malam, baru setelah selesai semua ia naik ke atas kasur.


"Apa kau sangat mengantuk ?" tanya Sandy, ia menggeser badannya dan menghadap ke Keysha dengan tangan yang menopang kepalanya dari sisi.


"Aku sangat lelah...." Jawab Keysha dengan lemas. Ia menggeliat ringan untuk mengusir lelahnya.


"Ya sudah." seru Sandy dengan nada kecewa. Ia membanting tubuh dengan kasar di atas bantal lalu berputar membelakangi Keysha.


Keysha mengernyitkan dahi lalu tersenyum jail.


"Ada apa sih ? " Tanya Keysha, ia merangkul perut suaminya dari belakang.


"Tidak....Tidurlah ! Bukankah kau terlalu lelah, aku tidak ingin mengganggumu." Ucap Sandy dengan nada ketus. Ia menepis tangan istrinya dan menuntunnya untuk beralih dari perutnya.


"Benarkah ?" Desak Keysha. Ia masih sengaja menyembunyikan tawa di balik kepala Sandy.


"Hmm..." Jawab Sandy dengan malas.


"Ya Sudah. Selamat malam kak Sandy sayang," seru Keysha. Ia berbicara dengan sangat pelan lalu berbaring membelakangi suaminya.


Menunggu istrinya berbaik badan dan kembali merayunya hanya akan membuat pria itu semakin kesal tanpa sebab. Ia berbalik dengan kasar dan membalik tubuh mungil Keysha untuk lebih dekat dengannya . Di peluknya dengan erat, serta ia membenamkan wajah di antara leher Keysha.


"Kenapa kau tidak begitu peka ?" Rengek Sandy, jelas sekali ia sangat geram dan kesal.


Cara laki-laki itu mengumpat dengan hasrat yang memuncak sungguh membuat Keysha tergiur untuk menertawakan. Sangat kekanak-kanakan sekali, bahkan Sandy lebih parah dari pada Allan dan Lena ketika merengek.


"Kenapa kau tertawa, aku sedang berbicara dengan serius." gerutu Sandy, ia mendongak dan mengangkat kepalanya untuk menatap Keysha.


"Tidak....kenapa kau begitu yakin aku sedang menertawakan mu ? Aku sudah tidur tadi, bahkan sedang mimpi hal yang sangat konyol." Jawab Keysha, ia berdalih dan mencari alasan untuk membuatnya aman.


"Benarkah ?"


"hmm..."


Sandy kembali menjatuhkan diri, tapi tidak dengan melepas dekapan mesra di pinggang istrinya.


"Kak Sandy kenapa ? tidurlah...." Ucap Keysha, ia perlahan memejamkan mata. Padahal dia tahu jika suaminya gelisah karena menginginkan sesuatu.


"Aku mau...." Jawab Sandy dengan pelan.


"Mau apa ?" tanya Keysha, ia mengangkat alis dengan ragu. Ya, dia berpura-pura tidak paham dengan arah pembicaraan suaminya.


"Mau...mau itu."


"Kak Sandy, berbicaralah dengan jelas. Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan." Protes Keysha.


"Ayolah sayang, itu...." Desak Sandy lirih. Ia hanya bergelayutan dengan tubuh mungil istrinya dengan sangat manja dan nada bicara yang sedikit mende s a h..


"Apa yang kakak inginkan ? Aku tidak paham." Ucap Keysha, ia tersenyum jahil saat melihat raut wajah Sandy yang sudah seperti cacing kepanasan.


Merasa sangat panas dan enggan berbasa-basi, Sandy langsung menindih tubuh istrinya, ia mulai menyerang dengan kecupan-kecupan yang intim. Tangannya bekerja dengan cepat, meraba hingga ke seluruh bagian tubuh yang sangat sensitif milik istrinya.


Keysha hanya melenguh merasakan itu. Ia menikmati dan sesekali membalas perlakuan suaminya dengan hal yang serupa.